NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Clara merebahkan tubuhnya ke sofa ruang tamu sambil menghela napas panjang. Sejak memutuskan tidak masuk kerja beberapa hari terakhir, hidupnya justru terasa semakin membosankan. Awalnya dia pikir tinggal di rumah akan membuat pikirannya tenang. Kenyataannya, ayahnya terus mengomel soal tanggung jawab, sementara Tony tidak berhenti menghubunginya untuk meminta maaf. Dua pria itu benar-benar seperti lomba siapa yang paling pandai membuat kepala orang sakit. Sebuah pencapaian luar biasa bagi umat manusia.

Clara menatap langit-langit rumahnya dengan kesal.

“Aku bisa gila kalau terus di rumah begini.”

Dia segera meraih ponselnya dan membuka grup pertemanan kuliahnya. Grup yang biasanya hanya berisi foto makanan, gosip artis, dan keluhan soal mantan yang sebenarnya sudah menikah dua tahun lalu.

Clara mengetik cepat.

“Ada yang kosong hari ini? Aku bosan.”

Tidak sampai satu menit, balasan langsung berdatangan.

“Aku di kafe.”

“Aku juga.”

“Kumpul saja.”

“Kafe biasa?”

Clara langsung bangkit dari sofa.

Setidaknya bertemu teman-temannya lebih baik daripada mendengar ayahnya bicara soal perusahaan atau Tony yang sibuk membela diri setiap kali dia marah. Hidup orang kaya memang aneh. Punya uang banyak tetapi tetap saja stres. Manusia memang spesies yang konsisten mengecewakan.

Sore itu suasana kafe cukup ramai. Musik jazz pelan terdengar memenuhi ruangan sementara aroma kopi menyebar di udara. Clara masuk dengan wajah malas namun sedikit lega saat melihat keempat sahabatnya sudah duduk di sudut ruangan.

“Clara!”

Larasati langsung melambaikan tangan dengan antusias.

Clara mendekat lalu duduk di sampingnya.

“Akhirnya muncul juga. Kami pikir kau diculik pekerjaan.”

Clara mendengus pelan.

“Lebih buruk dari diculik. Aku terus dimarahi di rumah.”

Dewi tertawa kecil sambil menyeruput minumannya.

“Pasti soal perusahaan lagi?”

“Apalagi.”

Nadia ikut menimpali, “Aku tidak mengerti kenapa orang tuamu begitu keras padamu. Kau kan anak pemilik perusahaan.”

“Itu juga yang selalu kupikirkan,” jawab Clara sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kalian tahu? Saat kalian pergi liburan kemarin, aku malah dipaksa masuk kerja setiap hari.”

“Kasihan sekali,” kata Larasati sambil tertawa simpati yang tidak terlalu simpati.

Clara melipat tangan di dada.

“Kalian ini benar-benar sahabat buruk.”

“Tapi tetap datang menemui kami,” balas Dewi santai.

Karina yang sejak tadi sibuk memotret makanan akhirnya ikut bicara.

“Kami baru pulang dari Bali dua hari lalu. Harusnya kau ikut.”

Clara langsung mengerucutkan bibir.

“Ayahku pasti langsung mengadakan rapat keluarga kalau aku pergi liburan tanpa izin.”

Dewi tertawa keras.

“Kadang aku bersyukur orang tuaku tidak peduli aku kerja atau tidak.”

“Itu karena kau memang tidak pernah serius bekerja,” ujar Nadia.

Dewi mengangkat bahu tanpa rasa bersalah.

“Untuk apa bekerja terlalu keras? Cari saja pria kaya lalu menikah. Hidup selesai.”

Clara langsung memutar mata.

“Pemikiranmu benar-benar tidak berguna.”

“Namun realistis,” balas Dewi santai. “Lihat saja kami. Tidak ada yang dipaksa jadi pekerja kantoran seperti kau.”

Larasati tersenyum jahil.

“Lagipula wajahmu cantik. Tinggal pilih pria kaya yang tampan.”

“Aku tidak mau bergantung pada pria.”

“Kalimat yang biasanya diucapkan wanita sebelum jatuh cinta pada pria kaya,” kata Dewi sambil tertawa.

Clara mengambil bantal kecil di kursinya lalu melemparnya ke arah Dewi.

“Diam.”

Mereka semua tertawa bersama. Suasana perlahan menjadi lebih santai. Clara akhirnya merasa sedikit lebih baik setelah beberapa hari emosinya terus kacau.

Namun beberapa menit kemudian perhatian Karina teralihkan ke arah lain.

“Eh... lihat pria di dekat jendela itu.”

Semua langsung menoleh.

Seorang pria mengenakan kemeja hitam duduk sendirian sambil menatap layar laptopnya. Secangkir kopi berada di samping tangannya. Wajahnya tenang dan serius. Sesekali dia mengetik sesuatu tanpa memperdulikan keadaan sekitar.

Dewi langsung berbisik pelan.

“Tampan sekali.”

Nadia mengangguk setuju.

“Auranya seperti direktur muda.”

Clara yang melihat sosok itu langsung mengenalinya.

“Itu Doni.”

Teman-temannya langsung menoleh bersamaan.

“Kau kenal dia?” tanya Larasati penasaran.

“Dia direktur pemasaran di perusahaan ayahku.”

Keempat sahabatnya tampak terkejut.

“Serius?” tanya Karina.

Clara mengangguk santai.

“Dia memang bekerja di perusahaan keluarga kami.”

Dewi menatap Doni dengan penuh minat.

“Direktur muda, tampan, kelihatannya tenang. Nilainya bagus.”

Clara malah mendengus.

“Dia pria membosankan.”

“Pria membosankan biasanya justru stabil,” balas Dewi.

“Dan direktur,” tambah Nadia.

Clara langsung meminum kopinya dengan kesal.

“Kalian terlalu mudah tertarik pada pria.”

“Kau bilang dia bawahan ayahmu?” tanya Larasati.

“Iya.”

“Kalau begitu panggil dia ke sini.”

Clara langsung mengernyit.

“Untuk apa?”

“Kami ingin berkenalan.”

Clara langsung menggeleng.

“Tidak perlu.”

Dewi menyipitkan mata curiga.

“Jangan-jangan kau bohong.”

Clara langsung menatapnya tajam.

“Aku tidak bohong.”

“Kalau memang bawahan ayahmu, harusnya dia menurut saat dipanggil keluarga pemilik perusahaan,” kata Nadia sambil tersenyum jahil.

Karina ikut tertawa.

“Benar juga.”

Clara langsung merasa harga dirinya tertantang. Dia menatap Doni yang masih sibuk dengan laptopnya tanpa peduli sekitar.

“Aku bisa memanggilnya kapan saja.”

“Buktikan,” kata Dewi sambil menyandarkan dagu di tangan.

Clara langsung berdiri.

“Kalian benar-benar menyebalkan.”

“Namun menarik,” jawab Larasati sambil tertawa.

Dengan langkah cepat Clara berjalan menuju meja Doni. Wajahnya terlihat percaya diri walau sebenarnya sedikit kesal.

Sementara itu Doni tetap fokus pada laptopnya bahkan saat Clara sudah berdiri di depan meja.

“Pak Doni.”

Tidak ada respons.

Clara mengernyit.

“Pak Doni.”

Kali ini Doni sedikit mengangkat kepala. Tatapannya tenang dan datar.

“Nona Clara.”

Clara langsung melipat tangan.

“Kenapa Anda tidak menyapa saya?”

“Saya sedang bekerja.”

Jawabannya pendek dan dingin.

Clara langsung kesal.

“Sedang bekerja di kafe?”

“Saya tetap bekerja walau di luar kantor.”

Nada suaranya tenang sekali. Itu justru membuat Clara semakin jengkel. Rasanya seperti sedang bicara dengan robot mahal buatan perusahaan teknologi.

“Teman-teman saya ingin berkenalan dengan Anda.”

Doni melirik sekilas ke arah meja Clara lalu kembali menatap laptopnya.

“Maaf, saya sibuk.”

Clara langsung tidak percaya dengan jawaban itu.

“Sibuk?”

“Iya.”

“Anda menolak ajakan saya?”

Doni akhirnya menutup laptopnya perlahan lalu menatap Clara.

“Nona Clara, saya datang ke sini untuk menyelesaikan pekerjaan. Bukan bersosialisasi.”

Clara mulai kehilangan kesabaran.

“Anda bawahan ayah saya.”

“Saya tahu.”

“Kalau begitu jangan bersikap seenaknya.”

Doni menatapnya beberapa detik sebelum bicara dengan nada tetap datar.

“Saya tetap bekerja secara profesional meski Anda putri pemilik perusahaan.”

Clara langsung menahan napas kesal.

“Kalau saya lapor pada ayah saya bagaimana?”

“Silakan.”

Jawaban itu membuat Clara benar-benar terpancing emosi.

“Anda sengaja mencari masalah dengan saya?”

“Tidak.”

“Namun Anda mengabaikan saya.”

“Saya hanya menjaga waktu kerja saya.”

Clara merasa ingin meledak. Biasanya orang-orang langsung berusaha menyenangkan dirinya karena status keluarganya. Namun Doni benar-benar berbeda. Pria itu bahkan tidak terlihat gugup sedikit pun.

“Ayah saya bisa memecat Anda kapan saja.”

Doni terdiam beberapa saat lalu berdiri dari kursinya.

Posturnya yang tinggi membuat Clara sedikit terdiam.

Namun Doni tetap berbicara tenang.

“Kalau itu keputusan perusahaan, saya akan menerimanya.”

Setelah mengatakan itu Doni langsung mengambil laptopnya dan berjalan menuju kasir.

Clara menatapnya tidak percaya.

“Pak Doni!”

Namun pria itu sama sekali tidak berhenti.

Dia membayar pesanannya lalu keluar dari kafe tanpa menoleh lagi.

Clara berdiri kaku dengan wajah merah menahan malu dan marah.

Beberapa pengunjung bahkan sempat melirik ke arahnya karena suaranya tadi cukup keras.

Sementara di meja sahabat-sahabatnya, suasana langsung menjadi hening beberapa detik.

Lalu Dewi berbisik pelan.

“Dia... benar-benar pergi.”

Karina menahan tawa.

“Nona Clara ternyata tidak ditakuti.”

Clara langsung kembali ke meja dengan langkah cepat.

“Diam kalian.”

Namun Larasati sudah tertawa lebih dulu.

“Maaf, tetapi ini lucu sekali.”

“Aku tidak menyangka ada pria yang berani mengabaikanmu.”

Clara langsung duduk kasar di kursinya.

“Pria itu memang menyebalkan.”

“Namun tampan,” kata Nadia santai.

“Dan tenang,” tambah Karina.

Dewi tersenyum penuh arti.

“Sekarang aku semakin tertarik.”

Clara langsung menatap mereka tajam.

“Kalian semua berpihak padanya?”

“Kami hanya objektif,” jawab Dewi sambil menahan tawa. “Lagipula dia tidak terlihat seperti pria yang mencari muka.”

“Itu karena dia terlalu kaku.”

“Namun cukup keren,” kata Larasati.

Clara memijat pelipisnya.

Hari itu benar-benar berjalan buruk baginya.

Dia datang untuk melepas penat tetapi malah dipermalukan di depan teman-temannya sendiri oleh bawahannya ayahnya.

Dan yang paling membuat Clara kesal, jauh di dalam pikirannya dia sadar satu hal.

Doni sama sekali tidak takut padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!