Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melodi Maut Celah Serigala
Hari yang ditakuti oleh seluruh makhluk hidup di Benua Timur akhirnya tiba dengan atmosfer yang teramat kelam. Langit di atas Ngarai Serigala Merah—sebuah celah raksasa berbentuk rahang serigala yang memisahkan wilayah kekaisaran dengan dataran utara—tidak lagi memancarkan warna biru. Awan hitam yang sarat akan energi kematian bergulung-gulung rendah, meredupkan cahaya matahari hingga menyerupai fajar yang sekarat.
DUUM! DUUM! DUUM!
Suara tabuhan genderang perang yang terbuat dari kulit monster purba bergema dari arah selatan, menggetarkan permukaan batu ngarai hingga berjatuhan menjadi kerikil tajam. Dari balik kabut hitam yang pekat, jutaan pasukan berzirah besi hitam milik Kekaisaran Tianhuang melangkah maju dengan keteraturan yang mengerikan. Di barisan paling depan, berjalan dua sosok raksasa setinggi tiga meter dengan zirah berkarat yang memancarkan pendaran cahaya merah darah—Dua Jenderal Legendaris Mayat Hidup.
Setiap kali melangkah, lensa mata merah terang mereka berkedip, melepaskan gelombang tekanan batin Ranah Master Tingkat 7 yang langsung menghancurkan struktur tanah di sekitarnya. Mereka memiliki aura yang sangat kuat, membuat tekanan udara malam yang kian mendingin.
Di sayap kiri pasukan kekaisaran, barisan kereta perang yang membawa ratusan master dari Sekte Teratai Putih bergerak dengan keanggunan yang mematikan. Di puncak kereta utama, berdiri Lin Xueru. Gaun tempur hitam bersulam teratai darahnya berkibar pelan ditiup angin badai. Tangannya menggenggam erat gagang Pedang Teratai Hitam yang terus mengembuskan uap beracun. Wajahnya tetap pucat, kosong, dan tanpa emosi; Pil Pembeku Emosi Jiwa telah sepenuhnya mengunci kewarasannya ke dalam satu titik fokus: kepunahan Kerajaan Tianwu dan kematian Yu Fan.
Sementara itu, di ujung utara ngarai, benteng pertahanan buatan dari Aliansi Enam Kerajaan telah berdiri dengan kokoh. Ratusan ribu prajurit campuran berdiri dengan tombak dan perisai yang gemetar. Meskipun mereka telah menyusun strategi matang, melihat penampakan dua jenderal Tingkat 7 di kejauhan membuat nyali sebagian besar prajurit fana tersebut menciut drastis. Atmosfer keputusasaan merayap pelan di antara barisan pertahanan.
"Tetap di posisi kalian! Jangan biarkan formasi batin kalian goyah sebelum musuh menyentuh garis batas!" seru Raja Jin Wu dari atas panggung komando, jubah phoenix apinya berkobar hebat melepaskan tekanan Ranah Master Tingkat 6 Tahap Akhir demi menjaga moral pasukannya.
Di samping Raja Jin Wu, Leluhur Jin Taixu berdiri dengan jubah abu-abu sederhananya. Sepasang mata tuanya menatap tajam ke arah dua jenderal mayat hidup di seberang ngarai. "Dua tulang tua dari masa seribu tahun lalu... rupanya mereka benar-benar berhasil mengotori hukum kematian demi keserakahan fana," gumam Jin Taixu dengan nada suara yang teramat sangat dalam.
Yu Fan berdiri di titik paling depan tebing ngarai, jubah hitam bersulam emasnya menepis tiupan angin badai dengan ketenangan yang tidak masuk akal. Sepasang mata hitamnya yang jernih langsung mengunci sosok Lin Xueru yang berdiri di kejauhan. Ada seberkas kedukaan yang teramat nyata melintas di relung hatinya saat melihat kekosongan di mata gadis itu, namun Yu Fan segera menekannya kembali ke dalam dantian emasnya. Malam ini, perisai tidak boleh retak oleh perasaan.
"Pasukan Garda Depan Tianhuang telah memasuki area jangkauan! Tembak!"
WUZHUUUUU!
Mendengar komando yang diteriakkan oleh Putri Jin Yuexin dari atas menara pengawas, ratusan penyihir dari daratan barat secara serentak menghantamkan tongkat batin mereka ke atas tanah. Formasi sihir bumi berskala besar yang telah mereka persiapkan selama berminggu-minggu seketika aktif.
CRACK! BOOM!
Permukaan tanah di dalam Celah Serigala Merah mendadak melunak, berubah menjadi rawa lumpur hisap spiritual yang sangat pekat. Ribuan prajurit berzirah besi hitam Tianhuang yang memiliki bobot sangat berat langsung terperosok ke dalam lumpur tersebut, kehilangan mobilitas tempur mereka dalam sekejap.
"Sekarang! Pasukan Panah Api Phoenix, bakar mereka!" seru Yuexin lagi, tangannya mengayunkan bendera komando kerajaan dengan ketegasan yang luar biasa.
SHUUUT! SHUUUT! SHUUUT!
Puluhan ribu anak panah yang telah dialiri oleh energi api murni melesat turun dari atas tebing ngarai bagai hujan meteor berapi. Begitu anak-anak panah tersebut menyentuh lumpur hisap yang mengandung minyak spiritual, ledakan api raksasa seketika membubung tinggi, menciptakan lautan api yang membakar hangus ribuan pasukan garda depan kekaisaran dalam hitungan detik. Jeritan kesakitan para prajurit naga hitam menggema membelah pekatnya langit malam. Bau daging terbakar bercampur dengan uap busuk kematian menciptakan sensasi yang mual di ulu hati.
"Bocah-bocah nakal..." salah satu Jenderal Mayat Hidup Tingkat 7 mendongak, lensa merah matanya berkilat murka melihat pasukannya dibantai dengan mudah. "Hancurkan tebing itu!"
BOOM!
Salah satu jenderal mayat itu melompat setinggi seratus meter ke udara, memegang sebuah kapak perang raksasa yang membara dengan energi kematian berwarna merah darah. Dia mengayunkan kapaknya ke arah tebing tempat Putri Yuexin berada, berniat meratakan seluruh menara pengawal beserta pasukannya dalam satu hantaman murni.
Tekanan udara di sekitar menara mendadak anjlok, membuat para prajurit di sekitarnya batuk berdarah bahkan sebelum kapak itu tiba.
"Lawanmu adalah aku, monster tua!"
SHUUUT!
Sesosok bayangan abu-abu melesat lebih cepat bagai kilat perak. Leluhur Jin Taixu bermanifestasi tepat di depan lintasan kapak raksasa tersebut. Tangan kanannya yang keriput melepaskan sebuah pukulan telapak tangan batin yang dilapisi oleh energi pedang suci Tingkat 7 yang teramat sangat padat.
BANGGGGGGGG!
Benturan dua kekuatan Tingkat 7 itu menghasilkan gelombang kejut spasial yang teramat sangat dahsyat, meruntuhkan sebagian dinding batu ngarai dan menciptakan badai angin yang melempar ratusan prajurit di bawahnya. Tubuh Jenderal Mayat Hidup itu terdorong mundur beberapa meter di udara, sementara Jin Taixu mendarat kembali di atas batu dengan posisi kokoh, siap memulai pertarungan hidup dan mati di antara penguasa ranah tertinggi.
Di tengah kekacauan medan perang yang membara oleh api dan ledakan batin, sesosok bayangan hitam meluncur turun dari atas kereta perang Sekte Teratai Putih dengan kecepatan yang menembus batas suara.
Sret!
Lin Xueru mendarat tepat di atas sebuah bongkahan batu datar di tengah-tengah ngarai yang dikelilingi oleh kobaran api. Pedang Teratai Hitam di tangannya bergetar hebat, memancarkan riak pembunuh yang langsung mengunci eksistensi Yu Fan yang berada tidak jauh dari tempatnya mendarat.
Yu Fan tidak menghindari tatapan itu. Dia melangkah turun dari atas tebing dengan gerakan meringankan tubuh yang sangat anggun, mendarat tepat sepuluh langkah di depan Xueru. Angin malam yang membawa abu pembakaran menerpa jubah mereka berdua, menciptakan sebuah panggung sunyi di tengah-tengah lautan pembantaian massal.
"Kau benar-benar telah melupakan segalanya, Xueru," ucap Yu Fan, suaranya terdengar teramat sangat dalam, dingin, namun ada getaran keprihatinan yang nyata yang dia sembunyikan di balik benteng batinnya.
Xueru tidak menjawab. Sepasang matanya yang putih salju tetap kosong tanpa ada binar kehidupan fana sedikit pun. Dia mengangkat Pedang Teratai Hitamnya sejajar dengan dada, melepaskan entakan energi es hitam yang seketika membekukan kobaran api di sekitar batu tempat mereka berdiri.
"Mati... Yu Fan..." ucap Xueru dengan nada suara yang teramat datar, sunyi, bagai mesin yang digerakkan oleh perintah mutlak.
WUZHUUUUU!
Dalam satu kedipan cahaya, tubuh Xueru lenyap sepenuhnya. Detik berikutnya, dia sudah bermanifestasi tepat di sela-sela ruang di belakang Yu Fan, mengayunkan pedang hitamnya dalam satu tebasan horizontal yang mengincar leher pemuda itu. Kecepatan gerakannya kali ini benar-benar telah berada di puncak tertinggi Ranah Master Tingkat 4 Tahap Akhir yang paling sempurna.
TINGGG!
Yu Fan tidak berbalik. Dia hanya menggeser Pedang Yin yang masih berada di dalam sarung giok hitamnya ke belakang punggung, menahan ujung bilah pedang Xueru dengan presisi mutlak. Benturan energi emas murni milik Yu Fan dan energi es hitam milik Xueru menghasilkan riak distorsi spasial tipis yang meretakkan batu di bawah kaki mereka.
"Seranganmu dipenuhi oleh niat membunuh yang murni, namun jiwamu... jiwamu sedang menangis di dalam kegelapan itu, Xueru," ucap Yu Fan, berbalik perlahan sambil menghentakkan sarung pedangnya untuk mendorong tubuh Xueru mundur.
Xueru terhuyung tiga langkah, namun dia tidak merasakan sakit sedikit pun. Dengan kegilaan mekanis, dia kembali melesat maju, melepaskan belasan tebasan membabi buta yang membentuk formasi jaring kelopak teratai hitam di udara.
BANG! TING! BANG! TING!
Yu Fan terus bergerak defensif, menggunakan sarung Pedang Yin-nya untuk menangkis setiap hantaman mematikan tanpa berniat melepaskan satu pun serangan balasan yang bisa melukai raga gadis itu. Pertempuran defensif ini menguras stamina Yu Fan jauh lebih cepat daripada pertarungan biasa.
Tekanan es dari pedang Xueru mulai merayap naik melalui sarung pedangnya, membekukan ujung-ujung jarinya.
Setiap benturan logam memancarkan kilatan dingin yang menerangi wajah Xueru yang pucat. Menyaksikan gadis yang pernah berbagi tawa dan kedekatan di koridor akademi kini menyerangnya bagai monster tanpa hati adalah siksaan batin yang jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pedang di dadanya.
Konflik emosi itu mencabik-cabik fokusnya. Ada bagian dari dirinya yang menolak memercayai kenyataan ini, namun bilah pedang dingin di depannya terus menuntut darah.
"Jika aku tidak segera menghancurkan pengaruh pil es di dalam dantian nya... jiwanya akan terkikis sepenuhnya oleh energi kematian Teratai Hitam," batin Yu Fan menjerit dalam kedukaan, sementara dadanya terasa sesak oleh sesal dan amarah yang berbaur menjadi satu.
CRASH!
Satu tebasan ujung pedang Xueru yang dilapisi duri es spiritual berhasil menembus celah pertahanan pasif Yu Fan. Bilah hitam itu meleset dari leher, namun merobek dalam-dalam bagian lengan jubah hitamnya, menggores kulit lengan kanannya hingga menembus daging.
Darah segar menyembur keluar, namun belum sempat menetes ke tanah, cairan merah itu seketika membeku oleh hawa dingin mutlak yang dibawa oleh serangan Xueru. Rasa sakit yang luar biasa hebat—sensasi terbakar sekaligus mati rasa akibat es beracun—menjalar langsung ke saraf-saraf lengan Yu Fan, membuat cengkeramannya pada sarung pedang melemah drastis.
"Kenapa... kenapa kau tidak mencabut pedangmu, Yu Fan?!" untuk pertama kalinya, seberkas getaran mekanis yang janggal keluar dari mulut Xueru, seolah-olah sisa jiwa aslinya yang terkurung di dalam segel es sedang mencoba menjerit meminta pertolongan melalui kegilaan serangannya. "Mati di tanganku... atau bunuh aku!!! Selesaikan takdir ini!!!"
Serangan Xueru justru kian membabi buta. Mengabaikan pertahanannya sendiri, ia menerjang maju dengan tusukan-tusukan lurus yang mengincar titik vital: jantung, tenggorokan, dan mata Yu Fan. Setiap tusukan membawa badai jarum es kecil yang beterbangan di udara, menggores wajah dan leher Yu Fan hingga menyisakan garis-garis luka memar membiru yang terus mengeluarkan uap dingin. Yu Fan terdesak hebat, langkah kakinya terseret mundur di atas tanah berbatu yang kian licin oleh lapisan es.
“Hahaha... Lihatlah kepedihanmu yang sangat konyol itu, Yu Fan!”
Suara tawa yang teramat sangat sinis, liar, dan sarat akan hawa kepunahan mendadak meledak hebat dari balik dasar sembilan lapis segel jiwa terdalam Yu Fan. Sesuatu yang terkurung di sana—entitas yang selalu ia rasakan bergejolak setiap kali dirinya berada di ambang kematian—kembali memanfaatkan celah kerapuhan batin Yu Fan yang tengah dirundung konflik perasaan dan rasa sakit fisik akibat luka lengannya.
Kabut merah darah yang kental dan panas menyembur keluar dari sela-sela jeruji kunci jiwa kesadaran Yu Fan, bermanifestasi menjadi cakar-cakar kegelapan yang kasar dan tajam, langsung mencengkeram jalur meridian utamanya dengan paksa.
“Sudah kukatakan kepadamu sejak awal! Energi emas alaminya yang lemah itu tidak akan pernah bisa menyelamatkannya tanpa menumpahkan darah! Lepaskan segelku sekarang juga! Biarkan aku memegang kendali atas tubuh ini! Aku akan menggunakan api merahku untuk membakar habis seluruh energi es hitam sialan di dalam tubuh wanita itu, bahkan jika raga indahnya harus ikut meleleh menjadi abu! Berhenti menjadi pahlawan yang munafik, Yu Fan!!! Kemenangan membutuhkan pengorbanan darah!”
"Diam... Kau...!" ucap Yu Fan secara batin, suaranya bergetar hebat. Ia sengaja tidak memanggil nama entitas itu, menolak memberikan pengakuan pada eksistensi mengerikan yang bersemayam di dalam dirinya.
“Aku tidak akan diam! Kau sedang menuju kematianmu sendiri karena kebodohan perasaan fana ini! Berikan tubuhmu kepadaku sekarang juga!!!” raung sosok di dalam jiwanya dengan kegilaan yang luar biasa tinggi, menghentakkan rantai batin hingga lapisan segel ketujuh retak dan mengeluarkan dengingan memekakkan telinga.
Di dunia nyata, kondisi Yu Fan kian kritis. Gerakannya melambat akibat hawa dingin yang mulai membekukan aliran darah di lengan kanannya. Xueru melihat celah itu. Dengan lompatan tinggi, ia membalikkan tubuhnya di udara, menghimpun seluruh silsilah energi es hitamnya ke ujung Pedang Teratai Hitam.
"Seni Teratai Hitam: Pemakan Jiwa Murni!"
Sebuah kelopak teratai es hitam raksasa setinggi lima meter bermanifestasi di atas langit, menguncup dan langsung menukik turun ke arah Yu Fan dengan kecepatan yang mampu merobek atmosfer. Jika hantaman ini kena, tidak hanya tubuh fisik Yu Fan yang akan hancur, namun jiwanya pun akan membeku selamanya.
Di saat yang sama, entitas di dalam jiwanya tertawa semakin keras, mencakar dinding kesadarannya, mencoba merebut kendali atas tangan kirinya. Yu Fan berada di antara dua pilihan kematian, dihancurkan oleh wanita yang ia cintai dari luar, atau kehilangan kemanusiaannya karena ditelan oleh "Kau" dari dalam.
"Tidak... tidak keduanya!" Yu Fan mengatupkan giginya hingga berdarah, rasa anyir tembaga memenuhi mulutnya.
Di tengah kepungan gumpalan kabut merah di dalam jiwanya dan terkaman kelopak teratai es hitam raksasa di dunia nyata, Yu Fan menarik seluruh sisa konsentrasi batinnya yang hampir pecah. Aliran energi kutub Qi bagian Yin dan Qi bagian Yang di dalam dantian emasnya dipaksa berputar secara terbalik dengan kecepatan yang teramat sangat ekstrem—sebuah teknik nekat yang belum pernah dia coba sebelumnya, sebuah taruhan nyawa untuk menciptakan ledakan energi alami murni tanpa perlu memicu bangkitnya kekuatan asing di dalam dirinya.
"Pembalikan Kutub: Badai Emas Surgawi!"
WUZHUUUUU!
Sekujur tubuh Yu Fan mendadak meledakkan pendaran cahaya aura emas yang berkali-kali lipat lebih benderang, panas, dan padat dari sebelumnya. Cahaya itu memancar lurus ke langit, merobek awan hitam kematian di atas Ngarai Serigala Merah. Energi murni tersebut membentuk sepasang sayap pelindung spasial emas murni di punggungnya.
BOOOMMM!!!
Kelopak teratai es hitam milik Xueru hancur berkeping-keping saat menyentuh sayap emas tersebut, berubah menjadi hujan serpihan es yang meleleh sebelum menyentuh tanah. Gelombang kejut dari ledakan energi emas itu begitu masif, menghentakkan tubuh Xueru hingga terlempar sejauh sepuluh meter, meluncur di atas tanah sebelum akhirnya ia menancapkan pedangnya untuk menahan diri.
Di dalam jiwa Yu Fan, ledakan energi emas murni yang masif itu bertindak bagai palu godam surgawi yang menghantam jatuh seluruh manifestasi kabut merah. Makhluk di dalam dirinya melengking murka saat cakar-cakarnya terbakar oleh cahaya emas, terpaksa terseret mundur dan jatuh kembali ke dasar jurang terdalam jiwanya yang paling sunyi, meninggalkan gema umpatan yang perlahan meredup.
Yu Fan berlutut dengan satu lutut di atas tanah yang retak, menarik napas pendek dan terputus-putus demi menstabilkan kembali detak jantungnya yang bergejolak hebat.
Pundak dan lengannya terasa teramat sakit—meridiannya mengalami luka robek internal akibat pembalikan energi yang ekstrem tadi. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, jatuh membakar es di bawahnya.
Namun, sepasang mata hitamnya kini tidak lagi dipenuhi keraguan. Mata itu kini memancarkan kejelasan takdir yang mutlak. Konflik batinnya belum hilang, rasa sakitnya masih nyata, namun tujuannya kini telah mengkristal dengan sempurna.
Dia mendongak, menatap Lin Xueru yang kini perlahan kembali bangkit di kejauhan. Gaun hitam gadis itu telah robek di beberapa tempat, dan uap hitam dari Pedang Teratai Hitamnya justru membubung kian pekat, bersiap untuk fase serangan yang jauh lebih mengerikan.
"Aku telah bersumpah untuk menjadi perisai tanah ini, dan aku juga telah bersumpah di dalam jiwaku untuk merebut mu kembali dari kegelapan itu, Xueru," gumam Yu Fan, suara beratnya yang serak menembus deru angin badai ngarai.
Tangan kanannya yang gemetar dan masih dipenuhi luka es kini perlahan-lahan bergerak, melintasi dada, lalu menggenggam erat gagang Pedang Yin. Klik. Suara mekanis kecil dari pengunci sarung pedang terdengar teramat nyaring di antara gemuruh perang. Yu Fan bersiap untuk mencabut pusaran pusaka murni tersebut demi memulai fase pembuka yang sesungguhnya di tengah medan pertempuran yang sarat akan taruhan nyawa dan air mata.
Badai terbesar di Benua Timur baru saja dimulai, dan sang perisai agung tidak akan pernah membiarkan dirinya runtuh sebelum takdir diselesaikan dengan tangannya sendiri.