NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:290
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Beberapa hari kemudian, Laura memutuskan untuk mengumpulkan ketiga sahabat karibnya: Ariana, Amelia, dan Roni. Ia mengundang mereka ke kafe langganan, tempat di mana ide-ide dan solusi seringkali lahir, ia berpikir harus berbicara dan hanya ingin berbagi sebuah keinginan.

"Oke, semuanya, aku punya sebuah rencana," Laura memulai, setelah mereka semua menikmati kopi dan camilan masing-masing. Matanya berbinar padat penuh keseriusan.

Ariana yang memang selalu siap untuk hal baru, menyahut, "Rencana apa lagi kali ini? Apakah ini terkait dengan kegiatan tambahan di kebun teh?"

Amelia tersenyum tipis. "Apapun itu, aku akan senang hati mengikutimu. Instingku mengatakan, jika itu tentang perjalanan, akan sangat menyenangkan. Aku juga sudah lama tidak bepergian jauh." Ucapnya seakan dapat menerawang keinginan Laura.

Roni yang masih merasa bingung hanya menyeruput kopinya, menunggu Laura melanjutkan.

"Begini," Laura menjelaskan, "aku baru saja bermimpi. Sebuah mimpi yang sangat nyata, di mana aku bertemu tiga gadis kecil bergaun merah di tepi sebuah sungai yang bernama Barito. Dan tahukah kalian? Sungai Barito itu ada di Banjarmasin, Kalimantan!"

Ia jeda sejenak, membiarkan informasi itu meresap. "Aku merasa ada semacam panggilan, semacam firasat. Aku merasa kita harus pergi ke sana. Ke Banjarmasin."

Ariana langsung antusias. "Banjarmasin? Kalimantan? Wah, kedengarannya seru! Pasti banyak tempat eksotis yang bisa kita kunjungi. Pasar terapung, rawa-rawa, kearifan lokal..."

"Tunggu dulu, Ar," sela Amelia, mencoba bersikap rasional. "Ini bukan sekadar liburan biasa, kan, Laura? Ada makna lain yang mendorong di balik ini semua? Aku dapat membacanya dari matamu."

Laura mengangguk. "Aku tidak tahu persis apa maknanya. Tapi, mimpi itu terasa begitu kuat, begitu personal. Rasanya seperti ada sesuatu yang menungguku di sana. Aku ingin melihat Sungai Barito dengan mata kepala sendiri. Aku ingin merasakan energi tempat itu."

Roni yang tadinya diam, akhirnya angkat bicara. "Jadi, intinya, kita mau ikut kamu mencari jawaban atas mimpi 'tiga gadis bergaun merah' itu?" Nadanya sedikit mengolok, namun terdapat dorongan penasaran di dalamnya.

Ariana segera mendukung. "Aku setuju! Kedengarannya seperti perjalanan seru! Kita butuh refreshing dari rutinitas."

Amelia masih terlihat ragu. "Tapi biayanya? Waktunya? Kita semua kan punya kesibukan."

"Kita bisa atur jadwalnya bersama-sama," bujuk Laura. "Aku sudah cek tiket dan akomodasi, kita bisa cari yang terjangkau. Ini akan jadi pengalaman yang tak terlupakan. Mungkin ini bukan hanya sekadar liburan, tapi sebuah perjalanan penemuan diri."

Roni menghela napas. "Baiklah, baiklah. Kalau Laura sudah punya firasat, biasanya memang ada sesuatu yang terjadi. Tapi aku tidak mau ya, kalau sampai di sana kita cuma berdiri mematung di tepi sungai sambil nunggu tiga gadis bergaun merah itu muncul."

Laura tersenyum lebar. "Tentu saja tidak! Kita akan menikmati berbagai hal yang ada di sana sepenuhnya. Tapi, aku benar-benar ingin kita melihat Sungai Barito bersama-sama. Rasanya ada sabuk perasaan yang mengikat dan memanggilku."

Melihat kesungguhan Laura dan antusiasme Ariana, serta kelonggaran Roni, Amelia akhirnya mengalah. "Baiklah, Laura. Aku akan ikut."

Setelah beberapa hari persiapan yang intens, termasuk tawar-menawar harga tiket, dan riset tempat wisata, akhirnya hari keberangkatan tiba. Pagi itu, perjalanan dari Bogor ke Jakarta lancar, kondisi Bandara pun ramai seperti biasa, dipenuhi hiruk pikuk penumpang yang akan memulai perjalanan mereka.

Laura, Ariana, Amelia, dan Roni tiba dengan semangat yang menggebu-gebu. Laura tampak paling bersemangat, senyumnya tak pernah luntur. Ia mengenakan atasan berwarna cerah dan celana kasual, siap untuk perjalanan menguak panggilan mimpinya. Ariana dengan gaya fashionnya yang selalu trendi, memilih jumpsuit yang nyaman namun tetap stylish. Amelia, seperti biasa, tampil rapi dan praktis dengan kemeja dan celana panjang, sambil membawa tas pinggang berisi segala perlengkapan penting. Sementara Roni, dengan kaos oblong favoritnya dan celana jins, membawa ransel yang terlihat penuh.

Mereka berempat menuju konter check-in, antre sambil sesekali bercanda dan mengobrol. Roni, dengan gayanya yang santai, menyempatkan diri membeli kopi di salah satu kafe bandara.

Setelah proses check-in selesai dan bagasi mereka sudah masuk, keempatnya bergegas menuju gerbang keberangkatan. Di sepanjang jalan, mereka melewati berbagai toko dan restoran, namun fokus mereka adalah untuk segera sampai di tujuan.

"Gerbang kita 10B," kata Roni, membaca boarding pass. "Lumayan jauh juga, ayo cepat."

Setibanya di gerbang, mereka menunggu beberapa saat, sambil sesekali melihat layar monitor untuk memastikan jadwal penerbangan. Adapun Laura tak henti-hentinya membuka ponselnya, melihat foto-foto Sungai Barito yang ia sengaja unduh dari internet.

"Bayangkan, sebentar lagi kita akan ada di sana," gumam Laura, lebih kepada dirinya sendiri. "Melihat langsung keindahan itu."

Panggilan untuk boarding akhirnya terdengar. Mereka berdiri, merapikan barang bawaan, dan mulai antre bersama penumpang lainnya. Ada aura kegembiraan yang terpancar dari mereka berempat.

Saat melangkah masuk ke dalam badan pesawat, Laura merasakan getaran aneh. Getaran yang bukan hanya berasal dari mesin pesawat, tetapi juga dari dalam dirinya. Ia melihat ke sekeliling, mencari jendela.

Mereka menemukan kursi masing-masing. Laura mendapatkan kursi dekat jendela, di mana ia bisa melihat pemandangan landasan pacu. Amelia duduk di sebelahnya, sedang di baris depannya, ada Ariana dan Roni.

Laura menoleh ke jendela, melihat sayap pesawat yang besar. Ia menghela napas panjang, sebuah campuran antara antisipasi dan kegembiraan. Perjalanan ini bukan hanya sekadar liburan biasa. Ini adalah perjalanan untuk menguak misteri mimpi, memenuhi harapan yang mendiang Doni tanamkan, dan mungkin, menemukan sesuatu yang selama ini hilang dari dirinya.

Saat pesawat mulai bergerak perlahan di landasan pacu, Laura memejamkan mata sejenak. Ia membayangkan kembali wajah-wajah tiga gadis kecil bergaun merah itu, senyum misterius mereka, dan bisikan mereka tentang mawar.

Penerbangan menuju Banjarmasin telah berlangsung sekitar satu jam. Awalnya, Laura menikmati pemandangan awan dari balik jendela, diselingi obrolan ringan dengan Amelia tentang rencana sesampainya di sana. Namun, perlahan, suasana di kabin pesawat terasa berubah bagi Laura. Lampu kabin yang sedikit redup mulai terasa menekan, suara dengungan mesin pesawat terdengar lebih bising, seolah merasuk ke dalam otaknya.

Pandangan Laura mulai kabur di pinggirannya, fokusnya hanya tertuju pada jendela. Tiba-tiba, di antara awan putih yang bergulung, bayangan samar mulai terbentuk. Bayangan itu semakin jelas, membentuk tiga siluet kecil. Laura mempertajam sorot matanya. Dan itu mereka. Tiga gadis bergaun merah di kejauhan. Mereka seperti sedang tergulung oleh ombak awan, tangan mereka melambai-lambai bagai seseorang yang nyaris tenggelam.

Laura terdiam beberapa saat, sebelum kemudian menggosok-gosok matanya, mencoba menghilangkan penglihatan itu. "Ini cuma halusinasi," bisiknya pelan, berusaha meyakinkan perasaannya.

Dirinya mulai merasakan dingin menjalar di punggung. Ia menoleh ke arah Amelia di sebelahnya, ingin mengatakan sesuatu, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Amelia tampak sibuk membaca majalah penerbangan.

Kemudian, pandangan Laura beralih ke kursi di depan mereka, tempat Ariana dan Roni duduk. Ariana sedang tertawa kecil, berbicara rendah dengan Roni. Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam melintas di belakang Ariana. Laura terkesiap.

Bayangan itu perlahan mengambil bentuk seorang wanita tua, keriput di wajahnya begitu dalam, matanya cekung dan gelap. Wanita itu mengenakan gaun lusuh hitam bergaris tiga baris warna merah, rambutnya yang putih tergerai acak-acakan. Di tangannya, ia memegang sebilah pisau kecil yang berkarat.

Wanita tua itu mendekat ke arah Ariana, gerakannya lambat namun pasti. Laura ingin berteriak, ingin memperingatkan Ariana, namun tubuhnya kaku, bibirnya terkunci. Ia menyaksikan dengan ngeri saat wanita tua itu mengangkat pisaunya tinggi-tinggi, tatapan matanya kosong dan dingin, dan kemudian... menghujamkannya ke arah punggung Ariana.

Laura melihat percikan darah merah pekat, pakaian Ariana yang tadinya cerah kini ternoda. Ariana terdiam dengan tubuh yang lunglai, tidak ada suara, tidak ada jeritan. Roni di sebelahnya masih tampak sibuk dengan ponselnya, sedikitpun tak menyadari atau seolah tidak peduli dengan kejadian mengerikan di dekatnya.

Darah mulai merembes, mengalir dari tubuh Ariana, membentuk genangan di lantai pesawat. Aroma amis darah segar seolah memenuhi indra penciuman Laura, membuatnya mual. Tiga gadis bergaun merah yang tiba-tiba saja mengintip di luar jendela kini tersenyum sinis, senyum yang dingin, mengolok dan mengerikan, seolah puas dengan apa yang terjadi.

Laura menunduk sambil menutup matanya erat-erat. "Ini tidak mungkin. Ini pasti mimpi buruk." Ia mencoba berteriak, meminta tolong dalam hening, sebab apa yang keluar hanyalah suara desakan hampa yang tertahan.

"Laura, kau baik-baik saja?"

Suara Amelia membangunkan kesadaran Laura dari kengerian itu. Laura kembali memperhatikan situasi di sekitarnya, napasnya terengah-engah. Ia melirik ke arah Amelia yang tengah menatapnya khawatir. Lalu, ia cepat-cepat melihat ke depan. Ariana duduk tegak, sedang memamerkan swafoto kepada Roni, tertawa riang dengan nada yang sebisa mungkin diatur rendah. Tidak ada darah, tidak ada wanita tua, tidak ada pisau.

Laura memegang dadanya yang bergemuruh kencang. Keringat dingin sedikit melumuri dahinya. "Kamu kenapa, Laura? Ada apa?" tanya Amelia, membelai bahu Laura.

Laura menggeleng, mencoba menenangkan diri dalam kebingungan perasaannya. "Tidak... tidak apa-apa, Aku hanya... hanya mengalami halusinasi."

Ia melirik ke jendela. Langit biru membentang luas, hanya ada awan-awan putih yang lembut. Tidak ada bayangan tiga gadis bergaun merah, tidak ada tatapan kosong, tidak ada senyum sinis. Semuanya lenyap.

Namun, di benak Laura, kengerian halusinasi itu masih terasa begitu nyata, terukir kuat di benaknya. Ia tidak bisa melupakannya begitu saja. Rasa takut itu kini bercampur dengan rasa penasaran yang lebih dalam. Apa arti halusinasi horor ini? Apakah ada sesuatu yang buruk menunggunya di Banjarmasin? Apakah ini suatu pertanda? Ataukah itu hanya cerminan ketakutan bawah sadarnya yang terlalu mendalami mimpi yang pernah ia saksikan?

Laura masih berjuang menenangkan diri dari halusinasi mengerikan itu. Jantungnya masih berdegup kencang, dan ia berusaha keras meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah bunga tidur yang terlalu nyata. Amelia sesekali melirik Laura dengan cemas, merasakan kegelisahan sahabatnya. Roni dan Ariana masih asyik dengan dunia mereka sendiri, tidak menyadari ketegangan yang sedang menyelimuti Laura.

Tiba-tiba, suara pengumuman dari pilot memecah keheningan. "Para penumpang yang terhormat, kami mohon perhatiannya. Kami memiliki situasi darurat medis di bagian belakang pesawat. Kami mohon pengertian dan kerja sama Anda."

Seketika, suasana di kabin berubah tegang. Laura merasakan firasat buruk kembali menyelimutinya. Beberapa pramugari berlari sigap menuju bagian belakang pesawat, wajah mereka menunjukkan kekhawatiran.

Tak lama kemudian, terdengar suara keributan dari arah sana. Seseorang berteriak minta tolong. Laura menoleh, mencoba melihat apa yang terjadi, namun terhalang oleh barisan kursi dan kepala penumpang yang banyak meninggi.

"Ada apa ya?" tanya Amelia cemas.

Roni yang tadi duduk nyaman, berdiri dan mencoba menyusupkan pandangan. "Sepertinya ada yang sakit di kursi belakang sana."

Seorang pramugari kemudian berlari kembali ke depan, ke arah kabin kokpit, lalu kembali lagi dengan sebuah alat. Dari tempat duduknya, Laura bisa melihat jelas alat itu: sebuah defibrillator, yang bentuknya tidak asing baginya. Jantungnya kembali berdesir ngeri.

Seorang penumpang pria gemuk yang duduk di deretan paling belakang tiba-tiba ambruk di kursinya. Wajahnya tampak pucat pasi, napasnya terengah-engah, dan ia memegangi dadanya dengan ekspresi kesakitan yang menyiksa. Ia adalah penumpang yang beberapa kali melewati mereka saat menuju toilet, selalu dengan senyum ramah.

Para pramugari dan beberapa penumpang pria segera mengerumuninya. Mereka berusaha memberikan pertolongan pertama. Salah seorang pramugari dengan sigap mengeluarkan defibrillator.

"Kita perlu menstabilkan jantungnya!" Teriakan suara yang terdengar panik.

Dua pramugari berusaha membuka kemeja pria gemuk itu, memasang bantalan elektroda di dadanya. Lampu indikator pada defibrillator menyala, menunjukkan alat sedang mengisi daya.

"Jauhkan tangan!" teriak pramugari, saat defibrillator siap digunakan.

Satu kejutan listrik diberikan. Tubuh pria gemuk itu tersentak. Namun, tidak ada perubahan signifikan. Detik-detik berlalu, terasa begitu lambat. Laura memegangi lengan Amelia erat-erat, matanya terpaku pada drama yang terjadi di belakang, setiap kejutan listrik mengingatkan dirinya pada Doni, kejadian tragis beberapa pekan yang lalu.

"Berikan satu lagi!" perintah yang terdengar panik.

Kejutan listrik kedua diberikan. Tubuh pria itu kembali tersentak, kali ini lebih lemah. Para pramugari terus mencoba memberikan pijatan jantung dan napas buatan, bergantian dengan penggunaan defibrillator. Wajah mereka menunjukkan keputusasaan yang semakin besar.

Semua penumpang di bagian belakang pesawat kini berdiri, menyaksikan dengan tatapan cemas dan kaget. Suasana tegang itu terasa mencekik di dalam ruangan tabung kabin yang sempit.

Setelah beberapa menit perjuangan menahan ruh kehidupan, orang-orang menggelengkan kepala perlahan. Seorang kru yang memegang defibrillaror lalu mengangkat wajah, "Saya... saya rasa sudah terlambat," katanya dengan suara berat, dipenuhi kesedihan.

Pramugari yang tadinya sigap kini berdiri lemas. Mereka menghentikan upaya penyelamatan. Keheningan menyelimuti kabin, jauh lebih mencekam daripada suara mesin pesawat.

Pria gemuk itu kini terbaring tak bergerak di kursinya, wajahnya mengeras dan pucat, ada tiga garis merah di bagian pipi kirinya seolah bekas cambukan. Sebuah selimut tipis menutupi tubuhnya. Beberapa penumpang mulai bergumam, yang lain hanya bisa pasrah melihatnya.

Laura yang tak menyadari bahwa kedua kakinya melangkah, dan kini telah berdiri di depan mayat pria itu hanya terdiam, deru di dadanya sesak. Ketakutan dari halusinasinya bercampur dengan kengerian nyata yang baru saja ia saksikan, padahal bayangan kejadian beberapa pekan yang lalu masih membekas, saat Doni dengan wajah sekaratnya menegangkan urat di hadapannya. Kematian yang tiba-tiba, nyawa yang melayang di jalur tak terduga, bahkan kali ini di ketinggian ribuan kaki di atas permukaan tanah.

Pramugari membuat pengumuman lagi, kali ini dengan suara lebih pelan dan penuh duka. "Para penumpang yang terhormat, dengan berat hati kami menginformasikan bahwa salah satu penumpang kita telah meninggal dunia. Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum."

Laura tidak bisa menyingkirkan gambaran pria gemuk itu dari pikirannya. Dan yang lebih mengganggu lagi, ia merasa di sudut matanya, ia melihat sekelebat bayangan merah yang melayang di dekat pintu toilet, seolah-olah tiga gadis bergaun merah itu sedang mengawasi, dengan senyum tipis yang dingin di bibir mereka.

Apakah ini hanya kebetulan? Atau apakah ada benang merah antara mimpi dan halusinasi Laura dengan kejadian tragis ini? Perjalanan ke Banjarmasin yang tadinya penuh semangat kini diselimuti oleh aura kelam dan pertanyaan-pertanyaan abstrak yang mengerikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!