"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15 Retorika Maaf
Arjuna menatap lurus ke arah layar monitor yang tengah menampilkan data-data digital kiriman Haidar.
Sebagai seorang CEO muda, pergerakannya selalu terukur dan berbasis strategi yang matang. Di sampingnya, Ayu berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada, memancarkan aura dingin seorang mantan pemimpin Geng Srikandi yang siap menuntut balas atas kemalangan yang menimpa Sukma.
"Semua bukti rekaman dari Haidar sudah lebih dari cukup untuk menjerat Raka dan Edo atas pasal pengedaran narkoba dan tindak pidana prostitusi, Ay," ujar Arjuna sembari melirik sang istri, suaranya terdengar berat dan berwibawa. "Aku sudah meminta Andrea dan timnya untuk menyusun draf laporan hukum secara senyap. Kita akan kunci pergerakan rekening Black Shadow dan menyeret mereka ke pengadilan tanpa sisa."
Ayu mengangguk pelan, seulas senyum dingin terukir di bibirnya. "Makasih, Bie. Tapi hukum formal aja nggak cukup. Aku harus bergerak menemui Nara sebelum semuanya terlambat."
Arjuna memutar tubuhnya, mengunci atensi sepenuhnya pada pusat dunianya. "Bicara pelan-pelan, Ay. Jangan terpancing emosi," tuturnya sembari merengkuh jemari Ayu dan menggenggamnya erat.
Ayu mengejapkan mata, bibirnya melengkung membentuk sebaris senyum manis yang membuat hati Arjuna menghangat.
.
.
Warna jingga terlukis indah menghias langit senja ketika Ayu menginjakkan kaki di lantai Kafe Renjana, disusul oleh Nara yang tiba di kafe itu hanya berselang lima menit kemudian.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh pemilik kafe--Dzaki Ramadan Bagaskara, rekan bisnis Arjuna.
Lelaki bermata teduh itu langsung mengantarkan Ayu dan Nara ke ruang privasi yang paling tertutup, sesuai permintaan dari Arjuna.
Nara duduk dengan jemari yang saling bertautan erat. Gadis beriris cokelat itu tidak mampu menyembunyikan kegugupannya saat berhadapan langsung dengan Ayu--announcer Cakrawala Media sekaligus istri CEO Amerta Group.
Ayu menyesap minumannya sedikit, lalu menatap lekat-lekat sepasang mata gadis di hadapannya dengan tatapan yang teramat serius. Nada suaranya terdengar begitu tenang, namun sarat akan ketegasan yang mengintimidasi saat ia mulai melayangkan ancaman halus.
"Aku bisa saja menyetop seluruh beasiswa dari Amerta Group untukmu hari ini juga, Nara. Bahkan, aku juga bisa memecat ayahmu dari perusahaan milik keluarga suamiku," tutur Ayu tanpa riak emosi di wajahnya.
Nara seketika tersentak, wajahnya mendadak pias mendengar gertakan itu. Ia tidak mengerti kenapa Ayu mengajaknya untuk bertemu dan tiba-tiba melayangkan ancaman yang begitu fatal bagi hidupnya.
Ayu menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu melanjutkan ucapannya. "Aku beri tahu kamu satu hal, Sukma saat ini berada di tempat yang aman di bawah perlindunganku."
Nara memberanikan diri membalas tatapan Ayu, berusaha menelaah kalimat yang baru saja mengalir dari bibir wanita itu. Belum sempat ia bertanya, Ayu kembali memperdengarkan suara khasnya.
"Cara yang kamu pilih untuk membalas dendam teramat salah, Nara. Kamu justru masuk ke kandang iblis--komplotan berandal yang selama ini telah merusak masa depan anak-anak Universitas Cakrawala dengan menjalankan bisnis gelap prostitusi dan pengedaran narkoba."
Ia mengambil jeda sejenak, mengunci tatapannya pada netra Nara yang mulai bergetar.
"Satu hal lagi yang harus kamu tahu, Xavier melakukan perbuatan bejat itu karena hasutan dari Edo. Orang yang berpura-pura menjanjikan bantuan padamu, seolah-olah ia adalah rekan yang akan siap sedia membantumu membalas dendam."
Nara membisu cukup lama. Lidahnya seketika kelu. Ia hanya bisa menyimak semua ucapan Ayu yang mengalir pelan, tetapi berhasil menampar logikanya.
"Ja-jadi... Xavier menodai Sukma karena hasutan dari Edo?" tanyanya--akhirnya.
Setetes kristal bening luruh melintasi pipi Nara, mengiringi kalimat tanya yang terasa mencekat tenggorokan.
Ayu menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan--memvalidasi rahasia yang dituturkannya barusan. "Begitulah kenyataannya. Jadi, keputusanmu merapat ke dalam tubuh Black Shadow itu teramat salah dan bodoh, Nara. Mereka justru orang-orang yang telah membuat hidup Sukma hancur. Mereka memanfaatkan dendam, amarah, dan kebodohan Xavier untuk menodai marwah sahabatmu sendiri."
Nara tak kuasa lagi membendung tangis penyesalannya yang seketika pecah. Berulang kali ia merapal kata maaf dalam isak, merutuki dirinya sendiri yang telah bertindak teramat gegabah semata-mata hanya karena menuruti letupan emosi.
.
.
Pagi yang cerah di Desa W membawa Sukma berdiri tegak di depan papan tulis putih ruangan kelas dua Sekolah Dasar yang telah diamanahkan untuknya.
Di hadapannya, deretan anak-anak yang masih polos duduk dengan rapi dan tampak antusias. Dua di antara murid-murid berwajah ceria itu adalah Nadia dan Hanif, bocah-bocah supel yang kemarin sempat memberinya kejutan manis di pelataran yayasan.
Di jam pertama ini, Sukma menuturkan materi sederhana tentang indahnya kata maaf dan pentingnya berlapang dada. Namun, tepat di tengah-tengah penjelasannya yang mengalir lembut, Hanif tiba-tiba mengacungkan jari telunjuk kanannya ke atas.
Bocah laki-laki berpipi tembam itu bertanya dengan nada suara yang teramat polos. "Bu Guru, berarti kalau ada teman yang berbuat jahat sama kita, lalu dia meminta maaf, kita harus langsung memberi maaf? Tidak boleh dendam dan tidak boleh marah terlalu lama, ya?"
Deg!
Jantung Sukma seketika berdenyut ngilu mendengar rentetan kalimat sederhana itu. Pasokan udara di sekitarnya mendadak terasa menipis.
Tanpa bisa dicegah, ingatan Sukma langsung ditarik paksa melintasi waktu, tertuju lurus pada sosok Xavier ketika mengucap kata maaf di hadapannya dan di hadapan jenazah kakaknya, Hamdan.
Memori malam kelam yang menyeretnya ke lembah duka kembali berputar, seolah sedang menertawakan kemunafikan batinnya yang saat ini masih dipenuhi oleh luka dan kebencian yang mendalam.
"Bu Guru..."
Suara cempreng Hanif memecah keheningan, menyadarkan Sukma dari lamunan kelam yang sempat menyergap kesadarannya.
Sukma tersentak kecil. Ia meremas jemarinya di balik meja, memaksa kedua sudut bibirnya untuk melengkung membentuk sebaris senyum tipis demi menanggapi pertanyaan sang murid. Sebisa mungkin, ia mengontrol raut wajahnya agar tetap terlihat tenang di depan anak-anak.
"Benar, Sayang," jawab Sukma dengan suara yang sedikit bergetar, namun diusahakan terdengar tegas. "Kita tidak boleh menyimpan dendam dan tidak boleh marah terlalu lama kepada sesama. Harus tulus memaafkan dan berlapang dada."
Jawaban yang terucap pelan dari bibirnya justru menampar telak, berbalik menghantam dirinya sendiri tanpa ampun.
Seketika Sukma teringat pada untaian kalimat bermakna dalam yang pernah ia baca di novel tulisan Jianayu:
"Mengajari bibir orang lain untuk mengeja kata memaafkan adalah perkara yang teramat mudah, semudah membalik telapak tangan.
Kita bisa dengan lantang menasihati dunia agar lekas berdamai dengan luka, seolah melupakan perbuatan jahat adalah hal yang lumrah dilakukan oleh raga manusia.
Namun, realitasnya selalu berbicara lain. Saat pengkhianatan dan kehancuran marwah itu bernyawa di dalam dada kita sendiri, merobek malam dengan tangis darah, maka melisankan sebaris kata "memaafkan" adalah sebuah siksaan batin yang teramat berat, menghimpit kalbu, bahkan terasa mustahil untuk diucapkan oleh jiwa yang telanjur hancur lebur. Terkecuali... bagi mereka yang yakin bahwa di balik pesakitan, ada hadiah manis yang tengah disiapkan oleh Tuhan-nya."
🍁🍁🍁
Bersambung
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier