Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambisi Sang Ular
Tanpa menunggu rentetan pertanyaan lanjutan dari Anne yang mulai menggerutu, Suci bergegas melangkah menuju area dapur bersih. Namun, alih-alih mengambil gelas, wanita itu justru menyandarkan punggungnya pada lemari kabinet, membiarkan tubuhnya merosot perlahan seiring dengan isi kepalanya yang mulai berputar hebat.
****
Suci menatap kosong pada lantai marmer dapur yang mengkilap. Bayangan kejadian di pengadilan agama beberapa jam lalu kembali terproyeksi dengan begitu nyata di benaknya.
Ia mengingat bagaimana pengacara Sintia membongkar seluruh borok keuangan Rian. Angka-angka miliaran rupiah, bukti aliran dana asuransi, hingga ancaman penyitaan rumah mewah yang saat ini sedang ia pijak. Semua itu bukanlah gertakan sambal. Suci cukup cerdas untuk menyadari bahwa Rian berada di ujung tanduk. Perusahaan konveksi yang selama ini menyokong gaya hidup mewah mereka ternyata berdiri di atas fondasi uang milik Sintia dan mendiang ayahnya.
'Kalau Sintia berhasil memenangkan gugatan rekonvensi itu... Mas Rian akan hancur', batin Suci, dadanya berombak naik turun oleh rasa panik yang kian memuncak. 'Rumah ini akan disita. Perusahaan akan bangkrut. Mas Rian tidak akan punya apa-apa lagi selain hutang yang menumpuk!'
Rasa ngeri mencengkeram tangkai jantung Suci. Ia tidak meninggalkan masa mudanya, ia tidak melahirkan Arka dalam status anak siri selama bertahun-tahun, dan ia tidak menghancurkan persahabatannya dengan Sintia hanya untuk berakhir menjadi istri seorang gembel! Ia menginginkan kemewahan, status sosial, dan Limpahan harta yang tak habis tujuh turunan. Ia menyingkirkan Sintia karena ia mengira rumah dan seluruh isi dompet Rian akan menjadi miliknya. Namun sekarang, yang tersisa hanyalah puing-puing kehancuran yang siap menimbunnya hidup-hidup.
Di tengah keputusasaan yang mulai membakar warasnya, sekelebat bayangan lain mendadak melintas di dalam benak Suci.
Sosok pria tampan berwajah oriental yang turun dari mobil Rolls-Royce Phantom hitam legam di pelataran parkir pengadilan. Kenzi Hutama.
Suci mengingat dengan sangat detail bagaimana kemeja navy blue pria itu melekat sempurna pada tubuh tegap bak model kelas dunia. Bagaimana sepasang mata elangnya memancarkan otoritas mutlak yang sanggup membuat nyali semua orang ciut. Dan yang paling penting: bagaimana pria sekaya dan seberkuasa itu meletakkan tangannya di pinggang Sintia dengan begitu protektif.
Kenzi Hutama... pewaris tunggal Hutama Group, otak licik Suci mulai berputar, bekerja dengan kecepatan penuh bagai mesin yang mendapat pasokan bahan bakar baru.
Sebuah perbandingan yang teramat julas langsung kontras di kepalanya. Rian Mahesa hanyalah seorang pengusaha kelas menengah yang usahanya kini terancam gulung tikar dan berubah menjadi gembel dalam hitungan minggu. Sementara Kenzi Hutama? Pria itu berada di puncak rantai makanan ekonomi negeri ini. Kekayaannya tak berseri, ketampanannya memabukkan, dan kekuasaannya mutlak.
"Bagaimana bisa wanita mandul dan membosankan seperti Sintia mendapatkan pria sekelas Kenzi?" bisik Suci pada kesunyian dapur, suaranya bergetar oleh perpaduan antara rasa iri yang mendalam dan gairah ambisi yang mendadak berkobar.
Sintia yang rapuh, Sintia yang cengeng, Sintia yang selama tujuh tahun ini selalu berada di bawah telapak kakinya dalam hal memikat hati pria, ternyata bisa bersanding dengan berlian terbaik di kota ini. Jika Sintia saja bisa, mengapa dia tidak? Suci merasa dirinya jauh lebih cantik, jauh lebih pandai menyenangkan pria, dan jauh lebih lihai dalam memanfaatkan keadaan.
****
Suci menegakkan kembali punggungnya. Ia berjalan pelan menuju cermin besar yang tergantung di koridor dekat ruang makan. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin. Sepasang matanya yang dilapisi eyeliner tajam berkilat-kilat mencerminkan kedengkian dan keserakahan yang telah mencapai puncaknya.
Sebuah seringai tipis, penuh dengan kelicikan yang mematikan, perlahan-lahan terukir di bibirnya yang merah muda.
"Mas Rian... maafkan aku," desis Suci dengan suara yang teramat lirih, hampir menyerupai desisan seekor ular yang bersiap mengganti kulitnya. "Aku mencintaimu saat kamu memiliki segalanya. Tapi aku tidak sudi menemanimu hidup melarat di jalanan. Aku tidak dilahirkan untuk menjadi miskin."
Rencana baru yang teramat berani dan berbahaya mulai tersusun rapi di dalam kepala licik Suci. Jika kapal yang bernama Rian Mahesa ini akan karam dibawa badai bernama Sintia, maka Suci harus melompat ke kapal pesiar mewah milik Kenzi Hutama sebelum terlambat.
Ia tidak peduli bahwa Kenzi adalah pria yang membawa Sintia. Di mata Suci, semua pria adalah makhluk visual yang mudah dijinakkan jika diberikan umpan yang tepat. Ia berhasil merebut Rian dari Sintia hanya dalam waktu satu tahun pernikahan mereka, maka merebut Kenzi dari tangan Sintia bukanlah hal yang mustahil baginya.
'Sintia... kamu pikir kamu sudah menang karena mendapatkan perlindungan dari Kenzi Hutama?' batin Suci menyeringai puas, menatap pantulan matanya sendiri yang dipenuhi ambisi gelap. 'Kamu salah. Kamu hanya membukakan jalan bagiku untuk menuju takhta yang jauh lebih tinggi. Aku akan membuat Kenzi bertekuk lutut di bawah kakiku, dan saat hari itu tiba, aku sendiri yang akan menendangmu kembali ke selokan tempatmu berasal.'
Suci membayangkan dirinya duduk di dalam kabin mewah mobil Rolls-Royce, mengenakan perhiasan berlian yang jauh lebih besar dari milik Anne, dan melangkah keluar sebagai Nyonya Besar Hutama yang sah. Pikirannya dipenuhi oleh fatamorgana kemewahan baru yang membuatnya melupakan rasa takutnya akan kebangkrutan Rian.
"Suci! Mana air minumnya? Lama sekali!" teriakan Anne dari ruang tamu membuyarkan lamunan indah Suci.
Suci membalikkan badannya dengan cepat, seringai licik di wajahnya seketika lenyap, digantikan kembali oleh wajah penurut yang penuh kepura-puraan. Ia mengambil sebuah gelas berisi air putih dingin, lalu melangkah keluar menemui mertuanya yang masih menunggu dengan wajah ditekuk.
"Ini, Ibu. Maaf agak lama, tadi Suci harus menyaring airnya dulu," ujar Suci manis, menyerahkan gelas tersebut kepada Anne.
Anne menyambar gelas itu dengan gusar. "Sebenarnya apa yang terjadi, Suci? Kenapa Rian begitu marah? Jangan membuat Ibu jantungan karena teka-teki ini!"
****
Suci duduk di samping Anne, memasang wajah penuh keprihatinan yang dibuat-buat, bersiap meluncurkan kebohongan demi mengamankan posisinya untuk sementara waktu selagi ia mempersiapkan strategi untuk mendekati Kenzi.
"Ibu... Sintia ternyata licik sekali," bisik Suci dengan nada suara yang bergetar, berpura-pura sedih. "Dia menyewa pengacara mahal untuk merebut semua harta Mas Rian. Dia menuntut rumah ini dan perusahaan, Ibu. Mas Rian sedang pusing memikirkan bagaimana cara melawannya di sidang berikutnya."
"Apa?!" Anne berdiri dari sofanya, gelas di tangannya nyaris terlepas. Wajah keriputnya memerah padam oleh amarah yang meledak-ledak. "Dasar wanita mandul kurang ajar! Berani-beraninya dia mau merebut rumahku?! Rian yang bekerja keras, dan dia mau merampasnya begitu saja?! Tidak akan kubiarkan! Aku akan mencabik-cabik wajahnya kalau dia berani menginjakkan kaki di sini lagi!"
Suci menunduk, menyembunyikan senyum kepuasan yang nyaris lolos dari bibirnya. Biarkan saja wanita tua itu fokus membenci Sintia, sementara Rian fokus pada kehancuran bisnisnya. Dengan begitu, tidak akan ada satu pun dari mereka yang akan menyadari bahwa ular yang selama ini mereka pelihara di dalam rumah, sedang bersiap-siap melilitkan bisanya untuk mencari mangsa yang jauh lebih besar dan berharga di luar sana.
Langkah kaki Suci malam itu terasa jauh lebih ringan saat ia berjalan menuju kamarnya. Di bawah kegelapan malam kediaman Mahesa yang mulai retak, sebuah konspirasi baru yang jauh lebih kejam telah resmi lahir dari rahim keserakahan seorang Suci Wahyuni.