Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: PERMAINAN AIR DAN JATUH YANG TAK DIRENCANAKAN
Seperti biasa, sebelum alarm dunia orang kaya berbunyi, Reyhan sudah lebih dulu menyelesaikan dialognya dengan Sang Pencipta. Setelah Tahajud dan Subuh yang khusyuk, ia tidak kembali tidur. Ia justru sibuk membereskan gudang pengap yang kini menjadi wilayah kekuasaannya.
Reyhan menyapu debu-debu tebal, menyingkirkan sisa mesin rumput yang tak terpakai, dan menyusun ranselnya dengan rapi. Matanya menatap dinding kusam yang agak berlumut itu dengan penuh rencana. Besok aku akan beli beberapa perlengkapan agar tempat ini lebih manusiawi, batinnya. Bagi Reyhan, uang bukanlah masalah. Kartu ATM khusus dari ibunya masih tersimpan rapat, berisi angka yang cukup untuk membeli seluruh isi rumah ini jika ia mau. Namun, ia memilih tetap bermain dalam perannya.
Pukul enam pagi, ia sudah berada di garasi. Setelah membantu ART menyiapkan peralatan, ia mulai mencuci mobil mewah milik Bramantyo. Air selang menyembur, membasuh debu-debu jalanan, seiring dengan pikirannya yang terus memetakan pergerakan musuh-musuhnya di luar sana.
Pukul tujuh pagi, sang putri mahkota baru saja membuka mata. Hal pertama yang muncul di pikiran Vanya bukanlah sarapan mewah, melainkan wajah Reyhan. Ia ingin membalas dendam atas kekalahannya di restoran dan kontrakan.
"Pasti si gembel itu masih mendengkur di gudang," gumam Vanya dengan senyum licik.
Ia langsung berlari menuju area servis di belakang rumah tanpa sempat mengganti baju tidurnya yang tipis. Ia ingin menangkap basah Reyhan yang malas-malasan, sehingga ia punya alasan untuk melaporkannya pada Papa. Namun, saat pintu gudang yang tidak dikunci itu dibukanya dengan kasar, Vanya tertegun.
Gudang itu kosong. Dan yang lebih mengejutkan, tempat itu sudah terlihat jauh lebih rapi meski dindingnya masih kusam.
"Dimana si gembel itu?!" Vanya celingukan. "Jangan-jangan dia kabur? Awas kamu ya! Kalau kamu kabur sebelum aku sempat membalasmu, aku akan menyuruh Angga mencarimu sampai ke lubang semut!"
Vanya melangkah keluar dengan gusar. Dari kejauhan, di area parkir depan, ia melihat sosok pria berkaos oblong hitam sedang sibuk mengelap mobil ayahnya hingga mengkilap. Itu Reyhan.
Vanya menyeringai. Sebuah ide jahil melintas di kepalanya. Ia berjalan mengendap-endap, berniat mengejutkan Reyhan atau setidaknya mencari celah untuk mengotori kembali mobil itu.
Namun, Reyhan bukanlah pria sembarangan. Meski matanya fokus pada badan mobil, sudut matanya sudah menangkap pergerakan Vanya yang mendekat dari sisi kanan. Reyhan tahu, Vanya datang bukan dengan perdamaian. Ia pun memutar posisi ke sisi kiri mobil, bersembunyi di balik bodi kendaraan yang besar itu sambil menajamkan pendengarannya.
"Kemana sih si gembel itu?" bisik Vanya sambil celingukan di sisi kanan mobil. "Sebentar lagi Papa berangkat ke kantor. Kalau Papa melihat mobilnya kotor, dia pasti akan memarahi si gembel habis-habisan. Mumpung dia tidak ada, aku akan kotori lagi mobil Papa pakai lumpur dari pot bunga ini! Rasakan kamu nanti, gimana rasanya kemarahan Papa!"
Reyhan, yang mendengarkan segalanya dari sisi sebelah, hanya tersenyum tipis. Oh, jadi begitu mainnya? pikirnya.
Tanpa membuang waktu, Reyhan melesat menuju pintu samping rumah. "Tuan Bram! Maaf Tuan, saya mengganggu Anda!" teriak Reyhan cukup keras hingga terdengar ke dalam.
Bramantyo, yang sedang dirapikan dasinya oleh Melly—istri keduanya—merasa terganggu. Ia keluar dengan wajah masam. "Ada apa? Kamu mengganggu saja!"
"Maaf Tuan, saya tidak bisa membersihkan noda yang ada di pintu depan mobil Tuan!" ucap Reyhan dengan wajah dibuat-buat panik.
"Bodoh! Dasar gembel! Gitu saja tidak bisa!" umpat Bramantyo.
"Saya sudah bersihkan berkali-kali Tuan, namun tetap kotor. Sepertinya nodanya sangat membandel," Reyhan merendahkan suaranya, berakting dengan sangat meyakinkan. "Saya tidak begitu paham tentang cuci mobil, karena saya tidak punya mobil mewah seperti Bapak. Saya hanya orang miskin, Tuan..."
"Sudah, Mah! Gembel ini benar-benar bikin masalah saja!" ucap Bram pada Melly. "Sini kamu! Biar aku ajari caranya kerja benar! Kalau nodanya berhasil aku bersihkan, aku akan hukum kamu karena tidak becus bekerja!"
"Iya Tuan, maafkan saya..." Reyhan membungkuk, sambil memberi isyarat tangan ke arah pintu bagian sopir.
Saat Bramantyo tiba di samping mobil, ia mendadak mematung. Wajahnya memerah padam. Di sana, Vanya sedang asyik melumuri pintu mobil ayahnya dengan lumpur basah.
Vanya yang sedang asyik "melukis" lumpur mendadak membeku melihat ayahnya berdiri tepat di depannya. "Pa... Papa... mau berangkat sekarang?"
"VANYA! Ngapain kamu?! Kenapa kamu kotori mobil Papa?!" teriak Bramantyo murka.
Vanya gelagapan. "Kan... nanti dibersihkan sama 'pembantu' kita, Pah! Aku cuma mau mengetes pekerjaannya!"
"Kamu ini sudah besar tapi kelakuan seperti anak kecil! Cepat bersihkan lumpur itu sekarang juga!"
Reyhan, yang berdiri di belakang Bram, tersenyum menang. Senyum tipis yang hanya bisa dilihat oleh Vanya.
"Kok aku yang bersihin? Bukannya dia, Pah?" protes Vanya manja.
"Cepat! Berani berbuat harus berani bertanggung jawab! Papa sudah terlambat!" tegas Bram.
"Hmm... Papa!" Vanya menghentakkan kakinya. Awas kamu ya, Gembel! batinnya jengkel karena kali ini ia tertangkap basah.
"Kamu, bantu dia, Gembel! Biar cepat saya bisa berangkat!" perintah Bram pada Reyhan.
"Baik, Tuan."
Vanya terpaksa berjongkok di samping Reyhan, memegang busa sabun dengan wajah cemberut. Sifat manjanya belum hilang. Saat Reyhan sedang fokus menyikat bagian bawah, Vanya mencoba menendang ember berisi air sabun di sampingnya. Ia bermaksud agar cipratan airnya mengenai wajah Reyhan.
Namun, karena lantai garasi yang licin akibat sabun, dan kakinya meleset saat menendang, Vanya justru kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung ke belakang. "Aaaa!"
Tanpa diduga, dengan gerakan refleks yang sangat cepat dan sigap, tangan kokoh Reyhan langsung menangkap pinggang Vanya. Dalam sekejap, tubuh Vanya berada dalam dekapan Reyhan.
Momentum itu seakan membuat waktu malas bergerak. Dunia seolah berhenti berputar. Debu-debu yang beterbangan di bawah sinar matahari pagi seolah menjadi saksi adu pandang mereka yang begitu dekat. Vanya bisa merasakan hangatnya napas Reyhan dan mencium aroma sabun maskulin yang bercampur dengan bau segar air.
Hati Vanya berdegup kencang. Ia merasa malu, namun ada rasa kagum yang menyeruak. Ternyata... dia tampan juga kalau dilihat sedekat ini, batin Vanya tanpa sadar.
Namun, ekspresi Reyhan tetap datar, sedingin es namun setajam elang. "Hati-hati Nona Man... nis," bisik Reyhan, sengaja menggantung kata 'manja' menjadi 'manis'.
Bramantyo yang melihat kejadian itu dari teras merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia melihat chemistry yang berbahaya. Baginya, Reyhan tetaplah ancaman bagi martabat keluarganya.
"Hey! Kalian cepat! Malah sibuk akting film India lagi!" teriak Bramantyo ketus.
Reyhan segera melepaskan dekapannya dan membantu Vanya berdiri tegak. "Maaf Tuan, tadi Nona mau jatuh. Jadi saya refleks saja. Jika saya harus dihukum gara-gara menyentuh Nona, saya siap. Namun bagiku, keselamatan Nona lebih penting daripada aturan mana pun."
Bramantyo terlihat muak melihat ketenangan Reyhan yang justru tampak seperti pahlawan. "Sudah, sudah! Bersihkan cepat!"
Reyhan mengambil selang dan menyiram sisa lumpur itu dengan gerakan efisien. "Biar saya selesaikan, Tuan." Dan dalam hitungan menit, mobil itu kembali bersih mengkilap.
"Mana noda yang katanya susah dibersihkan itu?!" tagih Bramantyo sambil memeriksa pintu mobilnya.
"Noda itu..." Reyhan melirik ke arah Vanya yang sedang menunduk malu bercampur kesal. "...sudah hilang saat Nona Vanya menyentuhnya tadi, Tuan."
"Ah, sudah! Aku terlambat ke kantor gara-gara kalian!" Bramantyo langsung masuk ke mobil dan pergi dengan terburu-buru.
Setelah mobil itu keluar dari gerbang, suasana garasi menjadi sunyi. Vanya menatap Reyhan dengan mata menyala. "Awas kamu, Gembel! Kamu sengaja kan menjebakku di depan Papa tadi?"
Reyhan mengelap tangannya yang basah dengan handuk kecil, lalu menatap Vanya dengan tatapan meremehkan yang elegan. "Nona, sepertinya Anda salah cari musuh. Lain kali kalau mau menjahili orang, pastikan otak Anda bekerja lebih cepat dari kaki Anda."
"Kamu—!"
Reyhan berlalu begitu saja menuju gudang, meninggalkan Vanya yang berdiri sendirian di garasi dengan perasaan dilematis: antara ingin melemparnya dengan ember atau ingin kembali merasakan dekapan kuat pria itu saat ia hampir jatuh tadi.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan