NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 Nimas Ayu, Nama Yang Dia Cari

Rasa kagum yang tiba-tiba menyelimuti Miss Panda. Membuatnya hanya berdiri sambil mengawasi Nimas. 

Sedangkan Nimas pun juga terus mengawasi Miss Panda dengan tatapan menyelidik. Hingga pandangannya terpaku saat melihat mata Miss Panda. Warna coklat terang yang tiba-tiba membuat Nimas kurang nyaman. 

“Emm.” 

Nimas berusaha melepaskan diri dari Mbah Sekar. Melihat sikap Nimas yang masih sulit mengendalikan diri, tentu membuat Mbah Sekar khawatir. 

“Nimas!” 

Dengan langkah buru-buru Nimas berlari masuk ke kamar. 

BRAK! 

Bantingan pintu yang terdengar dari kamar Nimas. Membuat Mbah Sekar tidak enak hati pada Miss Panda. 

“Maafkan putri saya, Miss Panda. Nimas hanya belum terbiasa dengan keberadaan orang baru.” 

“Tidak apa, Mbah. Saya paham.” 

“Silahkan diminum.” 

“Baik, terimakasih banyak, Mbah.” 

Klek. 

Setelah meletakkan gelas diatas meja. Miss Panda langsung ke inti kedatangannya. 

“Saya minta maaf atas kejadian hari ini,” ucap tulus Miss Panda.

“Saya akan mencari pelaku penyebaran video itu. Mau video itu benar atau tidak. Jelas tidak bisa dibenarkan. Karena menyebarkan video itu dilakukan saat pelajaran berlangsung serta di lingkungan sekolah.” 

“Terima kasih banyak, atas kepedulian dan tanggung jawab Miss Panda,” tutur Mbah Sekar dengan pandangan mata menatap jauh ke depan. 

“Jujur saja, saya sama sekali tidak menyangka kejadian 18 tahun lalu sengaja direkam seseorang dan disebarkan saat ini,” lanjut Mbah Sekar menghiasi wajah keriputnya. 

“Meskipun saya tidak melihat secara langsung dan lengkap kebenaran video itu. Namun, reaksi Dira sudah mewakili isinya.” 

Apa yang dikatakan oleh Mbah Sekar memang benar. Reaksi Dira sudah mewakili isi dari video itu. Dan reaksi itu jugalah yang masih dirasakan oleh Dira sampai saat ini. 

Meskipun senyum serta keadaan baik-baik saja sempat ditunjukkan oleh Dira dihadapan Mbah Sekar. Namun, nyatanya tidak seperti itu. Efek rasa sedih serta kecapean menangis membuat Dira tertidur. 

“Apakah boleh saya bertanya tentang hal ini, Mbah?” 

“Silahkan, Miss Panda.” 

“Apakah kejadian video itu terjadi di tempat kelahiran Dira?” tanya Miss Panda mencoba menggali informasi. 

Mbah Sekar tidak langsung menjawab. Hembusan nafas panjang menandakan tidak mudah mengingat kejadian yang dianggap kelam.

“Bukan.” 

Kening Miss Panda mengkerut saat mendengar jawaban Mbah Sekar. Rasa penasaran itu semakin menyelimuti diri Miss Panda. 

“Jauh dari tempat itu. lebih tepatnya di desa...” jelas Mbah Sekar dengan pandangan jauh ke belakang. 

“Sebuah tempat yang selalu menjunjung adat istiadat maupun hukum sosial. Meskipun Nimas adalah korban dan tidak mengharapkan itu. Namun, tetap saja Nimas melanggarnya.” 

Huff. 

Mbah Sekar menghentikan ucapannya hanya untuk sekedar mengambil nafas. Wajahnya semakin lelah membuat Miss Panda tidak tega untuk melanjutkan percakapan ini. Apalagi hembusan nafas dalam menandakan jika Mbah Sekar sedang menahan rasa sakit itu. 

“Oh iya. Mbah. Saya minta maaf tidak bisa berlama-lama. Karena kebetulan saya ada janji dengan seseorang.” 

Miss Panda terpaksa mengakhiri percakapan dengan Mbah Sekar. Selain ingin memberikan waktu ketenangan Mbah Sekar. Juga ingin meminta bantuan dalam penyelidikan kasus Nimas. 

“Oh, tidak apa-apa Miss Panda. Terima kasih banyak sudah mengantar Dira selamat sampai rumah.” 

“Saya pamit, Mbah. Titip salam buat ibunya Dira.” 

“Iya.” 

“Assalamualaikum.” 

“Waalaikumussalam.” 

Setelah pamit dengan Mbah Sekar. Miss Panda langsung menuju parkiran mobil. Tujuannya jelas pulang ke rumah. Tangannya terulur untuk menghubungi seseorang. 

Dari arah kejauhan setelah kepergian Miss Panda. Dari sudut lain tanpa disadari Mbah Sekar, jika Nimas terus mengawasi Miss Panda hingga bayangan tubuhnya sudah tak terlihat. 

“Kok gak bisa dihubungi,” gerutu Miss Panda sambil menuju parkiran mobil. 

Ck…

“Kebiasaan kalau lagi dibutuhkan. Pasti sulit dihubungi,” gerutu Miss Panda saat nomor yang ia hubungi tidak aktif. 

“Sepertinya aku harus menunggu hingga nanti malam. Karena mengobrol langsung jauh lebih nyaman dibandingkan lewat telepon. 

Karena ingin mengobrol lebih intens. Miss Panda memutuskan untuk menunggu kepulangan kakaknya. Meskipun terkadang pulang hingga tengah malam hari. 

Sebab, jika pun bisa dihubungi. Tentu tidak akan fokus. Sehingga Miss Panda memutuskan pulang ke rumah. 

***

Huff.

“Lama banget pulangnya,” gerutu Miss Panda mondar-mandir sambil terus melihat pintu gerbang rumah dinas sang kakak. 

Tingkah laku Miss Panda itu tentu mengganggu kenyamanan Kakek Wirawan. Sebab, konsentrasi bermain catur turun drastis. 

“Kamu kenapa mondar-mandir seperti itu, Panda?” geram Kakek Wirawan yang hanya dibalas tatapan saja oleh Miss Panda. 

“Apa kamu tidak lihat, aku ini sedang konsentrasi untuk bisa mengalahkan Faza?” 

“Iya, Pa. Aku lihat kok,” jawab Miss Panda terpaksa sambil melihat jam tangannya, yang saat ini menunjukkan pukul 21.00 WIB. 

“Kalau kamu memang beneran melihat Papa sedang konsentrasi. Kenapa masih berdiri disitu? Cepat duduk! Lama-lama Papa nikahi juga kamu sama Tarjo, asistennya masmu.” 

“Apa-apaan sih, Pa. Gak lucu banget,” gerutu Miss Panda. 

“Makanya cepat duduk! Memangnya kalau kamu berdiri disitu masmu Satria langsung datang.” 

“Ya, aku duduk nih,” kesal Miss Panda. Karena mau tidak mau harus mengikuti ucapan Kakek Wirawan. Daripada berurusan dengan perjodohan yang tidak ada habisnya. 

“Kalau seperti itu kan beneran putri kandung Papa.” 

Mata Miss Panda memicing mendengar ucapan Kakek Wirawan. Rasa curiga menggelayuti Miss Panda. 

“Memangnya Papa kira aku siapa?” tanya Miss Panda penasaran.

“Singa betina.” 

“Papa!” teriak Miss Panda tidak terima dengan sebutan Kakek Wirawan untuknya. 

Hahaha…!

“Makanya jadi perempuan itu gak boleh galak.” 

Kakek Wirawan tertawa keras melihat tingkah laku putrinya. Meskipun usianya sudah pantas berumah tangga dan terkenal galak. Namun, tetap bagi Kakek Wirawan, Miss Panda adalah putri kecilnya. 

Brooom…

“Tuh masmu sudah datang.” 

Suara mesin mobil masuk ke halaman rumah dinas Satria. Langsung membuat Miss Panda berdiri tegap. Dirinya sudah tidak sabar berbicara dengan Satria. 

Klek.

Bruk! 

Mobil SUV hitam itu dibanting pelan. Dari balik kemudi, turun sosok laki-laki tinggi tegap serta wajah tampan dengan pangkat tiga melati di pundaknya. 

Keningnya langsung mengkerut saat melihat Miss Panda berdiri di hadapannya. Selayaknya sudah menunggu kedatangannya. 

Tanpa memperdulikan Miss Panda yang berdiri di depannya. Satria lebih memilih berlalu menghampiri Kakek Wirawan. 

“Assalamualaikum, Pa,” salam Satria sambil mencium punggung tangan Kakek Wirawan. 

“Waalaikumsalam.” 

“Mas, ada yang ingin aku…” 

“Biarkan masmu makan dulu,” potong cepat Kakek Wirawan sebelum Miss Panda menyelesaikan ucapannya. 

“Iya, Pa.” 

“Aku sudah makan, Pa,” jawab Satria. Lalu mengalihkan pandangannya ke Miss Panda. 

“Memangnya kamu mau ngomong apa?” tanya Satria duduk di hadapan Kakek Wirawan sambil melepas sepatunya. 

“Aku butuh bantuan nih.” 

“Bantuan apa?” tanya Satria sambil tersenyum. 

“Aku ingin Mas bantu menyelidiki kasus 18 tahun yang lalu di Desa Timbul Wangi.” 

“DESA APA?” tanya Satria cepat saat mendengar nama desa tidak asing untuknya. 

Tidak hanya cepat, melainkan nada bicara yang terdengar keras mengalihkan orang yang ada di tempat tersebut. Sebuah kebiasaan yang tidak pernah dilakukan Satria saat berada di hadapan Kakek Wirawan. 

“Masa seorang Dirreskrimum gak fokus diajak ngomong,” gerutu Miss Panda karena harus mengulangi ucapannya. 

“Desa Timbul Wangi, Kabupaten Tawangrejo.” 

Mendengar penuturan Miss Panda seketika Satria terdiam. Senyum wibawanya langsung menghilang saat itu juga. 

Matanya yang biasanya menguliti tersangka kelas kakap berubah jadi dingin, saat mendengar nama desa yang disebut oleh adiknya. 

“Bukankah Mas Satria tugas pertama saat kenaikan pangkat berapa di wilayah itu?” tanya Miss Panda.

“Kalau gak salah Mas pernah dapat penghargaan karena menyelesaikan kasus yang terjadi di tempat itu, kan? Jadi, gak salah aku minta tolong ke Mas.” 

Tidak ada tanggapan yang diucapkan oleh Satria. Hanya tangannya terkepal erat mencoba menekan sesuai tidak nyaman pada dirinya. 

“Memangnya ada apa di tempat itu? Sampai kamu minta tolong ke masmu,” tanya Kakek Wirawan penasaran. 

“Waktu 18 tahun itu gak sebentar. Banyak hal-hal yang mungkin bisa terlewatkan,” ucap Kakek Wirawan mulai tertarik dengan obrolan Miss Panda. 

“Ini berhubungan dengan muridku, Pa.” 

“Kenapa dengan muridmu?” 

“Tadi siang ada video tentang kejadian 18 tahun lalu di desa tersebut tersebar. Yang terkena dampak tersebarnya video itu adalah muridku,” jelas Miss Panda. 

“Memangnya apa isi video itu?” tanya Kakek Wirawan yang mulai menghentikan permainan caturnya. 

Entah kenapa informasi yang diberikan Miss Panda sangat menarik untuk diselidiki. Atau ada hal yang tiba-tiba mengalihkan perhatiannya. 

“Video itu berisi tentang pengusiran warga desa saat tahu ada perempuan hamil diluar nikah.” 

“Terus?”

“Identitas perempuan itu adalah ibunya muridku yang bernama Dira,” jelas Miss Panda dengan mimik wajah mulai sendu. 

“Apa yang terjadi dengan perempuan itu?” tanya Kakek Wirawan kembali. 

“Kasihan sekali, Pa. Karena kejadian itu, dia mengalami gangguan kejiwaan.” 

Deg! 

Satria yang mulai sejak tadi memilih diam sambil mendengarkan penuturan Miss Panda. Langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berpacu tanpa terkendali saat mendengar kata-kata ‘gangguan kejiwaan’.

“Tadi barusan aku melihatnya secara langsung. Dan apakah Papa bisa menebak orangnya seperti apa?” 

“Memangnya seperti apa orangnya?” tanya Kakek Wirawan. 

“Dia sangat cantik sekali, Pa. Sesuai dengan namanya,” puji Miss Panda pada sosok Nimas. 

“Siapa nama perempuan itu?” tanya cepat Satria tiba-tiba memecah obrolan antara Miss Panda dengan Kakek Wirawan. 

“Nimas Ayu.” 

“Nimas Ayu?” tanya Satria memastikan.

“Benar.” 

Saat mendengar nama Nimas Ayu. Ada rasa kurang nyaman menggelayuti Satria. Sehingga Satria memilih masuk ke rumah tanpa banyak kata.

“Mas Satria mau kemana?” Aku belum selesai bercerita,” tanya Miss Panda yang sama sekali tidak ditanggapi Satria. 

Satria langsung menuju ke ruang kerja tempat berkas kasus tersimpan. Nama Nimas Ayu jelas sudah ada di laporan yang sebelumnya didapatkan oleh Faza. 

Karena banyaknya kasus yang ditangani Satria Hingga berkas tentang Nimas Ayu belum tersentuh. Dan saat inilah waktu yang dirasa tepat membuka berkas itu. Membaca teliti berkas laporan yang diberikan oleh Faza. 

Sreet.

Suara lembaran kertas yang terbuka. Menandakan jika Satria fokus membaca laporan tersebut. Hingga tiba-tiba tenggorokan Satria terasa tercekik saat menemukan hal tak terduga. 

“Gak mungkin, semoga bukan dia perempuan yang aku cari 17 tahun yang lalu,” ucap Satria sambil memegang erat dokumen milik Nimas Ayu. 

17 tahun yang lalu? 

Jelas ada jarak perbedaan waktu 1 tahun antara informasi yang diberikan Miss Panda beserta Faza. Waktu yang mampu membuat nafasnya memburu. 

Kini, pandangan matanya menangkap deretan penghargaan yang didapat selama karir. Saat ini Satria berdiri antara hati nurani dan profesional. 

“Mungkin memang sudah waktunya,” ucap Satria sambil menggenggam kalung inisial N. 

1
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!