NovelToon NovelToon
The Don & The Disaster

The Don & The Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Action
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aiden yang Mulai Kehilangan Akal Sehat

Milan tidak pernah tidur, namun malam ini kota itu terasa seperti sedang menahan napas di bawah cekikan kabut musim dingin yang beracun. Cahaya neon dari papan iklan mewah di Galleria Vittorio Emanuele II memantul di atas aspal yang basah oleh hujan asam, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti monster-monster yang merayap di sela-sela pilar Gotik. Di kejauhan, Duomo berdiri tegak seperti tengkorak marmer raksasa yang mengawasi dosa-dosa penduduknya.

​Aroma Milan malam ini bukan lagi tentang parfum high-end atau kopi panggang, melainkan bau besi yang tajam—bau darah yang menguap dari gang-gang sempit Brera. Di lantai teratas penthouse Volkov, Aiden berdiri di balkon tanpa mantel, membiarkan angin dingin menusuk kulitnya yang terluka. Di bawahnya, lampu-lampu kota berkedip seperti detak jantung yang sekarat.

​Aiden Volkov mulai kehilangan akal sehatnya. Bukan karena ia gila dalam arti medis, melainkan karena ia mulai kehilangan kendali atas insting predatornya. Setiap langkah kaki pelayan di koridor, setiap deru mesin mobil di jalanan bawah, terdengar seperti ancaman pembunuhan di telinganya.

​Di dalam ruang kerjanya yang luas, Aiden tidak lagi duduk di balik meja mahoninya yang megah. Ruangan itu kini menyerupai pusat komando perang yang kacau. Layar monitor raksasa menampilkan ribuan data arus logistik, rekaman CCTV dari pelabuhan, hingga profil satelit para pemimpin The Crimson Fang.

​Aiden memegang segelas wiski yang sudah hangat. Matanya merah, bukan karena mabuk, tapi karena kurang tidur selama tiga hari berturut-turut. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat foto Ziva di tangan musuh—foto yang dikirimkan ke pintunya seperti surat kematian.

​"Tuan, Anda perlu istirahat," suara Marco terdengar hati-hati dari ambang pintu. "Dokter mengatakan jahitan di bahu Anda bisa terbuka lagi jika Anda terus tegang seperti ini."

​Aiden tidak berbalik. Ia justru melemparkan gelas wiskinya ke arah layar monitor yang menampilkan logo Crimson Fang.

​PRANG!

​Cairan amber membasahi layar yang retak, menciptakan distorsi warna yang mengerikan. "Istirahat, Marco? Bagaimana aku bisa istirahat saat bajingan-bajingan itu sedang menertawakan kelemahanku? Mereka tahu di mana Ziva tidur. Mereka tahu aroma parfumnya. Mereka bahkan tahu kapan dia menangis!"

​Aiden berbalik, dan Marco tersentak melihat sorot mata tuannya. Itu bukan lagi tatapan Aiden Volkov yang dingin dan terhitung. Itu adalah tatapan serigala yang terpojok dan siap mencabik siapa pun—termasuk kawan sendiri.

​"Hancurkan distrik Navigli," perintah Aiden datar, namun penuh kebencian.

​"Tuan? Navigli adalah area sipil, banyak bisnis legal kita di sana—"

​"Aku tidak peduli!" raung Aiden, menghantam meja kerjanya hingga vas bunga kristal jatuh hancur. "Informan Crimson Fang bersembunyi di sana. Jika aku harus membakar seluruh Milan untuk menemukan satu ekor tikus, maka biarlah Milan terbakar! Aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan: ketakutan yang tidak berujung!"

​Sementara itu, di kamar tidurnya yang kini dijaga oleh empat pengawal bersenjata otomatis di balik pintu, Ziva duduk meringkuk di sudut tempat tidur. Suasana Milan yang biasanya ia kagumi dari balik kaca jendela kini terasa mencekam. Suara sirene polisi yang menderu di kejauhan terdengar seperti jeritan minta tolong.

​Ziva memegang ulekan batunya, mencoba mencari ketenangan dari tekstur kasar batu tersebut. Namun, kegilaan Aiden mulai merembes masuk ke dalam jiwanya. Ia bisa merasakan perubahan energi di mansion ini. Para pelayan tidak lagi berani bicara. Marco selalu tampak seperti sedang berjalan di atas telur. Dan Aiden... Aiden jarang menemuinya.

​Ziva memberanikan diri keluar dari kamarnya. Para pengawal mencoba menghalanginya, namun satu tatapan tajam dari Ziva membuat mereka mundur. Ziva berjalan menyusuri lorong panjang yang gelap menuju ruang kerja Aiden.

​Di sana, ia mendengar suara barang-barang pecah dan teriakan Aiden yang parau. Ziva berhenti di depan pintu yang setengah terbuka. Ia melihat Aiden sedang menghancurkan koleksi botol parfum langkanya—benda-benda yang dulu sangat ia banggakan.

​"Bang Don?" panggil Ziva pelan.

​Aiden berhenti. Tangannya berdarah karena mencengkeram pecahan botol. Ia menoleh perlahan. Nafasnya memburu, dan ada sesuatu yang liar di matanya yang biasanya tenang.

​"Keluar, Ziva," ucap Aiden dingin.

​"Gue nggak mau. Lu kenapa jadi gini, Bang? Lu kayak orang kesurupan setan Milan," Ziva melangkah masuk, mengabaikan serpihan kaca di lantai.

​Aiden tertawa, suara tawa yang kering dan hampa. "Setan? Akulah setan itu, Ziva. Aku baru saja memerintahkan Marco untuk menghancurkan sebuah distrik. Aku mulai kehilangan akal sehatku karena memikirkanmu!"

​Aiden menerjang maju, mencengkeram bahu Ziva dengan kasar. "Kau tahu kenapa aku tidak menemuimu? Karena setiap kali aku melihatmu, aku teringat betapa lemahnya aku. Kau adalah kelemahanku, Ziva! Dan di dunia ini, kelemahan harus dimusnahkan atau dilindungi dengan kegilaan!"

​Ziva tidak takut. Ia justru menatap mata Aiden dengan dalam. Ia melihat ketakutan yang luar biasa besar di balik kemarahan itu. Aiden bukan marah pada musuh; ia marah karena ia mencintai seseorang sedalam ini hingga ia tidak bisa lagi berpikir jernih.

​Ziva mengangkat tangannya, meletakkan telapak tangannya di pipi Aiden yang kasar karena tidak bercukur. "Bang... liat gue. Gue masih di sini. Gue nggak diculik, gue nggak mati. Lu jangan hancurin diri lu sendiri cuma karena lu takut kehilangan gue."

​Aiden tertegun. Sentuhan lembut Ziva terasa seperti air dingin yang menyiram api di otaknya. Perlahan, cengkeramannya di bahu Ziva melonggar. Tubuhnya yang tegang mulai luruh.

​"Aku... aku tidak bisa membiarkan mereka menyentuhmu lagi, Ziva," bisik Aiden, suaranya kini bergetar. "Milan ini... kota ini... dipenuhi orang-orang yang ingin melihatku jatuh. Dan mereka akan menggunakanmu sebagai pemicunya."

​"Ya udah, biar mereka coba," jawab Ziva berani. "Kan ada lu. Ada Marco. Ada ulekan gue. Lu jangan jadi monster buat orang yang nggak salah, Bang. Navigli itu tempat orang cari makan, jangan dihancurin cuma gara-gara satu informan."

​Aiden menyandarkan dahinya di bahu Ziva, membiarkan dirinya rapuh sejenak. Sang Naga Hitam yang ditakuti seluruh Eropa kini sedang berlutut di depan seorang gadis kurir dari Jakarta.

​Di luar, badai benar-benar pecah. Guntur menggelegar di atas langit Milan, menyambar puncak menara-menara pencakar langit. Hujan turun dengan deras, mencuci darah di gang-gang, namun tidak bisa mencuci kebencian yang sudah mendarah daging.

​Aiden berdiri kembali, meski matanya masih tampak lelah. Ia mengambil interkom di mejanya. "Marco. Batalkan perintah di Navigli. Cari informan itu dengan cara halus. Jika kau gagal, baru aku yang akan turun tangan."

​"Baik, Tuan," suara Marco terdengar lega di ujung sana.

​Aiden menatap Ziva. "Kau menyelamatkan kota ini malam ini, Ziva. Tapi kau tidak bisa menyelamatkanku selamanya dari apa yang harus kulakukan di Sisilia."

​"Sisilia?" Ziva mengerutkan kening.

​" Crimson Fang mengundangku ke sana. Sebuah perjamuan malam untuk 'menyelesaikan masalah'. Dan mereka ingin kau hadir sebagai tamu kehormatan," Aiden mengepalkan tangannya kembali. "Aku mulai kehilangan akal sehatku karena aku tahu, jika kita ke sana, kemungkinan besar hanya satu dari kita yang akan kembali dengan utuh."

​Ziva terdiam. Ia tahu ini bukan lagi sekadar kabur dari pembunuh bayaran di hutan. Ini adalah konfrontasi langsung di jantung kekuasaan musuh. Sisilia, pulau yang dikenal sebagai tanah lahirnya mafia, akan menjadi panggung drama berdarah mereka berikutnya.

​"Gue bakal ikut, Bang," ucap Ziva tegas. "Bukan sebagai tamu kehormatan, tapi sebagai asisten taktis lu. Lu butuh gue buat jaga akal sehat lu tetep lurus."

​Aiden menatap Ziva dengan rasa kagum yang bercampur ngeri. "Kau benar-benar tidak tahu apa yang kau hadapi, Ziva."

​"Gue tahu kok. Gue hadapi naga gila yang lagi stres," Ziva mencoba menghibur dengan senyum tipisnya.

​Malam itu, di tengah kemegahan Milan yang mulai terasa seperti penjara emas, Aiden Volkov mulai merencanakan serangan balik yang paling brutal dalam sejarahnya. Ia mulai mengasah kembali akal sehatnya, mengubah ketakutan menjadi strategi murni yang mematikan.

​Ia berjalan menuju brankas rahasianya, mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam. Di dalamnya terdapat sebuah kalung dengan liontin permata merah darah yang berisi pelacak GPS paling canggih dan sebuah dosis sianida tersembunyi—sebuah pengaman terakhir jika segalanya gagal.

​Aiden melihat ke arah cermin. Wajahnya tampak lebih tua, lebih keras. Ia menyadari bahwa untuk melindungi Bunga Mataharinya, ia memang harus menjadi monster yang paling ditakuti di seluruh daratan Italia.

​"Sisilia akan membara," gumam Aiden sambil menatap pantulan dirinya sendiri.

​Hujan di luar semakin lebat, menenggelamkan suara isak tangis di sudut-sudut kota Milan yang kumuh. Kota mode ini mungkin terlihat cantik dari luar, namun di dalamnya, perang besar sedang dipersiapkan. Dan Aiden Volkov, dengan sisa-sisa akal sehat yang ia jaga demi Ziva, siap untuk menelan seluruh musuhnya ke dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri.

Di depan Katedral Duomo, sesosok pria dengan mantel merah darah berdiri menatap ke arah penthouse Volkov. Ia memegang sekuntum mawar hitam yang perlahan hancur tertimpa air hujan.

​"Naga itu mulai goyah," ucap pria itu pada interkom kecil di kerah bajunya. "Gadis itu adalah racun sekaligus penawarnya. Saat kita memisahkan mereka di Sisilia, takhtanya akan runtuh seiring dengan kewarasannya."

​Pria itu berbalik dan menghilang ke dalam kabut Milan yang pekat, meninggalkan aroma belerang yang samar. Perjamuan di Sisilia sudah disiapkan, dan mangsanya sudah mulai kehilangan akal sehatnya.

1
Dessy Lisberita
so sweet
Dessy Lisberita
athoor mereka berdua so sweet banget suruh siva belajar menembak dan bela diri thoor
Farida 18: Ziva bisa bela diri ko ya walau absurd caranya😄dan masalah nembak dah suka suka Ziva aja deh dari pada abis vas aiden yang harga ratusan/milyaran dolar jadi sasaran peluru nyasar Ziva
total 1 replies
Dessy Lisberita
sandal jepit mana bisa bergerak cepat mending pake sepatu ziva
Dessy Lisberita
so sweet
Farida 18
sekali2 serius🤭 jangan comedi terus🤭
Vie Desta
jangan serius” tor sesekali comedi biar gak garing 🤭
Vie Desta
lanjut torrr… suka lah sama ceritanya gak monoton tp muncul dengan nuansa baru comedi jd asik baca sambil ketawa😍
Farida 18
salam sejahtera juga beb
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!