Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Matahari pagi bersinar terang, menyapa gedung megah Aditama Group. Seperti biasa, suasana pagi di kantor selalu penuh semangat dan kesibukan.
Sulthan sudah duduk tegap di kursi kebesarannya. Wajahnya tampak segar namun tetap memancarkan aura dingin dan tegas seorang pemimpin. Di hadapannya, duduk Juniarta yang melapor.
"Jadi gimana perkembangan di lapangan, Jun? Kita targetkan kapan soft opening-nya?" tanya Sulthan membuka pembicaraan serius.
Juniarta segera merapikan duduknya dan menjawab dengan jelas. "Siap Bos. Secara garis besar, progres pembangunan cabang Mojokerto berjalan sangat lancar dan memuaskan. Struktur bangunan sudah berdiri kokoh, interior dan pemasangan etalase emas tinggal finishing."
"Kalau dilihat dari estimasi saat ini, toko tersebut insya Allah akan jadi dan siap beroperasi penuh dalam waktu tiga bulan ke depan," lapor Juniarta rinci.
"Tiga bulan? Bisa dipercepat nggak?" sahut Sulthan cepat, matanya menatap tajam.
"Bisa banget Bos, malah kemungkinan besar bisa lebih cepat dari jadwal. Itu tergantung situasi dan kondisi di lapangan. Kalau cuaca mendukung dan pengiriman material tidak ada kendala, bisa jadi cuma butuh waktu dua bulan lebih sedikit saja kita sudah bisa grand opening," jawab Juniarta meyakinkan.
Sulthan mengangguk-angguk pelan, tampak puas dengan jawaban itu.
"Bagus. Kalau begitu kejar targetnya. Saya ingin cabang baru itu segera beroperasi dan menghasilkan omzet. Jangan sampai ada penundaan," perintah Sulthan.
"Siap Bos, aman terkendali," jawab Juniarta sigap.
Belum lama obrolan bisnis itu usai, pintu ruangan terbuka, Putri melangkah masuk dengan wajah yang terlihat sedikit gugup dan tidak tenang. Dia membawa setumpuk berkas laporan kerja.
"Maaf mengganggu, Pak. Ini laporan data pengeluaran kemarin yang belum sempat saya kirim," kata Putri sambil meletakkan berkas itu di meja dengan hati-hati.
Sulthan menatap berkas itu, lalu menatap wajah Putri dengan tatapan yang mulai mengerut.
"Putri... ini laporan untuk apa?" tanya Sulthan dingin.
"Itu laporan pembelian material tambahan kemarin, Pak," jawab Putri terbata-bata.
Sulthan mengambil berkas itu, membaliknya sekilas, lalu meletakkannya kembali dengan agak keras. Bugh!
"Kenapa baru sekarang dibawa? Ini kan harusnya sudah ada di meja saya sejak kemarin sore sebelum pulang!" bentak Sulthan mulai naik pitam. "Kamu tahu nggak, data ini penting buat saya cek sebelum rapat besok! Kenapa jadi telat begini? Kerja kamu jadi kurang teliti akhir-akhir ini!"
Suara Sulthan keras dan menggema di seluruh ruangan. Putri langsung menunduk takut, wajahnya pucat dan gemetar. Dia tahu dia salah, mungkin karena efek masih lemas dan 'sakit' akibat kejadian semalam, jadi kerjanya jadi agak lambat.
"Ma-maaf Pak... saya... saya tadi ada kesibukan lain jadi telat menyelesaikannya," jawab Putri terbata-bata, matanya mulai berkaca-kaca.
Situasi jadi tegang. Namun, melihat kekasihnya dimarahi habis-habisan seperti itu, hati Juniarta tidak bisa diam. Dia pun segera angkat bicara untuk menengahi.
"Bos... Bos... tenang dulu dong, Putri jangan dibentak" kata Juniarta santai namun tegas, sambil berdiri dan berdiri di samping Putri untuk melindunginya.
"Kenapa kamu bela dia, Jun? Ini kesalahan dia!" seru Sulthan.
"Iya saya tahu Bos, ini memang kesalahan Putri dan dia juga sudah sadar kok," jawab Juniarta bijak. "Tapi namanya juga manusia, Bos. Kadang ada aja halangan atau kelelahan yang bikin kerjaan jadi telat dikit. Lagian kan sekarang juga sudah diserahkan, tinggal Bapak cek saja isinya benar atau tidak."
Juniarta masih menatap Sulthan dengan tatapan memohon. "Ya sudah lah Bos, jangan dimarahin terus dong. Kasihan dia, nanti malah stres dan kerjanya makin kacau. Saya yang jamin, mulai sekarang laporannya pasti on-time lagi. Saya yang bakal awasi langsung," bujuk Juniarta.
Mendengar penuturan asisten setianya itu, dan melihat Juniarta yang membela Putri dengan begitu protektif, kemarahan Sulthan perlahan mereda. Dia menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepala.
"Hhh... dasar kalian berdua... ya sudah, sudah. Anggap saja karena kamu Juniarta yang minta, saya maafkan kali ini," kata Sulthan akhirnya melunak. "Tapi ingat ya Putri, saya tidak mau ada kesalahan terulang kedua kalinya. Kerjaan tetap nomor satu, paham?"
"Si, siap Pak! Terima kasih banyak Pak!" jawab Putri lega dan langsung mengangguk patuh.
"Sudah sana keluar, kerjakan yang benar!" perintah Sulthan.
Juniarta pun mengajak Putri keluar ruangan dengan cepat. Sesampainya di luar ruangan dan memastikan pintu sudah tertutup rapat, suasana tegang tadi langsung mencair. Putri menghela napas panjang lega, tangannya terangkat menepuk-nepuk dadanya yang tadi berdegup kencang karena takut dimarahi lebih lama lagi.
Dia menoleh ke arah Juniarta dengan tatapan penuh syukur. "Makasih ya Mas... udah mau belain aku tadi. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah kena semprot habis-habisan sama Pak Sulthan," ucap Putri lembut dan manja.
Juniarta tersenyum lebar, lalu mengelus rambut kekasihnya itu dengan penuh kasih sayang. "Ah, masa iya harus pake terima kasih segala sih?" jawab Juniarta santai sambil tersenyum menggoda. "Kamu kan sekarang sudah jadi pacarku, Putri. Sudah jadi milikku. Wajar dong aku lindungi, wajar aku bela. Itu kan sudah kewajiban dan hakku sebagai cowok kamu."
Mendengar kata-kata itu, hati Putri terasa berbunga-bunga. Dia tertawa renyah, suaranya terdengar sangat bahagia. "Ih... pinter banget deh ngomongnya," goda Putri.
Tanpa rasa malu lagi, Putri pun langsung melangkah maju, lalu memeluk tubuh bidang Juniarta erat-erat. Wajahnya yang cantik pun langsung dia tenggelamkan di dada bidang dan kekar milik kekasihnya itu, mencari rasa nyaman dan aman.
"Mas Jun emang yang terbaik..." bisiknya pelan, menikmati hangatnya pelukan itu di sudut koridor yang sepi.
Sementara itu, Sulthan tetap duduk tegap di kursi kerjanya. Jari-jarinya seolah sedang mengetik cepat di atas keyboard laptop, mata pun tampak menatap layar. Namun, sebenarnya pikirannya sama sekali tak ada di sana.
Jari-jarinya berhenti mengetik. Matanya menatap kosong ke arah layar monitor yang menampilkan data-data keuangan.
"Nurlia..."
Nama itu kembali muncul di benaknya, mengganggu konsentrasinya.
Sejak pertemuan di toko pakaian kemarin, bayangan gadis itu semakin kuat menancap di hatinya. Dia terus terbayang wajah polosnya, senyum tulusnya, dan kesederhanaannya yang begitu memikat hati.
Sulthan menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya mengusap wajahnya perlahan.
"Apa yang harus aku lakukan sebenarnya?" batinnya bertanya pada diri sendiri.
"Jujur saja, aku sudah sangat menyukainya. Perasaanku sudah tumbuh lebih dari sekadar rasa suka atau kasihan. Tapi... apakah aku harus segera mengungkapkannya sekarang?"
Pikiran itu berputar-putar. Di satu sisi, dia merasa waktunya belum tepat atau takut terlalu terburu-buru. Tapi di sisi lain, ada rasa cemas yang mulai menghantuinya. Nurlia itu kan gadis cantik, baik, dan rajin. Bisa saja di luar sana sudah banyak pria lain yang juga menyukainya dan berusaha mendekatinya.
"Jangan-jangan kalau aku lama-lama mikir, malah dia keburu diambil orang lain?"
Kata-kata itu muncul di benaknya dan membuat jantungnya terasa tidak nyaman. Membayangkan Nurlia tersenyum atau memegang tangan pria lain rasanya sangat tidak rela baginya.
"Mungkin... aku harus cepat bertindak. Sebelum terlambat. Aku harus ungkapkan apa yang ada di hatiku sesegera mungkin, supaya dia tahu dan sadar kalau dia ditakdirkan untukku," putus Sulthan dalam hati dengan tatapan yang mulai berubah menjadi serius dan mantap.
•••
Di tempat berbeda, di tengah hiruk pikuk restoran yang ramai pengunjung, Nurlia juga sedang menjalani harinya seperti biasa.
Gadis itu tampak sangat cantik dengan seragam kerjanya. Dia bergerak lincah kesana kemari, membawa nampan, mencatat pesanan, dan menyajikan makanan dengan senyum ramah yang selalu terpasang di wajahnya.
"Silakan dinikmati makanannya ya Pak..."
"Iya Mbak, pesanan baksonya segera ya..."
Nurlia bekerja dengan sangat profesional dan sopan. Namun, siapa sangka di balik senyum manis itu, pikirannya justru melayang jauh ke tempat lain. Matanya kadang terlihat kosong sejenak, lalu tersenyum sendiri tanpa alasan yang jelas.
Pikirannya terus tertuju pada satu sosok pria yang sudah dua kali membantunya disaat-saat sulit.
Sulthan Aditama...
Nurlia menghela napas panjang saat sedang membereskan meja kosong.
"Aneh sekali rasanya... Kenapa aku jadi sering mikirin dia ya?" batin Nurlia bertanya-tanya.
Dia teringat sosok pria itu yang begitu gagah, tampan, dan pastinya sangat kaya raya. Tapi yang paling membuat hatinya terharu adalah kebaikan hatinya.
Di zaman sekarang, orang kaya itu banyak. Tapi orang kaya yang rendah hati, sopan, dan suka menolong tanpa mengharap balas jasa seperti Sulthan, rasanya sangat jarang ditemukan.
Pertama dia memberi tip yang nilainya luar biasa besar. Lalu kedua, tanpa diminta pun dia rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membelikan seragam sekolah adiknya. Semua itu dia lakukan dengan santai, tanpa pamer, dan tanpa meminta ucapan terima kasih yang berlebihan.
"Dia benar-benar pria yang sangat baik... jauh lebih baik dari yang aku bayangkan," gumam Nurlia lirih.
Perasaan yang awalnya hanya rasa terima kasih dan kagum, kini perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Setiap kali Nurlia membayangkan wajah tegas namun teduh itu, jantungnya selalu berdegup kencang tidak beraturan. Pipinya terasa panas, dan perasaan bahagia muncul begitu saja.
Nurlia sadar sekarang. Dia tidak hanya mengaguminya sebagai orang baik, tapi dia benar-benar sudah menyukai pria itu.
"Tapi... apa mungkin aku bisa menyukainya? Kita kan beda dunia, beda kasta..." batin Nurlia sedikit ragu dan sedih.
Meskipun begitu, rasa suka itu tetap tumbuh subur di hatinya. Nurlia berharap, entah bagaimana caranya, takdir akan mempertemukan mereka kembali, sama seperti pertemuan-pertemuan ajaib yang pernah terjadi sebelumnya.