Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melawan Selena Untuk Bertahan
POV Aluna
Aku membuka mata perlahan.
Langit-langit kamar terlihat samar di awal, seolah pandanganku masih belum sepenuhnya kembali. Kepalaku terasa ringan… terlalu ringan, seperti melayang tanpa arah.
Namun perlahan
Semuanya kembali.
Suara.
Aroma.
Dan… seseorang.
“Dia sudah sadar.”
Suara itu terdengar dekat.
Tenang.
Aku menoleh sedikit.
Dan di sana
Zayn.
Tatapannya langsung bertemu denganku.
Untuk beberapa detik
Kami hanya saling diam.
Aku menarik napas pelan.
“Seumur hidup…” suaraku masih lemah, tapi aku berusaha tersenyum kecil, “ini pertama kalinya aku pingsan.”
Zayn mengernyit tipis.
Namun tidak mengatakan apa-apa.
Aku menatap langit-langit lagi.
Menghela napas pelan.
“Aku bahkan sempat…” aku berhenti sejenak, mengingat sesuatu yang terasa nyata, tapi juga seperti mimpi,
“bertemu Ayah.”
Hening.
Aku tersenyum tipis.
Bukan senyum bahagia.
Lebih seperti… rindu yang tiba-tiba muncul tanpa izin.
“Dia tidak bilang apa-apa,” lanjutku pelan.
“Tapi rasanya… tenang.”
Zayn bergerak sedikit.
Aku bisa merasakan itu.
“Jangan banyak bicara dulu”
Nada suaranya kembali seperti biasa.
Tegas.
“Istirahat saja.”
Aku menoleh lagi.
Menatapnya.
Entah kenapa
Aku ingin tertawa sedikit.
“Iya, Tuan muda Zayn Devandra,” gumamku pelan.
Namun aku menurut
"apa wajahmu masih sakit??"tanyanya
pertanyaan macam apa itu ya tentu saja sakit namun aku menyunggingkan senyuman sebelum menjawab pertanyaan
"kamu tenang saja wajahku ini terbuat dari besi,jadi berapa kali pun istrimu menamparku semuanya akan oke"kelakarku yang membuat Zayn menggeleng
"disaat seperti ini kamu masih bercanda"ucapnya
"lalu aku harus apa???"ucapku "menangis,maaf itu bukan dalam kamusku lagi"ucapku
"baiklah, terserah kamu saja,kamu sekarang istirahat,jangan lupa obatnya di minum"ucapnya dengan tegas dan melangkahkan kakinya pergi dari kamarku
Aku memejamkan mata sejenak.
Namun pikiranku
Tidak benar-benar berhenti.
Semua yang terjadi hari ini
Masih terasa jelas.
Selena.
Tamparan.
Kata-kata yang menyakitkan.
Dan
Rumah ini.
Rumah Devandra.
Aku membuka mata lagi.
Diam-diam.
Tanpa menggerakkan kepala.
Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak pertama kali aku datang ke sini.
Sesuatu yang belum terjawab.
Paviliun itu.
Bangunan yang terpisah.
Sedikit jauh dari rumah utama.
Selalu terlihat… tertutup.
Seolah menyimpan sesuatu.
Dan setiap kali aku mencoba mendekat
Selalu ada alasan untuk menjauh.
Aku mengerutkan kening sedikit.
Kenapa?
Kenapa tempat itu terasa… penting?
Kenapa aku merasa
Ada sesuatu di sana yang tidak boleh diketahui?
Aku menelan ludah pelan.
Rasa penasaran itu
Tidak hilang.
Justru semakin kuat.
Aku menarik napas dalam.
Besok aku harus tahu.
Apa pun caranya.
Aku tidak bisa terus berada di rumah ini
Tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya.
Paviliun itu
Bukan sekadar bangunan.
Aku yakin.
Ada sesuatu di dalamnya.
Dan entah kenapa
Hatiku mengatakan
Itu berkaitan dengan semua yang terjadi di sini.
Dengan Zayn.
Dengan keluarga ini.
Dan mungkin
Dengan nasibku sendiri.
Aku memejamkan mata.
Namun sebelum aku benar-benar terlelap
Satu pikiran terakhir muncul.
Aku harus masuk ke sana.
Apa pun risikonya.
Pintu itu kembali terbuka.
Tanpa ketukan.
Tanpa izin.
Dan aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk.
Selena.
Aku tidak bergerak.
Masih berbaring di atas ranjang, tubuhku memang masih lemah, tapi pikiranku tidak lagi selemah tadi.
Aku hanya meliriknya dari sudut mata.
Santai.
Seolah kehadirannya… tidak lagi mengejutkanku.
“Kamu ini benar-benar pandai bersandiwara,.”
Suara Selena terdengar sinis, penuh racun.
Aku menarik napas pelan.
Lalu menjawab tanpa mengubah posisi.
“Kamu tidak capek?”
Selena terdiam sejenak.
“Sejak tadi berteriak terus,” lanjutku datar.
“Apa tenggorokanmu tidak sakit?”
Tatapannya langsung menajam.
Aku bisa merasakannya tanpa harus melihat langsung.
“Aku tidak akan berhenti,” balasnya tajam.
“Sampai kamu menderita… dan keluar dari keluarga ini.”
Aku tersenyum tipis.
Pelan.
Akhirnya aku menoleh.
Menatapnya langsung.
“Kamu marah seperti ini…” ucapku tenang,
“karena kamu cemburu.”
Selena langsung tertawa sinis.
Namun aku tidak berhenti.
“atau Kamu takut.”
Aku menatapnya lurus.
“Takut posisimu tergantikan.”
Seketika
Suasana berubah.
“iya kan?”
"lebih dari itu"ucapnya
Lebih dingin.
Lebih berbahaya.
Aku bangkit sedikit.
Menopang tubuhku dengan tangan.
Masih lemah
Tapi cukup untuk menghadapi.
“Satu hal yang perlu kamu tahu,” lanjutku pelan.
“Apapun yang kamu katakan…”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Tamparan… jambakan… atau apa pun itu”
Aku berhenti sejenak.
Memberi jeda.
“Tidak akan mengubah satu hal.Aku istri sah Zayn Devandra”
Selena menatapku.
"Aku orang yang akan melahirkan pewaris keluarga Devandra dan semua itu tidak bisa kamu lakukan"ucapku yang sontak membuat Selena mendekatiku menatap ku tajam namun aku menghentikannya
"tunggu sebentar,aku belum selesai"ucapku
Ia terlihat Menunggu dan menghentikan langkahnya
“Dan kamu tahu,Malam kemarin…”
Suaraku tetap tenang.
Namun jelas.
“Setelah gala dinner itu”
Aku menarik napas kecil.
“Aku dan Zayn… sudah menyatu.”
Hening.
Aku bisa melihatnya.
Reaksi itu.
Aku melanjutkan.
“Dengan cara Dia yang… lembut.”
Selena mendengus keras.
Namun aku tidak berhenti.
“Di kamar eksklusif yang… sangat romantis.”
Kali ini
Ia benar-benar terpancing.
Aku tersenyum tipis.karena itulah tujuanku
“Ternyata suamimu itu…”
aku menatapnya dalam,
“tidak seperti yang kamu tunjukkan selama ini.”
Selena melangkah cepat.
Mendekat.
“Dia lembut bahkan sangat lembut,” lanjutku tanpa ragu.
“Aku merasakannya sendiri.”
Aku mencondongkan sedikit wajahku.
“Tidak kasar… seperti saat dia bersamamu pada malam itu di tepi kolam”
Dan saat itulah
Selena kehilangan kendali.
Tangannya langsung mencengkeram leherku.
Keras.
“Kamu sengaja memanasiku, sialan!”
Napas langsung tertahan.
Cengkeramannya kuat.
Menyakitkan.
Aku terbatuk.
Refleks.
Namun
Aku tidak melawan.
Sebaliknya
Aku tersenyum.
Tipis.
Namun cukup jelas untuk dilihatnya.
Dan itu
Semakin membuatnya marah.
“Berani sekali kamu mengatakan itu!” teriaknya.
Cengkeramannya semakin kuat.
Namun
Beberapa detik kemudian
“NYONYA! CUKUP!”
Pelayan masuk dengan cepat.
Menarik tangan Selena.
“Lepaskan Nona Aluna!”
Selena meronta.
“Tolong hentikan, Nyonya!”
Aku terbatuk keras saat cengkeraman itu terlepas.
Udara masuk dengan kasar ke paru-paruku.
“Ini kamar dipasang CCTV, Nyonya,” ujar salah satu pelayan tegas.
“Kami harus menghentikan ini.”
Selena membeku.
“CCTV?” ulangnya.
Pelayan itu mengangguk.
Wajah Selena berubah.
Marah.
Namun juga
Menahan sesuatu.
Ia menatapku.
Tajam.
Penuh kebencian.
Namun kali ini
Ia mundur.
“Ini belum selesai, gadis kampung” ucapnya dingin.
Lalu
Ia pergi.
Pintu kembali tertutup.
Ruangan itu
Kembali hening.
Aku masih terengah.
Tenggorokanku terasa sakit.
Namun aku tetap duduk.
Tidak jatuh.
“Terima kasih…”
Suaraku pelan saat aku menatap pelayan itu.
Mereka mengangguk hormat.
Lalu perlahan keluar.
Dan aku
Sendirian lagi.
Aku menyentuh leherku.
Masih terasa sakit.
Namun kali ini
Aku tidak menangis.
Aku hanya terdiam.
Menatap kosong ke depan.
Melawan.
Aku menghela napas panjang.
Ternyata
Itu satu-satunya cara.
Karena jika aku terus diam…
Aku akan terus diinjak.
Dan aku
Tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.
kalian tim Aluna atau Selena???