NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sang penyelamat datang.

Vivian terpojok.

Benar-benar terpojok. Di ranjang rumah sakit, selang infus masih nancep, badan lemas, dikepung keluarga Wijaya yang matanya kayak laser interogasi. Dokter baru aja vonis: hamil. Bom atom udah meledak.

"Vivian bilang, Kak Eric mandul, mana mungkin bisa hamilin dia?" tanya Chindy, suaranya nyaring, menusuk. Tatapannya mengintrogasi, lebih galak dari polisi. "Atau itu anaknya Doni? Anak si jamet benalu itu?!"

Vivian gak bisa jawab. Mulutnya kebuka, tapi suara gak keluar. Badannya lemas, bikin otaknya gak bisa mikir beberapa saat. Blank. Kosong. Paniknya udah level maksimal, sampe saraf otaknya konslet.

Semua rencana, semua misi nyelametin keluarga Wijaya, semua pengorbanan di cafe tadi siang... bubar. Cuma karena satu kata: hamil.

"Oh atau video viral itu bohongan?" tanyanya lagi, Chindy makin panas. Dia maju satu langkah, nunjuk-nunjuk wajah Vivian pake telunjuknya. Kukunya panjang, merah, lancip. "Kamu mau putus biar anakmu punya bapak sah, yang kaya? Gitu? Kamu jebak Doni di cafe biar keliatan kamu korban, padahal kamu yang buntingin duluan? Licik banget jadi orang!"

PLAK. Kata-katanya lebih sakit dari tamparan.

Bu Ratna lemes. Seketika. Seluruh tubuhnya terasa meleleh, lunglai, kayak lilin kena api. Dia pegangan pinggir ranjang, napasnya pendek-pendek.

Bukan karena tidak bahagia bakal punya cucu. Sebagai wanita, sebagai calon nenek, kabar hamil itu anugerah. Tapi di kondisi sekarang, di situasi sekarang... ada betulnya apa yang Chindy katakan. Bisa saja... bayi itu bukan anak Eric.

Dua tahun nikah. Vivian teriak-teriak Eric mandul. Vivian kepergok sama Doni berkali-kali. Vivian minta cerai tiap minggu. Terus tiba-tiba hamil pas Doni lagi jatuh, lagi miskin, lagi viral dikeroyok 4 bumil. Timing-nya... pas banget buat nyari bapak baru yang kaya raya.

Pikiran itu nusuk dada Bu Ratna. Sakit.

Bu Ratna tumbang. Lututnya lemas, mau jatuh ke lantai. Beruntung Cika dari tadi waspada. Dia langsung sigap, lompat, nangkap ibunya sebelum kejedot lantai. "Mama! Mama kenapa?! Dok!"

Sementara Eric cuman diam. Dari tadi. Dia berdiri di pojok, tangan dilipat di dada, wajah datar kayak topeng. Tapi kalau dilihat dalem-dalem, rahangnya keras banget sampe keliatan tulangnya. Buku-buku jarinya memutih.

Dia biarin adiknya yang interogasi Vivian. Chindy emang ahlinya. Mulutnya lemes, gak ada rem, tapi tajam. Dia mau denger. Mau denger Vivian ngaku. Ngaku kalau itu anak Doni. Atau... ngaku kalau malam-malam ganjil itu beneran ada.

Tapi Vivian diem. Pucet. Gemeteran. Matanya berkaca-kaca, natap Eric minta tolong. Tapi Eric gak gerak. Dia ngetes. Ngetes kejujuran Vivian. Ngetes nyali Vivian. Dua tahun dibohongin, dihina, sekarang dia mau liat... Vivian bakal pilih jujur atau pilih drama lagi.

"Ngaku sekarang, itu anaknya Doni kan?!" tanya Chindy lagi. Dia udah gebrak-gebrak pinggiran ranjang. "Jangan diem aja! Jawab! Kamu udah maluin keluarga kami seumur hidup, jangan tambah lagi!"

"*Tidak, itu anak Eric!*"

Tiba-tiba terdengar suara melengking dari arah pintu. Keras. Tegas. Jelas. Nyaring banget sampe nge-gema di ruangan.

Spontan semua orang nengok. Kaget. Kayak kesetrum bareng.

Di pintu, berdiri satu wanita. Gaun merah. Rambut di-updo. Makeup flawless. Tas LV masih dipegang, tapi udah gak lecet-lecet lagi.

Itu Silvi. Sahabatnya Vivian.

"Kalian sama-sama jalang, kalian pasti sekongkol!" sahut Chindy langsung. Dia udah kenal Silvi. Dia tahu kedekatan kakak ipar dan sahabatnya. Duo trouble maker. "Dateng mau bela? Mau nutupin aib?!"

Silvi gak jawab. Dia cuma senyum tipis. Tapi senyumnya beda. Bukan senyum iseng kayak biasa. Bukan senyum kuntilanak di cafe. Ini senyum... dingin. Tajam. Terukur.

Dia masuk ke dalam ruangan. Langkahnya anggun, pelan, tapi berwibawa. Kayak bukan Silvi yang biasanya heboh, cekikikan, norak. Lebih mirip pahlawan di film laga, masuk di detik terakhir sebelum bom meledak. Aura-nya beda. Dominan.

Semua orang diem. Nonton. Bahkan Chindy yang berisik, ketahan.

Silvi berhenti di tengah ruangan. Dia ngeluarin handphone dari tasnya. IPhone 15 Pro Max, emas. Terus dia pencet salah satu tombol di layar. Klik.

Hening sekejap. Terus...

_"Si Vivian itu, gatel tapi jual mahal, mana bisa tiduri dia, sentuh tangan-nya aja agak susah. Baru pegang dikit udah ditampar. Gue aja modalin dua tahun, cuma dapet kecupan pipi. Itupun pas dia mabuk. Sisanya? Zonk! Mending Sinta, gampang."_

Semua orang tahu itu suara Doni. Suaranya. Logatnya. Cara ngomongnya yang norak. Itu suara Doni lagi ngobrol di telepon, ngebacot ke temennya.

Satu ruangan kaget. Melongo.

Vivian napas. _Akhirnya._

Silvi masukin HP-nya lagi ke tas. Santai. Silvi tahu ini bakal kejadian, "aku sudah lama sadap HP Doni. Cuman buat cari 1 bukti. Bukti kalau Vivian gak pernah berakhir di ranjangnya Doni. Dua tahun pacaran, yang Doni dapet cuma janji sama dimanfaatin duitnya."

Semua orang tergelak. Tapi bukan ketawa. Kaget. Gak percaya. Bingung. Chindy mundur satu langkah. Cika yang lagi nyangkol Bu Ratna, matanya mebelalak. Bu Ratna napasnya satu-satu. Eric? Eric alisnya naik sepersekian mili. Cuma itu reaksinya.

"Mana mungkin," Chindy masih ngeyel. Dia gak mau kalah. "Itu bisa aja settingan! Rekaman palsu! Vivian bilang, Kak Eric mandul! Dia teriak-teriak di kantor! Di arisan! Buktinya 2 tahun nikah, Vivian baru hamil sekarang, saat situasi Doni gak karuan. Pas Doni miskin, pas Doni viral. Kebetulan banget?!"

Logika Chindy masuk akal. Jahat, tapi masuk akal. Semua orang kembali ragu. Balik natap Vivian. Balik natap Eric.

Silvi gak panik. Dia malah nengok ke Dokter Hendra yang dari tadi diem nonton drama keluarga. "Dokter," tanya Silvi, suaranya tenang, sopan. "Apa menikah 2 tahun tapi belum hamil bisa dibilang mandul? Secara medis?"

Dokter Hendra kaget ditanya. Dia benerin kacamata. "Eh, secara... medis, ya? Tidak bisa, Mbak. Diagnosis infertilitas atau mandul itu butuh pemeriksaan lengkap. HSG, analisis sperma, hormon, USG. Gak bisa cuma karena 2 tahun belum punya anak."

Dokter ngelanjutin, jelasin sedikit, nadanya edukatif. "Rahim itu areanya Tuhan. Bahkan ketika seseorang dikatakan mandul secara medis, bisa saja punya anak walau waktunya lama. Keajaiban. Bisa juga sebaliknya, dikatakan subur, semua organ bagus, tapi justru tak punya anak seumur hidupnya. Garis takdir. Jadi gak bisa nge-judge."

Ruangan hening lagi. Kata-kata dokter itu nampar semua orang. Terutama Chindy. Terutama Bu Ratna.

Silvi angguk. "Makasih, Dok." Terus dia natap ke Eric. Tajam. Nusuk. "Apa Eric pernah cek kalau dia beneran mandul apa enggak? Ke dokter andrologi? Ke lab? Ada hasil sperma analisisnya?"

Pertanyaan itu kayak palu godam.

Semua orang sadar. Sadar banget. Mereka terlalu makan omongan orang. Terlalu percaya sama teriakan Vivian asli 2 tahun lalu. Terlalu percaya sama gosip. Sampe gak pernah kepikiran ke arah sana. Gak pernah nanya. Gak pernah nyuruh Eric cek.

Eric sendiri... dia juga diem. Karena dia juga gak pernah cek. Dia dibilang mandul, dia terima. Gengsi. Marah. Sakit hati. Jadi dia diemin aja. Dua tahun.

Cika nelen ludah. Bu Ratna nutup mulut. Chindy matanya kedip-kedip, otaknya loading.

"Sekarang," tutup Silvi, suaranya tegas, gak ada ampun. Dia natap satu-satu, dari Chindy, ke Bu Ratna, ke Eric. "Aku sarankan kalian pergi. Ke lab. Cek apakah Eric mandul? Tes sperma. Tes hormon. Bawa bukti medis."

Dia jeda. Nafas. Terus ngomong kalimat terakhir, pelan tapi beratnya kayak gunung:

"Kalau dia beneran mandul... kalian cerai hari ini juga. Tapi kalau dia enggak..." Silvi lirik Vivian. Senyum tipis. "Berarti kalian udah fitnah istri sama cucu kalian sendiri selama 2 tahun."

Satu ruangan beku. Gak ada yang napas. Gak ada yang kedip.

Tantangan Silvi dilempar. Bola panas ada di tangan Eric sekarang.

1
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
Uthie
masih gagal maniing...gagal maning... pusiiinggg dehhhh tuhhh /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
Hikmal Cici
nunggu bab selanjutnya
lexxa
aaaaaa suka bngettttt
Uthie
Jadi makin favorit ceritanya 👍😘😍😍
Uthie
Lanjjjjjuuuuttttt 😍😍💪💪💪
Uthie
harusnya tunduk😆
Uthie
100😆👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!