Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20 melintasi lautan kabut dan sambutan pesta kembang api
Pelabuhan Mutiara Hitam tidak pernah menyaksikan kemegahan senilai ini sejak daratan Benua Timur tercipta.
Di bawah langit fajar yang kemerahan, permukaan laut dipenuhi oleh dua ratus armada kapal terbang raksasa milik Paviliun Fatamorgana Surga. Kapal-kapal ini tidak dirancang untuk mengapung di air, melainkan melayang sepuluh kaki di atas ombak, ditopang oleh formasi anti-gravitasi yang memancarkan cahaya pendar biru kelam. Setiap kapal memiliki panjang mencapai seratus meter, terbuat dari kayu spiritual anti-api, dan dilapisi oleh perisai pelindung tingkat Surga.
Biaya sewa satu kapal terbang ini selama sehari adalah sepuluh ribu batu spiritual tingkat atas. Menyewa dua ratus kapal sekaligus... itu adalah angka yang membuat jantung para bendahara sekte besar berhenti berdetak.
Namun bagi Cang Qixuan, itu hanyalah biaya tiket kelas satu untuk liburan musim seminya.
Di atas geladak kapal bendera utama, *Fatamorgana Emas*, Qixuan duduk bersandar di sebuah singgasana empuk yang sengaja dipindahkan dari paviliun pribadinya. Ia mengenakan jubah sutra putih bersih dengan sulaman naga hitam yang melilit di bagian lengan dan lehernya, sebuah perpaduan yang sangat elegan sekaligus mematikan. Matanya terpejam santai, membiarkan angin laut yang asin membelai wajah tampannya.
Di belakangnya, berdiri tiga wanita dengan aura yang membuat siapa pun tidak berani bernapas terlalu keras.
Di sebelah kiri adalah Wakil Jenderal Leng Yue. Zirah peraknya memantulkan sinar matahari pagi, wajah cantiknya sedingin gletser abadi. Di pinggangnya tersandang pedang panjang, dan matanya terus mengawasi proses pemuatan Seratus Ribu Pasukan Naga Hitam ke dalam lambung-lambung kapal armada. Kedisiplinannya mutlak, mengatur puluhan ribu prajurit tanpa sedikit pun suara bising yang berlebihan.
Di sebelah kanan adalah Hong Lian, Sang Teratai Pandai Besi. Ia mengenakan pakaian kulit yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang atletis dan seksi. Tangannya yang kapalan karena terus memegang palu kini bersilang di depan dada, menatap bangga pada deretan meriam raksasa berlapis emas yang baru saja ia selesaikan pemasangannya di sisi-sisi kapal utama.
Sedangkan di depan Qixuan, berdiri Shen Feiyan. Pemilik Paviliun Fatamorgana Surga ini tampak gugup, sebuah hal yang sangat langka bagi wanita rubah sepertinya. Gaun merah keunguannya berkibar tertiup angin. Matanya yang indah terus melirik ke arah tumpukan peti berisi batu spiritual di sudut geladak—pembayaran tunai di muka yang diberikan Qixuan semalam.
"Semua prajurit telah naik ke kapal, Tuan Muda," lapor Leng Yue, suaranya memecah suara deburan ombak. "Seratus ribu Pasukan Naga Hitam, lengkap dengan Zirah Emas-Besi tempaan Nona Hong Lian, siap menerima perintah. Moral pasukan berada di puncaknya. Penawar racun bulan ini juga telah didistribusikan secara penuh."
Qixuan tidak membuka matanya, ia hanya menggumam pelan. "Bagus. Bagaimana dengan meriam-meriam mainanmu, Hong Lian?"
Hong Lian tertawa keras, tawa yang penuh dengan kebanggaan liar. "Tuan Muda, tolong jangan sebut *Meriam Naga Pemakan Bintang* ciptaanku sebagai mainan! Lima puluh meriam ini ditempa dari sisa-sisa tulang Serigala Salju bermata tiga dan dilapisi baja spiritual vulkanik. Selama kau memiliki cukup 'amunisi' untuk mengisinya, benda ini bisa melubangi formasi pertahanan sekte tingkat atas sekalipun!"
"Uang bukanlah masalah untuk amunisi," Qixuan menguap pelan, akhirnya membuka mata. Sepasang pupil amber-emasnya memancarkan aura Inti Emas Kegelapan yang sangat padat. "Nona Shen, kau adalah kapten armada ini. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk menyeberangi Lautan Kabut dan mencapai pesisir Benua Atas?"
Shen Feiyan menundukkan kepalanya sedikit. "Tuanku, Lautan Kabut adalah anomali alam. Udara di sana dipenuhi racun miasma yang menyerap qi kultivator, dan lautannya dihuni oleh monster-monster purba tingkat Jiwa Baru (Nascent Soul). Dengan kecepatan penuh armada kita dan perisai formasi yang terus diaktifkan, kita membutuhkan waktu tiga hari dua malam. Namun, jika kita diserang oleh kawanan monster laut dalam, waktu tempuhnya bisa tertunda."
"Tiga hari..." Qixuan menghela napas malas. "Terlalu lama. Pasukanku bisa mabuk laut. Aku ingin kita tiba di Benua Atas besok pagi saat sarapan. Nyalakan formasi pendorong hingga batas maksimal ganda."
Mata Shen Feiyan terbelalak lebar. "T-Tuanku! Formasi pendorong ganda memang ada, tetapi itu akan membakar batu spiritual sepuluh kali lipat lebih cepat! Bahkan seratus ribu batu tingkat atas akan habis menjadi debu hanya dalam satu malam!"
Qixuan menyipitkan matanya, menatap Shen Feiyan dengan senyum dingin. Ia merogoh lengan bajunya, lalu melemparkan sebuah kantong dimensi (storage bag) tepat ke dada wanita itu. Shen Feiyan menangkapnya secara refleks, lalu memeriksa isinya menggunakan kesadaran spiritualnya.
Kaki Shen Feiyan langsung lemas. Di dalam kantong itu, terdapat sebuah pegunungan kecil yang terdiri dari jutaan batu spiritual tingkat atas yang memancarkan cahaya menyilaukan. Kekayaan ini cukup untuk membeli sebuah sekte raksasa!
"Mulai detik ini, Nona Shen," suara Qixuan terdengar sedatar es, "setiap kali kau ragu karena alasan biaya, aku akan memotong gaji pribadimu. Bakar batu-batu itu. Aku ingin armada ini terbang lebih cepat dari sambaran petir."
Shen Feiyan menelan ludah, seluruh sisa-sisa kewarasannya sebagai pedagang konservatif menguap. Ia membungkuk dalam-dalam. "S-Sesuai perintah Anda, Dewa Kekayaan! Armada, aktifkan Formasi Pendorong Ganda! Terobos Lautan Kabut!"
Raungan ribuan formasi spiritual dari dua ratus kapal meledak secara bersamaan. Lautan di bawah mereka seketika terbelah akibat tekanan dorongan angin. Armada itu melesat ke depan bagai rentetan komet emas, meninggalkan pelabuhan Benua Timur menuju kegelapan Lautan Kabut.
Di Benua Timur, Putri Yan Ling yang kini menjadi Wali Penguasa berdiri di balkon Istana Naga Langit, menatap kilatan cahaya di ufuk timur. Ia memegang dadanya yang berdetak kencang. Pemuda yang dulu ia hina itu kini sedang melangkah menuju pertempuran para dewa, dan ia memiliki firasat kuat bahwa langit Benua Atas akan segera ternoda oleh hujan darah dan emas.
Lautan Kabut bukanlah lautan biasa. Ia adalah garis pemisah alami yang melindungi Benua Atas dari manusia fana Benua Timur, sekaligus memenjarakan monster-monster purba yang terlalu buas untuk hidup di daratan.
Kabut berwarna abu-abu pekat menyelimuti armada. Jarak pandang tidak lebih dari lima puluh meter. Udara di luar perisai kapal dipenuhi oleh korosi miasma. Setiap kali miasma itu menyentuh perisai emas kapal, terdengar suara mendesis keras, dan ribuan batu spiritual di ruang mesin hancur menjadi abu setiap detiknya untuk mempertahankan kekuatan perisai.
Di dalam kabin mewah Qixuan, alunan musik kecapi terdengar lembut. Dua belas penari yang disewa dari rumah hiburan terbaik Jinling sedang menari mengikuti irama. Qixuan duduk santai, menikmati pijatan di bahunya, benar-benar tidak mempedulikan fakta bahwa mereka sedang berada di zona paling mematikan di dunia.
Leng Yue berdiri tegak di dekat pintu kabin, pandangannya terus terarah ke luar jendela. Tangan kirinya tak pernah lepas dari gagang pedang esnya.
"Rilekslah, Leng Yue," tegur Qixuan tanpa menoleh. "Kau membuat otot-otot di ruanganku ikut tegang. Makanlah buah persik spiritual itu, rasanya cukup manis."
"Maafkan kelancangan hamba, Tuanku," Leng Yue menunduk hormat namun tidak beranjak. "Sebagai panglima lapangan, hamba tidak bisa bersantai saat berada di wilayah musuh. Kabut ini menyembunyikan terlalu banyak ancaman."
Seakan menjawab kekhawatiran jenderal wanita tersebut, kapal bendera *Fatamorgana Emas* tiba-tiba berguncang hebat. Guncangan itu begitu kuat hingga beberapa penari menjerit dan terjatuh ke lantai. Cawan arak Qixuan beriak kencang, menumpahkan setetes isinya ke atas meja giok.
Qixuan membuka matanya perlahan. Ia menatap tetesan arak yang terbuang itu dengan ekspresi sangat kesal. "Aku benci saat acara minumku diganggu."
Pintu kabin didobrak terbuka. Shen Feiyan masuk dengan wajah pucat pasi.
"Tuanku! Kita dihadang! Sensor bawah air mendeteksi pergerakan monster raksasa! Itu adalah... *Gurita Besi Penelan Pulau*! Monster ranah Jiwa Baru (Nascent Soul) tingkat menengah! Delapan tentakelnya sedang berusaha melilit armada kita dari bawah permukaan laut!"
Leng Yue langsung menghunus pedangnya, auranya meledak. "Hamba akan memimpin divisi elit untuk memotong tentakelnya dari atas geladak!"
"Duduklah, Leng Yue," Qixuan mengibaskan tangannya, auranya yang jauh lebih berat dari monster laut manapun menekan Leng Yue hingga wanita itu terpaksa menahan langkahnya.
Qixuan bangkit berdiri, merapikan jubahnya yang kusut. Ia mengambil kipas gioknya dan berjalan perlahan keluar dari kabin, melangkah ke arah geladak yang kini diguyur oleh hujan rintik-rintik beracun.
Di luar, pemandangan yang tersaji benar-benar mengerikan. Dari balik laut yang bergejolak, delapan tentakel raksasa berwarna hitam kebiruan yang dipenuhi duri-duri setajam pedang menjulang menembus kabut. Setiap tentakel memiliki ketebalan setara dengan lima rumah yang digabungkan. Dua kapal pengangkut di sisi kiri armada sudah terjerat, perisai pelindung mereka retak perlahan di bawah tekanan lilitan monster tersebut.
Prajurit Naga Hitam di atas kapal-kapal itu bersiap menembakkan tombak mereka, namun tombak biasa tidak akan mampu menembus kulit monster ranah Jiwa Baru.
Hong Lian berdiri di samping meriam raksasanya di geladak kapal utama, wajahnya basah oleh keringat dan air hujan. "Tuan Muda! Kulit monster itu terlalu tebal! Kita harus menggunakan formasi pedang gabungan untuk melukainya!"
Qixuan melangkah ke tepi geladak, memandang rendah tentakel raksasa yang mencoba menghancurkan kapal sewanya.
"Formasi pedang itu kuno dan buang-buang tenaga," ucap Qixuan santai. Ia menoleh pada Hong Lian. "Bukankah kau bilang meriammu itu bisa melubangi apa saja selama amunisinya cukup? Isikan amunisinya."
Hong Lian membelalak. "Tuanku... meriam ini dirancang untuk menembakkan energi murni dari kristal spiritual tingkat surga! Menembakkan satu meriam butuh seratus batu spiritual tingkat atas sebagai pemantiknya. Jika kita menembakkan kelima puluh meriam secara bersamaan..."
Qixuan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merentangkan tangan kirinya ke udara. *Seni Menelan Langit* berputar terbalik di dalam Dantiannya. Ruang penyimpanan di cincinnya terbuka lebar.
*SRASHH!*
Sebuah air terjun yang terbuat dari puluhan ribu batu spiritual tingkat atas tercurah dari langit, langsung masuk ke dalam corong-corong pengisi daya meriam naga di sepanjang geladak kapal. Cahaya silau dari batu-batu spiritual itu seketika membutakan mata siapa pun yang melihatnya.
Shen Feiyan yang melihat pemandangan itu merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia sedang menyaksikan pembakaran harta kekayaan senilai dua kerajaan kecil hanya untuk sekali tembak!
"Tembak," perintah Qixuan dingin, suaranya sangat tenang di tengah amukan badai.
Hong Lian menyeringai gila. Matanya menyala oleh ekstasi kehancuran. Ia menghantamkan palunya ke tuas pelatuk sentral.
*BZZZZZT—DUUAAARRR!!!*
Lima puluh *Meriam Naga Pemakan Bintang* memuntahkan tembakan secara bersamaan. Bukan proyektil fisik yang keluar, melainkan pilar-pilar cahaya berwarna emas murni yang ketebalannya setara dengan batang pohon purba. Tembakan itu tidak menghasilkan asap, melainkan distorsi ruang hampa akibat suhu dan kepadatan qi yang terlalu ekstrem.
*ZRAAAK!*
Pilar-pilar cahaya emas itu menghantam delapan tentakel raksasa Sang Gurita Besi. Kulit monster ranah Jiwa Baru yang dikabarkan kebal terhadap tebasan pedang kelas bumi itu meleleh dan hancur seketika layaknya mentega panas yang disiram air raksa.
Jeritan melengking yang tidak menyerupai suara hewan atau manusia menggema dari dasar lautan, menggetarkan gendang telinga seluruh seratus ribu prajurit. Darah berwarna biru pekat menyembur ke udara setinggi seratus meter, mewarnai kabut menjadi gelap.
Tentakel-tentakel yang terputus jatuh berdebum kembali ke laut, menimbulkan gelombang tsunami kecil yang untungnya ditahan oleh perisai kapal.
Monster purba yang telah meneror Lautan Kabut selama ribuan tahun itu bahkan tidak sempat menunjukkan wujud aslinya sebelum bagian tubuhnya diuapkan oleh serangan kapitalisme murni. Sisa tubuh sang gurita menyelam putus asa ke dasar palung, tidak berani lagi mengusik armada yang memancarkan bau uang dan kematian ini.
Para prajurit Naga Hitam terdiam kaku. Mereka menelan ludah. Berhadapan dengan monster tingkat dewa, panglima mereka tidak perlu mencabut pedang atau mengeluarkan keringat. Dia hanya... melempar uang ke arah masalah tersebut hingga masalah itu hancur berantakan.
"Isi ulang meriamnya," Qixuan menguap lagi, berbalik kembali menuju kabinnya yang hangat. "Dan Nona Shen, potong biaya perbaikan dua kapal yang tergores tadi dari pembayaran akhirmu. Sebagai pedagang, kau harusnya menjamin keamanan perjalananku."
Shen Feiyan hanya bisa mengangguk kosong. Ia telah menyadari sebuah hukum baru di dunia ini: Jangan pernah mencoba mengukur kekuatan Cang Qixuan dengan skala kultivasi. Skalanya adalah seberapa banyak kekayaan yang bersedia ia bakar hari itu.
Keesokan paginya. Fajar menyingsing membelah sisa-sisa kabut laut terakhir.
Armada Fatamorgana Emas melesat menembus tabir pelindung alami, dan seketika, pemandangan di depan mereka berubah drastis. Langit tidak lagi kelabu, melainkan berwarna biru cerah dengan aliran qi alam yang sepuluh kali lipat lebih padat dari Benua Timur. Pegunungan melayang dengan air terjun bercahaya terlihat di kejauhan.
Ini adalah Benua Atas. Dunia para Dewa.
Namun, kedatangan mereka tidak luput dari pengawasan. Di pesisir pantai yang disebut Tebing Guntur Putih, barisan pertahanan yang sangat mengerikan telah bersiaga.
Patriark Lei Jiantian dari Istana Pedang Guntur Suci tidak bodoh. Ia tahu pembunuh bayaran yang ia kirim (Gui Ying dan rekan-rekannya) telah musnah saat kepingan jiwa kehidupan mereka pecah di aula leluhur sekte. Menyadari ancaman nyata dari Jinling, ia telah memerintahkan mobilisasi pasukan sekte skala besar.
Di atas tebing itu, berdiri dua puluh ribu pendekar pedang petir elit berjubah biru perak. Di depan mereka, melayang puluhan kereta perang perunggu. Tiga Tetua Utama bertingkat Jiwa Baru (Nascent Soul) tahap menengah memimpin barisan tersebut. Udara dipenuhi oleh kilatan petir dan resonansi pedang yang siap mencabik-cabik langit.
"Armada fana dari Benua Timur telah tiba!" teriak salah satu Tetua Utama yang bernama Lei Kong. Suaranya diperkuat oleh petir, menciptakan gelombang guntur yang mengancam. "Hanya seratus ribu prajurit tingkat Pengumpulan Qi? Mereka mengira jumlah semut bisa menumbangkan gajah?! Persiapkan *Formasi Pedang Guntur Pemusnah Jiwa*! Tenggelamkan kapal-kapal mereka sebelum mereka menyentuh pasir pantai kita!"
Dua puluh ribu pendekar elit sekte langsung menghunus pedang mereka. Langit Benua Atas seketika dipenuhi oleh jutaan pedang qi berwarna biru listrik yang mengarah langsung ke arah dua ratus kapal terbang Qixuan.
Di atas geladak kapal utamanya, Qixuan berjalan maju hingga ke tepi haluan. Ia memandang barisan pertahanan mematikan di bawahnya dengan seulas senyum yang sangat tenang.
Leng Yue melangkah maju di sisinya. "Tuanku, pasukan musuh dua kali lipat lebih kuat dari segi individu. Formasi gabungan mereka bisa menghancurkan perisai armada kita dalam tiga kali serangan. Hamba meminta izin untuk melancarkan serangan panah racun *Embun Pemutus Dao*!"
"Tidak perlu, Leng Yue," Qixuan mengangkat tangannya. "Racun itu terlalu elegan untuk sekumpulan orang sombong ini. Mereka mengagungkan pedang dan kekuatan spiritual mereka. Mereka percaya bahwa Benua Atas adalah puncak peradaban yang tak tersentuh oleh urusan duniawi."
Qixuan merogoh cincin penyimpanannya. Ia mengeluarkan sebuah megafon magis yang ditempa khusus oleh Hong Lian, lalu mengangkatnya ke bibirnya.
*BZZZT!*
Suara Qixuan menggema, melampaui suara guntur milik Tetua Lei Kong, menyapu seluruh pesisir tebing dan langsung masuk ke telinga setiap penduduk, kultivator liar, dan pedagang yang kebetulan sedang berada di kota-kota pelabuhan sekitar.
"Penduduk Benua Atas yang terhormat!" Qixuan berbicara dengan nada ceria layaknya seorang pelelang pasar malam. "Namaku Cang Qixuan, dari Benua Timur yang fana! Aku datang ke sini hari ini untuk melakukan perombakan manajemen Istana Pedang Guntur Suci yang sedang berkarat!"
Dua puluh ribu pendekar petir di tebing itu mengernyit marah. Kesombongan apa ini?!
"Kalian melihat para kultivator berjubah biru perak di depan kalian ini?" Qixuan menunjuk ke arah tebing, suaranya kembali menggelegar. "Mulai detik ini, aku mengumumkan *Sayembara Hujan Emas Jilid Dua*! Aku akan membayar SEPULUH RIBU Batu Spiritual Tingkat Atas untuk setiap kepala murid biasa Istana Guntur Suci! LIMA RATUS RIBU untuk kepala seorang kapten! Dan LIMA JUTA Batu Spiritual untuk kepala salah satu Tetua mereka!"
Keheningan yang sangat aneh tiba-tiba melanda wilayah pesisir tersebut. Bahkan deburan ombak seakan berhenti sejenak.
Tetua Lei Kong tertawa meremehkan. "Bocah bodoh! Kau pikir para kultivator luhur di Benua Atas ini sama seperti serikat pembunuh bayaran kotor di duniamu yang bisa kau suap?! Kami adalah petarung dewa!"
"Ah, kau tidak mengerti ekonomi, Kakek," Qixuan menyeringai iblis.
Qixuan menjentikkan jarinya ke arah Shen Feiyan. Pemilik Paviliun itu dengan tangan gemetar mengaktifkan formasi di ruang bawah tanah kapalnya.
*DUAARRR!*
Bukan serangan meriam. Dari lambung lima puluh kapal terdepan, jutaan batu spiritual tingkat menengah dan atas ditembakkan ke udara seperti kembang api, lalu jatuh menghujani area perbukitan dan kota pelabuhan di belakang tebing tempat pasukan sekte berada. Hujan harta karun murni yang membutakan mata.
"Uang muka telah dibayarkan!" teriak Qixuan, suaranya mengandung qi Inti Emas Kegelapan yang menggetarkan jiwa. "Siapa pun kalian, kultivator liar, pemburu monster, pedagang keliling, atau bahkan pengemis... bunuh mereka, serahkan kepalanya di kapalku, dan ambil bayaran kalian! Tidak ada batasan kuota! Mari kita lihat seberapa suci darah para dewa ini!"
Di Benua Atas, batu spiritual adalah segalanya. Ia adalah bahan bakar kultivasi, penentu umur panjang, dan simbol status. Menawarkan lima juta batu spiritual tingkat atas untuk kepala seorang tetua... jumlah itu cukup untuk membuat seorang ahli ranah Jiwa Baru rela mengkhianati sektenya sendiri.
Hanya butuh tiga tarikan napas setelah hujan batu spiritual itu turun.
Tiba-tiba, dari arah hutan di belakang pasukan sekte, dari dalam kota pelabuhan, dan dari atas tebing-tebing tersembunyi, meledak ribuan aura niat membunuh yang sangat pekat.
Kultivator liar yang sebelumnya hanya menonton, para perampok laut tingkat dewa, hingga beberapa kelompok tentara bayaran elit yang sedang singgah di pelabuhan, serentak mencabut senjata mereka. Mata mereka memerah, penuh dengan keserakahan absolut.
"Bunuh murid sekte itu! Itu adalah sepuluh ribu batu spiritual yang berjalan!" teriak seorang pemburu monster ranah Inti Emas tahap puncak, melesat membacok punggung seorang pendekar petir muda yang lengah.
Kekacauan meledak seketika.
Dua puluh ribu pasukan elit Istana Pedang Guntur Suci yang tadinya bersiap menghadapi armada Qixuan dari depan, kini diserang secara membabi buta dari arah belakang dan samping oleh ribuan kultivator liar yang gila harta. Formasi *Pedang Guntur Pemusnah Jiwa* yang sangat dibanggakan itu hancur berantakan sebelum sempat ditembakkan, karena konsentrasi para murid buyar akibat serangan dari segala arah.
"S-Siapa yang berani menyerang kami?! Kami adalah sekte penguasa!" jerit salah satu kapten sekte, sebelum kepalanya ditebas oleh tiga pembunuh bayaran yang saling berebut untuk memungut kepalanya demi bayaran.
Tetua Lei Kong membelalak ngeri melihat pasukannya sendiri saling berdesakan, dihancurkan dari dalam oleh "rakyat" yang selama ini mereka anggap remeh. Ini bukan lagi peperangan antar pasukan; ini adalah karnaval pembantaian massal yang dipicu oleh keserakahan tak terbatas!
Di atas geladak kapal, Qixuan memanggil seorang pelayan untuk menuangkan teh panas ke cangkirnya. Ia menyesap teh itu dengan sangat elegan, membiarkan alunan jeritan dan dentingan pedang dari tebing pesisir menjadi musik latar sarapannya.
"Kau lihat, Leng Yue," Qixuan berbicara pada jenderal wanitanya yang masih berdiri membeku melihat efektivitas brutal dari strategi tuannya. "Mereka mungkin memiliki hukum alam dan pedang surgawi di benua ini. Namun, di setiap benua, di setiap zaman... tidak ada agama yang pengikutnya lebih banyak daripada pemuja emas."
Leng Yue menunduk dalam, rasa kagum dan kengerian bercampur di dalam hatinya. Sang Tuan Muda Pemboros tidak perlu menurunkan satu pun pasukannya ke darat. Ia hanya menaburkan uangnya, dan membiarkan musuh-musuhnya dicabik-cabik oleh lingkungan mereka sendiri.
Ini adalah invasi paling arogan dan paling mematikan dalam sejarah Benua Atas. Langkah pertama Tuan Muda Cang di daratan para dewa telah diukir bukan menggunakan pedang, melainkan di atas pilar-pilar batu spiritual yang bersimbah darah.