Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Beruntung untuk Alin. Sesaat setelah menaiki sekoci, kapal penumpang besar itu tenggelam dengan membawa suara dentuman ledakan yang terdengar menggema dari dalam lautan.
“Siapa namamu?“ Tanya Alin sambil membersihkan luka dikaki Rei yang bahkan pria itu tidak menyadarinya.
“Dia…” Yuchen hendak menjawab.
“Aku Rei.” Jawabnya, matanya tidak lepas dari Alin.
“Rei, setelah ini aku akan menjahit luka dilengan mu. Aku lihat ini sedikit dalam. Kau kehilangan banyak darah. Apa golongan darahmu?”
“A+” jawabnya singkat, Rei melihat dari balik name tag yang dikenakan Alin, dokter Yi.
“Dokter Gu, aku butuh darah A+.” Pinta Alin kembali menekan tombol di earphonenya.
“Segera. Setelah kau selesai dengan pasien mu ini, SEGERA TEMUI AKU, KAU MENGERTI ALIN.” Suara pekikan dokter Gu dari earphone itu bahkan dapat terdengar jelas oleh Rei.
Bukan hanya saat itu, saat didalam kapal besar tadi Rei berulang kali mendengar dokter Gu memanggil namanya dengan berteriak.
“Kau dokter baru?” Tanya Rei.
Kembali Alin dibuat bingung dengan pertanyaan Rei.
“Kau takut aku menjahit luka mu?” Tanya Alin saat mereka tiba di mobil ambulance dan terlihat Alin bersiap untuk menjahit lengan Rei.
“Tenanglah. Aku sangat handal. Aku pastikan jahitannya rapi.” Sahut Alin melanjutkan tindakannya, “Jika takut temanmu mungkin bisa bernyanyi untukmu.” Kelakarnya lagi menatap Yuchen yang sejak tadi berdiri tegang disisi Rei.
“Kakimu terluka. Apa kau tidak merasakannya?” Tanya Rei.
“Ah, ini…” Alin pun juga baru menyadarinya, “Perhatikan dirimu saja. Luka mu lebih parah.” Sahut Alin kemudian.
“ALIN KAU DIMANA?” Teriak Han rekannya yang berlari mencari perempuan itu.
“Ck- Han bisa kau jangan berteriak seperti kakek sihir itu.” Kesal Alin menekan tombol earphone, “Aku di mobil tiga.” Lanjutnya.
“Siapa yang kau maksud penyihir tua itu dokter Yi?” Geram dokter Gu.
“Ck-“ Alin berdecak merasa bersalah, ia lupa cara kerja earphone itu terhubung ke seluruh tenaga medis.
“Alin kau sungguh berani…”
“Aku tidak mendengar apapun.”
“Hahahaha penyihir.”
“Kau akan disihir setelah ini dokter Yi.”
Suara rekan medisnya saling bersahutan meledek Alin. Kembali Alin menghela nafas membuat Rei dan Yuchen menahan tawanya.
“Tertawalah.” Ujar Alin pada mereka berdua, “Aku sengaja melakukannya agar kau tidak takut.” Alasan Alin menatap Rei.
“Aku? Takut?” Ujar Rei menatap Yuchen tak percaya.
“Astaga Alin kau disini.” Ujar Han menyerahkan sekantong darah untuk Alin, dengan sigap Alin membuat jalur pada nadi Rei untuk mentransfusi darah itu.
“Kau baik-baik saja?” Cemas Han.
“Ya.” Jawab Alin tenang.
“Kalau gitu berpura-puralah kau terluka, dokter Gu sejak tadi mengamuk mencari mu.” Bisik Han tak ingin didengar keadaan buruk mereka yang dapat menjatuhkan citranya sebagai dokter.
“Aku sudah selesai. Kau bisa menemaninya kerumah sakit? Seharusnya satu kantong darah ini sudah cukup untuk nya.” Ujarnya pada Yuchen, “Aku permisi dulu.” Lanjut Alin dan bergegas pergi bersama Han.
“Tuan… mobil kerajaan sudah tiba menjemputmu.” Sahut Yuchen kemudian.
Rei mengambil name tag Alin. Cukup lama ia menatap photo tersebut. Dari kejauhan ia melihat Alin melangkah dengan pergelangan kakinya yang terluka, bahkan Alin tidak perlu berpura-pura untuk sakit dihadapan seniornya. Ia sudah terluka.
“Aku akan naik ambulance ini seperti kata dokter ku tadi.” Jawab Rei yang enggan menaiki mobil kawalan kerajaan.
Disisi lain.
“ALIN…” Murka dokter Gu menunjuk Alin dengan menahan emosinya.
Dokter Gu merupakan ketua regu IGD lapangan saat itu. Ia kesal karena Alin tidak merespon setiap namanya dipanggil. Terlebih dengan nekat ingin menenggelamkan dirinya bersama kapal besar itu, Alin sendiri bahkan tak dapat berenang.
“Berapa pasien?” Tanyanya setelah menghela nafas untuk mengontrol emosi dirinya.
“25.” Jawab Alin tertunduk, “Jumlah yang kupastikan selamat dari 32 pasien yang ku tangani langsung, dan 2 kritis.”
“KAUU…” Kembali dokter Gu menghela nafas. Alin adalah anak didik kesayangannya, ia sangat dapat diandalkan terbukti seperti yang ia lakukan saat ini.
“Baik-baik saja?” Tanyanya tenang, seakan melanjutkan perkataan dokter Gu.
Alin menggeleng cepat. “Aku terluka.” Jawabnya menahan sakit.
“Kau sungguh terluka.” Bisik Han.
“Kaki ku. Kau tidak lihat.” Kesalnya.
Han bersamaan dokter Gu menundukkan kepalanya untuk melihat kaki Alin.
“Ya Tuhan Alin. Kau sungguh terluka.” Shock Han.
Dengan sigap Han mengobati kaki teman sejawatnya itu. Patahan besi tepat melukai sepanjang betis hingga pergelangan kaki Alin. Meski bukan luka parah, namun goresan itu seharusnya meninggalkan luka perih.
“Kau ini…” Kesal dokter Gu, “Bagaimana kau menjaga dirimu sendiri. Apa kau tidak dengar berkali-kali aku memanggil nama mu? Apa earphone mu rusak atau telinga mu yang tuli. Hah?!” Marah dokter Gu menceramahi Alin.
“Didalam kacau, aku tadi sudah menjawab panggilan mu dok. Hanya saja aku lupa menekan tombol earphone ku.” Alasan Alin.
“Kau ini…” Geramnya, “Jika saja aku bisa menyihir mu untuk lebih patuh.” Kesalnya.
“Maaf dokter.” Lirih Alin.
Rei melihat kejadian itu dari dalam mobil Ambulance. Ia hanya bisa menahan tawanya.
“Atur jadwal ku untuk bertemu dengannya lagi.” Pinta Rei pada asistennya sebelum mobil ambulance mereka berangkat.
“Baik tuan.”
...****************...
Satu minggu pasca kejadian di dermaga.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Zizi dalam panggilan video.
“Lihat mata ku.” Keluh Alin menunjukkan lingkaran gelap dibawah matanya, “Aku baru dua minggu disini tapi pekerjaan disini sungguh berat. Kau tahu, aku bahkan harus masuk kedalam kapal yang nyaris tenggelam. Ah, andai kau lihat aku seperti super hero. Aku sedang syuting action disini.” Keluh Alin kembali.
“Hai Zizi…” Sapa Han dan Mei bersamaan.
“Hai Han, hai Mei…” Balas Zizi.
Meski tidak belajar di kampus yang sama. Han dan Mei mengenal Zizi saat ia mengantar Alin ke wilayah Xinglan. Dari rumah sakit pusat Orinthal setidaknya ada 7 tenaga medis yang dikirimkan dan salah satunya adalah Alin.
Orang terdekat Alin sudah mengetahui alasan direktur utama rumah sakit mengirimnya keluar. Cinta bertepuk sebelah tangan membuat Alin merasakan hidup susah untuk saat ini.
“Bertahan lah Lin. Hanya tiga bulan.” Ujar Mei.
Alin hanya tersenyum pilu menyantap makan siangnya dikantin.
“Ini sudah satu minggu, kenapa masih kau perban kaki mu.” Ujar Han.
“Kau terluka?” Tanya Zizi cemas.
“Zizi…” Alin mulai mengeluh kembali. Dan kembali lagi ia menceritakan kejadian yang telah menimpanya. Alin meski didepan pasiennya terlihat kuat, sesungguhnya ia berusaha mati-matian menekan rasa takut, rasa cemas, rasa sakit dalam dirinya. Setidaknya sebagai dokter dia tidak akan menunjukkan rasa itu semua dihadapan para pasien.
“Apa aku perlu melakukan euthanasia pada pria itu?” Bisik Zizi.
“Hahaha… tidak. Aku harus menemuinya, aku akan melempar berkas pengunduran diri ku. Aku akan mencari rumah sakit yang lebih tinggi penawaran gajinya daripada tempat busuk itu.” Geram Alin.
“Ajaklah aku kalau begitu. Aku juga sudah muak berada disini.” Lanjut Zizi.
“Pindahlah kesini kalian berdua. Meski disini pekerjaannya banyak, tapi segala kebutuhan kalian terpenuhi. Gajinya lebih besar bukan.” Ujar Mei, “Bahkan asramanya saja mewah.”
“Ah ya Zizi… ajukanlah pindah kesini. Setidaknya Raja disini akan mencintai rakyatnya sampai mati, sungguh. Dibandingkan presiden mu…”
“Ssstt… jangan membandingkan.” Tegur Han pada Alin. Wanita itu memang suka sesumbarnya saja.
“Ah sudahlah. Setidaknya meski melelahkan, kau tahu semua tenaga medis yang bertugas saat didermaga saat itu mendapat undangan makan malam dikerajaan.” Semangat Alin.
“Apa? Sekarang kau betah disana?” Ledek Zizi.
“Sudahlah. Aku harus kembali. Pasien ku sudah menunggu.” Lanjut Alin saat menerima gelak tawa dari Han dan Mei.