(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Keputusan terakhir
Setelah pertemuan singkat itu, semua orang pulang dengan hasil yang kurang memuaskan terlebih untuk Herman dan Kevin. Keduanya tak bisa berkutik di depan Raka dan Tuan Rendra, dan tak ada yang bisa membantah keduanya.
Raka menghembuskan napas lega, setelah semua orang keluar dari ruangan itu. Hanya menyisakan dirinya, sang Ayah, Jack dan Selina.
“Aku pikir kemampuanmu sudah menghilang,” ucap tuan Rendra sambil terkekeh pelan.
Ia tak menyangka, Raka kembali di waktu yang sangat tepat untuk menggantikan posisinya memimpin perusahaan besar milik keluarganya.
Raka tersenyum tipis, dan menatap Ayahnya sebagai seorang anak. Tatapannya berubah sedikit menghangat, tak ada tekanan ataupun kebencian, hanya tatapan seorang anak yang menyesali keputusannya di masa lalu.
“Maafkan aku, karena sudah terlalu banyak membuatmu kecewa,” ucap Raka sambil menunduk perlahan.
Ruangan itu kembali hening setelah ucapan Raka terdengar, untuk beberapa detik, Tuan Rendra tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu hanya menatap putranya dalam diam, seolah sedang memastikan bahwa sosok yang berdiri di hadapannya benar-benar anak yang telah lama pergi dari rumah.
Selina yang berdiri di dekat pintu tanpa sadar mengalihkan pandangan sesaat, sementara Jack memilih tetap diam dengan sikap tegak seperti biasa.
Tuan Rendra akhirnya mengembuskan napas panjang lalu menyandarkan tubuh ke kursinya.
“Kamu memang mengecewakan,” ucapnya tenang, tetapi kali ini tidak terdengar sekeras biasanya.
Raka menundukkan kepala sedikit lebih dalam.
“Tapi,” lanjut pria itu sambil menatap lurus putranya, “aku juga memang salah.”
Kalimat itu membuat Raka perlahan mengangkat wajah, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Tuan Rendra terlihat jauh lebih lembut daripada yang ia ingat.
“Aku terlalu keras memaksakan jalan hidup yang menurutku benar,” lanjutnya pelan. “Aku marah karena kamu pergi dari rumah ini, marah karena kamu memilih meninggalkan semuanya. Tapi... setiap hari aku tetap berharap kamu pulang kembali ke rumah ini.”
Napas Raka terasa sedikit tertahan, Tuan Rendra terkekeh pelan kali ini terdengar lebih pahit. “Lucunya, perusahaan sebesar ini tidak pernah benar-benar menjadi masalah bagiku. Yang paling menyebalkan justru kenyataan kalau anakku sendiri menghilang selama bertahun-tahun.”
Selina memalingkan wajah sambil berdeham kecil, seolah memberi ruang untuk percakapan keduanya, sementara itu, Raka menghembuskan napas perlahan.
“Aku terlalu keras kepala,” ucapnya lirih. “Aku pikir aku bisa membuktikan semuanya sendirian.”
“Kamu memang keras kepala,” sahut Tuan Rendra cepat. “Wajar saja kau keturunanku.”
Kalimat itu membuat suasana sedikit mencair, sudut bibir Raka terangkat tipis untuk pertama kalinya pagi itu. Namun ekspresi Tuan Rendra perlahan kembali serius, tatapannya berubah tajam.
“Begitu kau duduk di kursi seorang pemimpin, tak ada jalan untuk kembali.”
Raka mengangguk pelan.
“Aku sudah memutuskannya,” jawabnya tenang. “Aku akan ambil alih semuanya, mulai dari sekarang.”
Jack menundukkan kepala kecil, sementara Selina diam-diam memperhatikan Raka lebih lama, tidak ada keraguan di wajah pria itu, keputusannya terlihat benar-benar sudah bulat.
***
Di sisi lain kota, suasana rumah keluarga Rasti jauh dari kata tenang, pagi yang biasanya diisi suara televisi dan obrolan santai kini berubah kacau.
Seorang pria bertubuh besar berdiri di depan pagar sambil mengetuk keras pintu rumah, membuat Sari ibu dari Rasti, berkali-kali berjalan mondar-mandir dengan wajah yang terlihat panik.
“Pak, kami bilang nanti dibayar!” serunya dengan nada meninggi.
Namun pria itu hanya menggeleng tegas. “Kemarin juga bilang begitu,” jawabnya dingin. “Tagihan motor tiga bulan belum masuk. Kalau tidak ada pembayaran minggu ini, kendaraan kami tarik.”
Ucapan itu langsung membuat kakak Rasti berdiri dari sofa dengan wajah tidak nyaman. “Tarik aja nanti, sekarang kami lagi susah!” balasnya kesal.
Belum sempat suasana mereda, suara ketukan lain kembali terdengar dari luar, kali ini lebih keras.
Rasti yang baru keluar kamar langsung mengernyit kesal, rambutnya masih berantakan, wajahnya tampak lelah karena hampir semalaman tidak bisa tidur.
“Ribut apalagi sih pagi-pagi begini?” keluhnya.
Namun begitu pintu dibuka, dua orang lain sudah berdiri di depan rumah sambil membawa map dokumen.
“Kami dari koperasi,” ujar salah satunya singkat. “Soal tunggakan pinjaman atas nama ibu Sari.”
Wajah ibu Sari langsung berubah.
“Bukannya biasanya ditransfer Raka?” gumam wanita itu pelan sebelum refleks menoleh ke dalam rumah.
Keheningan mendadak terasa aneh, barulah mereka menyadari sesuatu, tidak ada lagi suara Raka yang sedang mencuci baju, dan tidak ada lagi aroma masakan yang biasanya sudah menyambut mereka di pagi hari.
Tidak ada seseorang yang biasanya diam-diam menyelesaikan semua masalah tanpa banyak bicara, Rasti menggigit bibir bawahnya pelan.
Entah kenapa rumah itu terasa berbeda sejak pria itu pergi, lebih sunyi dan jauh lebih kacau. Dengan cepat ia mengambil ponselnya lalu mencari kontak Raka.
Panggilan pertama, tidak terhubung, panggilan kedua, dan seterusnya tetap sama
Rasti mulai mengernyit.
“Kenapa malah nggak aktif sih?” gumamnya kesal.
Ia mencoba mengirim pesan, tapi tidak ada balasan, rasa kesal perlahan berubah menjadi tidak nyaman.
Sementara itu di ruang tamu, ibunya mulai panik menghadapi orang-orang yang datang menagih pembayaran, kakaknya sibuk menghindar sambil menyalahkan keadaan, sementara Doni sedang tidak ada di rumah.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, keluarga itu mulai menyadari satu hal yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan, banyak hal di rumah itu ternyata berjalan karena satu orang, pria yang sudah mereka usir tanpa perasaan sama sekali.
Di tempat yang berbeda, terlihat Doni sedang menyusuri trotoar. Beberapa hari tanpa adanya sosok Raka, ia merasakan kehampaan yang jelas membuatnya merasa kehilangan seseorang yang terlalu penting di hidupnya.
“Gimana kabar kak Raka ya? Dimana dia sekarang,” gumam Doni.
Ia lalu meraih ponselnya, dan mencoba mengirimkan pesan singkat kepada Raka.
“Kak Raka, apa kabar? Kak Raka dimana sekarang?”
Setelah mengirimkan pesan singkat itu, Doni melanjutkan kembali langkahnya untuk segera sampai di sekolah.
***
Kembali ke Raka, yang sedang terlihat santai di balkon kamarnya sambil menyalakan laptop untuk menyiapkan diri saat pergantian kepemimpinan nanti di perusahaan, banyak yang harus ia pelajari sebelum menggantikan sang Ayah.
Untungnya Raka memang sudah di bekali pendidikan yang matang oleh Tuan Rendra, sebelum akhirnya ia memutuskan menikahi gadis yang membawanya masuk ke dalam jurang penderitaan.
Raka menoleh ke arah ponselnya, dan saat melihat beberapa panggilan tak terjawab ia mengernyit begitu nama Rasti yang tertera di layar ponselnya.
“Ck, mau apa lagi dia?” gumamnya.
Dan saat ia hendak mengirimkan pesan singkat kepada Rasti, ia melihat nama Doni dan segera melihat pesan yang di kirimkan oleh adik iparnya itu.
Ia tersenyum dan membalas pesan singkat itu.
“Baik Doni, gimana kabar kamu. Sekarang kakak lagi di suatu tempat yang jauh.”
Lalu Raka beralih mengirim pesan kepada Rasti, singkat jelas padat.
“Aku akan segera mengurus perceraian kita.”
Kirim.
Setelah itu dia meletakkan kembali ponselnya di meja, dan fokus dengan apa yang sedang di lakukannya.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km