Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...
Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 : Markas Black Viper
Di sisi lain kota…
Sebuah gudang besar tua yang berada dekat pelabuhan tampak gelap dan sunyi dari luar. Namun di dalamnya, beberapa pria bersenjata berjaga di berbagai sudut dengan wajah serius.
Asap rokok memenuhi udara. Sedangkan di tengah ruangan. Seorang pria bertubuh besar duduk santai di sofa kulit hitam sambil menyandarkan kepalanya ke belakang.
VICTOR ROMANOV
Jaket kulit hitam yang tadi dipakainya kini tergeletak sembarangan di samping sofa. Membuat tato ular hitam besar di pundak kirinya terlihat jelas.
Ular itu melingkar sampai ke lengan atasnya dengan warna hitam pekat yang menyeramkan. Pria itu perlahan melepas kacamata hitamnya. Sorot matanya tajam dan dingin seperti predator.
Dan tepat di depannya, salah satu anak buahnya berdiri menunduk hormat. “Tuan Victor.” pria itu berkata hati-hati. “Kotak itu sudah diberikan tepat sesuai instruksi.”
Sudut bibir Victor perlahan terangkat tipis. “Bagaimana reaksi mereka?”
“Keamanan mansion langsung panik, Tuan.” jawab anak buahnya cepat. “Dan seperti dugaan Anda… Bara Alexander mulai bergerak.”
Victor tertawa, suara tawanya justru terdengar menyeramkan di dalam gudang sunyi itu. “Aku mengenal Bara.” gumamnya santai sambil memutar cincin hitam di jarinya. “Pria itu terlalu posesif terhadap miliknya.”
Anak buahnya terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Apa ini ada hubungannya dengan gadis itu…”
Tatapan Victor langsung terangkat.
“Apa gadis itu.” lanjut anak buahnya hati-hati. “Apa dia benar-benar penting?”
Beberapa detik Victor hanya diam.
Lalu pria itu bersandar pelan sambil menatap layar tablet di meja depannya. Di sana terlihat foto Rosline di minimarket tadi. Wajah polos, tatapan gugup, dan cara Bara berdiri tidak jauh darinya.
Victor menyeringai tipis. “Mungkin saja tidak.” gumamnya rendah.
“Tapi sepertinya…” matanya perlahan menyipit tajam. “Dia sangat menarik.”
Anak buahnya langsung diam.
Sedangkan Victor mengambil rokoknya pelan lalu menyalakannya. “Apa kau tahu cara paling cepat menghancurkan seseorang seperti Bara Alexander?” tanyanya santai.
Pria itu menggeleng cepat. “Tidak, Tuan.”
Victor menghembuskan asap rokok perlahan sebelum tersenyum dingin. “Bukan dengan menyerangnya.”
Tatapannya berubah gelap. “Tapi dengan menyentuh apa yang mulai dia lindungi.”
Suasana gudang langsung terasa jauh lebih dingin. Dan beberapa detik kemudian, salah satu pria lain buru-buru masuk sambil membawa tablet tambahan. “Tuan Victor.”
"Kenapa?”
“Kami berhasil masuk lebih dalam ke sistem mansion Alexander.”
Sudut bibir Victor langsung terangkat puas.
“Bagus.” gumamnya pelan.
Pria itu lalu berdiri perlahan dari sofa. Tubuh besarnya langsung membuat aura ruangan terasa lebih menekan. Tatapan tajamnya kembali tertuju pada foto Rosline di layar.
Lalu dengan suara rendah penuh ancaman, Victor berkata. “Permainan akan segera dimulai.”
Gudang tua itu kembali hening setelah ucapan Victor tadi. Suara ombak dari arah pelabuhan terdengar samar bercampur bunyi rantai besi yang bergesekan tertiup angin malam. Lampu redup di langit-langit gudang membuat bayangan pria itu terlihat jauh lebih menyeramkan.
Victor masih berdiri sambil menatap layar tablet di tangannya. Foto Rosline terpampang jelas di sana. Tatapannya perlahan turun pada wajah gadis itu beberapa detik terlalu lama.
“Dia terlihat biasa saja…” gumam salah satu anak buahnya pelan. “Kenapa Bara sampai bereaksi seperti itu?”
Victor tertawa kecil. “Karena pria seperti Bara Alexander…” ia mematikan rokoknya pelan di meja besi. “Tidak pernah sadar kapan sesuatu mulai menjadi miliknya.”
Anak buahnya langsung diam.
Victor lalu berjalan perlahan menuju meja besar penuh peta pelabuhan dan layar monitor. Beberapa layar memperlihatkan titik-titik CCTV kota, termasuk area sekitar mansion Alexander.
“Bagaimana perkembangan jalur timur?” tanyanya tanpa menoleh.
Salah satu pria segera maju. “Anak buah Bara Alexander mulai memperketat penjagaan pelabuhan sejak sore tadi.”
“Lalu?”
“Kami kehilangan dua jalur distribusi, Tuan.”
Victor mendecak kecil. Namun bukannya marah, pria itu justru tersenyum tipis. “Berarti Bara mulai panik.”
“Tapi Tuan…” pria itu terlihat ragu. “Kalau keluarga Alexander menemukan lokasi gudang ini...”
“Tidak akan.” potong Victor santai. Tatapannya berubah dingin. “Karena sebelum mereka menemukan kita…” sudut bibirnya perlahan terangkat. “Aku akan membuat mereka sibuk melindungi gadis itu.”
Suasana gudang langsung terasa berat.
Salah satu anak buah lainnya mendekat hati-hati. “Apa kita perlu mulai fase berikutnya malam ini?”
Victor terdiam sebentar.
Lalu ia mengambil pisau kecil dari meja dan memutarnya santai di jari.
“Belum saatnya.” jawabnya rendah. “Aku ingin melihat seberapa jauh Bara akan kehilangan kendali.”
Pria itu lalu kembali duduk di sofa kulit hitamnya dengan santai. Namun sorot matanya tetap gelap penuh perhitungan.
“Tapi terus awasi mansion.” lanjutnya dingin. “Terutama kamar gadis itu.”
“Baik, Tuan Victor.”
Dan tepat saat anak buahnya pergi. Tablet di tangan Victor tiba-tiba berbunyi kecil. Salah satu hacker Black Viper mengirim rekaman terbaru dari dalam mansion Alexander.
Rekaman itu memperlihatkan Bara dalam ruang keamanan, wajahnya dingin sambil memberi perintah pada seluruh tim keamanan mansion.
Victor memperhatikan layar itu beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis. “Sangat menarik…” gumamnya pelan.
Karena kali ini sejak mengenal Bara Alexander. Ia melihat pria itu benar-benar terusik oleh seseorang.
Tatapan Victor perlahan menyipit. “Lihat matanya…” gumamnya pelan sambil menyandarkan tubuh ke sofa. “Dia marah.”
Salah satu anak buahnya ikut melirik layar sebentar lalu menelan ludah kecil. “Jarang sekali Bara Alexander terlihat seperti itu.”
“Karena biasanya…” Victor memutar pisau kecil di jemarinya. “Dia selalu terlalu tenang.”
Pria itu lalu menekan layar tablet beberapa kali. Rekaman CCTV berpindah. Kini yang muncul adalah gambar Rosline di ruang tengah mansion.
Gadis itu terlihat duduk diam sambil memeluk dirinya sendiri. Wajahnya pucat dan jelas ketakutan.
Victor memperhatikan layar itu cukup lama. Lalu tiba-tiba…
“Hacker.”
Salah satu pria berkacamata yang duduk di depan deretan komputer langsung menoleh cepat. “Ya, Tuan?”
“Bisa perbesar audio ruang tengah?”
Pria itu langsung mengetik cepat di keyboard. Beberapa detik kemudian, suara samar dari mansion mulai terdengar melalui speaker kecil gudang.
“Aku di sini.” Itu suara Bara.
Victor langsung tersenyum tipis mendengarnya. “Sangat menarik…” gumamnya rendah.
Anak buahnya terlihat bingung. “Tuan?”
Victor menyandarkan dagunya di punggung tangan sambil menatap layar Rosline tanpa berkedip.
“Pria seperti Bara Alexander tidak pernah menyentuh sesuatu yang tidak penting baginya.”
Tatapannya berubah lebih tajam. “Dan sekarang…” sudut bibirnya perlahan terangkat dingin. “Dia mulai terlalu protektif.”
Suasana gudang terasa semakin berat.
Salah satu anak buah lainnya maju pelan. “Apa kita perlu menculik gadis itu sekarang?”
Kalimat itu justru membuat Victor tertawa pelan. “Tidak.” jawabnya santai.
Pria itu lalu berdiri perlahan dari sofa. Tubuh besarnya membuat beberapa anak buah otomatis menunduk tegang. “Menculik terlalu cepat akan merusak permainan.”
Victor berjalan menuju jendela gudang yang menghadap pelabuhan gelap di luar. Lampu-lampu kapal tampak samar dari kejauhan.
“Tuan Bara Alexander…” gumamnya rendah penuh ejekan. “Aku ingin melihat seberapa jauh kau akan menjaga gadis itu.”
Lalu perlahan, sorot matanya berubah dingin menakutkan. “Dan aku ingin tahu…” lanjutnya pelan. “Apa gadis itu cukup berharga sampai kau rela menghancurkan semuanya demi dia.”
Brak!
Salah satu anak buah tiba-tiba masuk tergesa membawa dokumen.
“Tuan Victor!”
Victor menoleh malas. “Apa lagi?”
“Kami berhasil menemukan identitas lengkap gadis itu.”
Ruangan langsung hening.
Victor perlahan mengambil map cokelat tersebut lalu membukanya santai. Di dalamnya terdapat beberapa data Rosline. Foto identitas, alamat lama, riwayat pekerjaan, sampai data keluarganya.
Tatapan Victor berhenti pada satu halaman. Lalu senyumnya perlahan menghilang.
“Hm…”
Anak buahnya langsung tegang. “Ada masalah, Tuan?”
Victor tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada satu nama di dalam dokumen itu. Nama seseorang dari masa lalu. Kini sorot mata Victor berubah sedikit berbeda.