NovelToon NovelToon
Di Balik Kilau Mutiara

Di Balik Kilau Mutiara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:896
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Udara pagi di ruangan Divisi Riset dan Pengembangan Produk terasa lebih dingin dari biasanya, seolah menyusupkan rasa tegang ke setiap celah ruangan. Sinar matahari yang masuk lewat jendela kaca besar tidak lagi terasa hangat, melainkan menciptakan bayangan-bayangan tajam yang memanjang di lantai marmer yang berkilau.

Sejak pertemuan pertama yang penuh ketegangan itu, Arsya Abrisam seolah menjadikan Sherina sasaran utama dari segala kritis dan tuntutan kerjanya yang luar biasa tinggi. Bagi Arsya, kehadiran gadis itu hanyalah gangguan, sosok yang terlahir dalam kemudahan dan kemewahan, yang takkan pernah paham arti berjuang dan bertahan.

Di matanya, Sherina adalah simbol dari segala sesuatu yang ia benci karena kemudahan yang diperoleh tanpa usaha, kedudukan yang diraih bukan karena kemampuan, dan kehidupan yang terasa begitu sempurna, jauh berbeda dengan takdir pahit yang harus ia telan sendirian.

Pagi itu, Arsya melangkah masuk ke ruangan kerja dengan langkah yang tegas dan berat, diikuti oleh keheningan yang otomatis terbentuk di antara para staf. Tangan kanannya, seperti biasa, terselip rapat di balik saku celana, disembunyikan dari pandangan siapa pun, menjadi bagian dari misteri sekaligus luka yang ia jaga mati-matian.

Wajahnya datar, tanpa ekspresi, namun sorot matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti tepat di meja kerja Sherina. Ia berjalan mendekat, suara langkah kakinya bergema berirama, seolah menghitung mundur waktu bagi gadis itu. Di sekelilingnya, rekan-rekan kerja saling pandang dengan cemas, mengetahui betapa sulitnya posisi Sherina di mata pemimpin mereka yang angkuh dan kritis itu.

Sherina berdiri tegap, menundukkan kepala sedikit tanda hormat, namun di matanya terpancar keteguhan hati yang tak tergoyahkan. Ia sudah bertekad, apa pun yang terjadi, ia tidak akan mundur selangkah pun. Ia tidak akan memberikan kesempatan kepada Arsya untuk mengatakan bahwa ia benar-benar tak berdaya, anak manja yang hanya bisa bersembunyi di balik nama besar ayahnya.

Arsya berhenti tepat di hadapannya. Ia meletakkan setumpuk dokumen tebal dan berat di atas meja, menimbulkan bunyi 'duar' yang cukup keras, membuat beberapa lembar kertas di atasnya berantakan. Di sampul berkas itu tertulis judul proyek besar Analisis Pasar dan Pengembangan Produk Baru untuk Kawasan Timur Nusantara.

"Dengar baik-baik," ucap Arsya dengan suara rendah, dingin, dan penuh penekanan, matanya menatap tajam lurus ke manik mata Sherina, seolah ingin menembus hingga ke dalam jiwa gadis itu.

"Karena kau mengaku mampu, mengaku ingin bekerja setara dengan yang lain, maka aku akan berikan kesempatan itu padamu. Ini adalah proyek riset yang paling krusial, paling sulit, dan paling berisiko yang sedang kami tangani saat ini. Selama bertahun-tahun, tim kami yang berisi orang-orang berpengalaman pun belum mampu menemukan rumusan yang tepat. Kondisi pasar di sana sangat unik, sulit diprediksi, dan memiliki tantangan geografis serta budaya yang rumit. Banyak yang telah mencoba, dan semuanya gagal memberikan hasil yang memuaskan."

Arsya menjeda ucapannya sejenak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sarkas yang tipis dan meremehkan. Ia menatap Sherina dengan pandangan yang seolah berkata "kau pasti akan menyerah sebelum memulai."

"Tugas ini kuserahkan kepadamu," lanjut Arsya tegas.

"Kau harus menyusun rancangan lengkap strategi pengembangan produk yang pas, analisis mendalam mengenai kebutuhan masyarakat setempat, serta perkiraan keuntungan dan risiko yang paling akurat. Semuanya harus selesai dalam waktu tujuh hari. Tidak ada penundaan, tidak ada alasan, dan aku tidak mau mendengar kata 'tidak mampu' keluar dari mulutmu. Ingat, aku tidak butuh hasil yang setengah jadi, aku tidak butuh alasan yang manis. Aku butuh hasil yang sempurna, rinci, dan bisa langsung diterapkan. Jika kau gagal... atau hasil kerjamu ternyata sampah seperti yang kuduga, maka kau tidak perlu lagi repot-repot duduk di sini. Kau cukup kembali ke gedung besar ayahmu, duduk manis di kursi empukmu, dan berhenti bermain-main di dunia kerja yang keras ini."

Kalimat terakhir itu dilontarkan dengan nada yang sangat merendahkan, menusuk tepat ke titik paling sensitif di hati Sherina. Arsya sengaja memberikan tugas yang nyaris mustahil itu. Tugas yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan, dikerjakan oleh tim besar yang berisi pakar-pakar berpengalaman, kini dibebankan seorang diri kepada gadis muda yang baru masuk bekerja dua hari.

Arsya ingin membuktikan dugaannya. Ia ingin melihat Sherina menyerah, ingin melihat gadis itu menangis atau pergi dengan sendirinya karena tak sanggup menahan beban berat itu. Bagi Arsya, ini adalah cara tercepat dan paling tepat untuk mengusir gangguan yang bernama Sherina Mutiara dari ruangannya.

Setelah melontarkan tantangan itu, Arsya berbalik badan dengan angkuh dan dingin, lalu berjalan pergi meninggalkan Sherina yang masih terpaku berdiri di tempatnya. Ia tidak menoleh lagi, yakin betul bahwa dalam tujuh hari ke depan, ia takkan perlu lagi memusingkan sosok gadis itu.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Beberapa rekan kerja mendekat dengan wajah iba dan cemas. Lina, yang duduk di sebelahnya, berbisik pelan dengan nada prihatin,

"Ya Tuhan, Sherina... Pak Arsya benar-benar ingin mengujimu habis-habisan. Bahkan tim riset senior kami saja butuh waktu berbulan-bulan untuk sekadar mengumpulkan data dasar. Tujuh hari itu waktu yang terlalu singkat, nyaris mustahil. Dia sengaja memberikan tugas ini supaya kau gagal dan pergi. Apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Sherina perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang semula berkaca-kaca karena rasa sakit hati dan amarah yang tertahan, kini berubah menjadi tajam dan berkilauan kuat. Ia menatap punggung Arsya yang menjauh hingga menghilang di balik pintu ruang kerja pribadinya, lalu menatap kembali tumpukan berkas tebal di atas mejanya. Tangan kanannya mengepal erat, kuku-kukunya menancap lembut ke telapak tangan, menyalurkan rasa amarah itu menjadi kekuatan tekad yang baru.

Harga dirinya terasa tercabik-cabik. Penilaian Arsya yang menganggapnya sekedar anak orang kaya yang lemah dan tak berguna, penghinaan bahwa ia hanya bermain-main, serta prasangka buruk bahwa ia takkan pernah mengerti arti kerja keras.

Semua itu menjadi api yang membakar semangatnya hingga berkobar hebat. Ia teringat kembali perjalanan hidupnya, kepergian Darren yang juga memandang jurang perbedaan status, perjuangannya menempuh pendidikan hingga lulus terbaik, dan tekadnya yang bulat untuk membuktikan nilai dirinya sendiri.

"Mustahil?" gumam Sherina pelan, namun tegas dan berisi tekad yang membaja. Ia mengusap permukaan berkas itu dengan tangan yang bergetar karena semangat, bukan karena takut.

"Kata 'mustahil' tidak ada dalam kamus hidupku, Pak Arsya Abrisam. Kau ingin membuktikan ketidakmampuanku? Kau ingin aku pergi karena aku anak orang kaya? Kau salah besar. Tugas ini sulit, berat, dan mungkin dianggap gila oleh orang lain. Tapi justru karena kau memberikannya dengan niat buruk, justru karena kau meremehkanku begini, maka aku akan menyelesaikannya."

Sherina berbalik menatap Lina dan rekan-rekan lainnya dengan senyum tegas yang menghapus segala keraguan di wajah mereka.

"Terima kasih kekhawatiran kalian. Tapi aku tidak akan mundur. Aku akan selesaikan tugas ini. Dan aku akan menyelesaikannya dengan sempurna, jauh lebih baik dari apa pun yang pernah beliau bayangkan. Aku akan membuat beliau menelan kembali semua kata-kata kasar dan penghinaan yang dilontarkannya kepadaku. Aku akan membungkam keraguan beliau, satu halaman demi satu halaman, satu data demi satu data."

Sejak saat itu, Sherina benar-benar menempatkan seluruh jiwa raganya pada tugas berat itu. Ia tidak lagi mempedulikan jam kerja, lelah, atau istirahat. Setiap pagi ia datang paling awal, dan setiap malam ia pulang paling akhir, menjadi orang terakhir yang mematikan lampu di ruangan itu. Di rumah pun, ia masih sibuk membaca, mencatat, dan merancang konsep hingga dini hari. Ia menggali segala ilmu yang pernah dipelajarinya di bangku kuliah, menggunakan ketajaman analisis yang pernah dikagumi Darren dulu, serta kepekaannya dalam memahami kebutuhan manusia.

Ia membaca setiap lembar berkas itu berulang kali, meneliti data-data lama, mencari celah yang mungkin terlewatkan oleh orang lain. Ia menyadari bahwa tantangan utama di kawasan timur bukanlah soal modal atau teknologi, melainkan pemahaman mendalam akan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat. Hal ini yang justru dipahami baik oleh Sherina karena kebiasaannya turun langsung ke masyarakat sejak kecil, didikan ayahnya yang selalu mengajarkan untuk merendah dan mendengarkan.

Mata Sherina kini bengkak dan lelah, tubuhnya terasa pegal dan berat, namun semangatnya tidak pernah surut. Di tengah tumpukan data yang rumit dan angka-angka yang membingungkan itu, ia menemukan kembali dirinya sendiri.

Ia menemukan bahwa di balik kemewahan dan nama besar yang melekat padanya, ia memiliki kemampuan berpikir yang hebat, ketekunan yang luar biasa, dan keberanian untuk menghadapi hal-hal yang dianggap mustahil.

1
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
suka yang tegas dan berani seperti ini
Elisabeth Ratna Susanti
teduh banget pastinya kalau kita menatap wajahnya 🥰
Elisabeth Ratna Susanti
top banget👍
Elisabeth Ratna Susanti
aku suka bau tanah yang basah terkena hujan.....rasanya membawa damai 🥰 aku suka hujan🥰
Rocean: baunya enak memang kak. candu dan damai 😍
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
semakin seru👍
Siti Sarfiah
semangat bekerja , siapa tau di Divisi pembangun produk ada cowok yg naksir sherina🤭
Siti Sarfiah
bangkitlah dengan usahamu sendiri , tunjukkan pada nilai yg engkau capai semangat terus
Siti Sarfiah
wujudkan tekadmu , suatu saat akan terwujud apa yg engkau cita"kan , semangat💪
Siti Sarfiah
tunggu daren menyelesaikan pendidikannya d luar negri nanti kembali untuk sherina juga
Siti Sarfiah
sukses selalu , terus berjuang dan lanjut lagi ceritanya
Siti Sarfiah
tetap rendah hati dan semangat
Siti Sarfiah
masya Allah anak sultan yg rendah hati👍
namice
aku mampir kak
namice: 👍👍, semangat kak💪💪💪
total 2 replies
Elisabeth Ratna Susanti
keren banget pemilihan diksinya 🥰👍
Elisabeth Ratna Susanti
like plus subscribe plus iklan 👍
Rocean: mantappp🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!