Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga—13
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang cukup keras mendadak memutus percakapan antara mereka. Dari balik pintu jati kamar Danny, suara ceria Mama Dominic terdengar menggelegar, memecah kesunyian kamar yang dingin itu.
"Danny! Aletha! Ayo turun, Nak, makan siang dulu! Ini udah jam 12 siang lewat loh, kalian berdua betah banget di dalam kamar!" Seruan itu diakhiri dengan tawa renyah yang sengaja ditahan.
Aletha dan Danny spontan menoleh ke arah jam digital di atas nakas secara bersamaan. Mata mereka berdua melebar.
12:15 siang.
"Sial, gue beneran nggak sadar kalau kita ngobrol sepanjang subuh sampai siang begini," gumam Aletha sembari buru-buru menyibakkan selimut abu-abunya. Ia duduk di tepi ranjang, merapikan piyama satin navy blue-nya yang sedikit kusut.
Danny ikut bangkit berdiri, mengacak rambutnya yang berantakan dengan ekspresi wajah yang mendadak kikuk. "Gue juga... Nggak pernah-pernahnya gue lupa waktu kayak gini cuma buat ngomongin hal nggak penting."
Dari luar, terdengar lagi suara langkah kaki Mama Dominic yang menjauh, masih diiringi tawa kecil yang geli. Sebagai seorang ibu, pikiran beliau jelas sudah traveling ke mana-mana. Mengunci diri di kamar dari semalam sampai jam 12 siang? Bagi orang tua, itu sudah lebih dari cukup sebagai bukti kalau putranya yang semula "dingin" kini sudah berubah total menjadi pria normal yang kasmaran.
Sepuluh menit kemudian, setelah melakukan pembasuhan wajah kilat, Danny dan Aletha berjalan beriringan menuruni tangga menuju ruang makan. Di atas meja makan marmer panjang, berbagai hidangan mewah aromatik sudah tersaji dengan rapi.
Papa Michael sedang duduk santai membaca koran bisnisnya sembari menyesap kopi, sementara Mama Dominic sibuk menata mangkuk sup terakhir. Di sana tidak kelihatan ada Cassandra, karena gadis itu memang sudah berangkat kuliah sejak pagi buta dan baru akan pulang menjelang sore hari.
Begitu melihat Aletha dan Danny mendekat, senyum di wajah Mama Dominic langsung mengembang sempurna, sarat akan godaan yang sangat pekat.
"Wah, akhirnya calon pengantin baru kita turun juga ke bumi," goda Mama Dominic sembari menarik kursi untuk Aletha dengan sangat ramah. "Ayo duduk, Aletha. Kamu pasti laper banget, kan?"
"Eh... iya, Tante. Maaf ya, Aletha malah bangun siang banget di rumah orang," jawab Aletha manis.
Setelah mereka semua duduk dan mulai mengambil lauk, Mama Dominic menopang dagunya di atas meja makan, menatap Danny dan Aletha bergantian dengan mata yang berbinar penuh selidik.
"Kalian itu sebenarnya tidur jam berapa sih semalam? Kok bisa bangunnya siang banget sampai jam 12 begini?" tanya Mama Dominic dengan nada penuh selubung makna.
Papa Michael yang duduk di ujung meja hanya menurunkan korannya sedikit, menyimak pembicaraan dengan senyum simpul yang berwibawa di sudut bibirnya. Beliau sengaja diam, membiarkan istrinya menginterogasi putra sulung mereka.
Danny yang sedang menyendok nasi ke piringnya sempat terhenti sesaat. Ia melirik Aletha yang sedang pura-pura sibuk mengunyah sepotong rendang, lalu berdeham pelan untuk menetralkan suaranya.
"Jam 2-an mungkin, Mah," jawab Danny dengan nada yang diusahakan sedatar dan secuek mungkin.
Mendengar jawaban "jam 2 malam" yang keluar dari mulut Danny, Mama Dominic langsung menoleh ke arah Papa Michael. Kedua orang tua itu spontan menahan senyum lebar mereka mati-matian, berusaha menjaga wibawa di depan calon menantu. Di dalam kepala mereka, jawaban jam 2 malam itu sudah menjadi konfirmasi mutlak kalau malam pertama anak dan calon menantunya berjalan dengan sangat "sibuk".
Padahal kenyataan aslinya, jam 2 malam itu mereka berdua baru saja masuk dari balkon setelah berdebat tentang teori pernikahan dan cinta.
Aletha yang melihat reaksi salah paham dari kedua orang tua Danny hanya bisa menahan tawa di dalam hati. Ia melirik Danny yang telinganya mulai memerah lagi karena digoda orang tuanya. Permainan ini benar-benar berjalan di luar skenario awal, tapi Aletha sangat menikmati setiap detik dari kepalsuan yang terasa begitu menyenangkan ini.
Suasana hangat di meja makan marmer itu terus berlanjut. Denting sendok dan garpu beradu dengan tawa kecil Mama Dominic yang tak henti-hentinya menggoda Danny. Di sebelah Danny, Aletha menyuap nasinya dengan gerakan pelan.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, fokus Aletha agak teralih dari taktik permainannya.
Ia memandangi bagaimana Mama Dominic dengan telaten mengambilkan lauk tambahan ke piringnya, dan bagaimana Papa Michael menatapnya dengan binar yang sangat tulus—sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Aletha rasakan di rumahnya sendiri sejak ibunya tiada. Mereka tidak sedang berpura-pura. Keluarga Dirgantara benar-benar menyambutnya dengan tangan terbuka, menyayanginya seolah ia adalah bagian penting yang sudah lama dinantikan.
‘Mereka... baik banget sama gue,’ batin Aletha, ada sudut hatinya yang mendadak terasa ngilu. Sebuah perang batin mulai berkecamuk di dalam kepalanya. ‘Masa iya... gue tega terus-terusan punya niat busuk ke keluarga ini? Menjadikan anak mereka yang berharga cuma sebagai bahan taruhan konyol bareng anak-anak kampus?’
Benteng pertahanan Aletha yang biasanya sekeras baja, siang itu mendadak retak tipis oleh ketulusan sebuah keluarga.
Namun, lamunan Aletha langsung buyar berantakan saat Danny tiba-tiba meletakkan sendoknya. Pria itu menyeka bibirnya dengan tisu, lalu menatap kedua orang tuanya dengan ekspresi yang mendadak berubah serius dan formal.
"Mah, Pah," buka Danny, suaranya yang bariton langsung menyita perhatian seisi meja makan. "Keknya Danny mau secepatnya kenalin Aletha ke publik sebagai calon istri Danny. Kita nggak bisa terus-terusan sembunyi dari media."
Uhuk! Aletha hampir saja tersedak air putih yang baru saja diteguknya. Ia menoleh cepat ke arah Danny dengan mata melebar, benar-benar kaget dengan pergerakan kilat pria di sebelahnya ini. Ini di luar kesepakatan kamar mereka semalam!
Danny melirik Aletha sekilas dengan senyum tipis yang menenangkan, lalu kembali menatap ayahnya. "Tapi... Mama sama Papa udah izin ke Papanya Aletha belum soal rencana hubungan kita ini?"
Pertanyaan Danny barusan membuat atmosfer meja makan sempat hening sesaat. Danny tahu kalau ayah Aletha—Pak Adinata—adalah pengusaha migas besar yang sangat sibuk, dan dia tidak mau melangkahi adat kesopanan antar-keluarga konglomerat.
Mama Dominic langsung tersenyum lebar, menepuk tangan Aletha dengan lembut untuk menenangkannya. "Aduh, Danny, kamu tenang aja. Papa kamu sudah telepon Pak Adinata kemarin malam setelah pesta. Beliau bilang, selama Aletha bahagia dan setuju, beliau menyerahkan semua keputusan ke Aletha karena beliau percaya penuh sama pilihan putrinya."
Aletha tertegun. Jadi... papanya tahu? Dan papanya mengizinkan? Ada rasa sesak yang aneh sekaligus lega di dadanya. Pikirannya berputar hebat.
Jika publik sampai tahu, maka seluruh Indonesia akan menyoroti pernikahan ini. Taruhannya bukan lagi sekadar gengsi di kantin kampus, tapi sudah melibatkan nama besar Adinata dan Dirgantara.
Aletha menatap Danny dari samping. Pria itu tampak begitu tegas, bertanggung jawab, dan siap melindunginya dari kejaran media. Perlahan, kepanikan di hati Aletha mereda. Rasa tertantangnya yang licik kini mulai bergeser menjadi sesuatu yang sulit ia definisikan.
‘Ya sudahlah...’ batin Aletha pasrah, sebuah senyuman tipis yang kali ini terasa lebih nyata terukir di bibirnya. ‘Go public sama seorang Danny Antonio juga bukan hal yang buruk. Mari kita lihat, sejauh apa takdir bakal bawa permainan ini berjalan.’