NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:868
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Modal Dan Martabat.

Dua hari setelah dipecat, aku duduk di teras rumah dengan selembar kertas dan pulpen yang tintanya sudah mau habis.

Aku tulis angka-angka.

Kompor kecil portabel. Wajan. Panci. Bahan cilok untuk percobaan pertama, tepung, daging, bumbu. Gerobak kecil, atau kalau tidak mampu gerobak, minimal meja lipat yang bisa dipasang di motor. Gas tiga kilo. Wadah. Plastik. Tusuk sate.

Aku hitung semua. Coret. Hitung ulang. Coret lagi.

Angka paling minimnya dua setengah juta.

Aku menatap angka itu lama. Uang seratus ribu dari Pak Wawan sudah habis untuk kebutuhan rumah dua hari ini. Tabunganku habis dari empat bulan lalu untuk parcel dan cincin yang akhirnya tidak kemana-mana. Ibu punya simpanan, tapi simpanan itu untuk Agung, untuk keperluan sekolah, untuk hal-hal yang tidak boleh aku sentuh.

Dua setengah juta.

Aku menutup mataku sebentar.

Nama itu muncul dengan sendirinya di kepalaku. Irawan Kusuma. Sepupuku. Anak pakde dari pihak Bapak, yang rumahnya di komplek perumahan di sebelah timur kota, yang kerjanya di kantor entah apa, yang setiap lebaran datang dengan mobil baru dan baju yang sepertinya tidak pernah dipakai dua kali.

Kami tidak dekat. Tidak pernah dekat. Tapi kami masih keluarga. Masih satu darah.

Dan aku tidak punya pilihan lain yang lebih masuk akal dari itu.

Ibu tidak aku ceritakan mau ke mana. Cuma pamit pergi sebentar, dan beliau menatapku dengan cara yang sudah aku kenal, cara yang bilang beliau tahu ada sesuatu tapi memilih untuk tidak bertanya karena tahu aku akan bilang kalau sudah siap.

Motor tuaku batuk dua kali sebelum mau jalan.

Komplek perumahan itu dua puluh menit dari kampung, tapi terasa beda dunia. Jalan aspalnya mulus. Pagar-pagar rumahnya rapi, ada yang dicat ulang tidak lama-lama, ada bunga-bunga di teras yang jelas ada orang yang merawatnya setiap hari. Satpam di pos depan menatap motorku dari atas ke bawah dengan tatapan yang sudah sangat aku kenal polanya.

"Mau ke mana, Mas?"

"Ke rumah Pak Irawan. Nomor dua belas."

Dia mencatat di buku, minta KTP, fotokopi namaku di kertas tamu, prosedur yang sepertinya memang dirancang supaya orang seperti aku merasa cukup tidak nyaman sebelum sampai ke tujuan.

Rumah nomor dua belas. Pagar besi hitam, ada tanaman hias di pot-pot besar di kiri dan kanan. Mobil silver di garasi yang pintunya tertutup separuh.

Aku ketuk.

Irawan membuka pintu sendiri. Kemeja lengan pendek, celana bahan, sandal kulit di dalam rumah yang dari celah pintu sudah kelihatan lantainya mengkilap. Dia menatapku dengan ekspresi orang yang sedang mencoba mengingat sesuatu.

"Satria?"

"Iya, Bang. Maaf ganggu."

Dia membuka pintu lebih lebar tapi tidak mempersilakanku masuk. Berdiri di ambang. "Ada apa?"

Aku tidak muter-muter. Tidak ada waktu dan tenaga untuk itu.

"Aku mau pinjam uang, Bang. Dua setengah juta. Untuk modal usaha. Aku mau jual cilok, sudah ada rencana lokasinya, sudah hitung kebutuhannya. Nanti aku kembalikan cicil setiap bulan, aku bisa tulis di kertas kalau perlu."

Irawan menatapku.

Satu detik. Dua detik.

Lalu dia menarik napas panjang dengan cara yang sudah memberitahuku jawabannya sebelum kata pertama keluar.

"Satria." Suaranya mengambil nada yang aku tidak suka. Nada orang yang akan mengatakan sesuatu yang dia yakin benar dan bermanfaat padahal sebenarnya cuma menyakiti. "Kamu sudah mikir ini matang-matang belum?"

"Sudah, Bang."

"Kamu tamat sekolah sampai mana?"

Perutku langsung seperti dibalik.

"SMA kelas sepuluh, Bang. Bapak meninggal, jadi—"

"Nah itu." Dia memotong. Seperti itu adalah poin yang memang sedang dia tunggu untuk dimasuki. "Kamu tidak tamat SMA. Kamu bertahun-tahun cuma kerja serabutan, proyek sana proyek sini. Tidak ada rekam jejak usaha. Tidak ada jaminan. Tidak ada, Satria, tidak ada yang bisa aku pegang kalau kamu minjem."

"Aku bilang aku cicil, Bang. Aku tulis hitam di atas putih—"

"Cilok." Dia mengulang kata itu dengan nada yang tidak bisa aku deskripsikan selain seperti seseorang yang mencicipi sesuatu dan memutuskan itu tidak layak ditelan. "Kamu mau jualan cilok. Satria, aku bukan mau ngeremehin, tapi kamu pikir itu bisa bayar balik dua setengah juta? Dengan modal segitu, lokasi belum tetap, pengalaman nol, kamu tidak punya apa-apa untuk dijadikan dasar bahwa ini akan berhasil."

Aku diam.

"Abang bukan tidak mau bantu keluarga. Tapi uang segitu bukan jumlah kecil. Dan aku tidak mau kasih uang ke sesuatu yang kemungkinan besar akan hilang begitu saja. Kamu paham kan?"

Aku paham.

Aku paham kalimat itu.

Tapi yang aku pahami bukan kebijaksanaan di baliknya. Yang aku pahami adalah ini: di depanku berdiri seorang laki-laki yang punya cukup untuk meminjamkan dan memilih tidak melakukannya, yang membungkus penolakannya dengan kata-kata yang kedengaran seperti kepedulian padahal isinya hanya satu hal, bahwa aku tidak cukup layak untuk dipercaya.

"Kamu lebih baik cari kerja dulu. Kerja yang tetap. Nanti kalau sudah ada pemasukan rutin, nabung pelan-pelan, baru mikir usaha. Itu yang lebih realistis."

Aku mengangguk.

Satu kali. Pelan.

"Makasih waktunya, Bang."

Aku berbalik.

"Satria."

Aku berhenti tapi tidak menoleh.

"Titip salam ke Bude ya."

Aku tidak menjawab. Melangkah ke motor, naik, nyalakan mesin, dan keluar dari komplek itu tanpa melihat ke kaca spion.

Di trotoar luar komplek, di bawah pohon akasia yang daunnya rapat dan bikin bayangan di aspal, aku berhenti.

Matikan motor.

Duduk di sana.

Di dalam kepalaku semuanya berisik sekali. Suara Irawan, suara Pak Hendra, suara Pak Ridwan, suara ibu-ibu di warung waktu itu. Semua lapisan suara itu menumpuk satu di atas yang lain, dan di bawah semua tumpukan itu ada aku yang sudah dua puluh satu tahun dan tidak tamat SMA dan tangan kapalan dan tidak punya apa-apa dan dua kali diludahi dalam satu minggu, satu secara harfiah dan satu secara lebih halus tapi sama menyakitkannya.

Tanganku di setang motor gemetar sedikit.

Aku tarik napas.

Dan entah dari mana, entah dari sudut memori yang mana, muncullah suara Pak Ustaz waktu aku masih rajin ke pengajian kampung dulu. Suara yang serak dan pelan dan tidak pernah terkesan sedang berpidato.

Fa inna maal usri yusra.

Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Inna maal usri yusra.

Bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Bukan sesudah. Bukan setelah. Tapi bersama. Kemudahan itu sedang berjalan di jalan yang sama dengan kesulitan ini, di waktu yang sama, di tempat yang sama, hanya mungkin aku belum bisa melihatnya dari posisiku sekarang.

Dan yang satunya lagi, dari surat At-Thalaq.

Wa may yatawakkal alallah fahuwa hasbuh. Innallah balighu amrih. Qad ja alallahu likulli syai in qadra.

Barangsiapa bertawakkal kepada Allah maka Dia akan mencukupkannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah menetapkan kadar bagi setiap sesuatu.

Rezeki datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Aku menutup mata sebentar.

Oke.

Oke.

Irawan tidak mau kasih. Itu jawabannya. Tidak ada yang bisa aku ubah dari jawaban itu. Yang bisa aku ubah adalah langkah selanjutnya.

Dan di dalam dadaku, di tempat yang tadi penuh sesak dengan kata-kata Irawan tentang tidak layak dan tidak realistis dan tidak punya dasar, pelan-pelan ada sesuatu yang lain yang mulai mengeras.

Bukan amarah yang panas dan meledak.

Tapi sesuatu yang lebih dingin dari itu. Lebih tahan lama. Tekad yang lahir bukan dari semangat yang meletup-letup tapi dari luka yang cukup dalam sampai kamu tidak punya pilihan lain selain berubah jadi sesuatu yang lebih keras dari sebelumnya.

Yang direndahkan hari ini akan melangit suatu saat nanti.

Bukan janji ke siapapun. Bukan kalimat yang aku ucapkan keras-keras supaya terdengar heroik.

Hanya satu kalimat kecil yang aku tanam di dalam dada, di tempat yang paling tidak bisa dijangkau orang lain, di tempat yang tidak bisa diambil Pak Hendra atau Irawan atau siapapun yang sudah memilih untuk tidak percaya padaku.

Di sana. Aku tanam di sana.

Aku nyalakan motor.

Masih belum punya dua setengah juta.

Tapi aku masih punya besok. Masih punya tangan yang kapalan dan kaki yang tahu rasanya berjalan jauh dan punggung yang sudah bertahun-tahun menanggung beban yang lebih berat dari ini.

Cukup dulu itu.

Aku pulang.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!