Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 – Kakak Tiri yang Membawa Masalah
Mobil berhenti beberapa meter persis sebelum menabrak Arga.
Cahaya lampu jalan malam itu membuat wajah pria itu tampak lebih tegas dan acak-acakan dibandingkan terakhir kali Alya melihatnya.
Hati Alya langsung mencelos.
“Apa yang dia lakukan di sini…?”
Raka mematikan mesin mobil perlahan.
Ekspresinya menjadi sangat dingin.
“Alya.” Nada suaranya rendah. “Tetap di dalam mobil.”
Namun sebelum Alya sempat menjawab, Arga sudah berjalan mendekat dengan wajah sarat emosi.
Pria itu mengetuk kaca mobil dengan keras.
“Keluar!”
Alya otomatis sedikit terkejut.
Raka membuka pintu mobil lebih dulu lalu keluar dengan tenang.
Kesan pria itu langsung berubah.
Dingin.
Tegas.
Berbahaya.
“Ada masalah?” tanyanya datar.
Arga tertawa pendek dengan hambar.
“Tentu ada masalah.” Tatapannya langsung tertuju pada Alya di dalam mobil. “Aku mau bicara dengan adikku.”
Raka berdiri tepat di depan pintu mobil.
Menghalangi.
“Anda bisa bicara dengan saya.”
“Aku tidak bicara dengan Anda.”
Nada Arga penuh kebencian yang sangat jelas.
Alya segera keluar sebelum situasi bertambah buruk.
“Arga, cukup.”
Tatapan pria itu langsung beralih kepadanya.
Dan untuk sesaat—
Alya melihat sesuatu yang ia kenal di sana.
Kekecewaan.
“Kamu berubah,” kata Arga dingin.
Alya menghela napas pendek.
“Kamu datang larut malam hanya untuk mengatakan itu?”
“Kamu bahkan tidak pernah pulang lagi.”
“Aku sibuk.”
“Atau terlalu nyaman hidup mewah sekarang?”
Kalimat itu sangat menusuk hati.
Dan Alya langsung tahu—
Arga datang bukan sekadar ingin bertemu.
Pria itu marah.
“Aku tidak ingin ribut di jalan,” kata Alya pelan.
“Bagus.” Arga melipat tangan. “Karena aku juga datang bukan untuk basa-basi.”
Tatapan pria itu kini beralih pada Raka.
Terlihat lebih tajam.
“Ayah sakit.”
Hati Alya langsung serasa jatuh.
“Apa?”
“Serangan jantung ringan dua hari lalu.”
Wajah Alya langsung pucat.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
Arga tertawa kecil pahit.
“Karena sejak menjadi istri orang kaya, kamu bahkan susah dihubungi.”
“Aku tidak tahu—”
“Tentu kamu tidak tahu.” Nada suaranya meninggi. “Kamu terlalu sibuk hidup nyaman di sini.”
“Cukup.”
Suara Raka terdengar dingin sekali.
Tatapan pria itu kini tertuju langsung pada Arga.
“Jaga nada bicara Anda.”
Arga langsung menatap Raka tajam.
“Ini urusan keluarga kami.”
“Dan Alya istri saya.”
Suasana langsung menjadi tegang.
Alya segera berdiri di tengah sebelum mereka benar-benar saling pukul.
“Berhenti!”
Hening.
Napas Alya agak tidak beraturan saat ini.
Karena semuanya datang terlalu tiba-tiba.
Ayah tirinya sakit.
Arga marah.
Dan suasana malam ini terasa semakin kacau.
“Ayah sekarang bagaimana?” tanyanya cepat.
“Sudah sadar.” Arga mengembuskan napas kasar. “Tapi beliau ingin bertemu denganmu.”
Rasa bersalah langsung sangat memukul Alya.
Selama beberapa minggu terakhir, ia terlalu asyik dengan kehidupannya bersama Raka sampai jarang pulang.
Padahal seburuk apa pun hubungannya dengan keluarga tirinya—
Ayah tirinya tetap membesarkannya setelah ibunya meninggal.
“Aku akan datang besok.”
Tatapan Arga sedikit berubah.
Namun emosinya belum hilang.
“Datang sendiri.”
Suasana tiba-tiba sunyi.
Tatapan Raka langsung berubah dingin lagi.
“Itu tidak akan terjadi.”
“Aku tidak mengundang Anda.”
“Saya tidak butuh undangan.”
Nada suara Raka rendah.
Tenang.
Namun jelas penuh peringatan.
Arga tertawa kecil sinis.
“Lihat? Sekarang kamu bahkan dijaga ke mana-mana.”
“Aku tidak dijaga,” balas Alya cepat.
“Benarkah?”
Tatapan Arga mengarah ke tangan Alya yang sejak tadi tanpa sadar masih digenggam Raka.
Dan Alya baru menyadarinya sekarang.
Hangat.
Melindungi.
Tidak pernah lepas sejak tadi.
“Kamu benar-benar sudah menjadi bagian dunia mereka sekarang ya,” gumam Arga pahit.
Kalimat itu membuat dada Alya sedikit terasa sesak.
Karena sebagian dirinya masih merasa asing dengan semua kemewahan ini.
Dan mungkin—
Arga juga merasakannya.
“Aku tidak berubah separah itu,” bisik Alya pelan.
Tatapan Arga melembut sedikit untuk pertama kalinya malam itu.
Namun hanya sesaat.
“Datang besok,” katanya akhirnya. “Ayah benar-benar ingin bertemu denganmu.”
Lalu pria itu pergi begitu saja.
Meninggalkan kesunyian di pinggir jalan malam itu.
---
Perjalanan pulang setelah itu terasa jauh lebih berat.
Alya diam sepanjang jalan sambil menatap keluar jendela.
Pikirannya kacau.
Rasa bersalah terus muncul tanpa henti.
“Alya.”
Suara Raka memecah keheningan.
Namun Alya tetap diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan—
“Hm?”
“Kamu tidak perlu memikirkan kata-kata Arga.”
“Aku memang salah.”
Tatapan Raka sedikit berubah.
“Apa?”
“Aku jarang pulang.” Alya menunduk kecil. “Dan aku bahkan tidak tahu ayah sakit.”
Nada suaranya terdengar penuh rasa bersalah sekarang.
Hening beberapa detik berlalu.
Lalu Raka berkata pelan—
“Kamu juga punya hidup sendiri.”
“Aku tetap merasa buruk.”
Tatapan pria itu melembut sedikit.
Dan tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, Raka menggenggam tangan Alya lebih erat.
Gerakan kecil.
Namun cukup membuat mata Alya terasa panas.
“Aku tidak suka menjadi anak yang buruk.”
“Kamu bukan anak buruk.”
Jawaban cepat itu membuat Alya perlahan menoleh.
Tatapan Raka tetap tenang.
Namun begitu pasti.
“Kamu terlalu keras pada diri sendiri.”
Hati Alya terasa hangat sekaligus sesak.
Karena lagi-lagi—
Pria ini selalu tahu cara menenangkannya.
“Aku takut mereka membenciku sekarang.”
“Saya tidak peduli kalau mereka membenci saya,” kata Raka tenang, “tapi saya tidak akan membiarkan siapa pun membuat Anda merasa tidak berharga.”
Napas Alya langsung sedikit tercekat.
Astaga.
Bagaimana mungkin pria ini bisa terus mengatakan hal seperti itu dengan wajah setenang itu?
---
Malam semakin larut ketika mereka sampai di rumah besar.
Namun Alya masih belum bisa benar-benar tenang.
Begitu masuk kamar, ia langsung duduk di tepi kasur sambil memijat pelipis.
Pikirannya penuh.
Tentang keluarga.
Tentang perubahan hidupnya.
Tentang bagaimana dirinya sekarang seperti berdiri di dua dunia berbeda.
Raka masuk beberapa menit kemudian.
Pria itu berjalan mendekat tanpa banyak bicara.
Lalu duduk di hadapan Alya.
“Alya.”
Tatapan Alya perlahan naik.
Dan begitu melihat wajah pria itu—
Entah kenapa rasa sesak di dadanya sedikit mereda.
“Kamu akan ikut besok?” tanyanya pelan.
Raka mengangguk tanpa ragu.
“Aku bilang Arga memintaku datang sendiri.”
“Saya dengar.”
“Dan kamu tetap mau ikut?”
Tatapan pria itu lurus padanya.
“Saya tidak akan membiarkan Anda menghadapi semuanya sendirian.”
Kalimat itu menghantam tepat ke hati Alya.
Karena selama hidupnya—
Ia selalu terbiasa menghadapi masalah sendiri.
Namun sekarang ada seseorang yang terus berdiri di sampingnya tanpa diminta.
Dan itu terasa terlalu hangat.
Mata Alya perlahan memerah tanpa sadar.
Raka langsung mengernyit kecil.
“Kamu menangis?”
Alya segera menggeleng.
“Tidak.”
“Kamu bohong.”
Dan sebelum Alya sempat menyangkal lagi—
Raka tiba-tiba menariknya pelan ke dalam pelukan.
Hangat.
Tenang.
Alya langsung membeku sesaat.
Namun beberapa detik kemudian—
Ia perlahan membalas pelukan itu.
Menyembunyikan wajah di dada pria itu.
“Aku capek,” bisiknya lirih.
Tangan Raka mengusap rambutnya pelan.
“Saya tahu.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
Alya akhirnya membiarkan dirinya merasa lemah di depan seseorang.