NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Desakan keluarga.

Setelah jamuan makan malam selesai dan para tamu perlahan bubar, Nala dan Davin tidak langsung kembali ke hotel. Udara malam Seoul terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Jalanan kota masih hidup dengan cahaya lampu neon, papan iklan digital, dan lalu lintas yang tak pernah benar-benar tidur.

“Bagaimana kalau kita jalan sebentar? Aku rasa kau butuh udara segar, sebelum kepalamu penuh dengan bayangan Junho lagi,” usul Davin, melirik ke arah Nala yang masih terlihat membawa sisa-sisa gugup dari acara.

Nala menoleh cepat, menatapnya dengan tatapan protes. Pipinya memerah.

“Mas Davin! Sudahlah,” kata Nala sembari menutup wajahnya malu.

Tawa pria itu pecah—ringan, tapi tulus.

“Baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda. Tapi serius, kau butuh ini,” kata Davin sambil masih tersenyum.

Mereka berjalan menyusuri trotoar yang dipenuhi pejalan kaki, sebagian besar anak muda yang tertawa, berfoto, atau sekadar menikmati malam. Aroma makanan dari kios jalanan menguar di udara—tteokbokki pedas, hotteok manis, hingga jagung bakar yang asapnya tipis melayang di bawah lampu jalan.

Nala menoleh dengan rasa penasaran. Perutnya memang belum benar-benar lapar setelah jamuan, tapi matanya menangkap segala sesuatu dengan penuh minat. Davin memperhatikan itu.

“Mau coba?” tanyanya sambil menunjuk ke salah satu penjual.

Nala menggeleng cepat, malu-malu.

“Aku masih kenyang. Lagipula, aku takut kalau makan pakai gaun ini malah jadi bahan tertawaan orang,” ujarnya pelan, Davin langsung mengangkat bahu dramatis.

“Sayang sekali. Kalau begitu, biarkan aku yang jadi bahan tontonan. Kau cukup berjalan dengan elegan di sisiku,” balasnya dengan nada pura-pura menyesal.

Ia lalu dengan sengaja membeli satu cup kecil tteokbokki untuk dirinya sendiri.

Malam itu, langkah mereka membawa ke tepian Sungai Han yang dihiasi lampu-lampu jembatan. Angin malam berembus lembut, membuat rambut Nala sedikit berantakan. Ia berhenti sebentar, menatap pantulan cahaya di permukaan air yang beriak pelan.

“Indah sekali…” bisiknya, setengah pada dirinya sendiri.

Davin ikut berdiri di sampingnya. Suara langkah dan hiruk pikuk kota terdengar samar di belakang mereka, seolah dunia menjauh beberapa langkah dari tempat mereka berdiri.

“Kau tahu? Banyak orang bermimpi datang ke Seoul hanya untuk menikmati pemandangan seperti ini. Dan kau—kau bukan hanya sekadar datang. Kau berdiri di panggung dunia malam ini, Nala,” ujarnya pelan.

Kalimat itu membuat Nala menunduk. Hatinya berdebar aneh. Ia tidak tahu apakah itu karena kata-kata Davin, atau karena memori saat Junho menatapnya dari panggung tadi kembali menyeruak.

“Terima kasih sudah menemaniku,” ucapnya lirih.

Davin tersenyum, melemparkan sisa tusukan tteokbokki ke tempat sampah terdekat.

“Kau tidak perlu berterima kasih. Kau memang pantas mendapatkan ini semua. Dan, Nala…” Ia berhenti sejenak, menatapnya serius. “Aku rasa ini baru permulaan.”

Nala menatapnya bingung.

“Apa?” tanyanya.

“Iya… aku rasa ini baru permulaan dalam hidupmu. Tapi bedanya, permulaan ini mungkin tidak akan semelelahkan sebelumnya. Karena sekarang kau tidak perlu berlari lagi,” ujarnya tenang.

Nala spontan tertawa kecil.

“Sejak kapan mas pintar bicara filosofis seperti ini?” tanyanya, masih dengan sisa tawa, Davin tersenyum tipis.

“Sejak mengenalmu.”

Nala terdiam sejenak. Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Angin malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Davin berdehem pelan, lalu mereka kembali melanjutkan langkah, berjalan berdampingan tanpa banyak kata.

Mereka menikmati sepotong malam Seoul yang berkilau sebelum akhirnya kembali ke hotel. Di hati Nala, rasa lelah bercampur dengan kebahagiaan—dan sesuatu yang sulit ia definisikan. Sebuah firasat halus, bahwa malam ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

════ ⋆★⋆ ════

Setelah acara penghargaan usai—dengan sorot lampu, tepuk tangan, dan senyum-senyum formal yang seakan masih tertinggal di pikirannya_ junho merasa kelelahan dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar lelah karena panggung atau kamera, tetapi lelah yang menempel di hati, seperti beban tak terlihat.

Perjalanan pulang ke rumah orang tuanya terasa hening, hanya suara mesin mobil yang menemani, sementara pikirannya masih bergema dengan pidato, sorak-sorai penonton, dan wajah-wajah yang ditemuinya malam itu.

Mobil berhenti di depan kediaman keluarga Kim, sebuah rumah besar di kawasan elit Gangnam. Rumah itu berdiri megah, dikelilingi taman rapi dan lampu eksterior yang menyala hangat. Bagi Junho, rumah ini lebih dari sekadar bangunan; ia adalah ruang yang penuh dengan kenangan masa kecil, juga ruang yang menyimpan harapan dan tuntutan yang selalu diarahkan kepadanya.

Begitu ia masuk, Han Minseo—ibunya—sudah menunggu di ruang tamu. Wanita elegan dengan senyum lembut yang selalu ditampilkan, meskipun di matanya kerap terselip kecemasan. Di sampingnya duduk Kim Daejung, ayahnya, seorang pengusaha besar—pemilik KIM HOLDINGs yang dikenal keras dan konservatif.

“Junho, anakku, Akhirnya kau sampai...” suara ibunya menyambut, hangat tapi resmi, seolah ia bukan hanya putra melainkan juga tamu penting di rumah ini.

Junho menundukkan kepala sedikit, lalu duduk di sofa. Seorang pelayan datang membawa teh hangat, menempatkannya di meja rendah yang terbuat dari kayu mahoni. Ayahnya menatap tanpa banyak ekspresi, lalu akhirnya membuka suara.

“Kau sudah berhasil mengukir nama di panggung dunia. Tapi, Junho-ya, sudah waktunya kita membicarakan hal yang lebih penting daripada penghargaan,” suaranya berat, penuh wibawa. Junho mengangkat pandangan, perasaan waswas mulai merayapi dirinya.

“Apa itu, Appa?” tanya Junho yang membuat sang ibu ikut menambahkan, kali ini dengan suara lembut tapi penuh tekanan.

“Pernikahanmu, Nak. Kami ingin kau mulai memikirkan masa depanmu dengan serius. Bukan hanya sebagai seorang idol, tapi sebagai penerus keluarga ini,” ujar nya yang membuat Junho menghela nafas panjang, ini bukan pertama kalinya permintaan itu muncul, dan di permasalahkan oleh orang tuanya.

Karena sudah berulangkali mereka berusaha menjodohkan dan memaksa Junho untuk menikah meski Junho selalu berhasil menolak.

Malam ini seharusnya tentang perayaan, tentang kemenangan, tentang keberhasilannya sebagai seniman. Namun di balik semua itu, orang tuanya tetap melihatnya sebagai seorang pria berusia tiga puluh dua tahun yang, bagi mereka, sudah waktunya membangun keluarga. Junho menarik napas dalam sebelum akhirnya bicara.

“Eomma, Appa… ini bukan hal yang sederhana. Aku… aku belum siap,” ujar nya yang membuat ayahnya mengernyit, menatapnya tajam.

“Belum siap? Kau sudah lebih dari cukup matang. Kau punya segalanya—nama besar, karier, harta. Kau pikir sampai kapan kau akan bersembunyi di balik kata belum siap?” wajah nya jelas menunjukkan emosi, entah karena kecewa atau terlalu lelah karena terus menerus di tolak oleh sang putra.

Junho terdiam, jemarinya menggenggam cangkir teh yang mulai mendingin. Ia tahu, bagi ayahnya, kata-kata itu bukan sekadar permintaan, melainkan perintah yang halus. Ibunya mencondongkan tubuh sedikit.

“Kami tahu betapa sibuknya hidupmu, Junho. Tapi dunia luar bukan segalanya. Kami hanya ingin melihatmu bahagia, dengan cara yang seharusnya. Kau tidak bisa hidup selamanya demi panggung dan penggemar,” ujar nya yang membuat Junho merasa semakin terjepit.

Ia tahu benar, kehidupan seorang idol tidak pernah benar-benar milik pribadi. Pernikahan bukan sekadar tentang cinta atau keluarga, tetapi juga tentang reputasi, citra, dan ekspektasi ribuan penggemar yang menganggapnya milik mereka.

“Aku akan pikirkan itu… Aku mohon biarkan aku pokus pada pekerjaan ku dulu,” suaranya serak, hampir patah.

Ayahnya hanya mendengus kecil, tanda tidak puas, sementara ibunya mengangguk dengan samar.

“Kamu selalu bicara seperti itu bahkan sejak usiamu masih 29 tahun, sudah empat tahun kamu bilang akan pikirkan, akan pikirkan, tapi kenyataannya kamu tetap tidak memikirkan itu. Junho kami sudah tua, setidak nya mengerti lah," ucap sang ayah yang membuat Junho menunduk dalam sebelum sang ibu melanjutkan.

"Junho-ya, kau tahu kakak mu? Lihat dia dia sudah bahagia dengan hidupmu, sedangkan dirimu? Sudah cukup berhenti mengejar ambisi mu. Jika memang mereka penggemar mu mereka tidak akan keberatan kau menikah, lagipula ini hidup mu. Kenapa kau selalu memikirkan orang asing," ujar nya yang membuat Junho terdiam sejenak.

"Ini bukan hanya tentang penggemar, bukan hanya tentang SOLIX Eomma, ini tentang hidupku. Aku tidak bisa hidup dalam kepura-puraan. Aku tidak bisa membohongi hatiku, membohongi pasangan ku. Aku ingin menikah ketika aku siap bukan karena aku mau," ujar nya sembari berdiri dan melangkah ke kamarnya.

Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke jendela yang menampilkan langit malam Seoul. Di luar, dunia melihatnya sebagai pemenang—seorang bintang yang berdiri anggun di atas panggung. Tapi di dalam, ia hanyalah seorang anak yang terjebak di antara dua dunia: harapan keluarga dan tuntutan sebagai idol.

Untuk sesaat, ia bertanya pada dirinya sendiri—apakah semua penghargaan dan tepuk tangan itu cukup untuk membuatnya bahagia, jika pada akhirnya ia tidak bebas memilih hidupnya sendiri?

Malam telah larut, namun cahaya neon Seoul masih menari di balik jendela kamar Junho. Ia duduk di kursi kerja yang berhadap langsung dengan pemandangan kota, jemarinya sibuk memutar pena yang bahkan tak menyentuh kertas. Musik dari pengeras suara hanya menjadi gema samar, sekadar latar yang tak benar-benar ia dengarkan.

Tanpa ia kehendaki, wajah Nala kembali terbayang. Senyumnya sederhana, tatapannya jernih—namun justru itu yang membuatnya berbeda dari siapa pun yang pernah ia kenal. Junho menghela napas pelan, hampir seperti menertawakan dirinya sendiri.

“Kenapa aku memikirkan dia terus?” gumamnya lirih, seolah tak rela mengakui kenyataan yang sedang menelusup diam-diam ke dalam dirinya.

Junho mencoba mengalihkan perhatian, membuka catatan lirik yang seharusnya ia sempurnakan malam ini. Namun setiap baris justru berbelok, menyinggung rasa yang belum ia beri nama. Kata-kata yang keluar tak lagi soal ambisi, tak lagi soal panggung—melainkan tentang cahaya asing yang menyapa ketika hatinya tengah letih.

Junho menegakkan tubuh, menutup buku catatannya dengan kasar seakan marah pada dirinya sendiri. Tetapi amarah itu justru mencair menjadi kebingungan, lalu diam. Ia bersandar kembali, menatap langit malam di luar kaca.

Seoul benderang, tetapi di balik gemerlap itu, hatinya tiba-tiba terasa terlalu sunyi—kecuali ketika bayangan Nala kembali hadir, menyingkirkan sepi itu untuk sesaat.

Junho menyipitkan mata, seakan ingin mengusir ilusi itu. Namun semakin ia menolak, semakin nyata keberadaan Nala di pikirannya. Ia bahkan tidak sadar bahwa matanya perlahan melunak, seperti mata seorang pria yang sedang jatuh cinta namun masih enggan menyebutnya demikian.

"Astaga... Kenapa dengan ku," ujar nya sembari mengusap wajahnya kasar berusaha menghilangkan bayangan Nala dalam pikirannya.

Ketenangan kamar itu pecah ketika terdengar ketukan lembut di pintu.

“Junho-ya, Eomma boleh masuk,” suara ibunya terdengar dari luar, tenang namun tegas. Junho menutup mata sebentar, lalu menjawab singkat.

“Masuk saja,” jawab Junho, dia menutup buku catatannya sejenak sebelum akhirnya pintu terbuka perlahan.

Han Minseo melangkah masuk dengan keanggunan khasnya, membawa secangkir teh hangat yang ia letakkan di meja kecil. Ia kemudian duduk di sisi ranjang, menatap putranya dengan sorot mata penuh maksud.

"Kau belum tidur nak?" Tanya nya sembari berjalan mendekati putra bungsunya itu, rambutnya terlihat sedikit berantakan tidak serapih sebelum nya karena dia juga sudah memakai baju tidur.

"Ada lirik yang harus aku selesaikan," ujar Junho tak menatap sang ibu.

“Kami tidak berniat membuatmu tertekan, tapi sudah saatnya kau mulai serius memikirkan masa depanmu. Ada seseorang yang ingin kami kenalkan,” ucapnya perlahan, nada suaranya seperti sedang menimbang kata. Junho menoleh sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela.

“Eomma, kita sudah membicarakan ini. Aku tidak ingin,” jawab Junho tapi sang ibu memaksa Junho untuk menatap nya.

“Dia anak sahabat Ayahmu, perempuan baik, keluarganya terhormat, dan yang terpenting—dia memahami dunia yang kau jalani. Dia bisa menjagamu, Junho. Tidak akan menuntut lebih dari yang bisa kau berikan,” lanjut Minseo tanpa menanggapi penolakan itu. 

Junho mendengus kecil, menahan emosi yang mendesak.

“Ini bukan soal siapa dia. Aku tidak bisa berpura-pura mencintai seseorang hanya karena dia tampak cocok di atas kertas. Bagiku, itu sama saja dengan berbohong—pada diri sendiri, juga pada dia. Aku tidak mau Eomma, aku tidak mau menikah dengan wanita yang tidak aku pilih, aku tidak mau,” Nada suara ibunya meninggi sedikit, hilang kesabaran.

“Kau sudah tiga puluh dua tahun, Junho! Sampai kapan kau menunda? Apa kau ingin kami menutup mata melihatmu sendirian terus, terjebak di dunia panggung yang penuh kepalsuan itu? Kami tidak akan selalu ada untukmu,” ujar nya yang membuat Junho bangkit berdiri, berjalan mendekat ke jendela dengan rahang mengeras.

“Aku lebih baik sendirian daripada menikah hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Aku tidak akan menyeret seseorang ke dalam hidupku hanya untuk menuruti kehendak keluarga. Jika pada akhirnya aku tetap sendiri itulah pilihan hidup ku,” jawab nya datar.

Minseo juga berdiri, tatapannya tajam namun matanya bergetar—antara marah dan cemas.

“Dan bagaimana kau akan tahu siapa yang benar-benar kau inginkan, kalau kau bahkan menutup pintu sebelum sempat terbuka?!” tanya nya yang membuat Junho menoleh, menatap ibunya dalam-dalam.

Sorot matanya jujur, berat, namun penuh luka yang tak pernah benar-benar ia izinkan keluar.

“Eomma, aku… belum bertemu orang itu. Seseorang yang membuatku ingin mempertaruhkan segalanya. Dan bahkan kalau dia datang… aku tidak tahu apakah aku cukup berani memilihnya,” jawab Junho yang membuat keheningan mengisi ruang, hanya suara detik jam yang terdengar samar.

Untuk pertama kalinya, Han Minseo menyadari bahwa yang membuat Junho begitu keras kepala bukan sekadar egonya—melainkan ketakutan. Takut kehilangan dirinya sendiri, kariernya, dan cinta yang seharusnya lahir dari hati, bukan dari paksaan.

Tapi terlepas dari itu dia ingin Junho tetap menikah, bukan semata-mata karena usia putra bungsunya itu, tapi karena sesuatu yang telah dia dan suami rencanakan di balik nya.

"Acaranya Minggu depan, jika kau tidak hadir Eomma yang akan datang dan menyeret mu dari apartemen mu itu... Selamat malam," ujar nya sembari keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban apapun dari Junho, begitu pintu tertutup dia memejamkan matanya sejenak lalu pergi ke kamar mandi.

════ ⋆★⋆ ════

Sementara itu, di kamar hotel yang temaram, Nala merebahkan tubuhnya dengan keletihan yang tertinggal dari perjalanan panjang. Tirai jendela setengah terbuka, menampakkan kilau Seoul yang tak pernah benar-benar tidur. Ia hendak memejamkan mata, tetapi sesuatu dalam dirinya mendesak untuk meraih ponsel di nakas samping.

Layar menyala, menampilkan deretan pemberitaan hangat: potret para pemenang malam itu, wajah-wajah bahagia yang diabadikan dari berbagai sudut kamera. Jari-jarinya menggulir perlahan, seakan setiap foto adalah bukti nyata yang masih sulit ia cerna.

Hingga pandangannya berhenti pada satu gambar—dirinya, berdiri di panggung, menerima penghargaan dari tangan seorang pria yang selama ini hanya hadir melalui layar.

Kim Namjunho.

Nala menahan napasnya. Entah mengapa, foto itu terasa terlalu hidup. Ia seakan kembali mendengar tepuk tangan bergemuruh, kembali merasakan genggaman hangat di telapak tangannya. Senyum Junho yang sopan, tatapannya yang teduh—semua terlalu jelas untuk disebut mimpi. Namun justru karena kejelasan itulah, Nala semakin sulit percaya.

“Benarkah itu aku?” bisiknya lirih, hampir takut dengan kenyataan yang kini ada di hadapannya.

Dunia yang dahulu hanya ia pandangi dari jauh kini menyentuhnya begitu dekat, hingga ia sendiri bingung harus merasa bangga atau cemas. Dia menutup layar ponsel pelan, namun bayangan itu tetap melekat di benaknya. Dalam gelap, hatinya berdetak tak menentu.

Malam itu, sebelum benar-benar terlelap, Nala masih terjebak dalam rasa tak percaya: bahwa batas antara penggemar dan panggung yang dulu tak tersentuh, kini telah dirobohkan oleh pertemuan singkat yang mengubah segalanya.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!