NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Hujan masih turun, mengetuk kaca mobil dengan ritme yang tidak pernah benar-benar tenang. Carisa menyetir dalam diam. Tangannya sudah tidak gemetar seperti tadi, tapi dadanya masih berat.

Ia tidak tahu apa yang menunggunya di rumah. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak yakin ingin cepat sampai.

Mobil berhenti di depan rumah. Mesin dimatikan. Beberapa detik ia hanya duduk diam, menatap ke depan, sebelum akhirnya turun dan berjalan masuk.

Rumah itu gelap. Sepi, terlalu sepi untuk ukuran jam seperti ini.

Carisa membuka pintu kamar. Ruangan itu juga sama gelap, tanpa suara. Ia melangkah masuk, meraba dinding, lalu menekan sakelar. Lampu menyala. Carisa langsung membeku.

Yuda sudah ada di sana. Duduk di sofa, tubuhnya sedikit condong ke depan, kedua tangannya bertumpu di lutut. Wajahnya terlihat suram, dingin dan menakutkan.

Sejak kapan dia di sini? batin Carisa.

Carisa menelan ludah. Tangannya masih berada di dekat sakelar.

“Kamu sudah pulang,” ucapnya, berusaha terdengar biasa.

Yuda tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke arah Carisa, seolah mencari sesuatu di wajahnya.

“Atau harusnya aku yang bilang begitu… kamu akhirnya selesai?” katanya pelan.

Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang tajam di dalamnya.

Carisa mengernyit. “Maksud kamu apa?”

Yuda tersenyum miring.

“Aku tidak tahu kamu masih rajin datang ke kantornya.”

Jantung Carisa seakan berhenti satu detik.

“Aku ke sana cuma...”

“Nostalgia?” potong Yuda cepat. “Atau mengulang?”

Ruangan itu terasa mendadak sempit.

Carisa menatapnya, mencoba menjaga suaranya tetap stabil. “Kamu salah paham.”

“Benarkah?”

Yuda berdiri perlahan dari sofa. Langkahnya tenang saat mendekat, tapi sorot matanya tidak berubah, gelap, penuh sesuatu yang ditahan terlalu lama.

“Ada yang melihatmu,” lanjutnya. “Kamu masuk ke ruangannya.”

Carisa menggeleng. “Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Kalau begitu seperti apa?”

Ada jeda. Carisa membuka mulut, tapi tidak langsung keluar suara. Dan diam itu, bagi Yuda, justru terdengar seperti jawaban.

“Pantas saja kamu menutupi kalau dia itu sebenarnya mantanmu,” kata Yuda. “Atau jangan-jangan sekarang kalian kembali jadi sepasang kekasih?”

“Yuda…” suara Carisa pelan, mencoba menahan situasi yang mulai lepas kendali.

“Bagaimana rasanya?” potong Yuda. “Main di belakang seperti itu. Kamu menikmati sensasinya?”

Carisa langsung menegang. “Jangan bicara seolah kamu tahu segalanya.”

“Aku cukup tahu,” balas Yuda tajam. “Asistenku lihat sendiri kamu datang ke sana. Tidak mungkin cuma untuk bicara biasa.”

“Itu memang cuma bicara.”

Yuda tertawa pendek. Hambar. “Dengan mantan? Di ruangannya? Setelah bertahun-tahun tidak bertemu?”

Carisa menggeleng, napasnya mulai tidak teratur. “Kamu salah paham.”

“Kalau begitu jelaskan.” Yuda menatapnya lekat. “Atau kamu memang tidak punya penjelasan?”

Carisa terdiam sesaat, berusaha menyusun kata. Tapi setiap kalimat terasa salah bahkan sebelum keluar.

“Aku ke sana untuk menyelesaikan semuanya,” akhirnya ia berkata.

“Dengan cara apa?” tanya Yuda, suaranya rendah.

Carisa mengangkat wajahnya. Ingin menjelaskan tapi melihat kondisi Yuda yang seperti nya tidak akan percaya dia kembali diam.

Yuda menatapnya lama. Lalu tersenyum tipis, tanpa kehangatan.

“Tidak bisa menjawab?” tanyanya pelan. “Kalau begitu biar aku yang menebak sendiri.” Ia berhenti sejenak, matanya mengunci Carisa. “Kalian menyelesaikannya dengan cara apa? Berpelukan… atau mungkin berciuman?”

Carisa langsung menggeleng. “Cukup, Yuda.”

“Kenapa?” Yuda melangkah mendekat. “Salah kalau aku tanya? Atau terlalu tepat?”

“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa?” desaknya.

Carisa menarik napas, berusaha tetap tenang. “Aku ke sana untuk mengakhiri semuanya. Tidak ada yang lain.”

Yuda menatapnya tajam, seolah mencoba membongkar setiap kata yang ia ucapkan.

“Masalahnya,” katanya pelan, “aku tidak melihat seseorang yang sedang mengakhiri sesuatu.”

Carisa mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Aku melihat seseorang yang masih terlibat.” Nada suaranya rendah, tapi penuh tekanan. “Dan itu bukan posisi yang seharusnya kamu ambil, Carisa.”

Carisa terdiam. Dadanya kembali terasa sesak.

“Aku tidak seperti itu,” katanya akhirnya, lebih pelan.

Yuda tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya, lama sekali, seolah menunggu sesuatu atau mungkin berharap Carisa mengatakan hal lain.

Tapi yang ada hanya diam. Dan diam itu justru membuat kecurigaannya semakin dalam.

“Gimana rasanya berciuman dengannya, Carisa?”

Yuda tiba-tiba mendekat, tangannya mengangkat dagu Carisa paksa hingga tatapan mereka sejajar. Tekanannya tidak kasar, tapi cukup untuk membuat Carisa tidak bisa menghindar.

“Terasa nikmat?” lanjutnya pelan.

Carisa menepis tangannya.

“Jangan sentuh aku seperti itu,” katanya, suaranya rendah tapi tegas.

Yuda tertawa pendek, tanpa humor. “Kenapa? Aku cuma tanya.”

“Itu bukan pertanyaan,” balas Carisa. “Itu tuduhan.”

“Kalau begitu bantah,” Yuda menatapnya tajam. “Atau memang tidak bisa dibantah?”

Carisa menggeleng, napasnya mulai berat. “Aku tidak akan menjelaskan sesuatu yang kamu sendiri sudah putuskan jawabannya.”

Yuda menyipitkan mata. “Karena aku benar?”

“Karena kamu tidak mau mendengar,” potong Carisa.

Yuda menatapnya, lebih lama kali ini, seolah mencoba menembus apa yang tidak ia ucapkan.

“Tetap saja,” katanya akhirnya, suaranya lebih pelan tapi jauh lebih dingin, “kamu pergi ke sana.”

Carisa tidak menyangkal. Ia hanya berdiri di tempatnya.

“Dan itu sudah cukup buatku untuk tahu,” lanjut Yuda.

Carisa mengangkat pandangannya. “Yang kamu tahu belum tentu yang sebenarnya.”

“Kalau mau menyangkal,” kata Yuda pelan, “setidaknya buat itu terdengar masuk akal.”

Carisa terdiam. Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena ia tahu apa pun yang ia katakan sekarang, tidak akan mengubah apa-apa.

Ia menarik napas pelan, lalu melepaskannya.

“Kalau aku jelaskan pun, kamu tidak akan percaya,” katanya akhirnya. “Kamu sudah punya versimu sendiri.”

“Terus soal hubunganmu dengan dia di masa lalu,” suara Yuda mulai naik. “Kamu juga tidak pernah jujur padaku. Selama ini aku diam, nunggu kamu cerita. Tapi selama pernikahan ini… kita seperti orang asing.”

Carisa menghela napas, berusaha menahan emosinya tetap stabil.

“Kamu tidak pernah tahu,” katanya pelan, “aku diam bukan karena ingin menyembunyikan. Aku diam karena berusaha menjaga perasaanmu.”

Yuda menatapnya, alisnya sedikit terangkat. “Menjaga perasaanku?” ulangnya, nada suaranya tipis tapi tajam. “Dengan cara tidak jujur?”

Carisa menggeleng. “Aku tidak berbohong.”

“Kamu menyembunyikan,” potong Yuda. “Itu tidak jauh beda.”

Carisa menahan napas sejenak. “Aku hanya tidak ingin masa lalu yang sudah selesai malah merusak apa yang kita punya sekarang.”

Yuda tertawa pendek. “Yang kita punya?” Ia menggeleng pelan. “Apa yang sebenarnya kita punya sekarang, Carisa? Dua tahun aku menikahimu, tapi kamu selalu menutup diri. Seolah membangun benteng supaya aku tidak pernah benar-benar bisa masuk.”

Carisa menatapnya, matanya mulai lelah.

“Aku tidak menutup diri,” katanya pelan. “Aku cuma tidak tahu harus mulai dari mana.”

Yuda diam sejenak, lalu menyambar jasnya.

“Kita sudahi sampai di sini saja,” katanya singkat. “Malam ini aku tidur di kantor.”

Carisa menatapnya. “Kamu mau pergi begitu saja?”

Yuda tidak langsung menjawab. Ia merapikan jasnya, menghindari tatapan Carisa.

“Daripada aku bicara lebih jauh dan semuanya makin buruk,” ujarnya datar.

Ia berjalan melewati Carisa tanpa berhenti.

“Yuda...”

Langkahnya terhenti sesaat, tapi ia tidak menoleh.

“Besok saja,” katanya pelan. “Kalau masih ada yang perlu dibicarakan.”

Lalu ia benar-benar pergi.

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!