Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 Poin penting sebuah pernikahan
"Apa?" tanya Afif, balik menatap Lova.
Kini Lova yang justru mengerjap ketika Afif...untuk pertama kalinya memfokuskan netra hitamnya itu, hanya untuk Lova.
Sikap gelagapan Lova cukup menggemaskan, "emhhh apa ya, lupa." Definisi wajahmu mengalihkan dunia dan membuyarkan semua padanan kalimat yang telah terangkai.
Lova menggigit bibir bawahnya, celaka 12 ini! Ustadz Afif kenapa mesti so handsome sih!
Jika biasanya Lova akan menemukan Afif kebanyakan bersongkok di dalam balutan kemeja sopan dan dalam sosok angkuh nan dinginnya. Maka ketika malam ini, pria ini hanya memakai t shirt dan celana training serta rambut yang tersisir rapi namun nampak seperti diacak kembali oleh si empunya, ia mendadak beku. Kenapa ia baru tau kalo versi Indonesianya Huang Jingyu namanya Afif.
Ck ah! Ngga bener ini!
Tak Lova sangka, jika kinerja otaknya mendadak paud terkena cipratan pesona ustadz satu ini. By the way he is mine loh! Lova cengengesan dalam hati.
Afif menggeleng sekali dan lebih memilih menarik secarik kertas dokumen dari tas yang ada di samping ranjang, bukan perjanjian karena yang Lova lihat adalah salinan berbentuk foto copy akta nikah.
"Ini, salinan akta nikah yang saya minta dari KUA. Untuk yang asli, mungkin belum bisa kita ambil mengingat usiamu..." jelasnya diangguki begitu cepat oleh Lova, ia tak begitu peduli juga dengan itu. Kecuali jika itu bisa ia gadai untuk tiket menonton konser Blackpink.
"Iya. Terus?" angguk Lova cepat, menarik guling di dalam pangkuan dan memperhatikan penjelasan Afif tentang semua yang berhubungan dengan pernikahan mulai dari a sampai z, mulai dari awal ijab dan niatan sampai pada talak.
"Ustadz," kini pandangan Lova menatap Afif begitu bening.
"Hm?"
"Tadi. Waktu kita nikah itu...ustadz bacain surat An-Nisa sama Ar-Rahman sebagai mahar dan kado pernikahan buat Lova. Kenapa ustadz milih dua surat itu buat mahar?" wajahnya sudah berbinar berharap Afif akan memberikan jawaban yang romantis versi agama untuknya seperti biasanya. Atau minimalnya seperti Fahri untuk Aisha.
Namun rupanya jauh dari ekspektasinya, Afif justru mengernyit sejenak, kemudian mengangkat kedua alisnya, "terus kamu maunya apa? Surat yassin? Atau Al Jin?"
Wajah berbinar dengan senyum yang siap mengembang persis rengginang digoreng itu justru mendadak kecut nan keruh, "kok yassin? Dikira Lova udah almarhumah terus jadi se tan. Jahat ih!"
Lova meraih selimut angsa yang tadi ia singkirkan dan memukul-mukulkan itu ke arah Afif hingga membuat pria ini melindungi kepalanya dari patukan mon congg angsa seraya tertawa kecil.
"Ustadz jahat ihhh!" terdengar seruan itu sampai ke luar kamar, seseorang sempat terdiam sejenak mendengar itu karena tepat bersamaan dengan melintasnya sosok pemuda membawa serta gelas berisi air mineral.
Dengan hati yang mencelos ia melanjutkan langkahnya dengan cepat menuju kamar. Mengenyahkan pikiran negatif dan bayangan hal yang iya-iya tentang apa yang tengah dilakukan sepasang pengantin baru di dalam kamar itu.
Afif masih memandang ke arah samping, dimana Lova tertidur pulas dengan masih mendekap guling. Semalam, gadis itu tidur larut demi berjaga-jaga jika ia mendadak jadi manusia paling lak nat di muka bumi.
Ia maklumi sikap Lova itu, lagipula laki-laki mana juga yang tak tergoda jika disuguhi gadis cantik dengan piyama merah nan menggoda di atas ranjang bersama, terlebih ia sudah halal untuk dinikmati.
Semalam itu, ia berlagak seperti guru sekaligus petugas KUA yang menjelaskan pernikahan serta isi yang tertuang di dalam akta nikah keduanya.
"Sampai poin ini ada yang belum dipahami?" tanya Afif menjeda penjelasannya, Lova mengangguk cepat, "paham."
Ia yakin Lova paham, karena dasarnya istri kecilnya itu memang cukup pintar meski kadang sifat polosnya itu membuat Lova terlihat oon.
Tak ada perjanjian yang terjadi layaknya pasangan-pasangan kontrak beda usia lainnya. Karena jelas, pernikahan mereka murni karena keduanya melakukan pernikahan ini dengan suka rela.
Lagipula, *Mitsaqan Ghalizha* sudah mereka buat dengan Yang Maha Kuasa, juga pada ayah Agas, bukan perjanjian yang main-main. Sementara janji Afif pada Lova adalah, menafkahinya secara lahir mulai detik saat kata *sah* menggema, dan nafkah batin saat Lova mengijinkannya tanpa paksaan.
Masalah tinggal? Lova tak keberatan mengikuti kemanapun Afif membawanya asal jangan ke lubang semut yang tak muat untuk dirinya. Untuk itu Afif cukup bersyukur karena Lova akhirnya paham dengan kewajiban seorang istri meski ada perdebatan kecil tapi tak sampai membuat dirinya mengalah atau makan hati.
"*Saya menikahimu untuk menjadi seorang suami. Bukan seorang yang mau memerintah, bukan untuk berbisnis yang membagi keuntungan satu sama lain, ataupun untuk jadi budak cinta. Tapi murni ingin menjalankan dan menyempurnakan ibadah, saya hanya manusia.. pasti akan dan selalu berbuat salah, maka ingatkan juga jika saya salah atau membuatmu sakit*...."
Tangannya terulur demi merasakan, apa benar kulit Lova semulus pualam, atau sekenyal moci?
Namun baru saja punggung telunjuk itu hampir menyentuh pipi Lova, gadis itu menggeliat dalam lelapnya, membuat Afif mengurungkan niatannya dan segera bangun.
Sedikit demi sedikit, barang-barang milik Lova dan Afif diangkut dalam mobil milik Afif. Termasuk hantaran pernikahan yang sudah sepenuhnya milik Lova.
"Cukup, ustadz?" tanya Lova dengan masih memakai piyama merahnya, hanya saja kini sudah dilapisi oleh jaket milik Afif mengambil kotak terakhir, sementara Afif sendiri sedang menata itu di bagasi untuk selanjutnya dibawa pulang.
"Cukup, sudah habis?" tanyanya diangguki Lova, "berarti nanti umi sama abi di mobil lain?"
Afif menutup pintu bagasi dan mengangguk, "abi bawa mobil, biar nanti gantian nyetir sama Uqi kalau capek."
Setelah pamitan pada keluarga di pesantren termasuk berangsur berkurangnya sanak saudara dari kampung abi mereka kembali ke Bandung.
"Pulang dulu umma."
"Hati-hati ya," peluknya pada Lova, ia mengangguk.
"Nduk, semangat..." dengan kedua kepalan tangan di udara, bulek Ida memancing tawa Lova. Semalam----dalam bayangannya, keluarga Afif akan kaku, tapi ternyata tidak. Bahkan para budhe, bulek dan sepupu nampak seperti manusia normal pada umumnya, bicara berkelakar layaknya dirinya dan Alika atau ia dan bunda. Membicarakan idola di luar berbau islami, bergosip dan berseloroh renyah.
Terlebih, "disentuh hatinya...biar luluh, biar ngga keliatan galak lagi, istri itu harus bisa jadi pawangnya mas'e. Terus sentuh yang lainnya pelan pelan aja, yang pelan itu lebih deg-deg serrr...." Bulek Ida cengengesan yang langsung dihadiahi tepukan pelan umma, "hushh! Ngajarinnya tok.."
"Lah, kan sudah nikah mi. Sudah halal, sudah sah, memang harus belajar, makanya ta ajari caranya merayu suami yang bener..."
Umi Khoti hanya tertawa.
/
Lova menatap Afnan saat umi, abi, dan Afif sibuk berpamitan. Namun sejak pertemuan keduanya di acara khitbah, bahkan hingga saat ini baik Lova maupun Afnan tak ada yang buka suara satu sama lain, meskipun keduanya kini sudah menjadi sepasang kakak-adik ipar.
Lova masih cukup dibuat sesak oleh pemuda manis itu. Namun hidup harus tetap berjalan. Dan ia akan terima semua suratan takdir yang terjadi padanya, memaafkan semua masa lalu.
Afnan masih menaruh tatapan yang tak dapat Lova artikan saat gadis itu memilih mengakhiri kontak mata keduanya. Ditambah Afif yang sudah menghampiri ke arahnya dan mengajak masuk ke dalam mobil. Namun sekali lagi, ditatapnya secara tak sengaja ke arah Afnan saat Lova hampir masuk ke dalam mobil dimana pemuda itu masih setia memandangnya.
Lova terhenyak, lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
.
.
.
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
jujur kpn va tentang Afnan ny
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny