Update:
Senin-Jum'at - 2 Bab
Sabtu-Minggu - 3 Bab
Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: PERJAMUAN DI TEPI JURANG
Bali, Pulau Dewata, seharusnya menjadi tempat ketenangan. Namun, bagi Nata Prawira, hamparan pasir Nusa Dua malam itu terasa seperti ladang ranjau yang siap meledak. Konferensi G20 bukan sekadar pertemuan rutin; kali ini, ini adalah sidang umum untuk menentukan apakah sistem Dinar Digital milik Nata akan diakui sebagai standar global atau dinyatakan sebagai ancaman ilegal terhadap kedaulatan moneter dunia.
"Bos, protokol keamanan 'Bima' sudah aktif," lapor Yuda melalui earpiece yang tersembunyi. "Kita memiliki tiga lapis pengamanan. Lapis pertama adalah Paspampres Indonesia, lapis kedua adalah kontraktor keamanan swasta kita, dan lapis ketiga—yang paling penting—adalah jaring-jaring drone mikro yang melayang di ketinggian sepuluh ribu kaki, mengawasi setiap pergerakan panas di sekitar resor."
Nata berdiri di depan cermin, merapikan dasinya. Ia mengenakan setelan jas buatan penjahit terbaik yang dilapisi dengan serat aramid tahan peluru dan sensor biometrik. "Bagaimana dengan tim 'The Arks'?"
"Rian dan Sari sudah masuk ke sistem backend hotel," suara Elena terdengar dari pusat komando di Tangerang melalui jalur satelit Icarus. "Mereka telah menyusup ke jaringan CCTV dan sensor gerak. Jika ada satu helai rambut yang bergerak tidak semestinya, kita akan tahu sebelum musuh sempat menarik pelatuk."
Nata mengangguk. Ia melangkah keluar dari vila pribadinya menuju ruang perjamuan utama. Di sana, para pemimpin dunia, menteri keuangan, dan bankir paling berkuasa di bumi sudah berkumpul. Namun, fokus Nata hanya pada satu sosok: Madame Vivienne, yang duduk di meja bundar paling tengah, dikelilingi oleh para delegasi dari negara-negara sekutunya.
Saat Nata memasuki ruangan, suasana mendadak sunyi. Ratusan kamera jurnalis internasional langsung menyorotnya. Ia bukan lagi sekadar "anak ajaib" dari Jakarta; ia adalah orang yang memaksa perbankan dunia bertekuk lutut.
Nata berjalan dengan langkah tenang, melewati deretan kursi hingga ia berhenti tepat di depan Madame Vivienne.
"Tuan Prawira," Vivienne menyapa dengan suara yang terdengar ramah di depan kamera, namun matanya memancarkan kedinginan yang mematikan. "Keberanian Anda untuk muncul di sini patut dikagumi. Atau mungkin itu hanyalah kenaifan?"
"Keberanian adalah ketika seseorang mempertahankan kebenaran di depan mereka yang menyembunyikannya, Madame," jawab Nata, suaranya cukup keras untuk ditangkap oleh mikrofon media.
Acara dimulai. Salah satu delegasi dari negara adidaya berdiri dan mulai membacakan mosi untuk melarang penggunaan mata uang digital yang tidak dikontrol oleh bank sentral. "Sistem seperti Icarus dan Dinar Digital adalah alat pencucian uang dan pendanaan terorisme. Kami mengusulkan sanksi global total bagi siapa pun yang berinteraksi dengan sistem ini."
Nata berdiri. Ia tidak menunggu giliran bicara. Ia langsung menekan sebuah tombol di tabletnya yang terhubung ke proyektor utama ruangan—sebuah peretasan langsung yang dilakukan oleh Rian dari tim 'The Arks'.
"Jika Anda bicara tentang terorisme, mari kita lihat data ini," ucap Nata. Layar raksasa di belakang panggung menampilkan aliran dana gelap dari bank-bank besar anggota The Council yang mendanai kudeta di Afrika dan blokade energi di Asia Tenggara.
Ruangan itu gempar. Madame Vivienne tampak terperanjat, namun ia tetap berusaha tenang. "Itu adalah data palsu yang dibuat oleh AI!"
"Data ini berasal dari server Anda sendiri yang sempat kami amankan sebelum Anda mencoba mematikan internet dunia minggu lalu," balas Nata tajam. "Dunia tidak butuh perlindungan dari saya. Dunia butuh transparansi dari Anda."
Di tengah perdebatan yang memanas, sistem sensor di pergelangan tangan Nata bergetar hebat. Merah. Bahaya.
"Bos! Keluar dari sana!" suara Elena berteriak di telinganya. "Seseorang telah menyabotase sistem pemadam api otomatis di ruang bawah tanah. Mereka tidak menggunakan air, mereka menggunakan gas saraf VX yang dialirkan melalui ventilasi udara!"
Nata melihat ke arah langit-langit. Ia melihat lubang ventilasi mulai mengeluarkan uap tipis yang hampir tak terlihat. Para pemimpin dunia masih sibuk berdebat, tidak menyadari bahwa maut sedang mengintai melalui udara yang mereka hirup.
"Semua orang, segera keluar!" teriak Nata, suaranya menggelegar mengalahkan kebisingan. "Ada kebocoran gas beracun!"
Kepanikan pecah. Namun, pintu-pintu keluar otomatis tiba-tiba terkunci. Seseorang telah mengambil alih kontrol gedung secara fisik.
"Yuda! Peledak pintu sekarang!" perintah Nata sambil menarik Kirana—yang ikut hadir sebagai tamu undangan atas permintaan protokol kepresidenan—ke bawah meja yang memiliki perlindungan oksigen darurat yang sudah ia siapkan sebelumnya.
BOOM!
Pintu besar ruang perjamuan hancur berantakan oleh ledakan terarah dari tim Yuda. Asap putih mulai memenuhi ruangan, namun bukan gas beracun, melainkan asap pelindung yang disemprotkan oleh tim Nata untuk menghalangi pandangan penembak jitu.
Dalam kekacauan itu, Nata melihat Madame Vivienne ditarik oleh pengawal pribadinya menuju jalur evakuasi rahasia. Vivienne menoleh ke arah Nata, memberikan sebuah senyuman kecil—senyum seorang pemenang yang baru saja memulai pembantaian.
"Bos, kita terperangkap di koridor sayap barat!" lapor Yuda melalui radio di tengah suara tembakan yang mulai terdengar. "Tim penyerang menggunakan seragam tanpa lencana. Mereka sangat terlatih!"
Nata memeluk Kirana erat-erat, sementara tangannya yang lain memegang tablet pengendali drone. "Elena, aktifkan 'Protokol Garuda'. Perintahkan satelit Icarus untuk mengarahkan transmisi energi gelombang pendek ke area koordinat resor ini. Kita butuh pemadaman total bagi semua perangkat elektronik musuh!"
"Tapi Bos, itu akan mematikan sistem kita juga!"
"Lakukan saja! Kita punya cadangan mekanik!"
Seketika, seluruh cahaya di kawasan Nusa Dua padam. Gelombang elektromagnetik dari langit menghantam wilayah tersebut, melumpuhkan semua senjata elektronik, teropong malam, dan alat komunikasi musuh. Dalam kegelapan total, Nata menarik Kirana berlari menuju pantai, tempat sebuah kapal cepat otonom sudah menunggu.
Tiba-tiba, seorang pria bertopeng muncul dari balik pilar, mengarahkan pisau taktis ke arah Nata. Nata bereaksi cepat, menggunakan gerakan bela diri yang telah ia pelajari selama bertahun-tahun dalam kehidupan keduanya ini. Dengan satu gerakan memutar, ia melumpuhkan pergelangan tangan lawan dan menghantamkan sikunya ke leher pria itu.
"Siapa yang mengirimmu?" desis Nata.
Pria itu hanya tersedak, namun sebelum Nata bisa bertanya lebih lanjut, sebuah tembakan dari arah kegelapan mengenai bahu pria itu hingga tersungkur. Yuda muncul dengan senapan laras pendek.
"Bos, kapal sudah siap! Ayo!"
Nata melompat ke dalam kapal cepat. Saat mesin meraung dan kapal mulai membelah ombak Bali, Nata menatap kembali ke arah hotel yang kini dipenuhi kobaran api kecil dan lampu-lampu darurat.
Di atas kapal, Elena menghubungi Nata melalui jalur analog darurat. "Nata, kamu aman? Madame Vivienne berhasil lolos. Tapi, ada berita yang lebih besar. Kejadian ini disiarkan secara langsung oleh ribuan ponsel yang terhubung ke Icarus. Dunia baru saja melihat bagaimana 'The Council' mencoba membunuh pemimpin dunia demi menghentikanmu."
Nata bersandar di kursi kapal, darah merembes di lengan jasnya akibat goresan pisau tadi. Ia menatap langit malam Bali. "Mereka telah melewati batas terakhir, Elena. Diplomasi sudah selesai."
"Apa rencana kita sekarang?"
Nata menatap Kirana yang gemetar di pelukannya, lalu matanya berubah menjadi sangat dingin, sekeras berlian. "Hubungi Pangeran Khalid dan para sekutu kita di China dan Rusia. Katakan pada mereka, ini adalah saatnya. Kita tidak akan lagi menawarkan kemitraan kepada sistem perbankan lama."
"Lalu apa?"
"Kita akan menggantikannya sepenuhnya," jawab Nata. "Mulai besok, dunia tidak akan lagi mengenal dolar. Kita akan meluncurkan serangan finansial yang akan meruntuhkan setiap bursa saham yang dikuasai The Council. Jika mereka ingin membakar rumahku, aku akan meruntuhkan seluruh dunia mereka."
Konferensi G20 Bali berakhir dengan tragedi, namun bagi Nata Prawira, itu adalah proklamasi resmi bagi dimulainya Perang Dunia Finansial. Dan kali ini, ia tidak akan berhenti sampai salah satu dari mereka hancur total.
Bersambung.....