Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 2: Aliran Pertama
Pagi di hutan datang tanpa suara.
Kabut tipis menggantung rendah di antara pepohonan tinggi, membungkus batang-batang tua yang berdiri seperti penjaga waktu. Cahaya matahari belum sepenuhnya menembus kanopi daun, hanya menyelinap dalam garis-garis halus yang bergerak perlahan mengikuti angin.
Tidak ada hiruk pikuk.
Tidak ada langkah kaki manusia.
Hanya kehidupan yang berjalan sebagaimana mestinya—tenang, tanpa tergesa.
Di tengah hutan itu, berdiri sebuah gubuk kecil.
Sederhana. Terbuat dari kayu tua yang tidak dipoles, dengan atap jerami yang mulai menguning. Tidak ada pagar, tidak ada tanda kepemilikan. Seolah tempat itu tidak dimiliki siapa pun… atau justru tidak bisa dimiliki.
Di depan gubuk, seorang anak duduk bersila.
Grachius.
Rambutnya masih pendek dan sedikit berantakan, jatuh tak teratur di sekitar wajahnya. Usianya belum banyak—cukup muda untuk masih mempertanyakan segalanya, namun cukup tua untuk mulai merasa frustrasi.
Matanya terpejam.
Alisnya mengerut.
Tangannya menggenggam lututnya terlalu erat.
Napasnya… tidak stabil.
“...Kenapa tidak bisa?”
Suara itu keluar pelan, hampir seperti keluhan yang tidak ingin didengar siapa pun.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba lagi.
Diam.
Hening.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
Grachius membuka matanya dengan kesal.
“Tidak ada apa-apa.”
Ia menjatuhkan bahunya, sedikit membungkuk, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
Di belakangnya, pintu gubuk terbuka tanpa suara.
Seorang pria melangkah keluar.
Purus.
Jubah nya tampak sama seperti biasanya—bersih tanpa noda, seolah debu pun enggan mendekat. Tatapannya tenang, tidak tergesa, seperti seseorang yang tidak pernah benar-benar dikejar waktu.
Ia tidak langsung berbicara.
Hanya berdiri, memperhatikan.
Grachius menyadari kehadirannya, namun tidak menoleh.
“Aku sudah mencoba,” katanya cepat, sedikit defensif.
“Aku duduk diam. Aku tidak bergerak. Aku bahkan tidak membuka mata.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih pelan—
“Tapi tetap tidak ada.”
Purus berjalan mendekat, langkahnya ringan, hampir tidak menimbulkan suara di tanah berlumut.
“Lalu apa yang kau harapkan ada?”
Grachius mengerutkan kening.
“Aku tidak tahu. Sesuatu.” Ia mengangkat bahu.
“Kau bilang aku harus ‘merasakan’. Tapi aku tidak merasakan apa pun.”
Purus duduk di sampingnya, tanpa tergesa.
“Kalau begitu, mungkin kau terlalu sibuk mencari sesuatu.”
Grachius menoleh cepat.
“Bukankah itu memang tujuannya?”
Purus tidak langsung menjawab.
Ia menatap ke depan—ke arah pepohonan yang bergoyang pelan.
“Ketika kau mencari suara tertentu...”
“...kau sering kali melewatkan semua suara lainnya.”
Grachius mengerutkan kening lebih dalam.
“Aku tidak mengerti.”
“Memang tidak perlu dimengerti.”
Jawaban itu membuat Grachius menghela napas kesal.
“Kalau begitu apa gunanya aku duduk di sini dari tadi?”
Purus menoleh, menatapnya dengan tenang.
“Untuk belajar duduk.”
“...”
Grachius membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali.
“Jawabanmu selalu tidak memuaskan.”
“Dan kau selalu bertanya dengan cara yang sama.”
Hening sejenak.
Namun kali ini, bukan hening yang membuat frustrasi.
Lebih seperti… jeda.
Grachius menunduk, memainkan ujung pakaiannya dengan jari.
“Kalau aku tidak memaksakan diri, aku tidak akan berkembang.”
Purus menggeleng pelan.
“Kalau kau memaksakan diri, kau hanya akan belajar bagaimana memaksa.”
Grachius diam.
Kata-kata itu tidak langsung ia pahami, namun cukup untuk membuatnya tidak membantah.
Purus mengalihkan pandangannya kembali ke hutan.
“Coba lagi.”
Grachius mendesah pelan.
Namun kali ini, ia tidak protes.
Ia kembali duduk tegak, menarik napas perlahan, lalu menutup matanya.
Beberapa detik berlalu.
“Jangan dengarkan dengan telingamu.”
Grachius mengernyit.
“Lalu pakai apa?”
“Jangan gunakan apa pun.”
“...Itu tidak masuk akal.”
“Memang.”
Grachius hampir membuka matanya lagi, namun ia menahannya.
“Kalau begitu apa yang harus kulakukan?”
Purus tidak menjawab.
Dan untuk pertama kalinya, Grachius tidak langsung meminta jawaban lagi.
Ia hanya… diam.
Awalnya, pikirannya berisik.
Terus bergerak.
Mengeluh.
Bertanya.
Mengomentari segalanya.
Ini membosankan.
Ini tidak berhasil.
Ini sia-sia.
Namun seiring waktu—
Suara-suara itu mulai… menjauh.
Bukan karena hilang.
Melainkan karena tidak lagi diikuti.
Grachius tidak menyadari kapan tepatnya itu terjadi.
Namun tiba-tiba—
Ia mulai merasakan sesuatu.
Bukan suara.
Bukan juga gambar.
Lebih seperti… kehadiran.
Daun yang bergesekan.
Angin yang bergerak di antara cabang-cabang.
Serangga kecil yang merayap di tanah.
Dan—
Detak.
Pelan.
Teratur.
Grachius membuka matanya sedikit, bingung.
“Itu…?”
Purus masih duduk di sampingnya.
“Lanjutkan.”
Grachius menutup matanya lagi.
Kali ini, ia tidak mencoba mencari.
Ia hanya… membiarkan.
Dan detak itu kembali.
Lebih jelas.
Bukan dari luar.
Dari dalam.
Jantungnya sendiri.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadarinya.
Bukan sekadar tahu.
Melainkan… merasakan.
“Aku…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Karena sesuatu yang lain muncul.
Halus.
Sangat halus.
Seperti aliran kecil yang hampir tidak ada.
Namun cukup untuk dirasakan.
Di dalam dirinya.
“Purus…”
“Jangan bicara.”
Grachius menutup mulutnya kembali.
Ia fokus.
Atau setidaknya, mencoba.
Aliran itu ada.
Tipis.
Seperti benang yang hampir putus.
Ia mencoba menggenggamnya—
Dan seketika, semuanya hilang.
Grachius membuka mata dengan cepat.
“Hil—”
Ia berhenti sendiri.
Menghela napas.
“...hilang.”
Purus mengangguk pelan.
“Tentu saja.”
Grachius menatapnya, sedikit kesal.
“Aku hampir mendapatkannya.”
“Kau mencoba memilikinya.”
“Memangnya tidak boleh?”
Purus menatapnya sebentar.
“Apakah angin bisa kau miliki?”
Grachius terdiam.
“Qi tidak berbeda.”
Kata itu terasa asing, namun tidak sepenuhnya baru.
Grachius menatap tangannya sendiri.
“Yang tadi itu… Qi?”
Purus mengangguk.
“Sebagian kecil.”
“Kenapa kecil sekali?”
“Karena kau baru mulai mendengarnya.”
Grachius mengepalkan tangannya.
“Aku ingin lebih.”
Purus tersenyum tipis.
“Semua orang juga begitu.”
Grachius menoleh, sedikit bingung.
“Lalu kenapa kau tidak mengajarkanku cara mendapatkannya lebih cepat?”
Purus tidak langsung menjawab.
Ia mengambil sehelai daun yang jatuh di dekatnya, lalu melepaskannya kembali.
Daun itu jatuh perlahan, mengikuti arah angin.
“Kalau aku melakukannya...”
“...kau hanya akan belajar bagaimana mengejar.”
“Dan itu salah?”
“Tidak.”
Purus menatapnya.
“Namun bukan itu yang kau cari.”
Grachius terdiam.
Ia menunduk, memikirkan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.
“Kalau begitu… apa yang aku cari?”
Purus tidak menjawab.
Dan kali ini, Grachius tidak langsung menuntut jawaban.
Hening kembali turun di antara mereka.
Namun hening itu terasa berbeda sekarang.
Lebih… hidup.
Setelah beberapa saat, Grachius berbicara lagi.
“Purus.”
“Ya.”
“Kau pernah bilang setiap makhluk memiliki jalannya sendiri.”
Purus mengangguk.
“Fatum.”
Kata itu keluar pelan.
Seolah tidak ingin mengganggu sesuatu yang lebih besar dari sekadar percakapan.
Grachius mengangkat kepalanya.
“Kalau semuanya sudah punya jalan… berarti semuanya sudah ditentukan?”
Purus menatap ke depan, tidak langsung menjawab.
“Menurutmu?”
Grachius mengerutkan kening.
“Aku tidak tahu. Kalau sudah ditentukan… lalu kenapa kita harus memilih?”
“Kalau tidak memilih...”
“...kau tidak akan pernah tahu jalan mana yang sebenarnya milikmu.”
Grachius semakin bingung.
“Itu terdengar seperti dua hal yang bertentangan.”
“Memang.”
Purus menoleh.
“Namun dunia tidak selalu membutuhkan kejelasan.”
Grachius menghela napas panjang.
“Jawabanmu selalu seperti teka-teki.”
“Karena kau mencari kepastian.”
“Dan itu salah?”
“Tidak.”
Purus tersenyum tipis.
“Namun kepastian sering kali datang terlalu lambat untuk mereka yang terburu-buru.”
Grachius menatap tanah.
“Aku hanya ingin tahu jalanku.”
Suara itu lebih pelan dari sebelumnya.
Tidak lagi penuh keluhan.
Lebih seperti… keinginan yang jujur.
Purus memandangnya lama.
Lalu berkata—
“Kalau aku memberitahumu, itu bukan lagi jalanmu.”
Grachius tidak langsung menjawab.
Ia menggigit bibirnya pelan.
“Jadi aku harus mencarinya sendiri?”
“Tidak.”
Purus menggeleng.
“Kau harus menjalaninya.”
Perbedaan itu kecil.
Namun cukup untuk membuat Grachius terdiam lebih lama.
Angin kembali berhembus.
Daun-daun bergerak pelan.
Cahaya matahari kini mulai menembus kabut, jatuh di antara mereka.
Grachius menutup matanya lagi.
Kali ini, tanpa disuruh.
Ia menarik napas.
Lalu melepaskannya.
Pikirannya masih bergerak.
Namun tidak berisik seperti sebelumnya.
Ia tidak mencoba menangkap apa pun.
Tidak mencoba memahami.
Hanya… membiarkan.
Detak itu kembali.
Pelan.
Teratur.
Dan di antara detak itu—
Ada sesuatu.
Tipis.
Hampir tidak terasa.
Namun kali ini, ia tidak mencoba menggenggamnya.
Ia hanya… menyadarinya.
Dan untuk sesaat—
Aliran kecil itu tidak hilang.
Purus memperhatikannya dari samping.
Tidak berkata apa-apa.
Tidak mengganggu.
Karena perubahan yang sebenarnya—
Selalu terjadi dalam diam.
Di bawah cahaya pagi yang semakin terang, Grachius tetap duduk.
Lebih tenang dari sebelumnya.
Bukan karena ia sudah mengerti.
Melainkan karena ia mulai berhenti memaksa untuk mengerti.
Dan di dalam dirinya—
Sesuatu yang kecil…
baru saja mulai tumbuh.
...A Novel By Franzzz...