"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.
Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.
Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Mama Datang
Seminggu telah berlalu sejak percakapan tegang saat hujan itu. Seperti janji pada dirinya sendiri, Kirana mulai mengubah sikapnya. Ia tetap sopan, tetap melayani Arga dengan baik, namun ia memasang tembok tinggi di hatinya. Tidak ada lagi tatapan penuh harap, tidak ada lagi usaha memecah keheningan yang canggung. Ia menjadi sangat tenang, terlalu tenang hingga terasa seperti angin lalu.
Arga sebenarnya menyadari perubahan itu. Wanita itu kini lebih sering diam, lebih sering tersenyum tipis tanpa makna, dan berbicara seperlunya saja. Entah kenapa, perubahan sikap itu justru membuat Arga merasa... aneh. Kadang ia merasa risih, tapi kadang juga merasa ada sesuatu yang hilang dari rumah itu. Namun, gengsinya tak membiarkannya mengakui hal itu.
Hingga pada suatu Sabtu pagi, suasana rumah yang biasanya hening tiba-tiba berubah menjadi sibuk.
"Tuan, Nyonya besar sudah sampai di gerbang!" seru Bi Sumi dari lobi depan dengan napas agak terengah, wajahnya terlihat panik namun antusias.
Arga yang sedang duduk membaca koran langsung mendongak. Alisnya terangkat sedikit. "Mama? Kenapa datang tiba-tiba begini?"
Belum sempat Arga bergerak, sebuah mobil sedan mewah warna putih sudah masuk ke halaman dan berhenti tepat di depan teras. Pintu terbuka, dan turunlah seorang wanita paruh baya yang berpakaian sangat elegan, berlian berkilau di leher dan jari-jarinya, namun wajahnya tetap terlihat cantik dan awet muda. Itu adalah Ratu Wibowo, ibu dari Arga, atau yang biasa dipanggil Mama oleh semua orang.
Arga segera berdiri dan berjalan keluar menyambut. "Mama..."
"Wahai anakku yang tampan!" seru Ratu dengan suara lantang dan ceria. Ia langsung memeluk putra tunggalnya itu dengan hangat. "Kenapa lama sekali tidak mampir ke rumah? Mama kangen tahu!"
"Kantor lagi sibuk, Ma. Banyak proyek baru," jawab Arga santai, walau wajahnya sedikit melembut di hadapan ibunya.
"Sibuk terus alasannya. Untung Mama inisiatif datang sendiri. Kalau tidak, mungkin sampai kiamat pun kamu tidak akan pulang," celetuk Ratu, lalu melepaskan pelukannya dan menatap putranya dari atas ke bawah. "Kamu kurusan, Nak. Jangan kerja terlalu keras."
Di sudut ruangan, dekat tangga, Kirana berdiri mematung. Ia melihat interaksi hangat antara ibu dan anak itu. Jantungnya berdegup kencang. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan ibu mertuanya secara langsung setelah pernikahan. Ia gugup setengah mati.
"Eh... itu siapa yang berdiri di situ?" tanya Ratu tiba-tiba, matanya yang tajam menangkap sosok Kirana.
Arga menoleh sekilas. "Itu Kirana, Ma. Istri Arga."
Kirana segera melangkah mendekat, menundukkan badan sedikit memberi hormat yang sangat sopan. "Assalamualaikum, Mama. Selamat pagi."
Ratu menatap Kirana lekat-lekat, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya tajam, menilai, membuat Kirana semakin ciut dan menunduk takut.
"Waalaikumsalam," jawab Ratu pelan. Kemudian, tanpa diduga, wanita itu tersenyum lebar dan langsung menarik tangan Kirana. "Aduh, cantiknya menantu Mama! Sempurna sekali. Arga, kamu beruntung sekali dapat istri sebaik dan secantik ini."
Reaksi Ratu yang hangat dan ramah itu sungguh di luar dugaan. Kirana sampai terkejut dan salah tingkah.
"Mama...?"
"Ayo duduk, ayo duduk. Bi Sumi, siapkan teh dan makanan kesukaan Mama cepat ya!" perintah Ratu semangat, sambil terus menggandeng tangan Kirana menuju sofa, seolah mereka sudah sangat akrab.
Arga yang melihat itu hanya menggelengkan kepala pelan dan tersenyum tipis. Ibunya memang terkenal ramah, ceria, dan sangat terbuka, kebalikan dari dirinya yang dingin.
Mereka bertiga pun duduk bersanding di ruang tamu. Ratu tidak lepas dari genggaman tangan Kirana.
"Gimana, Nak? Arga tidak jahat sama kamu kan?" tanya Ratu tiba-tiba dengan suara berbisik tapi cukup keras agar Arga bisa mendengar. "Kalau dia nakal atau galak, cerita sama Mama ya. Nanti Mama marahi dia."
Kirana tersentak, lalu tersenyum canggung sambil melirik ke arah Arga yang sedang meminum air putih dengan santai seolah tidak mendengar.
"Tidak kok, Ma. Arga... baik-baik saja," jawab Kirana hati-hati.
"Halah, Mama tahu sifat anak Mama ini. Dia itu dingin dan cuek banget. Dari kecil memang begitu, susah sekali menunjukkan perasaan. Tapi percaya sama Mama, hatinya baik kok, cuma caranya aja yang aneh," kata Ratu berusaha membela putranya, tapi juga sekaligus membuka aibnya.
Kirana hanya bisa mengangguk dan tersenyum mendengarnya. Di dalam hati ia bergumam, Baik? Apakah bersikap sedingin es dan mengatakan pernikahan ini hanya kontrak itu disebut baik? Tapi tentu saja ia tak berani mengatakannya.
"Kalau begitu syukurlah. Mama senang sekali melihat kalian tinggal bersama begini. Rumah ini jadi terasa lebih hidup dan berwarna saja rasanya, kan Arga?" Ratu menoleh ke putranya.
Arga meletakkan gelasnya, lalu menatap ibunya. "Iya, Ma. Rumah jadi lebih berisik," jawabnya datar, tapi ada nada bercanda yang sangat tipis di sana.
"Eh, dasar anak kurang ajar!" Ratu mencubit lengan putranya pelan. "Maksud Arga, rumah jadi lebih hangat kan? Karena ada Kirana yang rajin dan cantik ini."
Selama beberapa jam berikutnya, Ratu mendominasi percakapan. Ia bertanya tentang kegiatan Kirana sehari-hari, bagaimana rasanya tinggal di sini, apa saja yang dibutuhkan. Kirana menjawab semua pertanyaan dengan jujur namun tetap sopan dan hati-hati. Ia melihat betapa Arga sangat menghormati dan menyayangi ibunya. Wajah pria itu terlihat jauh lebih santai dan banyak tersenyum saat bersama ibunya, berbeda jika hanya berdua dengan Kirana.
Siang harinya, Ratu memutuskan untuk makan siang bersama di rumah. Ia bahkan ikut masuk ke dapur mengawasi masakan, padahal biasanya ia orang yang sangat dimanjakan pelayan.
"Kirana, sini Nak. Coba kamu rasakan kuah sop ini, kurang asin tidak?" tanya Ratu ramah.
"Iya, Ma. Sebentar," Kirana segera mendekat dan mencicipi sedikit. "Enak, Ma. Pas rasanya."
"Syukurlah. Arga itu paling suka masakan sop buatan Mama. Semoga kamu juga bisa masak begini ya, biar suamimu betah di rumah," kata Ratu sambil tersenyum menggoda.
Wajah Kirana memerah menahan malu. "Aku... aku akan belajar, Ma."
Di sudut dapur, Arga bersandar di dinding sambil memainkan ponselnya, tapi matanya diam-diam memperhatikan kedua wanita yang paling penting dalam hidupnya itu berinteraksi. Ia melihat bagaimana ibunya begitu menyukai Kirana. Dan ia juga melihat bagaimana Kirana bersikap sangat lembut, patuh, dan anggun di hadapan ibunya. Tidak ada sifat manja atau merepotkan. Wanita itu benar-benar membawa aura ketenangan.
'Mungkin Mama benar. Dia wanita yang baik,' batin Arga mengakui dalam diam.
Saat makan siang tiba, suasana meja makan sangat berbeda dari biasanya. Biasanya hanya ada suara denting sendok dan keheningan mencekam. Hari ini penuh dengan tawa dan cerita dari Ratu.
"Mama mau tinggal di sini beberapa hari ya," ucap Ratu tiba-tiba saat makan hampir selesai.
Arga dan Kirana sama-sama menghentikan gerakan mereka.
"Hah? Beberapa hari?" Arga terlihat kaget. "Kenapa tidak di rumah utama saja, Ma? Di sini fasilitas tidak selengkap di sana."
"Ah, enak saja. Mama mau menghabiskan waktu sama menantu Mama. Lagipula, tugas menantu adalah melayani mertua kan?" Ratu tersenyum licik. "Atau... kalian berdua tidak mau ada orang ketiga yang mengganggu waktu berdua?"
Wajah Kirana langsung memerah padam mendengar godaan itu. Ia menunduk dalam-dalam, malu sekali. Arga pun terlihat sedikit salah tingkah, berdeham keras untuk menutupi kecanggungan.
"Mama ini bisa saja. Makan saja yang banyak," sahut Arga mencoba mengalihkan topik.
"Ya sudah, berarti Mama tinggal di sini sampai hari Senin. Bagus kan, Ran?" Ratu menatap Kirana.
Kirana mengangguk cepat. "Iya, Ma. Tentu saja boleh. Rumah ini pasti jadi lebih ramai dan menyenangkan."
Dan benar saja, kedatangan Ratu benar-benar mengubah seluruh atmosfer rumah yang sedingin es itu menjadi hangat. Namun, bagi Kirana, kehadiran Mama justru menjadi ujian tersendiri. Bagaimana caranya ia dan Arga harus berpura-pura menjadi pasangan suami istri yang harmonis dan romantis di depan mata ibu mertua mereka, padahal kenyataannya mereka layaknya dua orang asing yang tidur di kamar berbeda?
Malam harinya, saat Ratu sudah masuk ke kamar tamu, suasana kembali hening. Arga dan Kirana berhadapan di ruang tengah yang kini hanya diterangi lampu tidur.
"Dengar, Kirana," Arga membuka suara lebih dulu, suaranya rendah agar tidak terdengar ke kamar ibunya. "Soal Mama tinggal di sini... aku harap kamu bisa mengerti. Kita harus bermain peran dengan baik."
Kirana menatapnya datar. "Aku tahu, Arga. Demi kebahagiaan Mama kan? Aku mengerti. Aku tidak akan membuat masalah."
"Bagus. Dan soal kamar..." Arga tampak berpikir sejenak. "Mama pasti akan curiga kalau tahu kita tidur terpisah. Malam ini... kau tidur di sini, di kamar utama. Aku yang akan pindah ke kamar study."
Hati Kirana berdebar kencang. Tidur di kamar yang sama? Di ranjang yang sama?
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian. Itu demi menjaga penampilan saja. Jangan berpikir yang tidak-tidak," potong Arga cepat, wajahnya kembali datar dan dingin. "Aku akan tidur di sofa atau di kamar sebelah kalau perlu. Pokoknya jangan sampai Mama tahu kita jarang berinteraksi."
"Baik..." jawab Kirana lirih, jantungnya berpacu tak karuan.
Malam ini akan menjadi malam terpanjang dan paling menegangkan bagi Kirana. Ia harus masuk ke sarang singa, ke dalam kamar pribadi pria yang paling ia takuti sekaligus ia hormati, hanya demi sebuah sandiwara.