Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Cinta Salah Alamat ke Kuntilanak
Pagi itu, SMA Wijaya Kusuma sedang dilanda demam "Kotak Saran dan Harapan". Pak Broto, dalam upaya meningkatkan kreativitas siswa, memasang sebuah kotak kayu antik di depan mading sekolah. Namun, di sekolah yang berdiri di atas bekas fondasi bangunan kolonial ini, benda-benda antik adalah magnet bagi masalah. Apalagi jika yang memasukkannya adalah Satria dalam kondisi mengantuk berat.
Satria sudah begadang semalaman demi menyelesaikan revisi maket sejarah. Di tangannya, ia memegang dua amplop yang sama-sama berwarna merah muda. Satu adalah surat cinta tulus (tapi agak puitis-ngasal) untuk Arini. Satu lagi adalah "surat keluhan" yang ia tulis untuk Pak Broto karena WC belakang sering mengeluarkan suara orang keramas padahal kerannya mati.
"Sat! Buruan! Bel masuk sudah bunyi!" teriak Budi dari kejauhan.
Panik, Satria melempar salah satu amplop ke dalam kotak kayu tersebut. Ia tidak sadar bahwa kotak itu bukan Kotak Saran, melainkan "Kotak Surat Ghaib" yang dulu digunakan oleh para penghuni sekolah untuk berkomunikasi dengan dunia luar—sebuah artefak yang seharusnya sudah masuk museum, tapi malah dikeluarkan Pak Broto karena beliau pikir itu kotak artistik.
"Selesai," gumam Satria sambil berlari menuju kelas.
Ia tidak melihat bahwa amplop yang ia masukkan adalah surat untuk Arini yang isinya: "Rin, setiap kali aku melihatmu, jantungku rasanya mau copot. Kamu adalah satu-satunya alasan aku betah di sekolah yang penuh teror ini. Aku ingin kita selamanya bersama."
Dan yang lebih parah, surat itu tidak jatuh ke dasar kotak, melainkan tersedot ke dalam dimensi lain, langsung menuju ke dahan pohon kamboja di belakang aula.
Malam harinya, Satria terbangun karena suara tawa yang sangat melengking di atas genteng kamarnya. Bukan tawa "hihihi" biasa yang sering ia dengar dari kuntilanak junior, melainkan tawa yang penuh bunga-bunga romantis.
“Hihihi... Satria... Kau begitu manis... Hihihi...”
Satria membelalak. Ia duduk tegak di tempat tidur. Di jendela kamarnya, muncul sesosok wanita berbaju putih yang sudah sangat kusam. Rambutnya panjang sampai menyentuh lantai, tapi anehnya, di rambut itu terselip sekuntum bunga mawar merah yang masih segar.
"Mbak Kunti? Ngapain ke sini malam-malam? Mau minta sabun colek juga?" tanya Satria waspada.
Si Kuntilanak—yang ternyata bernama Suryani—tersipu malu. Ia menutupi wajahnya yang pucat dengan jemarinya yang panjang dan berkuku hitam. “Satria... Suratmu sudah aku baca. Aku tidak menyangka, setelah lima puluh tahun aku tergantung di pohon itu, ada manusia yang mau bilang aku adalah satu-satunya alasannya betah di sekolah...”
Satria membeku. Otaknya berputar cepat. Surat? Alasannya betah?
"BENTAR! Mbak dapat surat itu dari mana?!"
“Dari Kotak Merah di mading... Surat merah muda yang wangi stroberi itu... Oh, Satria... Aku juga ingin kita selamanya bersama. Nanti aku siapkan dahan kosong di sebelahku, ya? Hihihi...”
Satria hampir pingsan. Itu surat buat Arini! Salah alamat! Surat itu sekarang dianggap sebagai janji suci untuk hidup semati (literal) dengan hantu penunggu aula.
"Mbak Suryani, dengerin dulu. Itu... itu salah paham! Itu surat buat—"
“TIDAK USAH MALU!” Suryani tiba-tiba terbang masuk ke dalam kamar, membuat suhu ruangan turun drastis hingga napas Satria mengeluarkan uap. “Aku akan menjagamu dari gangguan manusia-manusia lain. Terutama gadis bernama Arini itu. Dia selalu dekat-dekat kamu, kan? Biar aku tarik kakinya besok!”
"JANGAN! Jangan ditarik! Itu... itu sepupu gue!" Satria berbohong demi menyelamatkan nyawa Arini.
Keesokan harinya, SMA Wijaya Kusuma menjadi medan tempur romantis yang aneh. Ke mana pun Satria pergi, Mbak Suryani selalu mengikuti. Ia tidak menampakkan diri pada orang lain, tapi efeknya terasa.
Saat Satria duduk di kelas bersama Arini, tiba-tiba ada angin kencang yang meniup rambut Arini hingga acak-acakan. Saat Arini ingin meminjam pulpen Satria, pulpen itu tiba-tiba melayang menjauh.
"Sat, kok pulpen kamu kayak punya kaki?" tanya Arini curiga. Ia mulai merasakan aura kecemburuan yang sangat kuat dari udara kosong di sebelah Satria.
Meneer Van De Berg muncul di belakang Arini, wajah transparannya tampak sangat serius. “Anak muda, kau dalam masalah besar. Ada hantu wanita yang sedang 'kasmaran' di sebelahmu. Dan dia punya energi yang cukup kuat untuk membuat sekolah ini banjir air mata kuntilanak.”
"Gue tahu, Meneer! Tolong bantu gue jelasin ke dia kalau ini salah alamat!" bisik Satria frustrasi.
Meneer menggeleng. “Wanita, baik yang bernapas maupun yang sudah menjadi uap, jika sudah jatuh cinta dan merasa dikhianati, pedang saya pun tidak akan sanggup menahannya. Kau harus menyelesaikan ini dengan cara... diplomasi cinta.”
Satria tahu ia harus bertindak sebelum Arini benar-benar celaka. Ia mengajak Arini (dan tanpa sadar, Mbak Suryani yang melayang di belakangnya) ke taman belakang saat jam istirahat.
"Rin, gue harus jujur. Gue melakukan kesalahan besar kemarin," ujar Satria sambil berkeringat dingin.
"Soal surat yang salah masuk kotak itu?" tanya Arini tenang.
Satria melongo. "Lo... lo tahu?"
"Ucok yang kasih tahu. Dia bilang kamu nulis surat cinta buat aku tapi malah dikirim ke portal ghaib. Dan sekarang Mbak Suryani lagi nungguin kamu di atas pohon buat fitting kain kafan pasangan," Arini tertawa kecil, meskipun ada nada cemas di suaranya.
"Terus gimana dong, Rin? Dia mau narik kaki lo!"
Arini tersenyum, lalu ia merogoh tasnya. Ia mengeluarkan sebuah cermin antik kecil dan sebuah lipstik merah menyala. "Sat, hantu perempuan itu tetap perempuan. Mereka nggak butuh janji setia yang palsu. Mereka cuma butuh merasa cantik dan dihargai."
Arini kemudian melihat ke arah dahan pohon kamboja yang bergoyang sendiri. "Mbak Suryani! Saya tahu Mbak ada di situ! Keluar dong, jangan ngumpet terus. Katanya mau saingan sama saya?"
Perlahan, sosok Suryani muncul. Ia menatap Arini dengan kebencian murni. “Kau... manusia kecil... Satria milikku!”
"Milik Mbak? Mbak sudah lihat cermin belum?" Arini menyodorkan cermin antiknya. "Wajah Mbak itu cantik, tapi kurang perawatan. Satria itu nulis surat buat Mbak karena dia kasihan melihat Mbak sendirian. Dia mau Mbak itu glow up, bukan jadi pembunuh."
Suryani tertegun melihat bayangannya di cermin. Ia menyentuh pipinya yang pucat. “Cantik...?”
"Iya! Ini, saya kasih lipstik dan bedak tabur kualitas premium. Kalau Mbak pakai ini, hantu penjaga gudang sebelah pasti bakal naksir. Kenapa harus nungguin Satria yang masih sekolah dan bau matahari, kalau ada hantu veteran yang lebih mapan di gedung sebelah?"
Arini mulai melakukan "makeover" ghaib. Ia memoleskan lipstik ke udara, namun energinya terserap ke bibir ghaib Suryani. Ia menyisir rambut Suryani dengan sisir yang sudah diolesi minyak wangi melati.
Suryani yang tadinya beringas, kini malah asyik bercermin. “Wah... aku tidak pucat lagi... Hihihi... Aku jadi seperti bintang film horor tahun 70-an... Hihihi...”
"Jadi, Mbak Suryani... surat itu sebenarnya surat buat minta saran kecantikan. Satria itu pengagum rahasia gaya rambut Mbak," tambah Arini sambil melirik Satria, memberi kode agar ia ikut berbohong.
"I-iya! Betul Mbak! Rambut Mbak itu iconic banget di sekolah ini!" sahut Satria cepat.
Suryani akhirnya luluh. Ia mencium bau lipstiknya yang wangi dan merasa sangat percaya diri. “Baiklah... Satria. Karena kau sudah membuatku cantik, aku maafkan salah alamat ini. Lagipula, hantu penjaga gudang memang kemarin-kemarin sempat berkedip padaku... Hihihi... Aku pergi dulu!”
Dengan sekali lompatan ghaib, Suryani menghilang menuju gedung sebelah, meninggalkan aroma melati yang kini lebih terasa seperti bau salon daripada bau kuburan.
Satria merosot duduk di rumput, napasnya lega. "Rin... lo jenius. Benar-benar jenius."
Arini melipat tangannya di dada. "Lain kali, kalau mau kirim surat, baca dulu label kotaknya, Satria Semprul. Kalau tadi aku nggak bawa lipstik, mungkin sekarang aku sudah ada di dimensi lain lagi main petak umpet sama Mbak Kunti."
Satria berdiri, menatap Arini dengan rasa bersalah sekaligus kagum. "Maafin gue, Rin. Gue beneran nulis surat itu buat lo. Gue... gue beneran sayang sama lo."
Suasana mendadak hening. Arini terdiam, pipinya sedikit memerah. Meneer Van De Berg yang menonton dari jauh hanya bisa berdeham ghaib.
"Mana suratnya yang asli? Yang buat aku?" tanya Arini pelan.
Satria merogoh saku satunya lagi. Ia mengeluarkan amplop merah muda yang kini sudah agak lecek. "Ini. Tapi jangan dibaca sekarang. Malu."
Arini mengambil surat itu dan menyimpannya baik-baik. "Aku baca di rumah. Dan Sat... lain kali kalau mau kita 'selamanya bersama', nggak perlu pakai perantara kotak ghaib. Ngomong langsung aja."
Arini berjalan pergi sambil tersenyum manis. Satria berdiri di sana, merasa seperti juara dunia, meskipun baru saja hampir bertunangan dengan kuntilanak.
Dari atas mading, Ucok si tuyul berteriak, "SAT! LIPSTIK ARINI HARGANYA SERATUS RIBU! JANGAN LUPA GANTI PAKAI KOIN EMAS!”
"Berisik, Cok!" teriak Satria bahagia.
Hari itu Satria belajar: di SMA Wijaya Kusuma, surat cinta bisa menjadi bencana, tapi keberanian untuk jujur (dan sedikit alat kosmetik) adalah kunci untuk bertahan hidup dari patah hati—baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.