NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Di Bawah Bayang-Bayang Kumuh

Lampu-lampu sorot dari helikopter kepolisian menyapu aspal jalanan Jakarta yang basah oleh hujan, seolah-olah jari-jari cahaya raksasa sedang berburu serangga di tengah malam. Di dalam mobil SUV yang melaju kencang, Arkan Xavier menatap dokumen yang baru saja ia curi dari brankas Perpustakaan Nasional. Nama Menteri Hukum dan HAM tercetak jelas di sana, lengkap dengan nomor rekening luar negeri yang selama ini menjadi rahasia gelap negara.

"Mereka sudah memblokir semua jalan utama, Arkan!" teriak Leo sambil memutar kemudi dengan tajam, menghindari barikade polisi di perempatan Kuningan. "Berita di radio baru saja menyiarkan bahwa kau dan Aisyah dituduh melakukan spionase dan pencurian dokumen rahasia negara. Kalian adalah buronan nomor satu sekarang."

Arkan menatap Aisyah yang sedang mendekap tas medisnya erat-erat. Wajah istrinya pucat, namun matanya memancarkan keteguhan yang membuat Arkan merasa tidak sendirian di tengah badai ini.

"Kita tidak bisa kembali ke panti, Leo. Itu tempat pertama yang mereka geledah," Arkan memerintah dengan suara rendah namun otoritasnya kembali seperti saat ia memimpin klan Xavier. "Bawa kita ke Kampung Ambon. Ke wilayah 'Garis Hitam'. Polisi tidak akan berani masuk ke sana tanpa persiapan matang, dan aku masih punya satu hutang nyawa di sana."

Mobil itu melesat menuju pemukiman kumuh di pinggiran Jakarta, di mana gang-gang sempit dan rumah-rumah kardus menjadi benteng alami bagi mereka yang dibuang oleh sistem.

Mereka tiba di sebuah gubuk kayu yang tertutup seng berkarat. Seorang pria tua bermata satu bernama Soleh menyambut mereka. Ia adalah informan kunci yang dulu menyelamatkan Arkan dari kerusuhan penjara. Namun, Soleh tidak dalam kondisi baik; bahunya hancur terkena tembakan saat mencoba menahan unit 'The Ghost' yang mengejar mereka tadi.

"Dokter... aku tidak kuat lagi..." rintih Soleh, terbaring di atas meja makan kayu yang reyot.

Aisyah segera memeriksa luka itu. "Arkan, proyektilnya pecah di dalam. Jika tidak dikeluarkan sekarang, serpihannya akan masuk ke paru-paru. Tapi kita tidak punya anestesi, tidak ada monitor jantung, bahkan tidak ada lampu operasi yang layak."

Arkan menatap Soleh, lalu menatap Aisyah. "Lakukan, Aisyah. Aku akan menjadi asistenmu. Gunakan teknik 'Jahitan Buta' yang kau pelajari di medan trauma. Aku akan menahan tubuhnya."

Di bawah cahaya lampu senter yang dipegang Leo, Aisyah mulai membedah bahu Soleh. Tanpa bius, Soleh mengerang hebat, tubuhnya mengejang. Arkan menekan bahu dan kaki Soleh dengan kekuatan penuh, matanya terkunci pada mata Soleh, memberikan kekuatan melalui tatapan yang tidak goyah.

"Fokus, Aisyah. Kau bisa," bisik Arkan saat melihat tangan istrinya sedikit bergetar karena suara rintihan Soleh.

Dengan presisi seorang maestro, Aisyah menggunakan klem berkarat yang sudah disterilkan dengan api untuk menarik serpihan peluru satu per satu. Darah membanjiri meja kayu itu, menetes ke lantai tanah. Setelah satu jam yang terasa seperti keabadian, serpihan terakhir berhasil dikeluarkan.

Sementara Soleh mulai stabil, Arkan membuka laptop yang diberikan Leo. Ia memasukkan data dari brankas tadi. Ternyata, Julian Baskara bukan hanya ingin menguasai pasar obat, ia sedang mengerjakan Proyek Chimera—sebuah stimulan militer yang bisa menghilangkan rasa takut dan empati manusia.

"Julian membutuhkan namaku sebagai penjamin di dunia bawah tanah untuk mendistribusikan ini," Arkan menjelaskan pada Aisyah. "Itulah kenapa mereka memberiku gelar 'Warga Binaan Teladan'.

Mereka ingin aku terlihat bersih agar bisa menjadi duta bagi korporasi mereka yang baru."

Tiba-tiba, ponsel satelit Leo berdering. Sebuah pesan video masuk. Gambar menunjukkan Julian Baskara sedang berdiri di depan Panti Asuhan Kasih Bunda yang sudah dipasangi garis polisi.

"Arkan, kau mencuri sesuatu yang bukan milikmu. Kembalikan dokumen itu ke dermaga Sunda Kelapa dalam dua belas jam, atau aku akan memastikan gelar 'teladan'-mu berubah menjadi 'martir' bagi anak-anak yatim ini. Panti ini sudah aku pasangi peledak cair yang tidak bisa dideteksi anjing pelacak."

Arkan meremas ponsel itu hingga layarnya retak.

Siasat di Tengah Kehancuran

"Kita tidak bisa menyerah, Arkan," bisik Aisyah, menyentuh lengan Arkan yang penuh jelaga. "Jika kita menyerahkan dokumen itu, mereka akan membunuh kita dan tetap meledakkan panti untuk menghilangkan jejak."

Arkan menatap mawar kecil yang terselip di saku jaket Aisyah—satu-satunya sisa dari taman mereka. "Aku tidak akan menyerah. Tapi aku akan bermain dengan cara mereka."

Arkan menoleh pada Bimo yang sejak tadi diam di sudut gubuk. "Bimo, kau bilang kau ingin keadilan untuk ayahmu. Sekarang waktunya. Kau punya akses ke jaringan radio kepolisian melalui kode lama ayahmu?"

Bimo mengangguk. "Aku masih ingat kode enkripsinya."

"Bagus. Sebarkan rekaman suara menteri yang ada di dokumen ini ke seluruh frekuensi publik, bukan ke polisi. Biarkan rakyat yang menjadi hakimnya pagi ini. Sementara itu, aku dan Aisyah akan menuju panti. Kita tidak akan ke dermaga."

"Tapi panti itu dijaga ketat, Arkan!" seru Leo.

"Mereka mengira aku akan lari menyelamatkan diri. Mereka lupa bahwa serigala akan selalu kembali ke sarangnya saat anak-anaknya terancam," Arkan berdiri, mengenakan kembali jaket taktisnya. "Aisyah, kau siap melakukan operasi paling berbahaya dalam hidupmu? Bukan operasi bedah, tapi operasi penjinakan bom?"

Aisyah tersenyum tipis, sebuah keberanian yang tenang. "Aku sudah belajar anatomi bom sejak aku menikah denganmu, Arkan."

Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, Arkan dan Aisyah bergerak melalui gorong-gorong bawah tanah yang menuju langsung ke bagian belakang panti. Di atas sana, dunia sedang heboh dengan bocornya rekaman korupsi sang Menteri.

Julian Baskara yang panik memerintahkan 'The Ghost' untuk segera mengaktifkan peledak.

Namun, saat jarinya hendak menekan tombol aktivasi di tabletnya, ia menyadari sesuatu yang aneh. Sinyal panti telah di-jamming dari dalam.

Arkan Xavier muncul dari balik bayang-bayang gereja panti, memegang botol obat B-Pharm yang kini berisi cairan penetral peledak yang diracik Aisyah.

"Selamat pagi, Julian," suara Arkan menggema di halaman panti yang sunyi. "Gelar teladanku mungkin sudah dicabut, tapi aku baru saja mendapatkan gelar baru: mimpi burukmu."

Julian tertawa liar, memberi isyarat pada pasukannya untuk menembak. Namun, sebelum peluru dilepaskan, Bimo muncul dengan bantuan sekelompok polisi jujur yang membelot setelah mendengar rekaman suap tersebut.

Pertempuran terakhir pecah di antara barisan bunga mawar yang hangus. Arkan bertarung dengan amarah seorang pria yang rumahnya diusik, sementara Aisyah dengan tenang memotong kabel pemicu terakhir di bawah gedung asrama, menyelamatkan nyawa yang paling berharga baginya.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!