NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33.

Langkah dan Lia terhenti hampir bersamaan. Belum sempat tangan Zee menyentuh gagang pintu rumah itu, sebuah firasat halus yang membuatnya menoleh.

"Ada memperhatikan kita," ucapnya lirih.

Lia langsung siaga, pandangannya menyapu sekitar dengan cepat. Lalu berhenti pada satu titik.

Di sana... di atas sebuah batu besar, berdiri seorang remaja perempuan. Tubuhnya kurus, sedikit membungkuk, seolah siap melarikan diri kapan saja.

Di punggungnya tergantung keranjang anyaman sederhana. Wajahnya tertutup selembar kain, hanya menyisakan sepasang mata yang terlihat dari kejauhan.

Dan mata itu... sedang menatap mereka dengan bingung.

Lia sedikit bergeser, berdiri setengah di depan Zee secara refleks. "Dia yang memperhatikan kita sejak tadi, Nona." bisiknya pelan.

Zee tidak langsung menjawab. Matanya menatap sosok itu dengan tajam, mencoba membaca situasi.

Mulai dari pakaiannya jelas berbeda. Kain kasar, warna yang mulai pudar, dan cara dia berdiri... bukan seperti orang di tempatnya. Bahkan seperti orang yang terbiasa dengan hal-hal di dunia asalnya.

"Penduduk lokal di tempat ini?" gumam Zee pelan.

Namun ada satu hal yang membuatnya ragu. Tatapan gadis itu, bukan sekedar penasaran. Ada ketakutan, dan kewaspadaan yang dalam.

Sementara itu, disisi Sofia merasa jantungnya hampir copot dari dadanya.

Mereka melihatnya. Dua perempuan asing itu, berhenti di depan rumah itu dan kini sedang menatap lurus ke arahnya.

Sofia refleks mundur sedikit, namun kakinya terhenti di tepi batu. Tangannya menggenggam keranjangnya semakin erat.

"Bagaimana ini..." bisiknya gemetar.

Dia ingin lari, tapi tubuhnya terasa berat. Dan entah kenapa... kakinya juga tidak mau bergerak.

Salah satu dari mereka, yang tampak lebih mudah melangkah sedikit ke depan.

Gerakannya tenang, dan tidak terburu-buru. Namun justru itu yang membuat Sofia semakin tegang.

Zee mengangkat satu tangannya perlahan. Bukan untuk menyerang, melainkan sebagai tanda.

"Tenang, jangan takut, kami bukan orang jahat, dan juga tidak bermaksud buruk," ucapnya dengan suara yang cukup keras untuk terdengar, namun tetap lembut.

Lia menoleh sekilas ke arah Zee, sedikit terkejut. Biasanya Zee lebih berhati-hati dalam membuka sebuah interaksi dengan orang baru.

Namun kali ini... Situasinya berbeda. Mereka berada di dunia yang asing. Dan gadis itu juga mungkin adalah satu-satunya petunjuk.

Sofia terdiam, kata-kata itu sampai ke telinganya dengan jelas. Tidak bermaksud buruk, tapi apakah bisa di percaya?

Matanya mengamati mereka dengan lebih teliti. pakaian mereka bersih dan berbeda. Barang-barang yang mereka bawa juga terlihat aneh dan asing.

Bukan seperti milik warga desa, maupun warga di ibu kota, tempat asalnya dulu.

Sofia tanpa sadar menelan ludah. "Kalau pun mereka orang jahat, Aku sudah tidak punya jalan kabur. Apalagi aku berada jauh dari rumah." batinnya.

Namun... tidak ada senjata yang mereka arahan, tidak ada gerakan agresif. Yang ada hanya tatapan, dan suara yang terdengar lembut dan tulus.

Zee melihat Sofia yang sedang melamun dan sedikit takut pun, mulai menurunkan tangannya perlahan.

"Dia takut," ucapnya pelan pada Lia.

Lia mengangguk. "Wajar, Nona. Kita yang tiba-tiba muncul di sini... dan rumah ini juga."

Zee terdiam sejenak. Lalu, tanpa mengalihkan pandangannya dari Sofia, Dia berkata. "Aku akan mencoba mendekat sedikit ke arah Dia, Kamu jangan sampai lengah, perhatian di sekeliling kita juga."

"Baik, Nona."

Langkah Zee perlahan maju. Satu langkah, dua langkah. Setiap pijakan dibuat ringan, dan tidak mengancam.

Sofia yang sudah sadar dari lamunannya, langsung mendadak tegang.

Tubuhnya refleks mundur lagi, hampir kehilangan keseimbangan di atas batu.

"Jangan... mendekat." ucapnya pelan, suaranya bergetar.

Itu pertama kalinya dia berbicara. Suara itu terdengar lemah, namun jelas.

Zee langsung berhenti. Dia tidak melangkah lagi. "Oke, Aku berhenti. Aku tidak akan mendekat kalau kamu tidak mau."

Hening...

Angin berhembus pelan di antara mereka. Daun-daun bergesekan, menciptakan suara lirih yang mengisi keheningan.

Sedangkan di belakang Zee, Lia memperhatikan situasi, dan mereka berdua dengan serius.

Matanya tidak hanya tertuju pada Sofia, namun juga pada sekeliling hutan. Dan fokusnya tetap pada keselamatan Zee.

Sofia menggigit bibirnya pelan di balik kain penutup wajahnya. Dia melihat Zee benar-benar berhenti, tidak memaksa, dan tidak mendekat lagi.

Perlahan... ketegangan di dadanya sedikit berkurang. Namun rasa takut itu masih ada.

Dia sangat ragu, tapi di saat yang sama... rasa penasaran itu kembali muncul.

Siapa mereka?

Dan kenapa mereka bisa muncul bersama rumah aneh itu?

Zee menarik napas pelan. Lalu, dengan suara yang lebih lembut, Dia beratnya. "Kamu tinggal di sekitar sini?"

Percakapan sederhana, cukup untuk membuka percakapan mereka.

Sofia terdiam beberapa detik. Matanya menatap Zee, lalu Lia, dan ke arah rumah mereka.

Akhirnya, dengan ragu-ragu dia mengangguk kecil. "Iya, Kak."

Jawaban singkat, namun itu sudah cukup. Zee dan Lia langsung saling bertukar pandang.

Sebuah awal pertemuan pertama di dunia atau tempat asing, yang belum mereka pahami.

Padahal bisa saja mereka menanyakan informasi tempat ini di AetherShop.

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Yuliana Tunru
lah kok zee milih di t4 baru ya ..
Ida Kurniasari
thorr lama bgt updatenya😍 makin penasaran
SyahLaaila: maaf ya kak🙏☺️
total 1 replies
RaMna Hanyonggun Isj
Lanjutannya mana
rasyaaa
mana lanjutannya tor
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
rasyaaa
lanjut tor👍👍👍💪💪💪
Ida Kurniasari
Doble up dong thor
rasyaaa
lanjut tor semangat 💪💪
Ida Kurniasari
lanjut thorr😍 suka sekali bikin penasaran
Narina
lanjut thor semakin penasaran 💪😍😍
arniya
kak kmn aja br update??!
SyahLaaila: maaf ya kak, jaringan internet disini ada ganguan kak🙏
total 1 replies
Ida Kurniasari
Doble up Dong thor
SyahLaaila: iya kak
total 1 replies
rasyaaa
lanjutannya mana Thor jangan lama dong
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
Wahyuningsih
q hadir thor
SyahLaaila: terima kasih kak
total 1 replies
Ida Kurniasari
lanjut thorr😍
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
arniya
penasaran..... update yang sering kak
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Chen Nadari
seandainya ada di dunia nyata ..jadi halu Thorr🤣
SyahLaaila: hehehe🤭
total 1 replies
Ida Kurniasari
Doble up thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!