NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:561
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Drama Kamar Kos Nomor 302

Pukul tiga sore, Ekantika tiba di Kos Pelangi Tebet. Ia mengenakan hoodie untuk menutupi wajahnya, takut ada yang mengenalinya. Dimas sudah menunggunya di depan gang.

"Bu, Ibu harus masuk duluan. Ini kunci cadangan," Dimas memberikan sebatang kunci besi. "Saya akan nunggu di mobil di ujung gang. Kalau ada apa-apa, Ibu langsung telepon saya."

Ekantika mengangguk. Ia berjalan masuk ke dalam gang sempit, jantungnya berdebar-debar. Kos-kosan itu terlihat sederhana, dengan beberapa pot tanaman di teras dan jemuran pakaian. Ia menemukan kamar nomor 302, yang Dimas sebutkan.

Ia membuka pintu perlahan. Di dalamnya, sebuah kamar kecil yang kini sudah rapi. Ada kasur single dengan seprai polos, meja belajar sederhana dengan laptop dan beberapa alat desain. Rak dinding berisi beberapa buku dan tanaman hias mungil. Ada poster band pop-punk favoritnya di dinding, yang Dimas pasti pasang semalam.

Dimas memang ajaib.

Ekantika menarik napas lega. Setidaknya, secara visual, ini meyakinkan. Ia menata rambutnya, mencoba terlihat rileks.

Tepat pukul empat sore, Riton tiba. Ia datang dengan motornya, mengenakan jaket denim dan t-shirt putih. Penampilannya santai, namun matanya tetap tajam, penuh pertanyaan.

"Na," Riton memanggil, melangkah mendekat. Ia melihat sekeliling kamar kos. "Wah, akhirnya aku bisa lihat kos-kosan kamu juga." Ada senyum tipis di bibirnya, namun Ekantika merasakan ada sesuatu yang belum tulus dari senyum itu.

"Iya, Ton. Maaf ya, berantakan," Ekantika berakting, menunduk malu-malu. "Anak kosan, gini deh."

Riton tertawa kecil. "Enggak kok. Malah cozy. Ini beneran kamu banget, Na." Matanya menyapu setiap sudut ruangan, seolah mencari sesuatu.

Mereka duduk di karpet lantai, mengobrol tentang banyak hal. Riton menceritakan tentang harinya, tentang sepupunya Toni yang masih bingung dengan "prank" ini, dan tentang pekerjaannya. Ekantika berusaha keras untuk tidak memberikan informasi yang salah, hanya mengangguk dan merespons dengan empati.

"Na," Riton tiba-tiba berkata, menyipitkan matanya. "Aku dengar... ada suara dari kamar sebelah. Kamu bilang lagi renovasi, tapi kayaknya itu suara orang mandi?"

Ekantika merasakan darahnya mengering. Suara orang mandi? Mati! Dimas bilang kamar sebelahnya berisik, tapi ia tidak bilang ada orang mandi!

Deg! Deg! Deg!

Suara gemercik air yang khas, disusul dengan suara nyanyian kecil yang samar-samar, terdengar jelas dari dinding sebelah. Ini adalah suara penghuni asli yang kembali dan sedang mandi! Kos-kosan ini masih dihuni!

Wajah Ekantika memucat. Ia menatap Riton, yang kini menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Senyumnya menghilang.

"Katanya kamu tinggal sendiri, Na?"

Suara Riton pelan, nyaris berbisik, namun menembus topeng tipis Nana hingga ke ulu hati Ekantika. Tatapannya kini bukan lagi marah, melainkan penuh kekecewaan, seolah melihat sebuah retakan di lukisan indah yang ia kagumi. Suara gemercik air dan nyanyian samar dari kamar sebelah semakin memperjelas situasi. Sial! Dimas! Bagaimana ini bisa terjadi? Otak Ekantika berputar, mencari alasan paling konyol sekalipun yang bisa menyelamatkan dirinya dari kehancuran ini.

Ia melihat sekeliling kamar kos. Poster pop-punk di dinding, alat desain yang berantakan di meja, seprai polos di kasur. Semua itu kini terasa seperti panggung sandiwara yang siap hancur. Wajahnya memucat, namun ia tahu ia tidak boleh terlihat panik. Ini adalah saatnya untuk akting terbaiknya, mengandalkan naluri bertahan hidup seorang CEO.

"Oh, itu!" Ekantika berseru, memaksakan tawa kecil yang terdengar sumbang. "Kamu ini, Ton, kepo banget! Itu... itu radio usangku! Aku suka dengerin siaran lawas biar ada temen waktu desain. Sinyalnya kadang nyampur sama suara-suara aneh dari channel lain." Ia menunjuk ke arah sudut kamar, seolah ada radio tua di sana, lalu berpura-pura mengusap matanya. "Hadeh, maaf ya, kalau bikin kamu kaget. Anak rantau, gini deh. Sendirian jauh dari keluarga, jadi suka nyari hiburan aneh-aneh." Ia mengembuskan napas, membiarkan bahunya sedikit merosot, menciptakan ilusi kelelahan dan kesendirian.

Riton menatapnya, ekspresi skeptisnya sedikit melunak. Ia mengerjapkan mata, mencoba mencerna. "Radio? Kamu dengerin radio kayak gitu, Na? Aku kira kamu dengerin podcast atau playlist Spotify anak muda." Ada jejak kebingungan di suaranya, namun juga sedikit rasa iba.

"Ya namanya juga mau hemat kuota, Ton," Ekantika membalas, aktingnya semakin meyakinkan. Ia menundukkan kepala sedikit, menyembunyikan rasa jijik pada dirinya sendiri. Aku sedang memanipulasi hatimu, Riton. Aku sampah. "Lagian, aku suka dengerin cerita-cerita orang di radio. Kadang bikin aku nggak merasa sendiri banget di kosan yang mungil ini." Ia menunjuk ke sekeliling, membuat gesture seolah kamar kos ini adalah satu-satunya harta berharganya.

Riton mengamati ekspresi Ekantika, mencari kebohongan. Namun, yang ia lihat hanyalah seorang wanita muda yang tampak sedikit rapuh, dengan tatapan mata yang sedikit sendu. Trauma masa lalunya tentang wanita manipulatif seolah terbentur pada aura kesendirian yang Ekantika pancarkan. Kerutan di kening Riton mengendur. Ia menghela napas, lalu tersenyum kecil.

"Maaf ya, Na. Aku... aku nggak bermaksud bikin kamu sedih," Riton berkata, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. Ia mengulurkan tangan, mengusap punggung tangan Ekantika. Sentuhan itu hangat, menenangkan, sekaligus menyengat. Hati Ekantika mencelos. Ini dia. Aku berhasil memanipulasinya lagi.

"Nggak apa-apa, Ton," Ekantika berbisik, berusaha keras agar suaranya tidak bergetar. Ia menatap Riton, matanya berkaca-kaca, namun bukan karena akting semata. Rasa bersalah itu sungguh nyata. "Aku cuma... kadang kangen rumah. Kangen masakan Ibu. Tapi ya gimana, aku harus mandiri di Jakarta ini."

Riton menggenggam tangan Ekantika. "Na, aku ngerti. Aku juga dulu pernah ngerasain sendirian di kota besar. Tapi kamu nggak sendiri kok. Ada aku." Tatapannya penuh ketulusan, penuh janji. "Aku... aku janak banget sama kamu. Kamu udah berjuang keras sampai bisa kayak sekarang. Jadi freelance designer yang kreatif itu nggak gampang. Kalau kamu butuh apa-apa, butuh bantuan, bilang aja ya. Jangan sungkan."

Bantuan? Kamu bahkan tidak tahu seberapa besar aku membutuhkan bantuan, Riton. Bukan untuk karier Nana, tapi untuk jiwaku sendiri.Ekantika menelan ludah, dadanya sesak. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Kebohongannya kini telah membuahkan simpati, dan simpati itu terasa seperti racun.

"Aku janja banget sama kamu, Na. Aku akan bantu kamu meraih semua mimpimu," Riton melanjutkan, tatapannya membara. "Mungkin aku bisa bantu kamu cari project yang lebih besar, atau modal untuk startup kecil-kecilan. Kamu punya potensi, Na."

Ekantika hanya bisa mengangguk, lidahnya kelu. Setiap kata Riton, setiap janji tulus itu, bagai pasir yang semakin menimbun dirinya di bawah gunung kebohongan. Ini sudah terlalu jauh. Ini harus diakhiri. Namun, keinginan egois untuk terus merasakan kehangatan perhatian Riton masih kuat mencengkeramnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!