Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Di luar, Rey bertemu dengan Darrius bersama Oma. Mereka menyusup lantas memeluk Rey dengan erat. Derai air mata tak tertahankan lagi. Batinnya menjerit kesakitan.
“Sabar, Nak!! Sabar!”
“Papi!! Dimana Mami!!”
“Kristal tidak bersalah, Bu!! Bukan dia pembunuhnya!!”
Pelukan Darrius dan Oma tak mampu meredam gejolak amarah yang semakin besar. Rey berlari ke arah pintu tetapi terhenti oleh Oma yang menghadangnya. Rey terus menghujat, berteriak keras, sampai semua orang disekitar pelataran turut memperhatikannya.
“Isteri saya tidak bersalah!!! Kristal tidak bersalah!!!”
Pintu sidang terbuka oleh petugas keamanan, sidang berhenti sejenak. Nampak pengacara Febri melangkah keluar. Tanpa pikir panjang, Rey berlari mendatanginya, merenggut paksa kerah kemeja pengacara Febri. Mencengkram kuat, mengangkat hingga mengambang di udara, dan serta merta sebuah tinju menghujam mengenai pelipis membuatnya jatuh tersungkur. Oma dan Darrius buru-buru melerai pertengkaran sengit itu. Begitu pun halnya dengan Opa yang berusaha memisahkan keduanya.
“Kenapa kamu tidak izinkan saya mengatakan siapa pembunuhnya!!! Kenapa kamu lakukan itu, Feb!!!!”
Sambil mengusap rasa sakit akibat pukulan telak itu, pengacara Febri menghardik dengan perkataannya, “Sudah cukup sabar saya melihat kelakuan kamu yang tidak mau memakai akal sehat!! Seharusnya kamu sadar, apa yang sudah kamu perbuat itu akan membuat kamu ikut dipenjara!!! Apa itu yang kamu mau? Tetapi cukup Rey!! Sudah cukup sampai disini bantuan dari saya!!”
“Nak Febri! Maafkan sikap anak saya!! Ibu mohon kamu jangan pergi! Kami sangat membutuhkan bantuanmu, Nak!!”
“Biarkan dia pergi, Bu!! Tidak ada gunanya lagi dia bersama kita!!!”
“Diam kamu!” bentak Opa dari arah belakang, “Berani-beraninya kamu berbuat seperti itu, setelah semua bantuan yang diberikan Febri!! Apa kamu sudah tidak punya harga diri lagi!!” tandas Opa terbawa amarah yang kian memuncak.
“Om, jangan pergi yah!! Maafin Papi Darrius!!”
Oma, Darrius serta Opa merangkul pengacara Febri agar menjauh dari Rey yang tampak larut dalam emosi. Mereka mengambil tempat disalah satu sudut disekitar ruang sidang.
“Nak Febri.. Opa minta kamu tidak memasukkan ke dalam hati! Rey sangat terpukul atas kejadian ini,”
“Tidak apa-apa Oma, Opa. Febri tidak akan melepas tanggung jawab sampai adanya final keputusan dari persidangan,” katanya, sambil menahan rasa sakit pada pelipisnya.
“Oma dan Opa akan pasrah menerima keputusan final dari persidangan nanti. Apapun hasilnya kami yakin itu semua adalah takdir yang harus kita terima. Dan kita tidak bisa mengelaknya.”
“Kalau pun pada akhirnya nanti kita kalah, masih ada kesempatan untuk kita ajukan banding di pengadilan tinggi. Jadi Febri tidak akan begitu saja melepaskan tanggungjawab.”
“Kami tahu, Nak Febri adalah orang baik. Kami sangat berterimakasih sekali untuk semua yang sudah Febri lakukan!”
“Sudahlah Oma, jangan terlalu dibesar-besarkan. Nah itu, pintu sidang sudah dibuka lagi,” Febri meraih tangan Oma-Opa dan menatap lurus ke Darrius, “Apapun hasilnya nanti, kita harus bisa terima keputusan itu?! Darrius, sekarang kamu ajak Papi. Tanyakan, apa dia mau masuk ke ruang sidang atau gak? Tetapi kalau kamu melihat Papi masih terbawa emosi, lebih baik tidak usah kamu tanyakan,”
“Iyah, Om. Darrius coba ke Papi dulu,” Darrius bergegas ketempat Rey berada. Begitu pula dengan pengacara Febri, Opa dan Oma yang beriringan masuk ke dalam ruang sidang.
Sidang kembali dilanjutkan..
Hakim ketua mengetuk palu di atas meja, tanda sidang di mulai kembali. Semua orang yang ada diruangan mengisi tempatnya semula, termasuk Oma dan Opa. Tetapi tidak dengan Darrius yang tetap berada diluar menemani Rey yang tak mampu mengusir kesedihannya. Sesaat setelah keadaan berlangsung tertib, hakim ketua lekas menyampaikan hasil keputusan sidang. Semua yang ada di ruangan itu menyimak dengan penuh perhatian. Hakim menguraikan satu-persatu isi pada putusan akhir sidang, pengacara Febri nampak mencari keberadaan Rey. Oma berikan isyarat yang menunjuk ke arah luar ruang sidang.
“Mengadili”
Menyatakan Terdakwa Kristalia Calysta Binti Reyhan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, akan tetapi tidak dapat dijatuhi hukuman pidana karena didasarkan pada daya akalnya (zijner verstandelijke vermogens) cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit. Sebagaimana tertuang pada pasal 44 KUH Pidana...
Pernyataan dari mejelis hakim membuat Pengacara Febri sujud syukur atas keputusan yang dibacakan oleh ketua Hakim. Ditempat lain, Oma dan Opa saling berpelukan di tempat duduknya, bangkit, lalu bergegas mendatangi Rey yang berada di luar.
“Bebas Rey!!”
“Kalau Opa hanya ingin menghilangkan kesedihan Rey, cara itu tidak akan berhasil! Siapa yang bebas!”Opa memeluk Rey, dan juga Darrius. Rey terperanjat saat di peluk, “Maksud Opa.. Kristal bebas?!”
“Yah.. Isteri kamu dibebaskan!! Dia tidak ditahan, Rey!!”
“Kkk-ristal bebas! Yeaaaahhhhhh!!!” Rey berteriak lantang sebagai ungkapan bahagia yang teramat besar. Darrius pun tak kalah bahagia. Dia makin erat memeluk Opa dan Oma.