Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Kedatangan orang tua Arka ternyata bukan hanya sekadar berkunjung singkat. Nyonya Soraya memutuskan untuk menetap cukup lama di rumah itu dengan alasan ingin memantau langsung persiapan kelahiran cucu pertamanya.
Namun, sebenarnya wanita itu punya misi tersembunyi yaitu ingin terus mengawasi dan menekan Aluna agar gadis itu sadar diri dan tidak berlebihan.
Suasana di rumah besar itu pun berubah kembali menjadi mencekam dan tegang. Setiap kali Aluna muncul di ruang tengah atau ruang makan, tatapan tajam dan sinis dari sang ibu mertua selalu siap menyambutnya. Nyonya Soraya seolah tidak pernah puas mencari kesalahan atau kekurangan pada diri Aluna.
Pagi itu saat sarapan bersama, suasana kembali menjadi tidak nyaman. Aluna mencoba mengambil potongan buah mangga yang ada di meja untuk dimakan. Tiba tiba suara sendok ditekan keras ke piring membuat semua orang terkejut.
"Jangan terlalu banyak makan mangga manis begitu!" cetus Nyonya Soraya ketus.
Aluna langsung menarik tangannya kembali dengan gemetar. Wajahnya pucat dan takut. "Ma... maaf Tante. Aluna hanya mengambil sedikit saja."
"Sedikit pun tidak boleh kalau tidak baik!" Wanita itu mendengus lalu menatap Arka.
"Lihat itu Arka. Kau terlalu memanjakannya. Membiarkan dia makan sembarangan begitu. Apa kau tidak peduli dengan kualitas genetik anakmu?" ucap Nyonya Soraya.
"Aluna makan apa saja yang diperbolehkan oleh dokter Bu. Dan dokter bilang buah itu sehat asalkan tidak berlebihan. Jadi biarkan dia makan apa yang dia butuhkan," jawab Arka tenang namun tegas sambil menuangkan air putih ke gelas Aluna.
"Halah dasar anak laki laki kalau sudah urusan wanita dan anak jadi lemah otaknya," cibir Nyonya Soraya tidak terima. "Ibu yang lebih tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Gadis ini kan asalnya dari desa dan miskin, pasti pola makannya dulu juga tidak terjaga."
Aluna menunduk dalam memainkan ujung bajunya. Hatinya terasa perih sekali setiap kali mendengar kalimat yang merendahkan status ekonominya itu. Ia merasa sangat kecil dan tidak berharga di hadapan keluarga elit ini.
Setelah sarapan selesai, Aluna berjalan pelan menuju taman belakang untuk mencari udara segar dan menenangkan pikiran yang sedang kacau. Ia duduk di bangku kayu sambil memeluk perutnya erat erat, berbicara pelan pada bayi di dalam sana.
"Nak... maafkan Ibu ya... Ibu membuatmu ikut mendengar kata kata jahat dari Nenek..." bisik Aluna sedih.
"Ibu janji akan berusaha menjadi lebih baik dan lebih berkelas agar Nenek tidak membenci kita lagi," lanjut Aluna.
Tidak lama kemudian, Nyonya Soraya muncul di sana diikuti oleh dua asisten pribadinya. Wanita itu berjalan mendekat dengan wajah yang tidak ramah.
"Kamu lagi ngapain di sini sendirian? Berkhayal jadi nyonya besar ya?" tanya wanita itu sinis.
"Ti... tidak Tante. Aluna hanya ingin duduk diam dan menghirup udara segar saja," jawab Aluna cepat, ingin berdiri memberi hormat namun ditahan.
"Duduk saja. Ibu mau bicara penting sama kamu," ucap Nyonya Soraya dingin lalu duduk tidak jauh dari sana.
"Dengar baik baik ya Aluna. Ibu tahu kamu gadis yang pintar dan tahu keadaan. Jadi Ibu mau tawarkan sesuatu sama kamu," ucap Nyonya Soraya.
"Apa itu Tante?" Aluna menatap waspada.
"Setelah anak ini lahir nanti... kamu ambil uang pesangonmu yang jumlahnya sangat banyak itu lalu kamu pergi jauh jauh dari kehidupan Arka dan keluarga ini," ucap wanita itu tanpa dosa.
"Kamu sayang sama ibumu kan? Dengan uang itu, kamu bisa bikin usaha dan hidup nyaman sama Ibumu tanpa perlu susah susah jadi pembantu orang kaya."
"Tapi... Aluna juga sayang sama anak ini Tante..." Aluna menolak pelan, air matanya sudah menetes. "Aluna tidak mau pisah dari bayiku..."
"Ah, urusan anak itu urusan belakangan!" potong Nyonya Soraya keras. "Anak itu akan tetap hidup bergelimang harta dan dididik oleh guru guru terbaik. Dia tidak butuh ibu bodoh dan kampungan sepertimu untuk mengasuhnya. Nanti malah rusak sopan santunnya."
"Kamu pikir Arka itu benar benar sayang sama kamu apa?" Wanita itu tertawa mengejek.
"Buka matamu lebar lebar. Dia baik sama kamu, dia perhatian sama kamu, itu semua murni karena ada anaknya di dalam perutmu. Kalau anak itu sudah lahir, percayalah kamu tidak akan ada artinya lagi bagi dia."
Kata kata itu sangat tajam dan menusuk hati Aluna sampai ke ulu hati. Gadis itu gemetar hebat menahan tangis yang ingin meledak. Ia tahu apa yang dikatakan wanita itu ada benarnya juga. Arka memang selama ini hanya fokus pada bayinya, bukan pada dirinya.
"Tante jahat..." isak Aluna pelan. "Tante tidak tahu apa yang Aluna rasakan..."
"Aku tahu apa yang terbaik untuk keluargaku!" balas Nyonya Soraya tak mau kalah.
"Jadi saran Ibu, lebih baik kamu terima tawaran Ibu. Pergilah selagi kamu masih diberi harga diri. Jangan nanti sampai diusir dengan cara yang memalukan seperti pengemis jalanan."
Sebelum Aluna bisa menjawab lagi, tiba tiba terdengar suara langkah kaki yang berat dan cepat datang dari arah belakang. Ternyata Arka sudah berdiri di sana sejak beberapa saat lalu mendengarkan seluruh percakapan pedas itu.
Wajah pria itu merah padam menahan amarah yang luar biasa. Tatapannya sangat mengerikan dan membunuh.
"IBU!" teriak Arka membuat Nyonya Soraya terlonjak kaget dari tempat duduknya. "Sudah cukup! Berhenti menyakiti hatinya!"
"Arka... Ibu hanya sedang mengajari dia cara berpikir yang logis kok..." bela Nyonya Soraya gugup saat melihat kemarahan putranya yang sangat luar biasa.
"Logis apa yang Ibu bicarakan? Memaki maki dan merendahkan orang lain itu dibilang logis?" Arka berjalan mendekat lalu berdiri tegak di depan Aluna, melindunginya dari ibunya.
"Selama dia mengandung anakku, dia adalah orang yang paling berharga di rumah ini!" ucap Arka menekankan setiap katanya dengan lantang.
"Apa pun latar belakangnya, dia adalah ibu dari ahli warisku dan dia berhak mendapatkan hormat sama seperti orang lain," bela Arka dengan raut wajah merah karena marah.
"Tapi Ka... dia itu..."
"Tidak ada tapi tapian lagi!" potong Arka keras.
"Kalau Ibu masih tidak terima dan terus saja menyakiti atau menekan Aluna, lebih baik Ibu pulang sekarang juga ke rumah ibu. Aku tidak butuh kehadiran Ibu kalau hanya membawa keributan dan air mata di tempat ini," tegas Arka.
Nyonya Soraya ternganga kaget mendengar ancaman putranya itu. Ia tidak menyangka Arka akan berani membentaknya dan membela wanita rendahan itu dengan begitu serius.
"Baiklah! Ibu tahu diri saja!" geram wanita itu marah lalu berbalik badan pergi meninggalkan tempat itu dengan diikuti oleh asistennya.
Setelah Nyonya Soraya pergi, suasana kembali hening. Arka menoleh ke arah Aluna yang sedang menangis tersedu sedan dengan bahu yang bergetar hebat.
Pria itu tidak berkata apa apa. Ia hanya duduk lalu menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya dengan erat. Ia membiarkan Aluna meluapkan semua kesedihan dan ketakutannya di dada bidangnya itu.
"Jangan dengarkan omongan Ibu ya... Dia memang bicara kasar dan tajam, tapi itu hanya karena dia tidak kenal kamu dengan baik," bisik Arka pelan di telinga gadis itu sambil mengusap kepalanya.
"Tapi apa yang dikatakan Ibu itu benar Tuan..." isak Aluna pelan menatap mata Arka. "Bahwa Tuan baik sama Aluna semua hanya karena ada anakmu di dalam sini kan? Kalau tidak ada bayinya mungkin Tuan tidak akan pernah menengok Aluna kan?"
Pertanyaan itu membuat Arka terdiam sejenak. Ia terpojok karena memang itulah niat awalnya.
"Untuk saat ini... ya memang karena anakku," jawab Arka jujur apa adanya tanpa menipu.
"Tapi ingat satu hal Aluna. Selama kamu menjadi wadah yang baik dan ibu yang penyayang untuk anakku, maka posisimu di sini akan selalu aman dan terlindungi," ujar Arka tegas.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun bahkan Ibu sekalipun menyakitimu selama kamu masih membawa nyawa yang sangat berharga bagiku. Jadi tenanglah. Selama aku ada kamu tidak perlu takut pada apa pun," lanjut Arka tegas menatap mata gadis itu.
Aluna mengangguk pelan lalu memeluk tubuh pria itu lebih erat lagi. Meski tahu bahwa perhatian itu masih bersyarat karena sang bayi, tapi janji perlindungan itu sudah lebih dari cukup membuatnya merasa aman dan dicintai.