10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Yang Menemukan Buku Itu
Hujan turun tanpa henti sejak sore.
Langit di atas kota kecil itu gelap, seolah malam datang lebih cepat dari biasanya. Angin berembus dingin, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang sulit dijelaskan—seperti bau yang mengingatkan
pada tempat lama yang sudah lama ditinggalkan.
Di sebuah rumah sederhana di pinggir kota, seorang gadis remaja duduk di lantai kamarnya.
Namanya Dira.
Usianya tujuh belas tahun, dengan rambut panjang yang sering ia ikat asal-asalan. Di hadapannya, kotak kardus berisi barang-barang lama milik almarhum neneknya terbuka.
“Buat apa sih Ibu nyuruh aku beresin ini…” gumamnya pelan.
Ia menghela napas, lalu mulai mengeluarkan isi kotak satu per satu.
Foto-foto lama.
Perhiasan murah.
Surat-surat yang sudah menguning.
Hingga akhirnya—
Sebuah buku tua.
Sampulnya hitam.
Kusam.
Dan terasa dingin saat disentuh.
Dira mengernyit. “Buku apa ini…?”
Ia mengangkatnya perlahan.
Debu tipis berjatuhan.
Judulnya samar, tapi masih bisa dibaca.
“10 Cara Melihat Hantu.”
Dira tertawa kecil. “Seriusan?
Nenek nyimpen beginian?”
Ia membalik buku itu.
Tidak ada nama penulis.
Tidak ada tahun terbit.
Aneh.
Namun entah kenapa, ada rasa penasaran yang tiba-tiba muncul.
Seolah buku itu… memanggilnya.
“Ah, paling cuma cerita biasa,” katanya.
Ia membuka halaman pertama.
Kosong.
Halaman kedua.
Masih kosong.
“Loh?”
Ia membalik beberapa halaman lagi.
Tetap kosong.
“Buku kosong?” gumamnya bingung.
Namun saat ia hendak menutupnya—
Tulisan mulai muncul.
Perlahan.
Seperti tinta yang meresap dari dalam kertas.
Dira membeku.
“Apa… ini…?”
Tulisan itu membentuk kalimat pertama.
Cara ke-1: Menatap cermin dalam gelap.
Jantung Dira berdetak lebih cepat.
Ia menatap tulisan itu lama.
“Ini… trik ya?” bisiknya.
Namun tidak ada yang menjawab.
Hanya suara hujan di luar.
Dan detak jam yang tiba-tiba terasa lebih keras.
Dira menelan ludah.
Rasa takut mulai muncul.
Tapi…
Rasa penasaran lebih besar.
Ia bangkit.
Melangkah ke arah cermin di kamarnya.
Lampu masih menyala.
Ia berhenti di depan cermin.
Menatap bayangannya sendiri.
“Cuma lihat di cermin dalam gelap…” katanya pelan. “Gampang banget.”
Ia tertawa kecil.
Berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Lalu—
Ia mematikan lampu.
Klik.
Gelap.
Hanya ada cahaya samar dari luar jendela.
Bayangannya masih terlihat.
Kabur.
Namun cukup jelas.
Dira menatap dirinya sendiri.
Satu detik.
Dua detik.
Sepuluh detik.
Tidak ada apa-apa.
“Yaelah… bohong,” katanya sambil tersenyum.
Namun saat ia hendak menyalakan lampu—
Bayangannya…
Tidak mengikuti.
Dira membeku.
Tangannya yang terangkat tidak tercermin di cermin.
Sebaliknya…
Bayangan itu tetap diam.
Menatapnya.
Dengan senyum yang perlahan… melebar.
“Tidak…” bisik Dira.
Ia mundur satu langkah.
Bayangan itu tetap di tempatnya.
Lalu—
Perlahan…
Mengangkat tangannya sendiri.
Gerakan yang berbeda.
Gerakan yang bukan miliknya.
Dira menjerit dan langsung menyalakan lampu.
Klik!
Cahaya kembali.
Bayangan itu kembali normal.
Mengikuti gerakannya.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Dira terengah-engah.
Jantungnya berdegup kencang.
“Apa itu tadi…?” bisiknya.
Tangannya gemetar.
Ia menoleh ke arah buku itu.
Yang kini…
Terbuka sendiri di atas lantai.
Halaman pertama telah terisi.
Dan di bawahnya…
Muncul tulisan baru.
“Kamu sudah memulai.”
Dira menggeleng cepat.
“Tidak… tidak… aku tidak mau lanjut…”
Ia mendekat perlahan.
Berniat menutup buku itu.
Namun sebelum ia menyentuhnya—
Halaman berikutnya terbuka.
Dengan sendirinya.
Cara ke-2: Mendengar suara di antara keheningan.
Dira menatap tulisan itu dengan napas tertahan.
“Tidak… cukup…”
Ia mundur.
Namun suara itu…
Mulai terdengar.
Pelan.
Sangat pelan.
Seperti bisikan.
Dari sudut kamar.
Dira menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun suara itu tetap ada.
“Dira…”Ia membeku.
“Siapa?” tanyanya gemetar.
“Dira…”
Suara itu terdengar lagi.
Lebih jelas.
Lebih dekat.
Ia menutup telinganya.
“Berhenti…!”
Namun suara itu tidak berhenti.
Karena suara itu…
Tidak berasal dari luar.
Melainkan dari dalam.
Dari pikirannya sendiri.
“Dira… kamu bisa melihat kami sekarang…”
Air mata mulai jatuh.
“Tidak… ini tidak nyata…”
Namun buku itu…
Kembali menulis.
“Setiap langkah membawamu lebih dekat.”
Dira terduduk di lantai.
Tubuhnya gemetar.
Ia ingin berhenti.
Ia ingin lari.
Tapi…
Sudah terlambat.
Di tempat lain.
Dalam kegelapan yang tak berujung—
Raka berdiri diam.
Matanya kini merah redup.
Wajahnya tanpa ekspresi.
Namun saat buku itu kembali aktif…
Ia merasakannya.
Seperti getaran.
Seperti panggilan.
Ia menutup matanya perlahan.
Dan berbisik,
“Satu lagi…”
Di dunia nyata—
Dira menatap buku itu dengan ketakutan.
Tanpa sadar…
Tangannya bergerak.
Menyentuh halaman berikutnya.
Dan membaliknya.
Bab berikutnya akan mengungkap…
Apakah Dira akan mengikuti jejak Raka… atau menemukan cara untuk menghentikan siklus sebelum semuanya terlambat?