NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Janji di Pagi Hari

Esok paginya.

Matahari Lombok terbit seperti biasa. Cahaya keemasan masuk melalui celah tirai, jatuh ke wajah Adea yang masih setengah tertidur. Burung-burung berkicau di pohon depan rumah. Daun-daun petunia di halaman sudah disiram bukan oleh Adea, tapi oleh Angga yang bangun lebih pagi.

Tapi Adea tidak bergerak.

Biasanya, ia akan berguling-guling di kasur, meregangkan tubuh, lalu melompat bangun dengan semangat luar biasa. Tapi pagi ini, ia hanya berbaring telentang, mata terbuka menatap langit-langit kamar.

Boneka panda masih terpeluk erat di dadanya.

Cumi sudah bangun sejak tadi. Kucing abu-abu gembul itu duduk di atas dada Adea. Tepat di atas boneka panda sambil menatap wajah gadis itu dengan mata kuningnya yang bulat.

"Meong," suara Cumi pelan, seolah bertanya kenapa belum bangun?

Adea tidak menjawab.

Ia masih memikirkan mimpinya tadi malam.

Bukan mimpi tentang dosen baru. Bukan mimpi tentang ujian atau praktikum yang gagal.

Mimpi tentang Angga.

Angga pergi.

Ia berjalan menjauh, masuk ke dalam kabut tebal, dan tidak pernah kembali. Adea berlari mengejar, berteriak memanggil namanya, tapi Angga tidak menoleh. Tidak sekali pun.

Dan Adea jatuh. Di tengah kabut. Sendirian.

Gadis itu menghela napas panjang.

"Cumi," bisiknya. "Gue takut."

Cumi mengeong lagi, lalu menggesekkan kepalanya ke dagu Adea. Bulu-bulu halus kucing itu terasa hangat.

 

"Adeaa~!! Sarapan!"

Suara Angga dari dapur seperti biasa. Keras. Sedikit memerintah. Tapi hangat.

Adea duduk di kasur perlahan. Rambutnya berantakan, matanya masih sayu, dan ada bekas air mata yang mengering di pipinya.

Ia menatap pintu kamar yang sedikit terbuka.

Angga ada di balik pintu itu. Di dapur. Sedang memasak. Seperti biasa.

Dia tidak pergi, pikir Adea. Itu cuma mimpi.

Tapi kenapa dadanya masih terasa sesak?

 

Adea keluar dari kamar dengan langkah lambat, tidak seperti biasanya yang berlari kecil seperti anak ayam. Rambutnya ia biarkan terurai, tidak diikat. Piyama krem motif beruang masih melekat di tubuhnya.

Cumi berjalan di sampingnya, sesekali menggesekkan tubuh ke kaki telanjang Adea.

"Pagi," sapa Adea pelan begitu sampai di dapur.

Angga sedang membalik telur dadar di wajan. Ia menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke masakannya.

"Pagi. Cuci muka dulu tuh. Lu masih kayak habis digebukin."

"Gue udah cuci muka."

"Udah?" Angga menoleh lagi, kali ini lebih lama. Matanya menyipit meneliti wajah Adea. "Mata lu sembab."

Adea mengucek matanya. "Gak apa."

Angga tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menghela napas, lalu mengambil piring dan menyajikan telur dadar di atas nasi hangat.

"Udah, duduk. Makan."

Adea duduk di kursi favoritnya, tepat di seberang kursi Angga. Ia mengambil sendok, tapi tidak langsung makan. Ia hanya memandangi nasi di depannya.

"Kenapa? Gak enak?" tanya Angga yang sudah duduk di seberangnya.

"Enak," jawab Adea cepat. Terlalu cepat.

Angga meletakkan sendoknya. Ia menatap Adea dengan serius, tatapan yang bisa menembus segala kepalsuan.

"Dea."

"Hm?"

"Ada apa?"

Adea menggigit bibir bawahnya. Jari-jarinya yang mungil memainkan ujung sendok.

"Gue..." ia berhenti. "Gue masih mikirin mimpi gue tadi malam."

Angga terdiam.

Ia ingat. Tengah malam. Tangis Adea. Tubuh kecil yang gemetar di pelukannya. Dan betapa rapuhnya gadis itu di dalam dekapan tangannya.

"Mimpi tentang apa?" tanyanya pelan. Padahal ia tahu.

Adea menunduk. Suaranya hampir berbisik.

"Mimpi elu pergi. Elu ninggalin gue. Gue teriak-teriak, tapi elu gak denger. Kayak... kayak elu jadi orang lain."

Gadis itu mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Angga.

"Angga, lu gak akan pergi kan?"

Pertanyaan itu sederhana. Tapi di dalamnya ada beban yang tidak ringan.

Angga menatap Adea untuk waktu yang lama.

Ia melihat ketakutan di mata gadis itu. Bukan ketakutan akan hantu atau dosen killer. Tapi ketakutan yang lebih dalam. Takut ditinggalkan. Takut sendirian. Takut kehilangan satu-satunya orang yang selama ini selalu ada.

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Adea akhirnya tersenyum. Senyum pertama pagi ini.

Ia mulai makan pelan, tidak seperti biasanya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Angga, seperti memastikan pria itu masih ada di sana.

Angga hanya diam dan makan, sesekali meneguk teh hitamnya.

Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang berdesir.

Dia takut kehilangan gue.

Berarti dia...

Angga tidak melanjutkan pikirannya. Ia hanya tersenyum kecil di balik cangkir tehnya.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!