NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:23.5k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

menginap di rumah niko

“Hair dryer itu diletakkan di tempat yang tidak terjangkau CCTV,” ucap Amira pelan sambil memperhatikan langit-langit gudang.

Niko mengernyit. “Di mana?”

“Tidak mungkin seluruh area toko ini dipantau tanpa celah,” sahut Niko lagi, seolah mencoba membantah pendapatnya sendiri.

Amira tidak langsung menjawab. Tatapannya menyapu sudut ruangan, rak-rak tinggi, lalu berhenti pada lorong sempit di belakang tumpukan kardus.

“Area mana yang paling sedikit kameranya?” tanyanya.

“Gudang. Hanya ada satu CCTV di sana.”

“Saya ingin melihat gudangnya.”

Niko terdiam beberapa detik. Wajahnya menunjukkan keraguan. Namun, akhirnya dia mengangguk kecil.

“Baiklah. Mari.”

Mereka berjalan melewati lorong toko yang lengang. Lampu putih memantul di lantai keramik kusam. Saat pintu gudang dibuka, aroma kardus lembap langsung menyeruak.

Amira masuk tanpa bicara. Matanya bergerak cepat seperti sedang menghitung sesuatu yang tak terlihat orang lain.

Rak terlalu rapi.

Kardus bagian belakang berdebu, tetapi beberapa di depannya tampak baru dipindahkan.

Lantai di sudut kanan sedikit lecet, seperti sering digeser benda berat.

Dan CCTV tunggal di atas pintu ternyata tidak mengarah ke seluruh ruangan.

Amira menyipitkan mata.

“Aneh...” gumamnya.

Niko menelan ludah. “Apa yang aneh?”

Amira tidak menjawab pertanyaan itu. Dia malah berbalik.

“Bapak tahu dari mana kalau ada barang hilang?”

“Dari laporan stok barang.”

“Siapa yang membuat laporan?”

“Malik.”

“Jadi Malik yang pertama kali melaporkan kehilangan barang?”

“Iya.”

“Kapan dia melapor?”

“Tadi.”

Amira memiringkan kepala sedikit, seperti menemukan nada fals dalam sebuah lagu.

“Kejadian ini sudah berulang, tetapi dia baru melapor hari ini?”

Niko mulai tampak tidak nyaman. “Katanya dia menutup kerugian dengan karyawan lain. Dia takut semuanya dipecat.”

Amira berjalan perlahan menyentuh salah satu kardus.

“Menurut Bapak, toko ini untung besar atau kecil?”

Niko mengembuskan napas panjang. “Justru itu yang sering dikeluhkan istri saya. Toko ini sedikit untungnya. Kadang malah nombok.”

“Menarik.”

“Apa maksudnya?”

Amira menatap langsung ke mata Niko.

“Kalau penjualan tidak terlalu laku, seharusnya stok barang di gudang menumpuk.”

Niko terdiam.

“Apakah Bapak memindahkan barang yang tidak laku ke toko lain?”

“Saya punya banyak toko... saya sendiri sampai pusing mengurusnya,” jawab Niko sambil menggaruk kepala. “Tapi setahu saya tidak pernah ada pemindahan barang.”

“Itulah masalahnya,” ucap Amira cepat.

Niko mengerutkan dahi. “Maksud kamu?”

“Orang biasanya terlalu sibuk mencari pencuri di antara karyawan...” Amira melirik rak gudang. “...padahal kadang pencurinya tersembunyi di dalam angka.”

“Angka?”

“Laporan pembelian. Laporan penjualan. Dan jumlah stok sisa.” Nada suaranya tenang, tetapi tajam. “Kalau tiga angka itu tidak cocok, berarti ada seseorang yang sedang menciptakan barang hilang yang sebenarnya tidak pernah hilang.”

Niko mulai pucat.

“Jadi... menurutmu Malik berbohong?”

“Saya belum mengatakan itu.” Amira tersenyum tipis. “Tetapi seseorang di toko ini terlalu percaya bahwa tidak ada orang yang mau menghitung ulang semuanya.”

Suasana mendadak hening.

Bahkan suara dengung pendingin ruangan terasa jauh.

“Coba Bapak periksa sendiri laporan pembelian barang, lalu cocokkan dengan laporan penjualan dan stok sisa,” lanjut Amira. “Jangan melibatkan karyawan mana pun.”

“Bagaimana kalau aku melibatkan kamu?”

Amira terdiam.

Di kepalanya terbayang warung makan kecil yang akan dia buka besok. Kompor belum dibeli. Piring masih kurang. Uang modal pas-pasan.

Namun, kasus ini belum selesai.

Dan Amira paling tidak suka meninggalkan teka-teki setengah terbuka.

“Saya besok harus mulai menyiapkan usaha saya, Pak.”

Niko mendekat sedikit.

“Satu hari aku bayar satu juta.”

Amira terdiam.

“Bisnis baru tidak mungkin langsung untung sebesar itu,” lanjut Niko cepat. “Makan dan minum aku tanggung. Bahkan sewa rukomu bulan depan akan kubayar.”

Amira menatap pria itu lama, mencoba memastikan apakah dia sedang putus asa... atau menyembunyikan sesuatu.

Akhirnya dia menghela napas kecil.

“Karena Bapak memaksa saya...” ucapnya datar. “Baiklah, saya terima.”

Wajah Niko langsung lega.

“Aku tidak memaksamu,” katanya sambil tersenyum tipis. “Aku hanya tahu kamu cerdas, Amira.”

Malam itu akhirnya Amira, Nanda, Dewi, dan Arjuna dibawa ke rumah Niko.

Sampai di rumah Niko jam 12 malam, istri Niko, Clara, sudah tidur.

Amira ditempatkan dalam satu rumah tersendiri oleh Niko yang memang mempunyai beberapa rumah dalam satu kompleks. Dia dan istrinya mempunyai beberapa ruko elektronik.

Tidak memulai dari nol, karena Niko adalah anak orang kaya dengan warisan yang banyak.

Membuat lima toko elektronik dalam satu tahun.

Walau uangnya banyak, Niko tidak suka orang yang tidak jujur. Maling sekecil apa pun tidak bisa dia toleransi.

Arjuna terus memandangi rumah bercat putih bernuansa klasik, lantai putih rumah yang sederhana namun tertata rapi. Walau hanya ada dua kamar, rumah itu mempunyai fasilitas lengkap, termasuk kolam renang.

“Nah, rumah minimal kayak gini,” ucap Nanda.

“Iya, Bu. Rumahnya minimalis tapi estetik.”

“Aku tidak mengerti dengan bahasa kamu.”

Nanda menuju kasurnya dan langsung merebahkan diri di kasur yang empuk.

“Mamah, aku mau berenang,” ucap Dewi.

Mata Amira melotot. “Sudah malam, sayang. Besok ya.”

“Yah, kok besok? Sekarang aja, Mah.”

“Besok, Nak... ini rumah orang, jangan membuat keributan di tengah malam.”

Dewi manyun, namun patuh. Dia menarik tangan Arjuna ke kamar, lalu membantingnya ke kasur empuk.

“Malam ini Kakak harus jadi gulingku. Aku lagi kesal.”

Waktu terus berlalu dengan cepat, akhirnya pagi datang.

Clara menyambut baik Amira dan Nanda, apalagi ada Dewi dan Arjuna.

Lima tahun menikah dengan Niko namun belum dikaruniai anak membuat dia senang dengan keberadaan anak-anak.

Clara malah menemani Dewi dan Arjuna berenang, sedangkan Amira dan Nanda ada di ruang tamu dengan setumpuk dokumen nota.

Amira melihat satu per satu nota dan dia merekapnya secara manual.

Beberapa nota yang ditulis tangan Amira pisahkan.

“Makasih loh, Mbak Amira, mau bantu suami saya. Saya sudah beberapa kali ingatkan kalau mengelola toko itu harus sering diawasi. Beberapa kali saya tanya kenapa keuntungan toko tidak seperti toko yang lain. Kalau saya yang ingatkan malah saya dikatain cerewet,” cerocos Clara.

“Nah, gitu kan buka aib terus.”

“Tuh lihat, Mbak Amira, kalau istri ngasih masukan ngambek.”

Niko akan membuka mulut, namun Clara sudah pergi ke kolam renang.

Sementara Amira terus mengecek satu per satu nota.

“Laporan stok barang tidak sesuai, Pak,” ucap Amira setelah sekian lama mengutak-atik laporan.

“Bagaimana tidak sesuai, Amira? Di aplikasi sesuai.”

“TV harusnya sisa empat, tapi di laporan sisa dua. Rice cooker harusnya sisa lima, tapi di laporan sisa tiga.”

Dan kemudian Amira memberi catatan kejanggalan itu.

Niko tidak langsung mempercayainya. Dia menelepon beberapa toko penyedia alat-alat elektronik satu per satu, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan.

Semakin menelepon, semakin kaget dia.

Jumlah tagihan yang harus dibayarkan tidak sesuai dengan catatan.

“Ini gila, Amira. Jadi sebenarnya aku sudah kehilangan banyak barang, ya?”

“Ya, kurang lebih begitu. Dan kejadian hilang barang kemarin hanya pengalihan saja. Nanti bulan depan Bapak harus membayar ke penyedia barang, dan Bapak akan kaget. Orang itu akan mudah menyalahkan pada Udin, karena dalam pikiran Bapak nama Udin sudah dicurigai sebagai pelakunya.”

“Terus siapa pelakunya?”

“Bapak harus menjebak dia. Biarkan dia tertangkap langsung, Pak. Orang ini sangat lihai.”

1
nunik rahyuni
ni orang klo pas sekolah cm makan bangku sekolah saja kan...jadi otaknya g pinter tapi penuh dg sampah🤣🤣🤣🤣
g pernah nyadar diri klo mereka sdh cerai ..dan usaha amira ada setelah cerai trus dari mana kata harta gono gini...kan kan..mereka tu gaweanya molooor jadinya ooon...sama laki bini oon induk semang nya jg gelo🤣🤣🤣
Anonim
Gelo sia rudi,enyak aja harta goni gini yg ada lu yg harus balikin duit hasil kerja amira jadi tkw
falea sezi
dewi lucu
sunaryati jarum
Anjani kalau tidak dipanggil Dewi tidak datang, jadi tidak ada yang tahu keberadaannya
Anonim
Gemes ih sama dewi pengen nyuel 🤣
nunik rahyuni
waduuuh dewi kamu bikin masalah untuk anjani...bisa bisa di tangkap sama damkar di tuduh meresahkan warga.kya aq jg klo ketemu ular bisa parno berminggu minggu..jangan di ulangi suruh anjani sembunyi lg. keluar di saat tertentu saja
sunaryati jarum
Hewan ditolong akhirnya balas budi
Test Baru
kak autothor udah 2 hari kok belum up lagi sih 🙏🙏🙏
falea sezi
ular gaib kah
falea sezi
amira ini tolol liat anak mu menderita buat TKW semua gaji Jagan di kasih suami🤣 iya klo suamimu setia
nunik rahyuni
hah untung cs sama anjani....klo g mana mau anjani membantu🤣🤣🤣dan kenapa dewi jd penakut biasanya suka kelahi
sunaryati jarum
Ular Dewi yang beraksi
nunik rahyuni
thor deei manggilnya kok ganti2..dlu mamah td kok jd bunda mana yg betul
besok ibu trus simbok ato biyung🤣🤣🤣
nunik rahyuni
mereka yg celaka ato mereka yg di celakai .
sebagai pelampiasan dewi karena g di izinkn anjani masuk ruko jadilah preman nya yg di hajar dewi dan dililit anjani🤣🤣🤣🤔
nunik rahyuni: iya..klo tidurnya terganggu kan langsung jd sumala🤣🤣🤣
total 2 replies
nunik rahyuni
waduh...mau ngapain mereka....anjani muncul lah
mama
syg up ny cm sekali sehari😄
sunaryati jarum
Malik kamu salah, kau sekarang tidak bisa menyentuh Niko.Jika kau menargetkan Amira kau salah cari lawan.Dino sudah jadi pantauan dan pengawasan Niko.
sunaryati jarum
Wah mungkin Mery suka sama Udin
sunaryati jarum
Lanjut , semoga penghasilan kamu makin banyak Udin
nunik rahyuni
thor dewi mana...kangen nyaaaa q sm bocah ni..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!