NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Labirin Dan Pengkhianatan

​Napas Arga tersengal. Paru-parunya terasa terbakar oleh sisa gas air mata yang menyusup ke lubang persembunyian bawah tanah itu. Kegelapan di sekelilingnya begitu pekat, hanya menyisakan aroma tanah lembap dan karat besi yang menyengat. Tangan kasar yang tadi membekap mulutnya perlahan mengendur, namun sebuah belati dingin tetap menempel di lehernya.

​"Satu suara saja, dan aku akan memastikan Siska tidak perlu repot-rekan membunuhmu," desis suara wanita itu.

​Arga mematung. Suara itu bukan suara Elina yang lembut, bukan pula suara Siska yang penuh kemenangan. Ini adalah suara yang pernah dia dengar di kantor PT Cakrawala tempo hari. "Nadia?" bisiknya tak percaya.

​Nadia, kepala keamanan yang disiapkan Hendrawan untuknya. Wanita yang seharusnya berada di Jakarta untuk mengawasi aset Winata yang telah disita.

​"Jangan bergerak," perintah Nadia. Dia menyalakan senter kecil yang sinarnya hanya setitik.

​Cahaya itu menyinari lorong sempit yang terbuat dari beton tua. Arga menoleh ke atas, ke arah lubang yang baru saja tertutup rapat. Di atas sana, dia masih bisa mendengar suara sepatu bot yang menghentak dan teriakan Siska yang murka karena kehilangan mangsanya.

​"Dani... dia mengkhianatiku?" tanya Arga, suaranya parau.

​Nadia menurunkan belatinya, tapi matanya tetap waspada menatap kegelapan lorong. "Dani tidak pernah bekerja untukmu, Arga. Dia adalah agen 'The Iron Circle' yang ditanam Hendrawan sejak lama. Hendrawan tidak sebaik yang kamu kira. Dia menggunakanmu untuk membuka kunci koper kakekmu karena hanya darahmu yang bisa melakukannya."

​Dunia Arga seolah runtuh untuk ketiga kalinya dalam satu malam. Hendrawan, orang yang dia anggap sebagai mentor dan penyelamat setelah dia diusir oleh keluarga Winata, ternyata adalah dalang di balik semua ini. Siska hanyalah "anjing pelacak" yang digunakan untuk menggiring Arga ke Eropa.

​"Lalu di mana Elina?" Arga mencengkeram lengan Nadia. "Antingnya ada di gudang tadi. Siska bilang dia tahu di mana Elina!"

​Nadia terdiam sejenak, menatap Arga dengan tatapan yang sulit diartikan. "Elina ada di sebuah fasilitas medis di pegunungan Tatra, perbatasan Polandia. Tapi dia bukan di sana sebagai tawanan, Arga. Dia di sana sebagai subjek."

​"Subjek apa?!"

​"Kakekmu, Pak Broto, tidak mencuri uang dari 'The Iron Circle'. Dia mencuri hasil penelitian genetika yang mereka kembangkan selama tiga puluh tahun. Dan Elina... Elina adalah satu-satunya keberhasilan dari penelitian itu. Itulah kenapa kakekmu menjaganya begitu ketat di Praha, dan itulah kenapa dia ingin kamu menjauh darinya."

​Arga merasa mual. Jadi selama ini, cinta yang dia rasakan, pertemuan yang dia anggap takdir, semuanya adalah bagian dari rencana besar kakeknya untuk melindungi "aset" berharga itu?

​"Aku harus ke sana," ucap Arga tegas.

​"Kamu tidak akan sampai ke sana hidup-hidup dengan kondisi seperti ini," Nadia menarik tangan Arga, memaksanya berjalan menyusuri lorong bawah tanah yang semakin menyempit. "Siska dan Dani punya akses ke satelit. Begitu kamu keluar dari lubang ini di ujung sana, mereka akan tahu."

​Mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah pintu besi tua yang berkarat. Nadia membukanya dengan sandi digital yang rumit. Di balik pintu itu, terdapat sebuah ruangan kecil berisi peralatan komunikasi canggih dan sebuah peta digital Eropa Timur yang menyala merah di beberapa titik.

​"Dengar, Arga," Nadia menatap mata Arga dalam-dalam. "Jarak antara kamu dan Elina sekarang bukan lagi soal cinta. Ini soal siapa yang lebih dulu menguasai 'kunci' yang ada di dalam darah Elina. Jika Siska sampai di sana lebih dulu, dia akan menjual Elina ke penawar tertinggi, dan gadis itu tidak akan pernah terlihat lagi."

​Arga mengepalkan tangannya. "Aku tidak peduli dia subjek atau apa pun. Bagiku, dia tetap Elina yang menungguku dengan cokelat panas di Praha. Aku akan menjemputnya, meski aku harus menghancurkan 'The Iron Circle' sendirian."

​Nadia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat seperti penghormatan. "Kalau begitu, bersiaplah. Kita akan melakukan perjalanan paling berbahaya dalam hidupmu. Kita akan melintasi perbatasan tanpa paspor, tanpa identitas, dan tanpa jaminan kembali."

​Saat mereka bersiap meninggalkan ruangan itu, sebuah layar monitor di sudut meja tiba-tiba menyala otomatis. Sebuah panggilan video masuk.

​Wajah Siska muncul di layar, namun kali ini dia tidak tersenyum. Dia tampak ketakutan. Di belakangnya, berdiri seorang pria tua dengan setelan jas rapi yang sangat dikenal Arga.

​"Hendrawan?" bisik Arga.

​"Arga, keponakanku yang malang," ucap Hendrawan dengan nada yang sangat tenang, namun mematikan. "Nadia mungkin menyelamatkanmu dari Siska, tapi dia lupa memberi tahumu satu hal penting."

​Hendrawan menggeser kamera ponselnya ke samping. Di sana, di sebuah tempat tidur putih yang dikelilingi peralatan medis, Elina terbaring lemah. Matanya terbuka, tapi kosong. Dia menatap kamera seolah tidak mengenali siapa pun.

​"Dia sudah mulai 'terbangun', Arga," lanjut Hendrawan. "Dan saat dia benar-benar bangun nanti, dia tidak akan mengingat siapa pria bernama Arga Adriansyah. Dia akan menjadi senjata yang paling mematikan yang pernah diciptakan manusia."

​Layar itu mendadak mati. Arga berteriak frustrasi, menghantam meja komunikasi itu hingga tangannya berdarah.

​"Kita berangkat sekarang!" perintah Arga pada Nadia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!