"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"
#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESAN BERDARAH UNTUK KONSORSIUM
Asap hitam mengepul dari puncak Tower Regalia, membubung tinggi menantang langit Jakarta yang kelabu. Helikopter polisi berputar-putar seperti lalat di sekitar bangkai gedung yang megah itu, tapi tak ada satu pun petugas yang berani mendekat ke lantai 66. Radiasi energi murni yang ditinggalkan Arka menciptakan medan magnet yang membuat sistem navigasi elektronik mereka gila—layar monitor mereka hanya menampilkan statik, seolah-olah gedung itu baru saja dihantam badai matahari.
Di bawah, di tengah kerumunan wartawan yang berdesakan dan pasukan taktis yang bingung, sebuah bayangan melangkah keluar dari pintu belakang gedung. Arka berjalan menembus hujan yang menderu, tanpa payung, tanpa suara. Anehnya, setiap tetes air yang mendekati tubuhnya menguap sebelum menyentuh kulit, menciptakan kabut tipis yang menyelimutinya layaknya jubah hantu.
Arka merogoh saku, mengeluarkan ponsel milik Gideon yang layarnya sudah retak seribu. Notifikasi di dalamnya meledak, bergetar tanpa henti seperti jantung yang ketakutan.
Pimpinan Klan Mahesa: "Gideon! Jawab! Apa yang terjadi di sana?! Kenapa sinyal keamanan pusat terputus?!"
Klan Liem: "Siapa ini? Beraninya kau mengirim ancaman lewat jalur pribadi Konsorsium!"
Klan Wijaya: "Lacak posisi pengirim pesan ini sekarang! Kerahkan unit siber tercepat kita!"
Arka menatap layar itu dengan tatapan kosong, lalu dengan satu remasan tangan yang perlahan, ponsel mahal itu hancur menjadi debu logam yang jatuh bersama air hujan.
"Lacak saja," gumamnya, suaranya tertelan gemuruh petir. "Aku yang akan memastikan kalian tidak sempat menggunakan teknologi itu lagi."
Sementara itu, di kediaman Tuan Yan yang kini dijaga ketat oleh ratusan pengawal sewaan paling elit di kota, suasana sangat mencekam. Tuan Yan mondar-mandir di ruang tamu, keringat dingin membasahi jas sutranya. Setiap kali ponselnya bergetar mengabarkan berita tentang kehancuran Tower Regalia—lambang keangkuhan klan Mahesa selama dua dekade—lututnya makin lemas.
"Dia benar-benar melakukannya..." bisik Yan dengan suara yang hilang timbul. "Dia tidak cuma mengalahkan mereka, dia meruntuhkan martabat klan pilar dalam satu jam sendirian."
Di sebuah kamar VIP yang telah diubah menjadi ruang medis pribadi, seorang wanita paruh baya berwajah pucat namun memiliki gurat kelembutan sedang duduk di tepi ranjang. Itu adalah Ibu Arka, Maria. Meskipun tubuhnya lemah karena penyakit yang menahun dan trauma siksaan masa lalu, matanya tetap memancarkan cahaya jernih.
"Tuan Yan," panggil Maria lembut, membuat Yan tersentak kaget. "Di mana putraku? Kenapa banyak orang bersenjata di luar? Arka... dia tidak sedang dalam masalah, kan?"
Yan langsung membungkuk dalam, hampir sembilan puluh derajat. Keringat menetes ke lantai marmer. "Tuan Muda Arka... sedang mengurus beberapa urusan bisnis besar, Nyonya. Dia berpesan agar Nyonya istirahat dengan tenang. Segala kebutuhan Nyonya adalah prioritas nyawa kami."
Tiba-tiba, suhu di ruangan itu turun drastis. Pintu besar ruang tamu terbuka tanpa suara, seolah-olah engselnya takut untuk berderit.
Hawa dingin yang dibawa angin malam merasuk masuk, namun ada sesuatu yang lebih kuat: aura dominasi yang menyesakkan dada. Arka berdiri di sana. Sosoknya yang tadi terlihat seperti dewa kematian di Tower Regalia, mendadak melunak saat matanya menangkap bayangan sang ibu. Garis-garis emas di pupil matanya perlahan meredup, kembali menjadi hitam yang dalam, penuh rasa bersalah sekaligus kasih sayang.
"Arka?" suara Maria bergetar, tangannya yang kurus terangkat sedikit.
Arka mengabaikan Tuan Yan yang masih gemetar di lantai. Dia berjalan cepat, langkah kakinya yang tadi menghancurkan beton kini seringan bulu. Ia berlutut di depan ibunya. Tangan Arka yang beberapa menit lalu baru saja memutus urat saraf para master bela diri, kini gemetar hebat saat menggenggam jemari ibunya yang kasar dan dingin.
"Ibu... Arka pulang," bisiknya. Suaranya serak, menahan badai emosi yang jauh lebih kuat daripada energi Nadi Naga manapun.
Maria mengusap pipi putranya. Dia melihat bercak darah yang belum sempat dibersihkan di kerah baju Arka, juga tatapan yang jauh lebih dewasa—dan lebih berbahaya—dari Arka yang ia kenal. "Kau terluka, Nak? Kenapa bajumu basah begini? Apa yang kau lakukan di luar sana?"
"Hanya membereskan sampah, Bu. Supaya kita bisa tidur nyenyak mulai malam ini tanpa harus takut pada siapapun lagi," jawab Arka sambil tersenyum tipis—sebuah senyum yang terlihat asing namun menenangkan.
Arka meletakkan telapak tangannya di punggung tangan ibunya. Menggunakan Mata Sakti, ia melihat ke dalam tubuh ibunya—melihat sel-sel yang rusak dan jalur energi yang tersumbat oleh racun-racun kimia selama masa penculikan.
"Evolusi Tahap Dua: Aliran Kehidupan," batin Arka.
Dia mengalirkan energi Nadi Naga yang sudah dia murnikan menjadi energi penyembuh yang sangat lembut. Maria memejamkan mata, napasnya yang tadi pendek-pendek mendadak menjadi panjang dan lega. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar dari ujung jari ke seluruh sarafnya, membakar habis rasa sakit yang bertahun-tahun menyiksanya. Warna kulitnya yang pucat pasi perlahan berubah menjadi kemerahan segar.
Di tempat lain, di sebuah bunker rahasia di bawah tanah Jakarta yang hanya bisa diakses melalui lift khusus dengan enkripsi tingkat militer, enam orang duduk mengelilingi meja bundar dari batu giok hitam. Mereka adalah para pemimpin Konsorsium Tujuh Klan—para penguasa bayangan yang mengatur ekonomi dan politik negara ini.
Satu kursi—kursi Klan Mahesa—kosong. Di atas meja, terdapat tumpukan foto satelit dan rekaman CCTV lobi Tower Regalia.
"Dia bukan sekadar praktisi bela diri," ucap seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan mata yang tajam seperti elang—Ketua Klan Liem. "Kekuatan fisiknya, cara dia memanipulasi energi... itu adalah teknik kuno yang tertulis di gulungan terlarang. Dia memiliki Nadi Naga yang sempurna."
"Gideon lumpuh total. Sarafnya hancur tapi kesadarannya dipaksa tetap terjaga. Dia mengalami rasa sakit luar biasa setiap detik tanpa bisa pingsan. Ini bukan sekadar pembunuhan, ini adalah pernyataan perang yang sangat kejam," timpal seorang wanita elegan yang memegang kipas besi bermotif darah—Pemimpin Klan Wijaya.
"Siapa nama anak gembel ini?" tanya pemimpin tertinggi Konsorsium, sosok yang wajahnya tertutup bayangan namun suaranya berat seperti guntur yang menggetarkan ruangan.
"Arka, Tuan Besar. Dua minggu lalu dia hanyalah kurir biasa yang dihina oleh cucu Klan Mahesa. Namun sejak insiden di pasar giok, dia berubah total," jawab asisten di sudut ruangan dengan suara yang hampir tak terdengar.
Ketua Konsorsium berdiri, auranya begitu pekat hingga lampu-lampu di ruangan itu berkedip-kedip dan retak. "Dia mengira dengan menghancurkan satu klan, dia sudah menang? Dia hanya membangunkan naga yang sedang tidur."
"Keluarkan perintah 'Segel Langit'. Tutup semua akses keuangan yang dicurigai milik jaringannya. Siapkan unit Shadow Guard Level S—tim pembunuh yang hanya kita gunakan untuk kudeta negara. Dan satu lagi..." dia berhenti sejenak, matanya berkilat dingin. "Hubungi 'Tiga Tetua Gunung'. Beritahu mereka... Nadi Naga telah jatuh ke tangan seorang iblis muda. Jika mereka tidak turun tangan, Jakarta akan menjadi lautan darah."
Malam itu, Jakarta terlihat tenang dari luar, namun di bawah permukaan, seluruh kekuatan gelap Nusantara sedang bergerak serentak. Targetnya hanya satu: Kepala Arka.
semangat kak👍