Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terciumnya sebuah pengkhianatan
Dentuman musik techno yang memekakkan telinga dan lampu neon warna-warni yang berkedip liar menjadi latar belakang pengkhianatan malam itu. Di sudut sebuah luxury club yang eksklusif, Johan duduk bersandar di sofa beludru hitam. Di tangannya melingkar sebuah gelas berisi cairan Alkohol pekat, sementara di pangkuannya, Monica yakni sekretarisnya yang telah dua tahun bekerja bersamanya telah duduk dengan manja.
Johan seolah kehilangan ingatan tentang siapa dirinya yang dulu. Ia lupa pada pria sederhana yang dulu hanya memiliki bengkel kecil. Ia lupa bahwa keberhasilannya membangun kerajaan bisnis otomotif saat ini adalah buah dari suntikan modal tersembunyi dan koneksi yang secara halus diberikan oleh Hanum. Istrinya itu telah mengorbankan segalanya demi membangun citra Johan sebagai pria sukses yang mandiri.
Monica mengusap kerah kemeja mahal Johan, aroma parfumnya yang menyengat seolah ingin menghapus sisa-sisa aroma rumah yang mungkin masih menempel pada pria itu.
Monica menatap tajam mata Johan yang mulai sayu akibat alkohol. "Mas, sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi seperti ini? Kapan kau akan menikahi ku? Aku sudah lelah selama lebih dari satu tahun menyimpan hubungan rahasia ini!"
Johan meletakkan gelasnya di meja yang penuh dengan botol minuman. Ia menarik napas dalam, lalu menyentuh dagu Monica, mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya.
Johan tersenyum tipis, suaranya berat dan serak. "Sabar, sayang... Aku pasti secepatnya menikahi mu. Tapi tunggulah waktu yang tepat. Kamu tahu sendiri, memisahkan diri dari Hanum tidak semudah itu. Ada anak-anak, dan aku harus memastikan semua asetku aman."
Monica malah mengerucutkan bibirnya, terlihat kesal namun tetap mengelus dada Johan dengan manjanya dan memberikan kecupan penuh g4irah. perbedaan usia diantara keduanya yang cukup mencolok tak mempermasalahkan hubungan keduanya yang semakin dalam, dimata Johan saat ini, sosok Monica adalah wanita yang selama ini ia inginkan.Dia cantik, energik dan penuh g4irah.
"Waktu yang tepat itu kapan, Mas? Setiap hari aku harus melihatmu pulang ke wanita itu, sementara aku yang selalu ada untukmu di kantor, yang paham ambisimu, justru harus menunggu menjadi bayang-bayang."
"Aku tahu, dan aku sangat menghargai itu. Hanum.... dia terlalu membosankan, terlalu lurus. Dia tidak seperti kamu yang penuh gair4h. Percayalah, posisinya di hatiku sudah lama mati, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar mengakhirinya."
Mendengar janji manis itu, Monica menyembunyikan kekesalannya di balik senyum kemenangan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Johan, merasa telah berhasil menguasai pria yang dulu begitu memuja kesederhanaan tersebut.
Johan kembali meneguk minumannya hingga tandas. Ia tidak menyadari bahwa di saat ia merasa menjadi penguasa di tempat itu, ia sebenarnya sedang menghancurkan pondasi hidupnya sendiri. Ia lupa bahwa tanpa Hanum, bengkel kecilnya dulu mungkin sudah lama gulung tikar. Di bawah pengaruh alkohol dan rayuan Monica, Johan telah berubah menjadi sosok pria sombong yang sangat ia benci lima belas tahun yang lalu.
Malam itu, di antara kepulan asap rokok dan aroma alkohol, Johan benar-benar lupa jalan pulang, bukan karena tidak tahu alamatnya, tapi karena hatinya telah kehilangan kompas yang dulu bernama kesetiaan. Dan malam yang harusnya menjadi momen indah bersama dengan Hanum, kini hancur karena kebodohannya sendiri. Johan lebih memilih pulang ke Apartemennya Monica, sebuah Apartemen yang telah ia belikan untuk wanita itu, dimana di tempat itulah mereka melakukan hubungan terlarang tanpa adanya ikatan pernikahan. Bagi Monica, sosok Johan adalah ladang emas untuknya untuk bisa memperbaiki perekonomian keluarganya.
*
*
Sinar matahari pukul delapan pagi menerobos masuk melalui celah gorden, namun bagi Hanum, cahaya itu terasa menyakitkan. Matanya sembab dan wajahnya pucat karena tak sedetik pun ia memejamkan mata. Ia duduk di tepi ranjang, meratapi hampa yang kian menyesakkan dada.
Pikirannya kembali pada lima belas tahun masa perjuangan yang berdarah-darah. Hanum ingat betul bagaimana ia begadang setiap malam, jari-jarinya lincah menyusun laporan keuangan dan otaknya berputar keras menghubungkan jaringan bisnis rahasia milik keluarga Sanjaya untuk menyokong Go Green. Ia percaya pada visi Johan tentang kendaraan listrik, dan ia rela menjadi bayang-bayang demi mengangkat derajat pria yang dicintainya itu dari pemilik bengkel kecil menjadi CEO raksasa otomotif.
Tes!
Satu tetes air mata jatuh, menyusul ribuan tetes lainnya yang telah membasahi bantal semalam. Kehangatan yang dulu ia bangun dengan susah payah, kini menguap tak berbekas.
Pintu kamar terbuka kasar. Johan melangkah masuk dengan langkah gontai. Rambutnya berantakan, dasinya entah ke mana, dan aroma alkohol yang tajam langsung memenuhi ruangan yang tadinya harum bunga melati.
Hanum berdiri dengan tangan mengepal, menahan getar di suaranya.
"Mas... kamu semalam ke mana? Kenapa tidak mengabari ku? Dan kamu... semalam habis minum-minum?"
Hanum merasakan dadanya bergemuruh. Ingin rasanya ia berteriak dan menumpahkan segala kekecewaan yang telah menumpuk selama dua tahun ini, namun sisa-sisa kesabarannya masih mencoba bertahan.
Johan menatap Hanum dengan tatapan dingin dan nada meremehkan. "Kau itu selalu berpikir negatif tentangku! Iya, aku memang minum-minum, tapi itu dengan para klien bisnisku. Aku seperti ini agar perusahaan kita mendapatkan banyak investor! Kamu tahu apa soal beginian?"
Hanum tercekat mendengarnya. "Aku tahu apa? Mas, aku yang..."
Johan memotong kasar. "Sudahlah! Jangan mulai berdebat. Sekarang siapkan air panas untukku, aku ingin berendam. Tubuhku pegal-pegal."
Johan membuka kemeja putihnya dengan gerakan sembrono, lalu melemparkannya begitu saja ke atas kasur sebelum melangkah menuju kamar mandi tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Hanum mendekati kasur, tangannya gemetar saat meraih kemeja putih yang masih menyisakan panas tubuh suaminya. Ia berharap penciumannya salah, ia berharap kecurigaannya hanyalah bunga tidur. Namun, saat ia merapikan kerah kemeja itu, dunianya seolah runtuh.
Di sana, di balik kerah yang dekat dengan leher, terdapat noda merah jingga, bekas lipstik yang sangat kontras dengan warna putih kain tersebut.
Hanum berbisik lirih sambil meremas kemeja itu hingga kukunya memutih.
"Klien bisnis macam apa yang meninggalkan bekas seperti ini di lehermu, Mas?"
Air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh kilat ketegasan yang sudah lama ia simpan. Hanum Sanjaya yang lembut mungkin masih mencintai suaminya, tapi darah Sanjaya di dalam tubuhnya tidak akan membiarkan penghinaan ini berlanjut.
Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat, mendengarkan gemericik air yang seolah menertawakan kebodohannya selama ini. Cukup sudah. Jika Johan lupa siapa yang membantunya berdiri, maka Hanum sendiri yang akan mengingatkannya dengan cara yang tidak akan pernah pria itu lupakan. Penyelidikan ini baru saja dimulai.
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔