NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Pahlawan atau Penjahat

​Api tidak memiliki suara mendesis ketika ia membakar dalam skala besar. Ia meraung.

​Raungannya terdengar seperti mesin jet pesawat yang sedang dipaksa lepas landas di dalam sebuah terowongan sempit. Dinding api berwarna oranye dan merah menyala menelan pintu utama Gudang 14 dalam hitungan detik, memotong satu-satunya jalan keluar kami dengan tirai panas yang melelehkan aspal di bawahnya.

​Oksigen di dalam gudang raksasa ini disedot habis dengan kecepatan yang mengerikan untuk memberi makan reaksi pembakaran bensin. Udara yang kuhirup terasa seperti menelan pasir panas. Paru-paruku terbakar dari dalam.

​Aku berdiri mematung selama dua detik, menatap kobaran api yang mulai merambat naik menjilati tumpukan palet kayu dan atap seng. Di hadapanku, Elara berlutut di lantai semen, terbatuk keras sambil menutupi mulut dan hidungnya dengan lengan jaket kulitnya. Matanya yang memerah karena asap menatapku, dipenuhi oleh kepasrahan yang menyayat hati.

​Aku baru saja meminta maaf padanya. Aku baru saja mengakui kekalahanku dan bersiap menyambut kematian yang telah lama tertunda ini bersamanya.

​Namun, saat aku melihat air mata bercampur jelaga mengalir di pipi Elara, insting purbaku memberontak. Binatang buas di dalam dadaku yang selama sepuluh tahun ini bertahan hidup dari pukulan, kelaparan, dan sayatan pisau, menolak untuk mati terpanggang di dalam oven beton milik Darmawan Salim.

​Dan yang terpenting... aku tidak akan membiarkan Darmawan mengambil nyawa wanita ini. Tidak malam ini.

​"Berdiri!" raungku, mengalahkan gemuruh api.

​Aku mencengkeram lengan Elara, menariknya paksa dari lantai. Tubuhnya lemas, tapi aku tidak peduli. Aku menyeretnya menjauh dari titik pusat api yang semakin membesar, berlari ke arah belakang gudang yang masih tertutup bayang-bayang dan asap hitam pekat.

​"Percuma, Arlan!" Elara terbatuk hebat, suaranya parau. "Pintu samping dikunci dari luar! Tidak ada jalan lain!"

​"Setiap bangunan industri era kolonial memiliki satu hal yang sama," balasku, menyipitkan mata menembus asap tebal yang mulai membutakan pandangan. "Mereka tidak membuang limbah cair mereka melalui pintu depan!"

​Gudang ini dulunya adalah pabrik pengolahan kopra. Dalam proses industrinya, mereka menggunakan ribuan liter air yang dicampur bahan kimia untuk mencuci bahan mentah. Air kotor itu tidak mungkin dibiarkan menggenang di lantai. Harus ada sistem drainase bawah tanah yang terhubung langsung ke saluran pembuangan laut di pantai Marunda.

​Aku telah mempelajari ratusan cetak biru bangunan milik Vanguard Group selama lima tahun terakhir. Aku tidak mengingat detail gudang ini secara spesifik, tapi aku mengandalkan pola arsitektur Belanda.

​Mataku menyapu lantai semen yang kotor. Asap hitam kini sudah turun hingga sebatas dada, memaksa kami untuk merunduk agar tidak mati lemas. Hawa panas dari belakang kami terasa seperti setrika raksasa yang ditempelkan ke punggung.

​"Cari lantai yang miring!" teriakku, menunjuk ke arah tanah. "Cari lekukan drainase!"

​Elara memahami maksudku. Insting bertahannya menyala kembali. Sambil merangkak dengan satu tangan, ia menggunakan senter taktis dari pistolnya yang terjatuh tadi untuk menyapu lantai.

​"Di sini!" teriaknya dari jarak lima meter di sebelah kiriku.

​Aku merangkak cepat menghampirinya. Sinar senter Elara menyoroti sebuah jeruji besi kotak berukuran satu meter persegi yang tertanam rata dengan lantai semen. Permukaannya tertutup kerak karat setebal koin dan debu yang mengeras selama puluhan tahun. Celah-celah jerujinya nyaris tak terlihat.

​Aku menyelipkan jemariku ke sela-sela jeruji besi itu, mencoba menariknya ke atas.

​Otot bahu dan lenganku menegang hingga batas maksimal. Urat di leherku menonjol. Namun, jeruji baja seberat puluhan kilogram yang sudah menyatu dengan beton itu sama sekali tidak bergeming.

​"Benda ini sudah menyatu dengan lantai!" Elara terbatuk lagi, kali ini mengeluarkan bercak hitam dari mulutnya. Pasokan oksigen kami hanya tersisa kurang dari dua menit sebelum karbon monoksida meracuni darah kami.

​Aku menoleh ke sekeliling dengan liar. Di dekat sisa-sisa mesin konveyor yang hancur, tergeletak sebatang pipa besi pejal sepanjang lengan orang dewasa. Aku melompat, menyambar pipa besi itu, dan kembali ke dekat jeruji.

​Aku menyelipkan ujung pipa besi itu sedalam mungkin ke celah jeruji, menjadikannya tuas pengungkit.

​"Bantu aku tekan ujungnya!" teriakku pada Elara.

​Kami berdua menekan ujung pipa besi itu dengan seluruh sisa tenaga kami. Memar raksasa di tulang rusuk kiriku menjerit protes. Rasa sakit yang membutakan seolah merobek dadaku dari dalam, membuat pandanganku berkunang-kunang.

​KREK...

​Terdengar suara serpihan beton yang pecah. Jeruji itu terangkat dua sentimeter. Udara busuk berbau amonia dan lumpur laut langsung menyembur keluar dari lubang di bawahnya, namun bagi kami, itu adalah bau kehidupan.

​"Sekali lagi! Dorong!" raungku, mengabaikan rasa sakit yang nyaris membuatku pingsan.

​Dengan satu hentakan terakhir yang brutal, jeruji besi berkarat itu terlepas dari bingkai betonnya dan terbalik ke samping dengan suara dentang yang berat.

​Sebuah lubang pembuangan vertikal berdiameter sempit menganga di depan kami. Di bawahnya, terlihat genangan air hitam pekat yang mengalir lambat. Gelap gulita. Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam gorong-gorong limbah yang sudah ditinggalkan puluhan tahun itu.

​Sebuah balok penyangga atap dari kayu jati di atas kami tiba-tiba patah akibat dilahap api. Balok terbakar itu jatuh berdebam menghantam lantai hanya berjarak tiga meter dari tempat kami berjongkok, memercikkan bara api yang membakar ujung mantelku.

​"Masuk! Sekarang!" dorongku keras pada bahu Elara.

​Elara tidak ragu. Ia menyelipkan kakinya ke dalam lubang itu dan melorot turun. Suara kecipak air kotor terdengar saat kakinya menyentuh dasar gorong-gorong.

​"Dalamnya hanya sepinggang!" teriak Elara dari bawah, suaranya menggema di dalam pipa beton.

​Aku menepuk-nepuk ujung mantelku yang terbakar hingga padam, lalu ikut menjatuhkan diri ke dalam lubang itu. Begitu kakiku menyentuh dasar saluran air, hawa dingin yang menusuk tulang langsung merayapi kulitku. Air limbah yang setinggi perut ini kental oleh lumpur hitam, bangkai tikus air, dan zat kimia yang tidak diketahui jenisnya. Baunya membuat perutku melilit hebat, memaksa cairan asam lambung naik ke kerongkonganku.

​Tapi kami tidak punya waktu untuk mengeluh. Di atas kami, lidah api mulai menjilat lubang drainase, mencari sisa oksigen di lorong bawah tanah.

​"Jalan! Ikuti arus airnya!" teriakku, meraih pergelangan tangan Elara.

​Kami mengarungi lumpur kental itu dalam kegelapan absolut. Lorong beton ini hanya setinggi dada orang dewasa, memaksa kami untuk membungkuk saat berjalan. Air kotor merendam sisa luka sayatan di lenganku, menyuntikkan rasa perih yang luar biasa akibat infeksi seketika. Tapi aku terus menarik tangan Elara, memaksanya berjalan menembus kegelapan.

​Di belakang dan di atas kami, terdengar suara gemuruh yang mengerikan. Atap Gudang 14 akhirnya menyerah pada panas dan runtuh sepenuhnya, menghancurkan seisi bangunan menjadi puing-puing yang menyala.

​Guncangan dari reruntuhan itu meruntuhkan debu dan bongkahan tanah dari atap gorong-gorong ke kepala kami. Aku melingkarkan lenganku di atas kepala Elara, melindunginya dari reruntuhan batu, sementara kami terus terseret oleh lumpur yang mengalir menuju muara.

​Setiap menit di dalam lorong pembuangan ini terasa seperti berjam-jam. Udara sangat minim. Tikus-tikus got seukuran kucing merayap melintasi bahu dan kepala kami dalam kepanikan mereka menghindari getaran. Elara terisak pelan di sampingku, bukan karena menangis, melainkan karena napasnya yang habis akibat kelelahan ekstrem.

​"Sedikit lagi. Aku bisa merasakan angin," bisikku parau, meski aku sendiri tidak yakin apakah itu angin laut atau sekadar halusinasi otakku yang kekurangan oksigen.

​Setelah mengarungi lumpur beracun itu selama belasan menit yang terasa seperti selamanya, pandanganku menangkap sebuah titik cahaya kelabu di kejauhan.

​Bulan purnama yang tertutup awan mendung.

​Kami mempercepat langkah. Lumpur di bawah kaki kami mulai berubah menjadi pasir pantai yang bercampur sampah plastik. Bau amonia perlahan tergantikan oleh bau garam laut yang kuat.

​Kami akhirnya terhuyung-huyung keluar dari ujung pipa beton raksasa yang menembus tanggul berbatu.

​Hujan gerimis langsung menyambut kami, mencuci sebagian lumpur hitam yang menempel tebal di rambut dan wajah kami. Kami berdua jatuh tertelungkup ke atas hamparan pasir dan kerikil pantai Marunda.

​Elara memuntahkan air kotor dari mulutnya, terbatuk hebat sambil meremas pasir di bawah tangannya. Dadanya naik turun dengan brutal, berebut menghirup oksigen segar yang berembus dari laut lepas Jakarta.

​Aku berguling telentang, menatap awan hitam yang menggantung di langit malam. Tubuhku menggigil hebat akibat pergantian suhu dari oven api ke air limbah yang membeku. Seluruh persendianku berteriak menuntut istirahat.

​Kami selamat. Kami merangkak keluar dari neraka yang diciptakan oleh Darmawan Salim.

​Aku menoleh ke kiri, menatap Elara.

​Wanita itu perlahan duduk. Rambutnya yang panjang menempel lepek di wajahnya yang berlumuran jelaga hitam. Jaket kulitnya kotor oleh lumpur busuk. Ia tidak lagi terlihat seperti detektif yang terhormat, apalagi putri seorang miliarder. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan segala hal yang ia percayai di dunia ini.

​Mata cokelatnya bergerak menatapku.

​Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada sorot kebencian. Hanya ada sebuah pemahaman yang sunyi di antara kami.

​Malam ini, Darmawan Salim tidak hanya mencoba membakar pria yang memusuhinya, tapi ia juga mencoba membakar darah dagingnya sendiri. Elara kini tahu secara pasti, tanpa butuh pembuktian hukum lagi, bahwa monster sesungguhnya duduk di kursi direktur utama Vanguard Group. Dan aku, pria yang memakai topeng badut dan membunuh rekan-rekan ayahnya, adalah satu-satunya orang yang melindunginya dari api tersebut.

​Keseimbangan moral di dalam kepalanya telah hancur. Ia tidak akan pernah bisa melihat lencana kepolisiannya dengan cara yang sama lagi.

​Aku memaksakan tubuhku untuk duduk. Tanganku yang berlumuran lumpur merogoh saku dalam mantelku yang basah kuyup. Aku mengeluarkan ponsel prabayar yang dibungkus rapat dengan plastik kedap air. Layarnya masih menyala.

​Aku tidak membuka aplikasi peta atau menghubungi siapa pun. Aku membuka peramban web dan masuk ke portal berita nasional terbesar.

​Darmawan Salim adalah pria yang selalu bermain di dua papan catur secara bersamaan. Ia tidak mungkin hanya mengandalkan pembunuh bayaran untuk membakar kami tanpa menyiapkan narasi untuk publik. Ia butuh kambing hitam untuk menutupi jejak pembunuhannya, dan ia butuh media untuk memperkuat kebohongannya.

​Benar saja. Halaman depan portal berita itu didominasi oleh sebuah tajuk utama (headline) dengan huruf tebal berwarna merah. Berita itu baru saja diunggah sepuluh menit yang lalu, tepat saat kami sedang merangkak di dalam gorong-gorong.

​TEROR JOKER MAKIN MENGGILA: GUDANG MARUNDA DIBakar, DETEKTIF KEPOLISIAN DIDUGA DISEKAP DAN TEWAS.

​Aku mengklik tautan berita tersebut. Mataku membaca paragraf pertamanya dengan rahang yang mengeras.

​Seorang sumber dari internal kepolisian yang tidak ingin disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa Detektif Elara Salim, putri dari CEO Vanguard Group, diduga kuat tewas dibakar hidup-hidup di dalam Gudang 14 kawasan Marunda malam ini. Pihak kepolisian menemukan simbol kartu Joker di sekitar lokasi kejadian. Serangan ini diduga merupakan bentuk balas dendam membabi buta dari pelaku terhadap keluarga konglomerat Vanguard Group setelah sebelumnya pelaku juga membakar aset-aset terkait...

​Ponsel di tanganku retak saat aku meremasnya terlalu kuat.

​Darmawan Salim benar-benar jenius dalam kejahatannya.

​Ia membunuh dua burung dengan satu batu. Ia melenyapkan Elara yang memegang dokumen bukti pembunuhan ayahku, sekaligus mencetak narasi bahwa sang Joker adalah seorang teroris gila yang tidak segan-segan membakar seorang wanita polisi hidup-hidup. Darmawan membangun simpati publik untuk dirinya sendiri sebagai "ayah yang berduka", sementara ia menjadikan diriku musuh nomor satu negara ini.

​Seluruh departemen kepolisian tidak akan lagi mencariku untuk diadili. Mereka akan mencariku untuk mengeksekusiku di jalanan. Mereka akan membalas dendam untuk 'kematian' rekan mereka.

​Aku mengangkat wajahku, menatap pilar asap hitam yang mengepul jauh di belakang tanggul beton yang kami lewati tadi. Sisa-sisa Gudang 14 yang masih menyala.

​Aku memulai semua ini dengan memegang kendali. Aku menghancurkan Handoko Salim. Aku memaksa Setiawan menembak kepalanya. Aku membakar logistik Sudiro. Aku mengira aku sedang memainkan simfoni balas dendamku sendiri.

​Tapi aku salah. Darmawan Salim baru saja membalikkan papan caturnya. Ia menggunakan metodeku sendiri—api dan kekacauan—untuk mengubahku dari seorang vigilante bayangan menjadi monster yang diburu oleh semua orang.

​Elara merangkak mendekatiku, melihat layar ponsel yang retak di tanganku. Matanya membaca tajuk berita tersebut. Napasnya tertahan. Ia membaca bagaimana ayahnya sendiri secara tidak langsung sudah menuliskan berita kematiannya, bahkan sebelum api di gudang itu benar-benar padam.

​"Dia... dia menjadikanku martir palsu," bisik Elara dengan suara parau yang menyayat hati. "Dia membunuhku untuk membuat seluruh dunia membencimu."

​Aku mematikan layar ponsel itu dan memasukkannya kembali ke saku. Angin laut bertiup semakin kencang, membawa hawa dingin yang menembus hingga ke sumsum tulang.

​"Orang-orang tidak butuh kebenaran yang rumit, El," jawabku pelan. Aku menatap hamparan laut Jakarta yang gelap dan bergolak, ombaknya menghantam tanggul batu dengan amarah yang buta. "Mereka lebih suka disuapi kebohongan yang sederhana."

​Aku memejamkan mata, membiarkan gerimis membasuh sisa lumpur dari wajahku. Di jalanan kota ini, aku memulai perangku untuk mencari keadilan bagi keluargaku. Aku mengira bahwa jika aku membuka topeng para koruptor itu, dunia akan berpihak pada kebenaran.

​Tapi Darmawan Salim baru saja mengajariku satu pelajaran berharga tentang manusia. Kebenaran tidak pernah memenangkan perang. Narasi yang menang.

​Dunia hanya butuh alasan untuk membenci.

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!