Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Puncak Badai di Wijaya Mansion
.. Suasana malam Jakarta yang biasanya bising dengan suara klakson, tiba-tiba terasa sangat sunyi saat aku membelokkan mobil memasuki gerbang kediaman Clarissa. Perasaanku makin tidak enak, seperti ada hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang sumsum. Aku melirik Clarissa yang baru saja terbangun, dia mengucek matanya dengan wajah polos yang belum tahu kalau maut sedang mengintai di balik pintu rumahnya sendiri.
.. "Sudah sampai ya, Genta? Kok lampunya mati semua? Perasaan tadi pagi saya sudah pesan ke asisten rumah tangga supaya lampu teras tetap nyala," tanya Clarissa dengan suara serak khas orang bangun tidur. Aku tidak menjawab, tanganku langsung meraih tuas kunci pintu dan memastikan semuanya terkunci rapat. "Mbak Bos, jangan turun dulu. Tetap di dalam mobil, kunci pintunya dari dalam. Apapun yang terjadi, jangan keluar sampai saya yang panggil," bisikku dengan nada bicara yang sangat serius.
.. Clarissa langsung sadar kalau suasana sedang gawat. Wajahnya kembali pucat pasi, dia memegang lenganku dengan gemetar. "Genta... ada apa? Kamu jangan menakut-nakuti saya!" Aku hanya memberikan isyarat telunjuk di bibir, lalu perlahan keluar dari mobil dengan gerakan yang sangat halus. Mataku menyisir setiap sudut halaman yang gelap gulita. Tidak ada suara, bahkan suara jangkrik pun mendadak hilang entah ke mana.
.. Begitu aku melangkah mendekati pintu utama, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan pelan dari kegelapan teras. "Luar biasa... Insting bodyguard pasar ternyata lumayan tajam juga ya." Seorang pria bertubuh tegap keluar dari bayang-bayang tiang besar. Dia memakai setelan taktis hitam-hitam, wajahnya dingin tanpa emosi. Di belakangnya, muncul tiga orang lagi yang membawa pentungan listrik dan pisau lipat.
.. "Siapa kamu? Mau cari sumbangan apa mau cari perkara?" tanyaku sambil memasang kuda-kuda paling kokoh yang pernah kupelajari di terminal. Aku tahu, mereka ini bukan preman kacangan seperti anak buah Adrian. Mereka ini profesional, cara berdirinya saja sudah menunjukkan kalau mereka terlatih untuk membunuh. "Nama saya tidak penting, Genta. Yang penting adalah, malam ini tugasmu selesai. Serahkan Clarissa, dan kamu bisa pulang ke Sidoarjo dengan nyawa yang masih utuh," jawab pria itu dengan suara berat yang mengancam.
.. Aku tertawa kecil, meskipun di dalam hati aku sedang menghitung peluangku melawan empat orang profesional sekaligus. "Waduh, tawaran yang menarik. Tapi sayangnya, saya ini orangnya setia banget sama janji. Selama napas saya belum putus, jangankan Mbak Bos, helai rambutnya saja nggak bakal saya biarkan kalian sentuh!" Tanpa aba-aba, aku langsung melesat menyerang pria yang paling depan.
.. Pertarungan hebat pun pecah di halaman rumah yang sunyi itu. Aku menggunakan segala jurus yang kupunya, mulai dari teknik beladiri resmi sampai teknik tawuran pasar yang nggak ada di buku manapun. Pukulan, tendangan, sampai bantingan keras beradu di tengah kegelapan. Aku sempat terkena hantaman pentungan listrik di punggung yang membuat seluruh badanku mati rasa sejenak, tapi amarahku jauh lebih besar daripada rasa sakit itu.
.. "Jangan sentuh Mbak Bos!" teriakku sambil memberikan tendangan memutar yang telak mengenai rahang salah satu penyerang sampai dia terpental menabrak pot bunga besar. Clarissa di dalam mobil hanya bisa menutup mulutnya sambil menangis, dia melihat bagaimana aku dipukul dan ditendang berkali-kali namun tetap bangkit kembali seolah-olah aku terbuat dari besi.
.. Akhirnya, dengan sisa tenaga yang ada, aku berhasil melumpuhkan pria pemimpin mereka dengan satu kuncian leher yang mematikan sampai dia jatuh pingsan. Tiga orang sisanya yang melihat bos mereka tumbang, langsung lari kocar-kacir menuju mobil yang sudah menunggu di luar gerbang. Aku tersungkur di aspal, napasku tersenggal-senggal, darah segar mengalir dari sudut bibirku.
.. Clarissa langsung keluar dari mobil dan berlari menghampiriku. Dia memelukku sambil menangis histeris, tidak peduli dengan baju mahalnya yang terkena noda darahku. "Genta! Bangun, Genta! Jangan tinggalkan saya! Maafkan saya karena sudah membuat hidupmu dalam bahaya!" teriaknya pilu. Aku mencoba tersenyum, meskipun rasanya seluruh badanku seperti remuk. "Tenang... Mbak Bos... saya kan... sudah bilang... bodyguard sengklek ini... nggak bakal... mati semudah itu..." bisikku pelan sebelum semuanya mendadak menjadi gelap. Malam itu, di halaman rumah yang berantakan, aku membuktikan bahwa cinta dan kesetiaan seorang bodyguard sejati jauh lebih kuat daripada senjata apapun di dunia.
.. Suasana halaman rumah yang tadinya kacau balau mendadak jadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara isak tangis Clarissa yang terdengar sangat memilukan di telingaku. Aku bisa merasakan tetesan air matanya yang hangat jatuh di pipiku, bercampur dengan darah yang mulai mengering. Badanku rasanya seperti dipukuli satu kampung, kaku dan perih, tapi entah kenapa, pelukannya membuat rasa sakit itu seolah memudar.
.. "Genta, jangan tutup mata kamu! Tolong, bertahanlah... Ambulans sebentar lagi datang!" teriak Clarissa sambil terus menekan luka di lenganku dengan kain syalnya yang mahal. Aku mencoba membuka mata sedikit, menatap wajah cantiknya yang sekarang semrawut karena air mata dan ketakutan. "Mbak Bos... jangan... nangis terus... nanti cantiknya... luntur... saya nggak... bisa... gombal lagi..." bisikku patah-patah sambil mencoba meraih tangannya.
.. Clarissa justru semakin kencang menangis, dia memegang tanganku dan menempelkannya di pipinya. "Bodoh! Di saat seperti ini kamu masih sempat-sempatnya bercanda! Kamu itu nyawa saya, Genta! Kalau kamu tidak ada, siapa lagi yang akan menjaga saya dengan tulus seperti ini?" ucapnya dengan nada penuh penyesalan. Aku hanya bisa tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tanganku ke seluruh tubuhku.
.. Tak lama kemudian, sirine ambulans dan mobil polisi mulai terdengar mendekat. Cahaya lampu biru dan merah berkelebat di dinding rumah, menandakan bantuan telah tiba. Petugas medis segera mengangkatku ke atas tandu. Saat aku mulai kehilangan kesadaran karena rasa sakit yang luar biasa, aku masih sempat melihat Clarissa yang tidak mau melepas genggaman tanganku, dia terus ikut berlari di samping tandu sampai aku dimasukkan ke dalam ambulans.
.. "Jangan takut, Genta. Saya akan ada di sana saat kamu bangun nanti. Saya janji," bisik Clarissa tepat di telingaku sebelum pintu ambulans tertutup rapat. Di tengah kegelapan yang menyergap, aku merasa tenang. Aku sudah menunaikan janjiku sebagai bodyguard. Jakarta mungkin tetap kejam, tapi malam ini, aku tahu bahwa aku tidak lagi sendirian dalam menghadapinya. Perang melawan bayangan itu mungkin belum berakhir, tapi setidaknya, aku telah memenangkan satu pertempuran paling penting: memenangkan hati sang Ratu Wijaya
.. Di dalam ambulans yang melaju kencang menembus jalanan Jakarta, suara sirine seolah menjadi musik latar dari perjuanganku malam ini. Pandanganku perlahan mulai kabur, langit-langit ambulans terlihat berputar-putar. Aku merasa sangat lelah, seolah-olah seluruh tenagaku sudah tersedot habis untuk satu pertarungan hidup dan mati tadi.
.. "Genta, bertahanlah... sebentar lagi sampai rumah sakit. Kamu dengar saya kan?" suara Clarissa terdengar sangat jauh, seperti dari balik tembok yang tebal. Aku mencoba menggerakkan ujung jariku, memberi tanda bahwa aku masih ada di sini, masih berjuang untuknya. Clarissa menggenggam tanganku lebih erat lagi, air matanya jatuh membasahi telapak tanganku yang kasar.
.. Aku menarik napas panjang untuk terakhir kalinya sebelum kegelapan benar-benar menelan kesadaranku. Di dalam benakku, aku hanya melihat bayangan senyum Clarissa saat kami di pinggir danau tadi sore. Senyum yang sangat mahal harganya, senyum yang rela kubayar dengan nyawaku sendiri. "Mbak Bos... saya... sayang... Mbak Bos..." batinku lirih dalam diam.
.. Sirine ambulans terus meraung-raung, membelah kesunyian malam yang mencekam. Di markas besar Wijaya Tower, lampu ruangan keamanan mendadak menyala merah. Sebuah konspirasi besar baru saja dimulai, dan serangan malam ini hanyalah permulaan dari badai yang jauh lebih besar. Siapakah sebenarnya pria hitam itu? Dan mampukah Genta Arjuna bangkit kembali untuk menyelesaikan tugas sucinya?
.. BERSAMBUNG