Kakak tertua yang NGGA PEKA-an banget sama kasih sayang yg diberi orang sekitarnya dan dia cuma tau memberi tanpa sadar kalau dia juga butuh disayangi.
Momen momen bahagia terjadi di desa itu, sampai ketika kembali ke kota malah ada kejadian yang GONG banget...
Penasaran gimana ceritanya? Skuy pantau terus :v
JADWAL UPDATE :
Everyday.... (kalo ngga sakit / ada halangan) :v
12.00 WIB & 16.00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xingyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Refleks Yang Tertinggal
Malam itu, Kedai Kopi sudah tutup. Di ruang tengah, Arifin duduk mematung di sofa panjang. Pandangannya kosong, lurus menatap tembok putih di depannya. Sejak kejadian di toko perabot tadi siang, kepalanya terasa seperti diisi kabut tebal yang dingin. Dia nggak mendengar suara TV, nggak mendengar suara motor di jalanan, bahkan nggak mendengar keributan yang mulai terjadi tepat di depannya. Arifin terisolasi dalam dunianya sendiri, terjebak dalam labirin ingatan yang terkunci.
Fahri, yang baru saja selesai membaca dokumen legalitas di tabletnya, menghela napas panjang. Dia menatap Ren yang sedang mencoba merapikan buku-buku di rak, lalu menatap Gibran yang terus-menerus menendang kaki kursi tempat Ren berdiri.
"Gibran, berhenti. Secara logika, tindakan lo itu cuma buang-buang energi," kata Fahri datar. Dia sudah mulai menerima kehadiran Ren setelah melihat bukti hukum bahwa Ren memang adik mereka.
"Diem lo, Ri! Lo nggak ngerasa aneh apa? Bang Arifin jadi kayak mayat hidup sejak dia dateng!" bentak Gibran. Dia berjalan mendekati Ren, lalu menyentak bahu remaja laki-laki itu. "Heh, anak hutan! Keluar lo dari sini! Pergi ke mana aja kek, jangan ngerusak rumah gue!"
Ren diam. Dia menatap Arifin yang masih duduk mematung tak jauh dari mereka. Hatinya perih melihat Arifin yang "kosong" seperti itu. Ren menepis tangan Gibran pelan. "Ini rumah Bang Arifin juga. Dan Bang Arifin yang minta Ren di sini."
"Bang Arifin nggak inget lo! Dia cuma kasihan!" Gibran makin kalap. Dia mendorong Ren sampai punggung Ren menghantam rak buku. Brak!
Fahri mencoba menahan lengan kembarannya itu. "Gibran, cukup! Lo udah diluar kendali!"
Tapi Gibran menepis Fahri. Dia kembali merangsek ke arah Ren. Ren, yang setahun ini sudah diajarkan untuk bersikap tenang, menatap tajam mata Gibran tanpa rasa takut. "Meskipun Bang Arifin lupa... tapi dia tetep sayang sama Ren. Kamu takut, kan? Kamu takut perhatian Abang ke kamu hilang?"
Kalimat polos tapi tajam dari Ren itu bener-bener jadi sumbu pendek buat Gibran. Gibran merasa rahasia terdalamnya dibongkar.
"DIEM LO!"
PLAK!
Satu pukulan mentah mendarat keras di pipi kiri Ren. Ren tersungkur ke lantai, sudut bibir dan pipinya langsung lecet dan mengeluarkan darah.
"Gibran!" Fahri teriak kaget. Dia melihat Gibran yang napasnya memburu, benar-benar kehilangan kontrol. Fahri langsung lari ke arah Arifin, mengguncang bahu kakaknya itu dengan kencang. "Bang! Bang Arifin! Sadar! Gibran bener-bener udah gila! Kalau Ren sampai kenapa-napa, ini bukan salah gue ya!"
Guncangan Fahri dan suara bentakan itu akhirnya menembus kabut di kepala Arifin. Arifin tersentak, matanya berkedip cepat, dan tiba-tiba pendengarannya kembali berfungsi. Hal pertama yang dia lihat adalah Gibran yang siap melayangkan pukulan kedua, dan Ren yang jatuh di lantai sambil memegangi pipinya yang berdarah.
"GIBRAN! BERHENTI!"
Suara Arifin menggelegar di ruangan itu. Dia langsung melompat dari sofa, menyambar lengan Gibran dengan kekuatan yang nggak main-main, lalu menariknya menjauh dari Ren.
"Lo apa-apaan, Bran?! Dia adek kamu!" seru Arifin, napasnya memburu.
"Dia bukan adek gue! Dia perusak!" Gibran teriak balik, tapi dia terdiam pas liat ekspresi Arifin.
Arifin nggak mempedulikan teriakan Gibran lagi. Dia langsung berlutut di samping Ren. Begitu dia melihat luka lecet dan darah di pipi Ren, jantung Arifin rasanya kayak diremas kenceng banget.
"Ren... ya ampun," bisik Arifin.
Tangannya bergerak secara otomatis—sebuah refleks yang tertinggal dari memori yang hilang. Tanpa berpikir, Arifin langsung menarik wajah Ren pelan, meniup luka di pipinya dengan lembut, persis seperti yang sering dia lakukan di desa dulu. Tangannya bergetar hebat, dan matanya menunjukkan rasa khawatir yang sangat dalam, jauh lebih besar daripada rasa khawatir ke orang asing.
"Sakit banget ya? Maafin Gibran... maafin Abang nggak jagain kamu," kata Arifin, suaranya parau.
Ren menatap mata madu Arifin yang sekarang sudah kembali "bernyawa". Air mata Ren jatuh satu tetes. Meskipun Arifin belum ingat, tapi gerakan tangan Arifin di pipinya saat ini terasa sangat akrab.
Gibran yang melihat itu makin ngerasa dunianya runtuh. Arifin benar-benar lebih memprioritaskan Ren. Fahri cuma bisa berdiri di pojokan, dia membenarkan kacamatanya yang sedikit miring.
"Ternyata... insting lo lebih cepet daripada memori lo, Bang," gumam Fahri pelan.
Malam itu, Arifin dengan telaten mengobati luka Ren, sementara Gibran mengurung diri di kamar dengan penuh amarah. Arifin mulai menyadari satu hal: meskipun kepalanya nggak kenal siapa Ren, tapi seluruh tubuhnya... seluruh hatinya... menolak untuk membiarkan anak ini terluka sedikit pun.
...----------------...
Di ruang tengah, Arifin masih sibuk mengoleskan salep ke pipi Ren dengan tangan gemetar. Tapi di lantai atas, badai lain sedang mengamuk. Gibran membanting pintu kamarnya, menendang kursi, dan melempar bantal ke arah tembok. Napasnya memburu, matanya merah penuh amarah dan ketakutan yang nggak bisa dia jelasin.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka. Fahri masuk dengan wajah tenang, tapi sorot matanya tajam.
"Keluar lo, Ri! Gue nggak mau denger ceramah logika lo!" teriak Gibran tanpa menoleh.
Fahri nggak dengerin. Dia menutup pintu, menguncinya, lalu berjalan mendekati Gibran. Sebelum Gibran sempat protes lagi, Fahri langsung mencengkeram bahu kembarannya itu dan mendorongnya jatuh ke atas ranjang.
"Apa-apaan lo—?!"
Gibran mau berontak, tapi Fahri langsung menindih kedua bahu Gibran dengan tangannya, menekannya ke kasur sampai Gibran nggak bisa gerak. Ini pertama kalinya Fahri pake tenaga fisiknya seserius ini ke Gibran.
"Diem dulu, Bran! Dengerin gue!" bentak Fahri. Wajah mereka cuma berjarak beberapa senti.
Gibran terengah-engah, dadanya naik turun. "Lo belain anak itu juga, kan? Lo sama kayak Bang Arifin! Kalian mau buang gue gara-gara anak hutan itu!"
"Nggak ada yang mau buang lo, bego!" Fahri menatap Gibran tepat di mata. "Lo itu takut, kan? Lo takut posisi lo di hati Bang Arifin digantiin sama Ren? Lo takut Bang Arifin bakal lupa sama kita juga kalau dia makin deket sama anak itu?"
Mendengar kata-kata jujur itu, pertahanan Gibran runtuh. Tenaganya mendadak hilang. Dia berhenti meronta. Bibirnya gemetar, dan setetes air mata jatuh dari sudut matanya.
"Bang Arifin... tadi dia niup luka anak itu, Ri," bisik Gibran parau, air matanya makin deras. "Gue belasan tahun bareng dia, tapi gue belum pernah liat dia natap orang setulus itu sejak dia amnesia. Gue takut... gue takut kalau nanti dia beneran inget masa lalunya di desa, dia bakal milih anak itu dan ninggalin kita."
Fahri ngerasain sesak di dadanya liat kembarannya sehancur ini. Dia ngelepasin tekanan di bahu Gibran, lalu dia duduk di sampingnya, narik kepala Gibran biar nyender di bahunya.
"Bang Arifin emang lagi sakit, Bran. Pikirannya lagi kacau, dia nggak bisa jadi 'abang' yang kita kenal dulu buat sementara waktu," ucap Fahri lembut, suaranya kali ini nggak kaku kayak biasanya. "Tapi lo lupa satu hal. Lo punya gue."
Gibran sesenggukan, dia nyengkeram kaos Fahri.
"Gue emang lahir cuma beda beberapa menit lebih dulu dari lo, tapi gue tetep kakak lo," Fahri meluk Gibran erat banget, mencoba jadi jangkar buat kembarannya yang lagi terombang-ambing. "Kalau Bang Arifin lagi nggak bisa pegang tangan lo, pegang tangan gue. Gue nggak akan kemana-mana. Gue bakal ada di sini buat lo, gantiin posisi Bang Arifin sampe dia sembuh."
Gibran nangis sejadi-jadinya di pelukan Fahri. Semua rasa iri, rasa terancam, dan rasa takut kehilangan itu perlahan luntur. Dia ngerasa anget yang beda dari Fahri—sesuatu yang selama ini dia cuma cari dari Arifin.
"Jangan... jangan tinggalin gue juga, Ri," isak Gibran.
"Nggak akan. Kita kembar, inget? Satu paket," Fahri ngelus punggung Gibran sampe napas adiknya itu mulai teratur.
Fahri sadar, mulai sekarang dia harus jadi orang yang lebih kuat. Dia harus jagain Gibran biar nggak makin liar, sambil terus mantau perkembangan Arifin dan Ren. Di luar kamar, suasana rumah mungkin masih penuh ketidakpastian, tapi di dalam kamar itu, si kembar baru saja menemukan kekuatan baru dalam ikatan mereka sendiri.
Gibran perlahan mulai tenang. Matanya masih sembab, tapi amarahnya sudah nggak meledak-ledak lagi. Dia sadar, dia nggak sendirian ngadepin situasi gila ini.
#BERSAMBUNG