NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Tinta yang Mengubah Takdir

Pagi itu, sinar matahari di Jakarta terasa lebih bersahabat. Arumi duduk di meja makan dengan laptop yang terbuka, namun pikirannya tidak tertuju pada barisan kalimat yang sedang ia susun. Matanya terus teralihkan pada ponselnya yang terletak di samping gelas jus jeruk. Kemarin, Pandu mengirimkan pesan singkat yang membuat jantungnya berdebar kencang sejak saat itu.

“Rum, aku sudah menunjukkan tiga bab pertama dan sinopsis novelmu ke kepala editor fiksi di kantorku. Beliau sangat tertarik. Bisa datang ke kantor jam sepuluh pagi ini? Ada kontrak yang ingin didiskusikan.”

Kontrak. Penerbitan. Kata-kata itu terasa seperti mimpi bagi Arumi. Selama bertahun-tahun, ia menulis dalam kesunyian, menyembunyikan draf-drafnya di balik tumpukan majalah fashion milik Siska agar tidak ditertawakan. Dan sekarang, seseorang benar-benar ingin menerbitkan karyanya.

"Kenapa jusmu tidak diminum?" suara berat Adrian membuyarkan lamunan Arumi.

Adrian muncul dengan setelan jas charcoal grey yang sempurna. Ia sedang merapikan kancing mansetnya sambil menatap Arumi dengan dahi berkerut.

"Mas... Pandu menelepon. Penerbitannya tertarik dengan novelku," ujar Arumi, suaranya sedikit bergetar karena antusias.

Adrian menghentikan gerakannya. Ia berjalan mendekat dan berdiri di samping kursi Arumi.

"Benarkah? Itu berita luar biasa, Arumi."

"Mereka memintaku datang jam sepuluh. Tapi... aku sedikit takut, Mas. Bagaimana kalau mereka hanya tertarik karena namaku sekarang dikaitkan dengan Pramoedya?"

Adrian membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi Arumi, mengurungnya dalam aroma parfum kayu cendana yang maskulin.

"Dengar, Arumi. Aku sudah membaca tulisanmu. Pramoedya mungkin bisa membuka pintu, tapi kata-katamu sendirilah yang membuat mereka ingin melangkah masuk.

Pergilah. Tunjukkan pada mereka siapa penulis hebat yang selama ini bersembunyi di rumah ini."

Arumi mendongak, menatap mata Adrian. Dukungan pria itu terasa seperti fondasi yang kokoh bagi rasa percaya dirinya yang baru tumbuh. "Mas tidak keberatan kalau aku bertemu Pandu lagi?"

Adrian tersenyum tipis—senyum yang sedikit mengandung sisa kecemburuan namun lebih banyak rasa bangga. "Asal dia tetap profesional sebagai editormu, aku tidak keberatan. Tapi ingat, sopir akan mengantarmu dan menunggumu sampai selesai."

Gedung penerbitan itu tampak megah dan penuh dengan poster-poster buku best-seller. Arumi merasa sangat kecil saat melangkah masuk, namun kehadiran Pandu di lobi segera membuatnya tenang.

"Arumi! Selamat datang!" Pandu menyambutnya dengan antusiasme yang murni. "Ayo, Bu Lastri sudah menunggu di ruang rapat."

Pertemuan itu berlangsung lebih baik dari yang dibayangkan Arumi. Bu Lastri, wanita paruh baya dengan kacamata berbingkai elegan, memuji gaya bahasa Arumi yang dianggap memiliki "jiwa".

"Kami ingin menerbitkan novelmu, Arumi. Kami melihat potensi besar dalam tema 'menemukan jati diri' yang kamu angkat," ujar Bu Lastri sambil menyodorkan beberapa lembar dokumen. "Ini draf kontraknya. Silakan dibaca dulu, atau bawa pulang untuk didiskusikan dengan pengacaramu—maksud saya, dengan suamimu."

Arumi tersenyum canggung. Ia membaca poin-poin kontrak itu dengan teliti. Nilai royaltinya adil, dan yang paling penting, mereka memberinya kebebasan kreatif sepenuhnya. Saat ia menandatangani lembaran itu, Arumi merasa seolah-olah ia baru saja menandatangani akta kelahirannya sendiri sebagai seorang individu, bukan sebagai "adik siapa" atau "istri siapa".

Keluar dari kantor penerbitan, Arumi merasa dunianya begitu cerah. Ia ingin segera berbagi kabar ini dengan Adrian. Namun, saat ia berjalan menuju mobil yang menunggunya, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di sampingnya.

Kaca jendela terbuka, menampilkan wajah ibunya, Ratna.

"Arumi? Sedang apa kamu di sini?" tanya Ratna heran.

"Bu? Aku... aku baru saja menandatangani kontrak novelku," jawab Arumi senang.

Wajah Ratna tidak menunjukkan kegembiraan yang Arumi harapkan. Sebaliknya, wajahnya tampak mendung. "Oh, baguslah. Tapi Arumi... bisakah kita bicara sebentar? Ibu sedang menemani Siska ke dokter di dekat sini."

Hati Arumi mencelos saat melihat Siska duduk di kursi belakang, wajahnya tampak pucat dan lesu.

Arumi pun masuk ke dalam mobil ibunya.

"Siska sakit?" tanya Arumi cemas.

"Dia depresi, Rum," bisik Ratna saat Siska hanya diam menatap jendela. "Sejak kejadian di rumahmu tempo hari, dia tidak mau makan. Dia merasa seluruh dunia membencinya. Dia bilang... dia ingin minta maaf sekali lagi padamu, tapi dia malu."

Siska menoleh perlahan. Matanya tidak lagi berkilat sinis, hanya ada kekosongan di sana.

"Rum... maafkan aku ya. Aku tahu aku egois. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya menjadi orang biasa yang tidak dipuji-puji."

Arumi meraih tangan kakaknya. Dingin. "Kak, tidak ada yang membencimu. Kita hanya butuh waktu untuk memperbaiki semuanya."

"Ayahmu sedang berusaha mencarikan Siska kegiatan di yayasan sosial milik teman lamanya," tambah Ratna. "Tapi Siska terus-menerus membandingkan dirinya denganmu sekarang. Dia merasa kamu sudah menang jauh darinya."

"Ini bukan soal menang atau kalah, Bu," ujar Arumi tegas namun lembut. "Aku hanya sedang menjalani hidup yang seharusnya aku jalani. Dan Kak Siska juga harus melakukan hal yang sama."

Pertemuan singkat itu meninggalkan rasa pahit di lidah Arumi. Ia menyadari bahwa kesuksesannya seolah-olah menjadi garam di atas luka kakaknya. Namun, ia teringat kata-kata Adrian: ia tidak boleh membiarkan rasa bersalah menghancurkan kebahagiaannya.

Malam harinya, rumah terasa sangat hangat. Arumi memasak menu spesial untuk merayakan kontrak bukunya. Saat Adrian pulang, ia membawakan sebuah buket besar bunga lili putih—bunga favorit Arumi yang pernah ia sebutkan selintas dalam sebuah obrolan minggu lalu.

"Untuk penulis favoritku," ujar Adrian sambil menyerahkan bunga itu.

Mereka makan malam dengan suasana yang sangat akrab. Arumi menceritakan tentang kontraknya, namun ia juga menceritakan tentang pertemuannya dengan Siska dan ibunya.

Adrian mendengarkan dengan saksama. Ia meletakkan garpunya dan menatap Arumi. "Kamu khawatir kesuksesanmu akan menyakiti Siska?"

Arumi mengangguk pelan. "Aku merasa seperti mencuri panggung yang selama ini miliknya."

"Panggung itu tidak pernah benar-benar miliknya, Arumi. Dia hanya meminjamnya dengan cara yang salah," ujar Adrian bijak. "Dan kamu tidak mencuri apa pun. Kamu membangun panggungmu sendiri dengan kerja keras dan bakatmu. Jika Siska merasa sakit melihatmu sukses, itu adalah masalah yang harus dia selesaikan dengan dirinya sendiri, bukan tanggung jawabmu."

Adrian menggenggam tangan Arumi di atas meja. "Besok, aku ingin kita pergi sejenak dari Jakarta. Hanya akhir pekan singkat. Aku punya villa di Puncak yang cukup tenang. Kamu bisa menulis di sana, dan aku bisa beristirahat tanpa gangguan telepon kantor."

"Hanya kita berdua, Mas?"

"Hanya kita berdua. Anggap saja ini perayaan kecil atas keberhasilanmu."

Sabtu pagi, mereka berangkat menuju Puncak. Perjalanan itu diisi dengan tawa dan diskusi mengenai plot novel Arumi. Adrian ternyata pengkritik yang tajam namun konstruktif. Ia banyak memberikan masukan mengenai bagaimana karakter pria dalam novel Arumi seharusnya bersikap lebih "manusiawi".

Villa milik Adrian terletak di lereng bukit yang dikelilingi oleh perkebunan teh. Udara sejuk dan kabut tipis menyambut mereka. Di sana, tidak ada drama keluarga, tidak ada bisik-bisik sosialita, hanya ada suara kicauan burung dan gemericik air sungai di kejauhan.

Sore harinya, saat mereka sedang duduk di balkon villa, Arumi membuka laptopnya. Ia mulai menulis Bab 18.

“Sang gadis tidak lagi menoleh ke belakang. Ia menyadari bahwa bayangan itu bukan untuk ditakuti, tapi untuk diingat sebagai bagian dari perjalanannya menuju cahaya.”

Adrian duduk di kursi sebelah, membaca buku biografi yang ia bawa. Sesekali ia melirik Arumi, memastikan istrinya nyaman.

"Mas," panggil Arumi tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

"Ya?"

"Kenapa Mas memilih villa yang sesepi ini? Bukannya Mas biasanya suka tempat yang serba mewah dan modern?"

Adrian menutup bukunya. "Karena di sini, aku tidak perlu menjadi Adrian sang CEO. Di sini, aku bisa menjadi Adrian yang biasa. Dan aku ingin kamu mengenal Adrian yang itu, bukan hanya Adrian yang memberimu kontrak pernikahan."

Arumi berhenti mengetik. Ia menoleh dan menemukan Adrian sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang kini tidak lagi menyimpan es, melainkan api yang hangat dan menenangkan.

"Aku menyukai Adrian yang ini, Mas," bisik Arumi.

Malam itu, di bawah selimut tebal dan ditemani suara hujan yang turun membasahi bumi Puncak, Arumi merasa bahwa kontrak satu tahun itu kini terasa sangat singkat. Ia mulai bertanya-tanya, apa yang akan terjadi setelah satu tahun berakhir? Apakah ia akan sanggup melepaskan semua ini? Ataukah Adrian akan memintanya untuk tetap tinggal?

Namun, Arumi segera mengusir pikiran itu. Ia ingin menikmati setiap detiknya. Konflik dengan Siska mungkin masih ada, tekanan publik mungkin belum sepenuhnya hilang, namun di dalam pelukan Adrian, Arumi merasa ia telah menemukan akhir cerita yang sesungguhnya—bahkan sebelum novelnya selesai ditulis.

"Mas," gumam Arumi saat ia mulai mengantuk di pundak Adrian.

"Tidurlah, Arumi. Besok kita akan melihat matahari terbit bersama. Dan aku janji, tidak ada sarapan gosong kali ini karena aku sudah menyewa koki lokal."

Arumi tertawa kecil dan perlahan terlelap. Baginya, tinta takdir telah menuliskan bab yang paling indah dalam hidupnya: menjadi istri pengganti yang akhirnya menemukan cinta yang asli.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!