Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Malam itu, bunker terasa berbeda.
Bukan karena suhu. Sistem ventilasi masih menjaga ruangan tetap lima belas derajat. Bukan karena cahaya. Lampu LED masih menyala dengan intensitas yang sama. Tapi ada sesuatu yang mengambang di udara. Sesuatu yang tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Ketegangan. Ketakutan. Kecemasan yang merayap seperti uap dingin dari celah-celah dinding.
Arka duduk di ruang kontrol, menatap monitor kamera yang tidak pernah menampilkan apa pun selain putih dan sunyi. Di sampingnya, Pratama berdiri dengan tangan di saku jaket tebalnya. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa, tapi Arka tahu pria itu sedang menghitung. Menghitung peluang. Menghitung ancaman. Menghitung berapa banyak peluru yang mereka punya.
“Ada enam orang,” kata Pratama. Suaranya pelan, hanya untuk Arka. “Mungkin lebih. Mereka punya senjata. Mereka terorganisir. Bukan sekelompok orang yang kebetulan bertahan.”
“Kamu lihat dari cara mereka bergerak?”
“Aku dengar dari cara mereka bicara. Ada komando. Ada hierarki. Mereka sudah melakukan ini berkali-kali.”
Arka tidak bertanya apa maksudnya. Dia tahu. Berburu. Bukan berburu binatang. Berburu manusia. Di dunia yang membeku ini, manusia adalah mangsa paling berharga. Mereka punya makanan. Mereka punya pakaian. Mereka punya senjata. Dan jika perlu, mereka sendiri adalah makanan.
“Mereka akan menemukan pintu darurat,” kata Arka. Bukan pertanyaan.
“Ya. Mungkin sudah.”
Di ruang utama, yang lain berkumpul. Umar duduk di ujung meja, jari-jarinya mengetuk kayu dengan irama tidak teratur. Matanya kosong, menatap ke dinding. Dewi di sampingnya, tenang, tapi tangan yang memegang gelas air mineral sedikit gemetar. Wawan berdiri di dekat rak stok, tangannya memegang kunci inggris—mungkin tanpa sadar, sebagai alat pertahanan. Rina duduk di sudut, dekat pintu ruang tanam, memeluk catatan tanamnya seperti perisai.
Arka masuk ke ruangan. Semua kepala menoleh.
“Kita bicarakan apa yang terjadi,” kata Arka. “Ada kelompok di atas sana. Mereka tahu ada orang di stasiun. Mereka mungkin sudah menemukan pintu darurat.”
Umar berhenti mengetuk. “Apa yang mereka mau?”
“Apa pun yang kita punya. Makanan. Air. Obat. Senjata. Atau mungkin kita sendiri.”
Umar pucat. Dewi menutup mata. Wawan menggenggam kunci inggrisnya lebih erat.
“Kita bisa lari,” kata Rina dari sudut. Suaranya kecil, seperti anak kecil yang takut gelap. “Lewat terowongan ke stasiun. Pergi ke tempat lain.”
“Ke mana?” tanya Arka. “Jakarta mati. Suhu di luar minus delapan belas. Tidak ada tempat berlindung. Tidak ada makanan. Tidak ada air.”
“Kita bisa cari tempat lain. Mungkin ke Monas. Radio bilang ada pusat evakuasi.”
“Radio itu mungkin hanya rekaman. Atau jika benar ada, tempat itu sudah penuh dengan orang. Dan orang-orang yang lebih dulu sampai di sana mungkin sudah melakukan hal yang sama seperti kelompok di atas.”
Rina tidak menjawab. Dia menunduk, menekan catatan tanamnya ke dada.
Pratama yang sedari tadi diam di belakang akhirnya berbicara. “Ada pilihan lain. Kita bertahan.”
Umar menoleh. “Bertahan? Enam orang melawan mereka?”
“Kita punya keuntungan. Mereka tidak tahu bunker ini. Mereka tidak tahu terowongan. Mereka tidak tahu persis berapa banyak kita. Dan kita tahu medan.”
“Kita tidak punya cukup peluru,” kata Umar. Matanya bergerak cepat, seperti orang yang sedang menghitung di kepalanya. “Pratama bilang, dua pistol, dua ratus butir. Itu tidak cukup untuk perang.”
“Ini bukan perang,” kata Arka. “Ini bertahan. Kita tidak perlu membunuh mereka semua. Kita hanya perlu membuat mereka tahu bahwa menyerang kita terlalu mahal.”
Diam. Udara terasa berat.
“Saya setuju dengan Pratama,” kata Dewi tiba-tiba. Semua menoleh. Wanita itu membuka mata, menatap satu per satu. “Saya sudah lihat orang-orang yang putus asa. Mereka tidak akan berhenti. Kalau kita lari, mereka akan mengejar. Kalau kita bersembunyi, mereka akan mencari. Satu-satunya cara adalah membuat mereka takut.”
Umar menatap Dewi lama. Lalu dia menghela napas panjang. “Baiklah. Saya ikut.”
Wawan mengangguk. Rina masih menunduk, tapi dia tidak membantah.
Arka menatap mereka satu per satu. “Kita mulai sekarang.”
Persiapan dilakukan dalam diam. Pratama memeriksa senjata. Dua pistol, satu senapan angin. Amunisi dihitung ulang. Dua ratus tiga belas butir. Cukup.
Umar membantu Wawan memindahkan rak-rak besi di dekat pintu masuk. Rak-rak itu akan menjadi penghalang jika pintu berhasil ditembus. Dewi menyiapkan perban dan obat-obatan di ruang medis. Rina tetap di ruang tanam, mematikan lampu grow untuk menghemat listrik. Tidak ada yang tahu berapa lama mereka harus bertahan.
Arka berdiri di depan pintu baja. Telapak tangannya menempel di permukaan yang dingin. Di balik pintu ini, terowongan menuju stasiun. Di balik terowongan itu, stasiun yang membeku. Dan di atas stasiun, orang-orang yang sedang memburu mereka.
“Mas,” suara Pratama dari belakang. “Ada yang harus saya katakan.”
Arka menoleh.
“Mereka bukan pemburu biasa. Cara mereka bergerak, cara mereka bicara, cara mereka mengatur penjagaan. Mereka terlatih.”
“Pernah militer?”
“Mungkin. Atau mantan aparat. Atau preman yang terbiasa dengan kekerasan. Tapi yang pasti, mereka sudah melakukan ini berkali-kali.”
Arka tidak terkejut. Di kehidupan pertama, dia melihat bagaimana manusia berubah ketika hukum dan negara runtuh. Mereka yang punya senjata menjadi penguasa. Mereka yang punya keberanian menjadi algojo. Mereka yang lemah menjadi korban.
“Kita punya satu keuntungan,” kata Arka. “Mereka tidak tahu kita sudah tahu tentang mereka.”
Pratama mengangguk. “Kita serang malam ini?”
“Kita cek dulu. Lihat apakah mereka sudah menemukan pintu darurat.”
Mereka berdua masuk ke terowongan. Senter hanya satu, dengan intensitas paling rendah. Cukup untuk melihat tanah di bawah kaki, tidak cukup untuk menerangi terlalu jauh.
Terowongan terasa lebih dingin dari biasanya. Atau mungkin itu hanya rasa takut yang membekukan darah. Arka berjalan perlahan, setiap langkah diatur agar tidak menimbulkan suara. Di belakangnya, Pratama bergerak dengan keheningan yang tidak pernah dia miliki.
Mereka berhenti sepuluh meter sebelum pintu darurat. Dari sini, mereka bisa mendengar.
Awalnya hanya sunyi. Sunyi yang pekat, yang menekan dari segala arah. Tapi kemudian, suara. Suara logam bergesekan. Suara orang berbisik. Suara langkah kaki di beton.
Pratama mengangkat tiga jari. Tiga orang. Mungkin di depan pintu.
Arka mendekat, merayap di dinding terowongan. Di ujung, pintu darurat tertutup rapat. Tapi dari sela-sela pintu, cahaya tembus. Senter. Atau obor. Mereka sudah ada di stasiun.
Suara laki-laki, pelan, tapi cukup jelas di keheningan yang pekat.
“Kamu yakin ada pintu di sini?”
“Iya. Lihat bekasnya. Baru dibuka.”
“Buka.”
Gesekan logam. Seseorang mencoba membuka pintu dari sisi luar.
Arka mundur perlahan. Pratama sudah di belakangnya, memberi isyarat untuk kembali.
Mereka berjalan cepat tanpa suara. Begitu sampai di bunker, Arka menutup pintu terowongan dengan panel kayu. Lalu menoleh ke Pratama.
“Mereka akan masuk.”
“Malam ini. Atau besok.”
“Kita tidak bisa menunggu.”
Di ruang utama, Arka memanggil semua orang. Wajah mereka pucat. Umar memegang obeng di tangannya, seperti senjata.
“Mereka sudah menemukan pintu darurat,” kata Arka. “Mereka akan masuk. Mungkin malam ini.”
“Apa yang kita lakukan?” tanya Umar.
Arka menatap Pratama. Pria itu mengangguk.
“Kita serang lebih dulu,” kata Pratama. “Mereka tidak tahu bunker ini. Mereka tidak tahu terowongan. Mereka akan buka pintu dari luar, perlahan, karena tidak tahu apa yang ada di baliknya. Saat mereka masuk, kita sudah menunggu.”
“Kita bunuh mereka?” suara Rina kecil, nyaris berbisik.
“Kalau perlu,” kata Pratama. “Tapi cukup buat mereka mundur. Mereka datang untuk mangsa yang mudah. Kalau mereka tahu di sini ada perlawanan, mereka akan pikir ulang.”
Arka menambahkan, “Kita tidak punya pilihan. Kalau mereka masuk, mereka akan ambil semua yang kita punya. Dan kita tidak punya tempat lain.”
Umar menggenggam obengnya erat. “Saya ikut.”
“Tidak,” kata Arka. “Hanya saya dan Pratama. Kalian di belakang. Siapkan penghalang. Kalau kami mundur, kalian harus siap menutup pintu.”
Dewi berdiri. “Saya di ruang medis. Kalau ada yang luka, bawa ke saya.”
Rina mengangguk. Wawan sudah bergerak ke rak stok, mulai memindahkan barang-barang untuk membuat penghalang.
Arka menoleh ke Pratama. “Kita siap?”
Pratama mengeluarkan pistol, memeriksa magasin. “Siap.”
Mereka berdua berdiri di depan pintu terowongan. Di balik panel kayu, kegelapan. Di balik kegelapan, pintu darurat. Di balik pintu darurat, musuh.
Arka membuka panel. Udara dingin langsung menyergap. Dia masuk ke terowongan, Pratama di belakang. Mereka berjalan hingga lima meter sebelum pintu darurat. Di sini, mereka berhenti. Pratama menunjuk ke dinding terowongan, memberi isyarat: kita tunggu di sini.
Arka mematikan senter. Gelap total.
Mereka menunggu.
Menit berlalu. Setiap detik terasa seperti satu jam. Arka merasakan dingin merayap masuk ke jaketnya. Jari-jarinya mulai mati rasa. Napasnya ditahan, hanya keluar dalam embusan kecil yang tidak terdengar.
Lalu, suara.
Gesekan logam. Seseorang membuka pintu darurat dari sisi lain. Pelan. Hati-hati.
Cahaya masuk ke ujung terowongan. Senter. Dipegang oleh tangan yang tidak terlihat. Sorotnya menyapu dinding tanah, naik ke langit-langit kayu, lalu turun ke lantai.
Arka tidak bergerak. Pratama di sampingnya juga tidak.
Suara laki-laki, dari balik pintu. “Ada lorong. Panjang.”
“Masuk. Cepat.”
Langkah kaki. Satu orang masuk ke terowongan. Senter menyala, menerangi dinding-dinding yang lembap. Pria itu berjalan perlahan, menunduk karena tinggi terowongan hanya cukup untuk berdiri tegak.
Arka bisa melihatnya sekarang. Pria bertubuh besar, jaket tebal, wajah tertutup balaclava. Di tangan kanannya, senter. Di tangan kiri, parang.
Pria itu berjalan lebih dalam. Sepuluh meter. Lima belas. Dua puluh.
Dua puluh lima meter. Dia sudah terlalu jauh dari pintu. Terlalu jauh untuk kembali dengan cepat.
Sekarang.
Pratama bergerak. Tidak ada suara. Tidak ada peringatan. Dalam sekejap, dia sudah di belakang pria itu, lengan melingkar di leher, pistol ditempelkan di pelipis.
“Satu suara, kamu mati,” bisik Pratama.
Senter jatuh. Memantul di tanah, menyorot ke langit-langit. Pria itu berusaha meronta, tapi Pratama lebih kuat. Setelah beberapa detik, dia berhenti.
Arka mengambil senter, mengarahkannya ke pintu darurat. Masih ada yang lain di luar. Dua orang, mungkin lebih.
“Tutup pintu,” bisik Arka.
Pratama mendorong pria itu ke dinding, memegangnya dengan satu tangan. Tangan satunya meraih gagang pintu darurat. Dia menarik. Pintu besi itu tertutup dengan bunyi benturan yang bergema di keheningan.
Di sisi lain, suara teriakan. “Hei! Ada apa?”
Pratama membanting pria itu ke tanah. Arka mendekat, senter menyorot wajah di balik balaclava. Mata pria itu membelalak, napasnya tersengal.
“Kita bisa bicara,” kata Arka pelan. “Atau kita bisa mengakhiri ini di sini. Pilih.”
Di balik pintu, suara-suara mulai ramai. Ada yang mencoba membuka dari sisi luar. Tapi pintu darurat itu hanya bisa dibuka dari dalam. Mereka terkunci di luar.
Pria di tanah itu mengangkat tangan. “Bicaralah,” katanya, suarara parau.
Arka menatap mata pria itu. Mata yang sudah kehilangan rasa takut. Mata yang sudah terbiasa dengan kekejaman. Tapi untuk saat ini, mata itu takut. Takut pada kegelapan. Takut pada pistol yang menempel di kepalanya.
Di balik pintu, suara-suara itu masih terdengar. Tapi mereka tidak bisa masuk.
Dan di dalam terowongan, Arka tahu, ini baru awal.
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁