Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 - Dewasa Itu....
Ice cream udah, Chiki, wafer, cereal, coklat, permen juga ada. Pembalut, pengharum ruangan, kapas wajah, juga ada. Hmm, apalagi ya?
Gwen mengecek isi keranjangnya. Niatnya cuma mau beli ice cream, tapi malah merembet ke barang lainnya. Ya, begini jadi cewek—antara niat awal dan eksekusi sering kali nggak sejalan kalau sudah urusan belanja.
Setelah membayar, ia memilih jalan memutar lewat taman kecil di dekat minimarket, berharap angin sore bisa mengusir bayangan Aga yang masih menempel di kepalanya.
"Huaaa!"
Teriakan kecil itu membuat Gwen tersentak. Di depannya, seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun tersungkur di rumput.
Gwen langsung berlari menghampiri dan berjongkok. “Kamu nggak apa-apa, sayang?”
Gadis kecil itu malah menangis semakin kencang, tubuhnya gemetar. Gwen cepat memeriksa tangan dan lututnya — tidak ada luka serius, hanya kotor karena rumput dan tanah.
“Ya ampun, Naima!” teriak seorang pria sambil berlari mendekat.
Gwen membeku sejenak. Pria itu adalah Rama, cinta pertamanya, yang kini memeluk gadis kecil di hadapannya dengan panik.
"Sakiiittt, Om..." adu Naima sambil terisak.
Rama menoleh. Matanya langsung membesar begitu menyadari Gwen berdiri hanya beberapa langkah di belakangnya. Senyum kaget bercampur lega muncul di wajahnya.
“Gwen…?” suaranya rendah, hampir tak percaya.
Gwen tersenyum kaku, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang.
“Mas Rama… kamu sekarang tinggal di sini?”
Rama menggeleng cepat, masih menggendong Naima erat-erat. “Enggak. Mamaku yang tinggal di sekitar sini. Aku… benar-benar nggak nyangka ketemu kamu di sini.”
Gwen menelan ludah, gugup tapi tak bisa menyembunyikan rasa hangat yang merayap di dada.
“Aku juga, Mas.”
"Sakiiittt, Om!" rengek Naima lagi, wajahnya memerah menahan sakit.
“Iya, nanti kita obatin di rumah ya,” ucap Rama sambil mengusap-usap punggung keponakannya dengan lembut.
“Gak mau! Maunya sekarang! Sakit, Om!” teriak Naima, air matanya semakin deras.
Rama kelihatan gelagapan. Gwen melihat itu dan langsung berjongkok lagi, menyamakan tinggi tubuhnya dengan Naima.
“Sakit ya, dek?” tanya Gwen lembut, suaranya tenang dan hangat.
Naima menoleh, air mata masih menggenang di mata bulatnya. “Iya…”
Gwen tersenyum kecil. “Oke, kita bersihkan dulu ya, biar nggak perih lagi.” Ia mengeluarkan botol air mineral dan tisu dari kantong belanjaannya, lalu membasahi tisu itu dengan air.
“Sini, tangannya Tante lap dulu.”
Meski awalnya sungkan, Naima akhirnya mengulurkan kedua tangannya yang kecil. Gwen membersihkan kotoran dengan gerakan pelan dan hati-hati.
“Ada yang perih nggak?” tanyanya sambil tersenyum.
Naima menggeleng pelan. Matanya yang tadinya berkaca-kaca mulai terlihat lega.
Gwen melanjutkan membersihkan lutut Naima yang kotor. “Kamu namanya Naima, ya?”
Gadis kecil itu mengangguk malu-malu. “Iya…”
“Wah, namanya cantik. Kayak orangnya,” puji Gwen lembut.
Naima tersenyum kecil, pipinya memerah. Setelah tangan dan lututnya bersih, Gwen mengelus rambutnya dengan sayang.
“Sekarang udah bersih. Lain kali jalannya pelan-pelan ya, Sayang. Jangan lari-lari di rumput yang licin.”
Naima mengangguk lagi, kali ini lebih malu. Ia langsung bersembunyi di belakang punggung Rama, tapi sesekali masih melirik Gwen dengan mata penasaran.
“Terima kasih ya, Gwen,” ucap Rama, suaranya tulus. Matanya menatap Gwen dengan sorot yang sulit diartikan.
“Sama-sama, Mas.”
Rama tersenyum tipis. “Kamu nggak berubah ya.”
Gwen mengerutkan alis, pura-pura bingung. “Maksudnya?”
“Masih manis seperti dulu,” jawab Rama pelan.
Pipi Gwen langsung merona. “Mas bisa aja…”
Rama tertawa kecil, lalu tatapannya jatuh ke kantong belanjaan di tangan Gwen. “Kamu lagi ada masalah ya?”
“Masalah?” Gwen mengerjap bingung.
“Iya. Dulu kalau kamu banyak pikiran, biasanya kamu beli ice cream dalam jumlah banyak banget,” kata Rama sambil tersenyum menggoda.
Gwen tertawa pelan. “Oh, nggak kok. Cuma stok di rumah habis aja.”
Naima yang masih memeluk kaki Rama tiba-tiba mengintip. “Ice cream?”
Gwen tersenyum. “Naima mau? Kakak punya banyak loh.”
Naima menggeleng cepat. “Nggak boleh sama Mama… nanti batuk.”
“Anak pintar,” Gwen memuji sambil mengelus kepala Naima sekali lagi.
Rama menatap Gwen sejenak, lalu berkata lembut, “Gwen, mau mampir ke rumah mamaku? Rumahnya dekat kok dari sini.”
Gwen ragu sesaat. Jantungnya berdegup tidak karuan. Akhirnya ia tersenyum kecil dan menggeleng pelan.
“Terima kasih banyak, Mas. Tapi aku masih ada urusan hari ini.”
“Ooh… ya sudah kalau begitu,” Rama mengangguk, meski ada sedikit kekecewaan di matanya. “Sekali lagi terima kasih ya. Kami pamit dulu, udah sore.”
“Sama-sama, Mas. Hati-hati di jalan ya.”
Setelah berpamitan, Rama dan Naima pun berlalu pergi. Dari jarak yang belum terlalu jauh, Gwen masih mendengar Naima bertanya pada Rama "Om, Kakak itu boleh makan ice cream banyak - banyak?"
Rama tertawa "Kak Gwen itu sudah besar. Nanti kalau Naima sudah besar juga boleh kok beli ice cream yang banyak."
Gwen tersenyum mendengarnya. 'Nanti Kalau Sudah Besar Yaa...' Naima pasti menaruh banyak ekspektasi tentang hal - hal menyenangkan yang ia pikir bisa dilakukannya ketika dewasa nanti.
Ia jadi teringat semua hal yang pernah terlintas di benaknya tentang menjadi dewasa. Sewaktu masih kecil, Ia pikir menjadi dewasa itu menyenangkan. Bisa pergi sendiri kemana - mana sesuka hati, bisa punya banyak uang dengan bekerja, bisa menikah lalu hidup bahagia, tapi kini ia sadar kalau itu semua ternyata tak semudah yang ia bayangkan.
Mencari penghasilan tidak semudah menekan tombol like di media sosial. Mencari jodoh tidak semudah drama Korea—tatap-tatapan lalu langsung jatuh cinta. Di dunia nyata lebih mirip main game. loading lama, kadang error, dan sering disconnect.
Tapi, biar bagaimanapun juga menjadi dewasa adalah sesuatu yang tak dapat Gwen hindari. Jika ia tak bisa beradaptasi, hidupnya akan jadi tak berarti. Gwen tak mampu mencari cara untuk kembali ke masa lalu, yang bisa ia lakukan adalah menyusun rencana untuk bergerak maju.
Namun....
Langkah ke depan tak selalu mudah. Setiap keputusan membawa risiko, setiap pilihan menuntut keberanian. Gwen sadar, kadang maju berarti menghadapi rasa takut, kadang berarti meninggalkan kenyamanan masa lalu yang manis tapi menyesatkan. Dan meski hatinya berat, ia tahu, diam saja bukan pilihan. Hanya dengan melangkah, meski perlahan, hidupnya bisa menemukan arah yang sebenarnya.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍