Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario yang "Lucu"
Kabar dari penjaga rumah sewaan sampai ke telinga Nenek Elia dengan kecepatan kilat. "Bu eL, sepertinya penyewa rumah kali ini bukan sembarang penyewa. Rain sendiri yang turun tangan, dan desas-desusnya, mereka ini keluarga pacar Rain," lapor si penjaga lewat telepon.
Mendengar itu, Nenek Elia hampir menjatuhkan cangkir tehnya. Rasa bahagia meledak di dadanya. Tanpa buang waktu, beliau langsung melobi Kakek Andrew untuk mencari penerbangan tercepat menuju kota. Alasannya kuat: menjenguk kakaknya yang sedang dirawat di rumah sakit, sekaligus—yang paling utama—melakukan "inspeksi mendadak" pada calon menantu idaman.
Nenek Elia dan Kakek Andrew sengaja memilih tinggal di paviliun rumah penjaga yang letaknya menyatu dengan area rumah sewaan tersebut. Beliau ingin memantau langsung dari dekat tanpa terlihat mencolok.
Sore itu, rombongan keluarga Ayyara baru saja kembali dari acara lamaran Bian. Wajah mereka cerah, penuh tawa, dan masih mengenakan pakaian formal. Ayyara tampak begitu anggun dalam balutan kebaya modern berwarna lembut yang membungkus tubuhnya dengan sempurna.
Saat mereka melangkah masuk ke halaman, Nenek Elia dan Kakek Andrew muncul dari arah samping, seolah baru saja selesai berjalan-jalan santai.
"Lho? Ini bukannya Ayyara?" seru Nenek Elia dengan nada terkejut yang dibuat-buat namun sangat natural.
Aku tersentak, menoleh ke sumber suara. "Nenek Elia? Kakek Andrew?"
Nenek Elia langsung menghampiriku dan memelukku dengan hangat, mengabaikan tatapan bingung dari Ibu dan Bapak. "Aduh, cu, tidak menyangka kita bertemu di sini! Nenek sedang menjenguk kakak di RS dekat sini, eh malah ketemu kamu."
Beliau melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua bahuku sambil menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Matanya berbinar tulus.
"Cantik sekali... Ayyara, kamu benar-benar cocok dalam balutan kebaya ini. Anggun, bersahaja, persis seperti bayangan Nenek," puji beliau tanpa ragu.
Ibu melangkah maju, tampak sungkan sekaligus penasaran. "Maaf, ini... siapa ya, Ra?"
"Ini Nenek Elia dan Kakek Andrew, Bu. Beliau adalah keluarga dari... Rain," jawabku sedikit gugup, melirik ke arah Rain yang baru saja turun dari mobil dan tampak sama terkejutnya melihat kehadiran neneknya di sana.
Nenek Elia langsung menyalami Ibu dengan ramah. "Saya Elia, tantenya Rain. Jadi ini keluarga besar Ayyara? Wah, pantas saja Ayyara anak baik, ternyata ibunya juga tampak sangat bijaksana."
Rain menghampiri kami dengan langkah seribu, wajahnya menunjukkan ekspresi antara bingung dan pasrah. "Nenek? Kok bisa ada di sini? Bukannya Nenek bilang baru berangkat besok?"
Nenek Elia hanya mengedipkan sebelah matanya pada Rain, sebuah kode rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu.
"Namanya juga kangen kakak, Rain. Tapi bonusnya malah ketemu calon... eh, maksud Nenek, ketemu teman baikmu dan keluarganya."
Kakek Andrew hanya tertawa kecil di belakang, menjabat tangan Bapak dengan erat.
"Mari, mari masuk. Kebetulan sekali kita bertetangga di sini.
Sepertinya malam ini akan menjadi makan malam yang sangat ramai."
Aku melirik Rain yang mengusap tengkuknya dengan salah tingkah. Strategi "kebetulan" Nenek Elia benar-benar sempurna. Di bawah langit senja kota ini, rencana pernikahan massal di kampung sepertinya akan segera mendapatkan satu pasangan tambahan untuk didaftarkan.
Malam itu, ruang makan rumah sewaan mendadak berubah menjadi panggung sandiwara yang kocak. Nenek Elia dan Ibu Ayyara tampak sudah seperti kawan lama yang terpisah puluhan tahun. Mereka duduk berdampingan, berbisik-bisik sembari sesekali melirik ke arah Rain dan Ayyara dengan senyum yang sulit diartikan.
Di sudut meja, Rain hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Ia menatap Nenek Elia dengan pandangan 'Nenek, tolong berhenti', namun Nenek Elia justru membalasnya dengan kerlingan mata nakal sambil menyodorkan piring rendang ke arah Ibu.
"Nak Rain ini, Bu, seleranya memang tinggi. Tapi kalau sudah sayang, setianya luar biasa," pancing Nenek Elia dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Ibu Ayyara manggut-manggut antusias. "Sama dengan Ayyara, Nek. Anak ini kelihatannya saja sibuk kerja, tapi kalau sudah di rumah, duh... telatennya minta ampun. Cocok sekali kalau dapat pendamping yang dewasa."
Rain yang sedang menyesap teh hangat hampir saja tersedak. Ia melirik Ayyara, yang saat itu sedang berusaha keras memotong ayam goreng di piringnya dengan gerakan kaku. Wajah Ayyara sudah merah padam, persis kepiting rebus.
"Eh, Ra... ayamnya jangan disiksa begitu," bisik Rain pelan, mencoba mengalihkan kecanggungan.
Ayyara mendongak, matanya melotot lucu ke arah Rain. "Ini gara-gara ide 'jalur dalam' kamu, Rain! Lihat tuh, Nenek kamu sama Ibuku sudah hampir membahas urusan catering di kampung!"
Rain terkekeh hambar, mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Aku juga tidak tahu Nenek bakal melakukan pendaratan darurat ke sini, Ra. Ini di luar prediksi masa depan kita."
Kekonyolan memuncak saat Kakek Andrew dan Bapak mulai membahas silsilah keluarga. Kakek Andrew yang biasanya pendiam, mendadak sangat bersemangat menceritakan masa muda Rain, sementara Bapak membalasnya dengan cerita masa kecil Ayyara yang hobi memanjat pohon mangga tetangga.
"Wah, kalau begitu nanti resepsinya harus pakai adat yang kuat ya, Pak?" celetuk Kakek Andrew mantap.
"Tentu, Pak Andrew! Apalagi kalau nanti digabungkan dengan pernikahan Cinta dan Bian, wah... bisa jadi pesta tujuh hari tujuh malam!" jawab Bapak penuh semangat.
Rain dan Ayyara saling berpandangan. Ekspresi mereka benar-benar sinkron: mata membelalak, mulut sedikit menganga, dan bahu yang merosot lemas. Mereka seperti dua orang yang sedang menonton film tentang hidup mereka sendiri, tapi skenarionya ditulis oleh orang lain yang terlalu bersemangat.
Cinta yang duduk di sebelah Ayyara menyenggol lengan kakaknya sambil tertawa cekikikan. "Mbak, sepertinya kita harus tambah satu slot seragam lagi buat Mas Rain. Ibu sudah 'fiks' kayaknya."
Ayyara hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, sementara Rain pura-pura sibuk mempelajari pola taplak meja seolah itu adalah dokumen negara yang sangat penting.
"Rain," bisik Ayyara lagi, kali ini lebih tajam. "Kalau besok Ibu tiba-tiba tanya ukuran jari, aku akan salahkan kamu ya!"
Rain hanya bisa pasrah, melempar senyum kecut yang menggemaskan. "Sabar, Ra. Anggap saja ini simulasi masa depan yang dipercepat. Lagipula, melihat Nenek sebahagia itu... sepertinya aku tidak keberatan kalau alurnya jadi sekacau ini."
Ayyara tertegun sebentar, lalu mencibir pelan meski sudut bibirnya tak bisa menahan senyum.
Suasana makan malam yang meriah itu ditutup dengan sebuah pengumuman sepihak yang tak bisa dibantah. Saat Rain sudah bersiap meraih kunci motornya dan berpamitan, Nenek Elia tiba-tiba menahan lengannya dengan kekuatan yang mengejutkan untuk ukuran wanita seusianya.
"Mau ke mana kamu, Rain? Sudah malam begini, jalanan luar sana tidak aman," ujar Nenek Elia dengan nada otoriter yang dibalut senyum manis.
"Rain pulang ke rumah, Nek. Besok pagi kan harus masuk kantor lebih awal," jawab Rain, mencoba memberikan alasan logis.
Nenek Elia menggeleng mantap. "Tidak ada pulang-pulang. Kamu menginap di sini saja, bareng Nenek dan Kakek Andrew di paviliun. Kamar tamu sudah disiapkan pengurus rumah tadi sore. Lagipula, Nenek masih kangen mau mengobrol."
Rain melirik Ayyara, meminta bantuan lewat tatapan mata. Namun, Ayyara justru sedang sibuk menahan tawa melihat ekspresi pasrah Rain.
"Tapi, Nek—"
"Tidak ada tapi-tapi," potong Nenek Elia telak.
"Besok pagi, kamu juga harus mengantarkan Ayyara dulu ke kantor. Kasihan dia kalau harus naik transportasi umum atau ojek pagi-pagi, apalagi keluarga besarnya lagi di sini.
Kamu sebagai... 'teman baik' yang punya rumah ini harus bertanggung jawab memastikan tamunya nyaman."
Ibu Ayyara yang mendengar itu langsung menimpali dengan antusias, "Wah, ide bagus itu, Nek! Biar Ayyara tidak pusing cari tumpangan. Nak Rain, tolong ya titip Ayyara besok pagi."
Rain hanya bisa mengembuskan napas panjang, bahunya merosot lemas. Ia menatap Ayyara dengan ekspresi "Lihat kan? Aku benar-benar terjebak" yang sangat lucu. Ayyara membalasnya dengan mengangkat bahu dan bisikan tanpa suara, "Nikmati saja, Mas Rain."
Malam itu, Rain terpaksa "menyerah" pada titah sang nenek. Ia duduk di teras paviliun bersama Kakek Andrew, sementara Nenek Elia dan Ibu Ayyara masih asyik merencanakan menu sarapan untuk besok pagi di dalam rumah utama.
Ayyara yang kebetulan keluar untuk mengambil air minum, menyempatkan diri menghampiri Rain di teras.
"Gimana, Tuan Rumah? Betah menginap di properti sendiri?" goda Ayyara sambil bersandar di pilar teras.
Rain mendongak, wajahnya tampak lelah namun ada binar jenaka di matanya. "Ra, aku merasa seperti anak SMA yang sedang diawasi ketat oleh guru BP. Nenek benar-benar tidak memberi celah sedikit pun."
Ayyara tertawa kecil. "Sabar ya. Tapi jujur, aku baru lihat kamu sepasrah ini. Biasanya kan Mas Rain si paling dewasa dan tenang."
"Dewasa itu ada batasnya, Ra. Dan batasnya adalah Nenek Elia," gumam Rain yang membuat Ayyara tertawa semakin lebar.
"Ya sudah, selamat tidur, Rain. Sampai ketemu besok pagi... ," ucap Ayyara sembari melambaikan tangan dan masuk kembali ke rumah.
Rain memperhatikannya masuk, lalu menyandarkan kepalanya ke kursi rotan. Di bawah langit malam yang tenang itu, ia menyadari bahwa meski rencana Nenek Elia sangat konyol dan penuh paksaan, ia sama sekali tidak merasa keberatan.
--
Pagi itu, udara kota masih terasa sejuk saat Rain memanaskan mesin motornya di halaman paviliun. Nenek Elia berdiri di teras dengan senyum kemenangan, sementara Ibu Ayyara melambaikan tangan dengan penuh semangat seolah sedang melepas keberangkatan pasangan baru.
Ayyara keluar dengan blazer kerjanya yang rapi, tampak sedikit canggung di bawah tatapan intens kedua keluarga. Rain menyerahkan sebuah helm cadangan kepada Ayyara, lalu ia sendiri segera mengenakan helm full-face miliknya.
"Cepat naik, Ra. Sebelum Nenek atau Ibumu mengeluarkan kamera untuk dokumentasi," bisik Rain dari balik visor helmnya yang gelap.
Ayyara tertawa kecil, segera naik ke boncengan. Begitu motor melaju membelah jalanan pagi, Rain sengaja menarik tuas gasnya sedikit lebih dalam.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan yang berarti, hanya deru mesin dan embusan angin yang menemani. Namun, ada rasa aman yang aneh saat Ayyara sesekali mengeratkan pegangannya pada jaket Rain ketika motor meliuk di antara kemacetan.
Sesampainya di lobi gedung perkantoran mereka, Rain tidak langsung membuka helmnya. Ia tetap menjaga visor tetap tertutup rapat, menyembunyikan identitasnya dengan sempurna. Ia tahu betul, di gedung ini gosip menyebar lebih cepat daripada koneksi internet kantor. Apalagi jika ada yang melihat "si bos baru" atau "kakak tingkat jenius" mengantarkan Ayyara, si pelobi handal dari kantor sebelah.
"Terima kasih ya, Rain. Maaf sudah merepotkanmu ," ucap Ayyara sembari turun dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Rain hanya mengangguk kecil, suaranya terdengar berat dan teredam dari balik helm. "Sama-sama, Ra. Masuklah."
Rain memperhatikannya hingga bayangan Ayyara menghilang di balik pintu kaca otomatis. Ia menarik napas panjang di dalam helmnya. Menghadapi ratusan karyawan atau negosiasi bisnis rasanya jauh lebih mudah daripada menghadapi satu malam "penyekapan" manis oleh Nenek Elia. Namun, melihat punggung Ayyara tadi, Rain seperti menyadari bahwa ia tidak keberatan menjadi supir pribadi rahasia seperti ini setiap pagi.