Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 1 : Lahir ke Dunia yang Sudah Sibuk
Kata orang, hari kelahiran adalah hari paling bahagia dalam hidup seseorang. Disambut dengan tangisan haru, doa-doa panjang, dan mungkin selimut bayi berbahan katun organik yang harganya setara UMR.
Setidaknya, begitu kata orang.
Aku tidak ingat hari itu, tentu saja. Tidak ada bayi yang ingat detik pertama mereka membuka mata dan menangis di dunia yang tiba-tiba terlalu terang dan terlalu berisik. Tapi aku tumbuh dengan cukup banyak cerita tentang hari itu fragmen-fragmen kecil yang dikumpulkan dari mulut orang-orang sekitarku, lalu kususun sendiri seperti puzzle yang kehilangan beberapa kepingnya.
Dari cerita Ibu, aku lahir sore hari. Hujan deras. Bapak sedang di sawah dan baru tiba di puskesmas ketika aku sudah keluar, sudah menangis, sudah dibersihkan dan dibungkus kain putih tipis.
"Bapakmu itu," kata Ibu suatu hari, dengan nada antara kesal dan pasrah, "sampai di sana bajunya masih penuh lumpur sawah. Malu Ibu sama bidan. Udah gitu Ibu lagi pusing mikirin daster yang belum laku, dia malah nanya ke Ibu kapan harus nebar pupuk urea."
Tapi dari satu cerita kecil itu, aku sudah bisa membaca banyak hal.
Bapak terlambat. Ibu kesal. Dan aku bayi merah yang baru saja memaksa diri masuk ke dunia sudah menjadi latar belakang dari sebuah ketegangan kecil yang bahkan belum kumengerti.
Selamat datang di keluarga Kusuma.
Nama lengkapku Nara Kusuma.
Tidak ada arti yang terlalu puitis di baliknya. Ibu bilang ia pilih nama itu karena kedengarannya bagus dan mudah diingat. Bapak bilang ia setuju yang menurutku berarti ia tidak punya usul lain dan terlalu lelah untuk berdebat. Ironisnya, dengan nama yang berarti "bunga yang bahagia" itu, sebagian besar hidupku dihabiskan dengan berusaha keras untuk tidak terlihat sama sekali. Seperti rumput liar di pojokan pot tidak mati, tapi juga tidak ada yang benar-benar peduli untuk menyiramnya.
Kami tinggal di sebuah rumah bercat putih yang mulai menguning di pinggiran kota kecil Jawa Tengah. Rumah itu tidak besar, tidak kecil. Ada tiga kamar, satu ruang tamu dengan lemari kayu tua, dan dapur yang selalu berbau bawang goreng setiap pagi.
Bapak namanya Kusuma Adi. Petani. Setiap hari ia berangkat sebelum matahari benar-benar naik dan pulang ketika langit sudah mulai jingga. Aku hafal suara sandalnya di teras plek, plek, plek yang artinya sebentar lagi akan ada aroma tanah basah yang masuk lewat pintu. Ia bukan bapak yang banyak bicara. Bukan bapak yang sering duduk menemani aku belajar atau menonton TV bareng di malam hari.
Kalau dihitung-hitung, mungkin jumlah kata yang diucapkan Bapak kepadaku dalam setahun bisa dimuat dalam satu halaman kertas HVS.
Tapi ia juga bukan bapak yang jahat.
Ia cuma... tidak ada. Secara fisik ada, tapi kehadirannya di rumah terasa seperti tamu yang sopan datang, makan, tidur, pergi lagi. Aku tidak pernah tahu apakah itu pilihan atau memang begitu cara hidupnya. Dan entah kenapa, aku juga tidak pernah berani tanya.
Apakah di dalam kepalanya yang sepi itu, Bapak tahu bahwa keluarganya sedang tidak baik-baik saja? Aku rasa dia tahu. Sesekali, diam-diam ia menunjukkannya.
Suatu sore, Bapak baru pulang dari sawah. Celananya penuh cipratan lumpur. Ia duduk di teras, dan aku keluar membawakannya segelas teh pahit hangat. Biasanya tidak ada dialog. Tapi hari itu, tangan kasarnya merogoh saku kemeja dan mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan yang sangat lecek, berbau tembakau.
Ia menyodorkannya padaku tanpa menatap mataku. "Sangu."(Uang Saku)
"Nara nggak usah, Pak. Masih ada sisa kemaren," bohongku.
"Diterima," gumamnya pelan, tapi final.
Lalu ia membuang muka ke arah jalanan lagi. Sesi interaksi ayah-anak kami selesai dalam dua puluh detik. Tapi uang dua puluh ribu yang diselundupkan dari Ibu itu kusimpan rapat-rapat di kotak pensilku. Itu bukan sekadar uang jajan; itu adalah bahasa bisu Bapak untuk memberitahuku: Bapak lihat kamu, Nduk. Bapak tahu kamu ada.
Sayangnya, sebaik apa pun diam Bapak, kendali rumah ini tetap bukan di tangannya.
Ibu namanya Sri Wahyuni. Pedagang baju di toko kecil yang ia sewa di pasar. Ia bangun lebih pagi dari Bapak, tidur lebih malam, dan di antaranya ia mengurus rumah, mengurus aku, dan mengurus toko semuanya sekaligus, setiap hari, tanpa hari libur yang benar-benar libur.
Kalau Bapak adalah seseorang yang tidak ada, maka Ibu adalah seseorang yang terlalu ada.
Maksudku dalam setiap aspek hidupku, Ibu ada. Suaranya ada. Pendapatnya ada. Kekecewaannya ada.
Dan aku tumbuh belajar membaca semua itu seperti membaca cuaca.
Ada satu ingatan yang paling awal kusimpan dari masa kecil. Aku mungkin empat atau lima tahun waktu itu. Duduk di lantai ruang tamu dengan krayon dan selembar kertas HVS yang kuambil diam-diam dari laci meja Ibu.
Aku sedang menggambar rumah. Rumah yang besar, dengan pohon di depannya dan awan berbentuk kapas di atasnya tipikal gambar anak kecil yang belum tahu perspektif.
Ibu masuk dari dapur, melihat kertas di lantai, lalu melihatku.
"Itu kertas Ibu buat catat dagangan."
Aku berhenti menggambar. Jantungku mencelos. "Maaf, Bu."
Ibu tidak menjawab. Ia ambil kertas itu dari tanganku, lihat sebentar, lalu taruh di atas meja.
Tapi sepuluh menit kemudian, ia kembali dengan segelas susu dan dua lembar kertas baru.
"Lain kali minta dulu," katanya, lalu pergi lagi ke dapur.
Aku duduk dengan dua lembar kertas dan segelas susu itu, bingung harus merasa apa.
Dimarahi atau disayang?
Aku tidak tahu. Dan kebingungan itu percayalah tidak hilang sampai aku dua puluh dua tahun.
Masa kecilku tidak buruk. Aku perlu jujur soal itu. Kami tidak kaya, tapi aku tidak pernah kelaparan. Ibu selalu pastikan aku pakai baju yang bersih ke sekolah. Uang jajan ada, meski tidak banyak. Ketika aku sakit yang terlihat matanya, Ibu yang begadang menemani.
Tapi ada sesuatu yang tumbuh di rumah kami sesuatu yang tidak punya nama waktu aku kecil, tapi belakangan aku tahu cara menyebutnya.
Tekanan.
Bukan yang keras, bukan yang kasar. Bukan juga yang mudah ditunjukkan ke orang lain dan diakui sebagai sesuatu yang menyakitkan.
Tekanan yang halus. Yang datang dalam bentuk kalimat-kalimat pendek di momen yang tidak terduga.
"Lihat tuh si Dinda, anaknya Bu Narsih ranking satu terus. Nara kapan?"
"Ibu capek, Ra. Kamu bisa nggak sih bantu-bantu dikit?"
"Kamu itu enak, tinggal sekolah. Ibu yang cari uangnya mati-matian."
Bukan sekali dua kali. Tapi cukup sering untuk menempel. Dan yang paling membingungkan setelah kalimat-kalimat itu, Ibu bisa langsung berubah. Memasak makanan kesukaanku. Membelikan jajanan dari pasar. Mengusap kepalaku sebelum tidur.
Panas. Dingin. Panas. Dingin.
Aku tidak pernah tahu mana yang asli.
Lama-lama, aku berhenti mencari tahu. Aku pelajari polanya, lalu kusesuaikan diriku dengan pola itu. Ketika Ibu mendung, aku kecil suara. Ketika Ibu cerah, aku boleh sedikit bernapas. Tumbuh di keluarga seperti itu membuatku mencetuskan satu aturan emas sejak dini. Sebuah filosofi hidup untuk bertahan kewarasan:
Jangan. Pernah. Merepotkan.
Aturan itu sederhana. Kalau kau tidak ingin mendengar daftar panjang pengorbanan seseorang, maka jangan meminta apa-apa dari mereka.
Waktu aku kelas empat SD, genteng rumah kami bocor parah. Malam itu, aku terbangun dengan badan yang panasnya seperti kompor gas yang lupa dimatikan. Aku berjalan gontai, berniat ke kamar Ibu. Pintunya setengah terbuka. Cahaya lampu redup menerangi sosok Ibu yang sedang menghitung tumpukan uang lecek sambil mendesah panjang.
"Ya Ampun... uang buku LKS Nara kurang. Duit dari Kang Kusuma cuma cukup buat beras. Masa harus utang keliling lagi?"
Aku berdiri di ambang pintu, menelan ludah yang terasa seperti pasir kerikil. Dalam otak kecilku yang mendidih karena demam, aku melakukan kalkulasi. Kalau aku bilang aku sakit, Ibu akan panik dan membawaku ke mantri. Butuh uang. Ibu harus utang. Ibu akan mengeluh sepanjang bulan. Dan semua itu... karena aku sakit.
Aku berjingkat mundur. Kembali ke ruang TV, mengompres dahiku sendiri dengan handuk basah, dan menggigil dalam diam sampai pagi. Besoknya, aku tetap sekolah, tidur di UKS, dan membiarkan tubuhku sembuh sendiri.
Ibu tidak pernah tahu aku sakit. Itu adalah kemenangan kecilku. Aku belajar menelan masalahku sendiri.
Dan tanpa sadar, aku bawa pelajaran itu ke sekolah.
Hasilnya aku tidak punya musuh. Tapi aku juga tidak punya teman.
Hanya bangku yang selalu kutempati, buku catatan yang selalu penuh, dan nilai yang selalu bagus karena belajar adalah satu-satunya hal yang tidak pernah membuatku merasa bersalah.
Suatu hari kelas tiga SD, guru membagikan hasil ujian.
Aku dapat delapan puluh tujuh.
Angka yang bagus. Di atas rata-rata kelas. Guruku bahkan sempat menyebutkan namaku sebagai salah satu yang nilainya memuaskan. Aku pulang dengan langkah yang sedikit lebih ringan dari biasanya.
Ibu sedang menghitung uang di meja ketika aku masuk. Aku taruh tas, keluarkan kertas ujian, dan taruh di depannya.
"Nara dapat delapan tujuh, Bu."
Ibu lihat sebentar. "Teman-temanmu berapa?"
"Rata-rata tujuh puluhan."
"Si Dinda berapa?"
Aku diam sebentar. Dinda anak Bu Narsih yang rumahnya dua gang dari kami. Dinda yang selalu jadi tolak ukur.
"Nara gak tau bu"
Ibu menghela napas. Bukan napas marah tapi napas yang lebih menyakitkan dari amarah. Napas kecewa yang pelan.
"Belajar yang lebih rajin lagi ya, Ra."
Kertas ujianku dikembalikan tanpa komentar tambahan.
Aku masuk kamar, duduk di tepi tempat tidur, dan menatap angka delapan tujuh itu lama. Entah kenapa, tiba-tiba ia terlihat sangat kecil.
Malam itu, Ibu masak ayam goreng. Lauk kesukaanku.
Ia taruh potongan terbesar di piringku sambil bilang, "Makan yang banyak, biar otaknya jalan."
Dan aku makan. Dan ayam gorengnya enak. Dan Ibu cerita soal pelanggan di toko yang lucu hari ini, dan aku tertawa di tempat yang tepat, dan malam itu terasa baik-baik saja.
Tapi di sudut kecil di dalam dadaku, ada sesuatu yang tidak ikut tertawa. Sesuatu yang masih memegang kertas ujian itu. Masih menatap angka delapan tujuh. Masih menunggu entah apa yang ditunggu.
Pengakuan, mungkin. Bahwa delapan tujuh sudah cukup. Bahwa aku sudah cukup.
Tapi malam itu, seperti malam-malam lainnya, pengakuan itu tidak datang.
Jadi aku belajar untuk tidak menunggunya.
Begitulah masa kecilku berlalu.
Bukan dengan drama besar. Bukan dengan satu momen yang bisa kutunjuk dan kukatakan, "Di sinilah semuanya mulai salah." Tapi dengan akumulasi tetes demi tetes yang tidak terasa sampai suatu hari kamu sadar ember di dalam dadamu sudah penuh, dan kamu tidak tahu sejak kapan.
Aku tumbuh menjadi anak yang rajin, penurut, dan pandai membaca ruangan. Aku tumbuh menjadi anak yang tahu kapan harus diam, kapan harus tersenyum, dan kapan harus mengecilkan diri supaya tidak ada yang terganggu.
Aku tumbuh menjadi anak yang tidak pernah belajar menjawab satu pertanyaan paling sederhana:
Apa yang kamu mau?
Bukan karena tidak ada yang tanya. Tapi karena sejak kecil, jawabanku tidak pernah terasa relevan.
Kalau kamu tanya aku sekarang di usia dua puluh dua, dengan ijazah yang baru saja dicetak dan mimpi yang masih belum jelas bentuknya apakah aku menyesal dengan masa kecilku?
Aku akan menjawab jujur.
Tidak sepenuhnya.
Masa kecil itu membentukku. Kebiasaan mengamati, kemampuan membaca orang, ketangguhan diam-diam yang tidak terlihat dari luar semua itu lahir dari rumah itu, dari toko baju Ibu, dari sawah Bapak, dari malam-malam dengan buku catatan yang penuh dan hati yang sedikit bingung.
Tapi ia juga meninggalkan sesuatu yang butuh waktu lama untuk kusadari.
Lubang kecil di tempat seharusnya ada jawaban atas pertanyaan itu.
Siapa kamu, sebenarnya?
Aku tidak tahu.
Dan aku tidak akan tahu setidaknya, belum hari ini.
Hari ini, aku masih delapan tahun. Masih duduk di meja belajar dengan cahaya lampu kuning, mengerjakan PR matematika, mendengar suara Ibu di dapur dan suara sawah yang dibawa angin dari kejauhan.
Hari ini, aku belum tahu bahwa belasan tahun lagi, aku akan salah masuk ruangan di sebuah gedung pencakar langit di kota besar. Dan bahwa kesalahan kecil itu akan membawaku pada sebuah kontrak gila senilai satu miliar rupiah.
Tapi itu cerita nanti.
Sekarang aku masih harus selesaikan PR matematika ini. Karena di dalam rumah ini, aku sudah belajar satu hal yang pasti: deretan angka di atas kertas inilah, satu-satunya tiket yang bisa kugunakan untuk membeli ketenanganku sendiri esok hari.