Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 Terjawab.
Karena baru saja mendapatkan surat dari Amelia, membuat Thoriq akhirnya mencari tahu sendiri tentang keberadaan Amelia. Apa yang dikatakan Amelia ternyata benar, bahwa dia memiliki hubungan dengan Arash.
"Jadi Arash adalah cucu dari ibu angkat Amelia dan Amelia tinggal bersama dengan Arash yang artinya juga tinggal bersama dengan Shafiya?" batin Thoriq setelah berhasil mencari tahu.
"Jadi pernikahan yang terjadi secara mendadak antara Arash dan Shafiya bukanlah kebetulan tetapi sudah direncanakan dan semua itu adalah rencana Amelia, karena ingin menyakiti keluargaku dan termasuk putriku.
"Arash juga akan menikah dengan Kanaya, sudah pasti karena direncanakan tanpa diketahui oleh Arash, jika Amelia melakukan semua itu untuk menghancurkanku dan mengorbankan putriku, putraku yang berada di dalam penjara akan hancur karena diceraikan oleh istrinya dan menikah dengan adik iparnya sendiri,"
Thoriq ternyata sangat cepat menarik kesimpulan, pada akhirnya dia mengetahui bahwa putrinya tidak baik-baik saja. Entahlah bagaimana Thoriq tidak hancur ketika lebih mengetahui bahwa saat ini Shafiya sudah seperti pasien yang mengalami gangguan jiwa.
"Astagfirullah....." Thoriq mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Sungguh tidak percaya kejadian di masa lalu benar-benar membawa petaka dan mengorbankan anak-anaknya dalam hubungannya yang juga tidak tahu seperti apa dengan Amelia.
****
Sementara Amelia baru saja turun dari mobil yang berhenti di depan rumahnya.
"Aku sangat yakin saat ini Thoriq pasti sudah membaca surat yang aku kirimkan kepadanya, dia pasti schok dan tidak menyangka bahwa aku kembali, dia saat ini tidak bisa berbuat apa-apa karena Arash tidak akan melepaskan Shafiya, dia hanya dipenuhi dengan rasa bersalah karena anak-anaknya harus menanggung semua perbuatannya di masa lalu," ucap Amelia berjalan sembari senyum-senyum.
Dia benar-benar menikmati kebahagiaannya saat ini.
"Tante bahagia sekali seperti baru saja mendapatkan hadiah, atau memang sudah mendapatkan hadiah besar atau memenangkan sesuatu hal?" langkah Amelia terhenti ketika seseorang menegurnya yang tak lain adalah Arash yang duduk di sofa dengan 1 kakinya diangkat di pahanya dan di sebelahnya ada Nenek.
"Apa bisa diceritakan kebahagiaan Tante?" tanya Arash dengan mengangkat kedua alisnya.
"Arash, tante tidak terlalu bahagia, tidak ada yang perlu diceritakan Arash, lagi pula semenjak Chantika tidak ada di dunia ini lagi, senyum dan kebahagiaan Tante sudah hilang," ucap Amelia.
"Sungguh?" tanya Arash.
"Benar, Tante tahu kamu mengetahui hal itu dan tante berterima kasih kepada kamu sudah mencari keadilan untuk Chantika," ucap Amelia.
"Keadilan untuk Chantika hanyalah sekedar wacana saja, pada kenyataannya Tante sebenarnya tidak peduli atas kematiannya dan justru menggunakan kemarahanku untuk kepuasan Tante sendiri atas kehidupan tante di masa lalu," ucap Arash.
"Apa maksud kamu Arash?" tanya Amelia berusaha untuk tenang.
"Sebelum Nenek menceritakan semua kepada saya dan saya sudah mencari tahu terlebih dahulu," jawab Arash.
Mata Amelia saat ini tertuju kepada Nenek yang tidak mengeluarkan suara apapun duduk di sebelah Arash.
"Maaf Amelia, pada akhirnya saya harus memberi tahu Arash kebenarannya tentang keterkaitan kamu dengan ayah Shafiya dan membuat kamu gelap mata sehingga memanfaatkan kecelakaan Chantika untuk mempengaruhi Arash," ucap Nenek membuat Chantika benar-benar kaget.
"Saya harus tertuduh karena kecelakaan yang Zidan, orang-orang yang memukulinya sehingga tidak bisa datang ke pernikahan dan ternyata semua adalah ulah Tante, pantas saja disaat itu Tante menyuruh saya untuk mengambil kesempatan menikah dengan Shafiya untuk melancarkan rencana yang sudah Tante susun dengan rapi," ucap Arash.
"Arash kamu dengarkan Tante dulu dan semua ini tidak seperti apa yang diceritakan oleh Nenek.....
"Hubungan Tante dengan Abi Shafiya yang tidak selesai dan memanfaatkan saya untuk membalaskan dendam Tante, alih-alih terus mengingatkan saya untuk mencari keadilan atas kematian Chantika, tetapi pada kenyataannya Tante memang sudah punya tujuan ingin menghancurkan Shafiya agar Abinya merasa bersalah dan menyesal apa yang dilakukan kepada Tante," lanjut Arash mengetahui semuanya sungguh tidak pernah disangka oleh Amelia.
"Tante masih mengelak dengan semua kebenaran yang telah saya temukan?" tanya Arash.
"Tidak! Saya tidak mengelak sama sekali, benar bahwa saya memang memiliki urusan dengan Thoriq, urusan di masa lalu dengan pria itu menyakiti saya dan meninggalkan saya, saya memiliki dendam kepadanya ingin menghancurkannya tetapi tidak memiliki kemampuan karena dia lebih berkuasa dibandingkan saya!"
"Saya berusaha melupakan semua yang dia lakukan, kembali membangun kehidupan yang baru bersama dengan Chantika, tetapi siapa sangka dia justru kembali datang ke dalam kehidupan saya, membunuh putri saya satu-satunya, ini bukan lagi tentang bagaimana hancurnya saya saat saya ditinggalkan tetapi hancurnya saya saat saya ditinggalkan oleh putri saya karena perbuatannya!" tegas Amelia penuh dengan penekanan dan bahkan air matanya keluar.
Entahlah air mata itu merupakan air mata sungguhan atau justru hanya air mata buaya untuk membuat Arash terkecoh.
"Kamu bisa mengatakan bahwa saya memanfaatkan kamu untuk membalas dendam kepada Thoriq dengan menghancurkan Shafiya, tetapi bukankah itu juga yang Arash inginkan, Karena bagaimanapun kamu melakukan itu untuk Chantika!" tegas Amelia.
"Amelia berhenti terus melibatkan semua ini dengan nama Chantika, dia sudah tenang di alam sana dan kamu tidak pernah terus menyebut namanya, sesungguhnya kamu melakukan semua ini hanya untuk kamu Chantika!" tegas Nenek.
"Saya memang hanya anak angkat Tante, dan Tante tidak perlu peduli dengan perasaan saya yang terluka atau tidak, tetapi jangan lupa Tante, bahwa saat ini Tante bisa hidup bahagia dengan anak-anak yang sukses itu karena bantuan dari kedua orang tua saya, harta yang mereka berikan dikelola oleh tante sehingga kedua anak tante bisa hidup sukses dan saat ini memiliki cucu yang juga sukses karena saya!" tegas Amelia.
"Kenapa kamu harus mengungkit ke arah sana, Saya bahkan tidak pernah menganggap kamu sebagai anak angkat, jika saya seorang ibu yang terus menegur, mengingatkan kamu dan artinya kamu adalah bagian dari saya dan bukan hanya anak angkat," tegas Nenek.
"Kalau begitu kenapa tidak pernah peduli kepada saya, kenapa tidak ada untuk saya di saat laki-laki itu meninggalkan saya, kenapa justru menyalahkan saya dan menyuruh saya untuk merelakan dan ikhlas justru menghancurkan hidup saya?" tanya Amelia.
"Karena saya tahu apa yang terbaik untuk kamu dan yang kamu lakukan adalah salah!" jawab Nenek.
"Sudah cukup!" sahut Arash.
"Saya tidak peduli sama sekali dengan urusan masa lalu kalian, ini cukup membuat saya sakit kepala," sahut Arash.
"Kamu memang tidak perlu harus peduli dengan apa yang terjadi di masa lalu saya, tetapi dengan apa yang saya katakan bahwa masa lalu saya tetap berkaitan dengan Chantika dan kematian Chantika tetap berkaitan dengannya dan kamu tetap memiliki kewajiban untuk membalaskan dendam!" tegas Amelia.
Bersambung...