NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

“Nama kamu siapa sebenarnya?”

Salah satu petugas keamanan berdiri bersandar di meja, menatap Genesis dengan sorot mata yang mulai kesal. Sudah hampir lima belas menit mereka di dalam ruangan itu, tapi tidak ada jawaban berarti yang keluar dari mulut pemuda di depan mereka.

Genesis duduk santai di kursi besi, satu kaki disilangkan, wajahnya datar. “Tadi kan udah ditanya.”

“Dan kamu belum jawab.”

“Berarti jawabannya nggak penting.”

Petugas itu mendecak kesal, melirik rekannya. “Kita buang waktu di sini.”

“Udah, tunggu perintah aja,” sahut yang lain lebih tenang.

Genesis tidak ikut menatap mereka lagi. Matanya justru bergerak pelan menyapu ruangan. Pintu, ventilasi kecil di atas, jarak antar langkah penjaga, suara dari luar yang sesekali terdengar samar. Ia tidak terlihat seperti orang yang sedang diinterogasi. Lebih seperti seseorang yang sedang… memetakan.

“Kalau gue keluar dari sini…” gumamnya sangat pelan, hampir tidak terdengar, “gue nggak bakal masuk lagi dengan cara yang sama.”

Di luar ruangan, suasana villa sudah jauh lebih tenang. Lampu-lampu taman masih menyala terang, tapi aktivitas mulai berkurang. Di balkon lantai dua, Genta berdiri sendirian dengan segelas minuman di tangan. Angin malam berhembus pelan, tapi pikirannya jauh dari tenang.

Bayangan wajah Genesis terus muncul.

Cara dia bicara. Cara dia menatap. Cara dia menjawab tanpa takut.

“…Aneh,” gumamnya pelan.

Ia meneguk minumannya sedikit, lalu bersandar di pagar balkon. Tatapannya kosong mengarah ke taman, tapi jelas tidak benar-benar melihat apa pun di depannya.

“Kalau cuma nekat… dia nggak bakal sampai sejauh itu,” lanjutnya lirih.

Ada sesuatu yang mengganggu. Bukan soal keberanian semata. Tapi rasa yang tidak bisa dijelaskan.

Familiar.

Dan itu yang justru membuatnya tidak nyaman.

Sementara itu, di dalam kamar, Alexa tidak lagi duduk menangis seperti sebelumnya. Ia berdiri di dekat pintu, wajahnya masih basah, tapi sorot matanya berubah. Tidak lagi kosong. Tidak lagi hanya pasrah.

Ia mengetuk pintu. Tidak keras, tapi cukup untuk memancing respon.

“Bisa saya bicara?” tanyanya, suaranya berusaha stabil.

Tidak ada jawaban.

Ia menarik napas dalam. “Saya tahu kalian di luar. Tolong panggil Tuan Genta. Saya mau bicara langsung.”

Hening beberapa detik.

Lalu terdengar langkah menjauh.

Alexa memejamkan mata sebentar. Tangannya mengepal pelan. Ini bukan lagi soal menunggu. Ia tidak bisa terus diam sementara Genesis ditahan di bawah.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka.

Genta berdiri di sana.

Alexa langsung menatapnya. Tidak ragu. Tidak menunduk.

“Dia di mana?” tanyanya tanpa basa-basi.

Genta masuk perlahan, lalu menutup pintu di belakangnya. “Aman.”

“Itu bukan jawaban,” balas Alexa cepat.

Genta menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, “Dia tidak akan disakiti.”

Alexa menghela napas panjang, tapi jelas belum puas. “Aku mau ketemu dia.”

“Tidak.” Jawaban itu langsung, tanpa celah.

Alexa mendekat satu langkah. “Kalau kamu tahan dia, kamu juga tahan aku.”

Genta sedikit mengangkat alis. “Kamu mengancam saya?”

“Aku cuma bilang… aku nggak akan diam,” jawab Alexa, suaranya bergetar tapi tegas. “Dia datang ke sini karena aku. Kalau terjadi apa-apa sama dia, aku juga nggak akan nurut sama apa pun yang kalian mau.”

Hening.

Genta menatapnya lebih dalam kali ini. Bukan sekadar melihat wajah Alexa… tapi sesuatu di baliknya.

“Dia siapa buat kamu?” tanyanya pelan.

Pertanyaan itu menggantung.

Alexa menatap balik, matanya berkaca-kaca tapi tidak menghindar. “Orang yang aku pilih.”

Jawaban itu sederhana.

Tapi cukup untuk mengubah sesuatu di udara.

Genta mengalihkan pandangan sebentar, lalu kembali ke Alexa. “Dan kamu yakin dia bisa bawa kamu keluar dari semua ini?”

Alexa tidak menjawab dengan cepat. Ia menelan ludah, lalu berkata pelan, “Kalau aku sendirian, mungkin nggak. Tapi kalau sama dia… aku percaya.”

Genta diam.

Sekali lagi, perasaan aneh itu muncul. Percaya tanpa ragu.

Ia menghela napas pendek. “Besok pagi… dia akan keluar dari sini.”

Alexa tertegun. “Apa?”

“Tapi bukan berarti semuanya selesai,” lanjut Genta tenang. “Ini bukan tempat dia.”

Alexa menggeleng. “Ini juga bukan tempatku.”

Kalimat itu membuat Genta menatapnya lagi, lebih lama.

“Kamu akan mengerti nanti,” ucapnya singkat, lalu berbalik menuju pintu.

“Tunggu,” panggil Alexa.

Genta berhenti, tapi tidak menoleh.

“Tolong…” suara Alexa melemah, tapi tetap jelas. “Jangan buat aku kehilangan dia lagi.”

Tidak ada jawaban.

Pintu terbuka, lalu tertutup kembali.

Di bawah, Genesis masih duduk di ruangan yang sama. Dua petugas sudah mulai bosan, suasana jadi lebih longgar.

Salah satu dari mereka menguap. “Besok pagi katanya dilepas.”

Genesis menoleh sedikit. “Cepat juga.”

“Beruntung lo,” sahut yang lain. “Biasanya yang masuk sini nggak secepat itu keluar.”

Genesis tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu menunduk sebentar.

“Keluar…” gumamnya pelan. “Bukan berarti selesai.”

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap lurus ke depan. Kali ini bukan lagi sekadar emosi yang memenuhi pikirannya.

Tapi rencana.

“Kalau masuknya susah…” lanjutnya lirih, “berarti keluarnya harus lebih pintar.”

Di luar ruangan, langkah kaki kembali terdengar. Seseorang berhenti tepat di depan pintu. Sejenak. Lalu berjalan lagi. Dan tanpa siapa pun sadari… permainan mereka sudah berubah.

Bukan lagi sekadar bertahan. Tapi mulai saling membaca.

Langkah kaki itu sempat berhenti tepat di depan pintu, cukup lama untuk membuat salah satu petugas menoleh curiga.

“Siapa itu?” gumamnya pelan sambil mendekat.

Namun sebelum ia sempat membuka pintu, langkah itu sudah menjauh lagi. Hanya menyisakan gema samar di lorong yang kembali sunyi.

Genesis tidak ikut bergerak. Tapi matanya sedikit menyipit, menangkap sesuatu yang barusan terjadi.

“Yang barusan… siapa?” tanyanya santai, seolah tidak terlalu peduli.

“Bukan urusan lo,” jawab petugas itu cepat, lalu kembali duduk.

Genesis hanya mengangguk pelan. Tidak memaksa.

Tapi pikirannya berjalan.

Langkah itu… bukan langkah orang biasa. Tidak terburu-buru, tidak ragu. Lebih seperti seseorang yang tahu persis ke mana dia harus pergi.

Dan yang paling aneh…

Entah kenapa, ada perasaan familiar yang aneh di dadanya.

Ia menarik napas dalam, lalu menyandarkan kepalanya ke kursi, menatap langit-langit ruangan yang dingin itu.

“Besok pagi…” gumamnya pelan.

Satu malam lagi. Satu kesempatan lagi. Dan kali ini… dia tidak akan datang hanya dengan keberanian.

Di lantai atas, Alexa masih berdiri di dekat pintu, tangannya belum sepenuhnya lepas dari gagang yang tadi sempat ia genggam. Nafasnya sudah lebih teratur, tapi matanya masih menyimpan sisa tangis yang belum benar-benar hilang.

Ia berjalan pelan ke arah ranjang, lalu duduk di ujungnya.

“Besok…” bisiknya lirih.

Harusnya itu kabar baik. Genesis akan keluar. Tapi justru itu yang membuat hatinya semakin tidak tenang.

Karena ia tahu… setelah ini, semuanya tidak akan lagi sederhana.

Di balkon, Genta kembali berdiri dalam diam. Angin malam menyapu rambutnya pelan, tapi pikirannya tetap berat.

Ia memejamkan mata sejenak. Wajah Genesis kembali muncul. Tatapan itu. Cara dia bicara. Dan keyakinan yang tidak bisa digoyahkan.

“…Siapa sebenarnya kamu…” gumamnya pelan.

Matanya terbuka lagi, menatap gelapnya malam yang terbentang luas di bawah sana. Tanpa ia sadari, langkahnya tadi bukan sekadar kebetulan. Ia memang sempat berhenti di depan ruang itu.

Dan untuk beberapa detik… Ia hanya berdiri di sana. Mendengarkan. Merasakan. Seolah ada sesuatu yang menariknya tanpa alasan yang jelas.

Ia menghela napas panjang, lalu berbalik masuk ke dalam.

“Besok…” ucapnya pelan.

Satu kata yang sama. Tapi dengan arti yang berbeda bagi masing-masing dari mereka.

Di satu sisi, ada harapan. Di sisi lain, ada rasa curiga yang mulai tumbuh. Dan di tengah semuanya…

Ada sebuah kebenaran yang perlahan mendekat. Tanpa mereka sadari. Tanpa mereka siap.

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!