Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUDUT MEJA NOMOR 12
Perpustakaan pusat Universitas Nusantara selalu menyimpan aroma khas yang tak pernah berubah setiap pukul empat sore: campuran kertas tua yang lembap, debu-debu halus yang berputar pelan di bawah bias sinar matahari sore yang menyelinap melalui jendela tinggi, serta jejak samar wangi kopi instan yang dibawa sembunyi-sembunyi oleh para mahasiswa tingkat akhir. Bagi Alana, tempat ini bukan sekadar lokasi untuk memburu referensi skripsi atau menyelesaikan tugas-tugas berat mata kuliah Kritik Sastra. Bagi dirinya, ini adalah altar sunyi bagi perasaan-perasaan tersembunyi yang tak pernah terucap.
Langkahnya perlahan, dengan telapak sepatu flat yang mencium lantai tanpa suara, seolah takut mengusik keutuhan keheningan. Alana menyusuri barisan rak demi rak buku di bagian Sejarah Arsitektur—bidang yang asing baginya, tentu saja. Ia hanya berpura-pura singgah di sana, selayaknya seorang pejalan yang tahu pasti tujuannya.
Meja nomor 12.
Di sanalah, persis seperti dugaannya, seorang pria dengan kemeja flanel biru tua duduk di bawah temaram lampu baca. Lengan kemejanya tergulung hingga siku, memperlihatkan sedikit kulit cokelat muda seperti setengah kisah yang belum selesai. Raka. Sebuah nama yang tak pernah berani ia ucapkan lantang hanya ia simpan rapi di sudut paling rahasia buku catatannya, di antara coretan teori semiotika dan tanda kurung yang berisi perasaannya sendiri.
Alana memilih tempat duduk di meja nomor 15, tepat tiga baris di belakang Raka. Posisi ini sempurna, memberinya sudut pandang istimewa. Dari sini, ia bisa mengamati setiap detail—garis rahang Raka yang tegas ketika pria itu sedang merenung, atau bagaimana helai rambut depannya terus saja jatuh menutupi mata, terutama saat ia membungkuk menyusuri lembaran kertas kalkir besar itu.
Raka mahasiswa tingkat tiga jurusan Arsitektur bukanlah sosok yang menonjol karena suaranya yang lantang, melainkan karena prestasi senyapnya yang tak terbantahkan. Alana sering mendengar teman-temannya di kantin bergunjing tentang sketsa Raka yang selalu berhasil mendapatkan nilai A bahkan dari dosen dengan reputasi paling sukar ditembus. Namun bagi Alana, Raka adalah lebih dari sekadar seniman sketsa berbakat.
Raka adalah caranya meluruskan penggaris panjang di meja dengan ketelitian yang hampir obsesif. Raka adalah gerakan sederhana saat ia meneguk air dari botol plastik, jakunnya naik-turun perlahan meninggalkan kesan maskulin yang begitu tenang. Dan Raka, di atas semuanya, adalah alasan mengapa Alana, seorang mahasiswi Sastra yang lebih memilih berkutat di sudut kafe berlampu remang, bersedia menghabiskan waktu di perpustakaan yang dingin sambil berusaha sekuat tenaga terlihat sibuk.
Alana menyalakan layar laptopnya, detik berikutnya ia mulai mengetik, mencoba memberikan kesan bahwa dirinya tenggelam dalam kerja serius: menyusun draf esai tentang puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. Namun, yang terjadi tidak sesuai harapan. Jemarinya kerap berhenti bergerak, membeku tepat di atas tombol-tombol keyboard. Alih-alih mengalirkan kata-kata, pikirannya seolah melayang, sedangkan matanya seperti memiliki kehendak sendiri mencuri padang pada satu sosok yang duduk tak jauh di depannya.
Di sela-sela kebuntuan itu, Alana membuka laptopnya, beberapa detik kemudian ia mengetik sesuatu di aplikasi catatan, kalimat yang hanya dia tahu maknanya. "Mencintaimu adalah membiarkan diriku menjadi bayang-bayang," tulisnya pelan seolah menimbang kata demi kata. "Aku adalah sosok yang ada di belakangmu, mengamati punggungmu yang seakan tanpa beban. Namun, bagaimana mungkin kau menyadari bahwa udara yang kau hela sebenarnya adalah sisa napas yang kugunakan untuk menenangkan denyut jantungku saat terlalu gugup berada di dekatmu?"
Waktu perlahan menggerogoti sore itu hingga jarum jam menunjuk angka lima. Bunyi bel lembut di perpusatakaan mendadak memecah keheningan, menandakan bahwa tempat tersebut akan menutup satu jam lagi. Suasana yang tenang seperti undur diri secara perlahan, sementara Raka mulai membereskan barang-barangnya satu per satu dengan gerakan santai namun teratur. Alana, seperti terperangkap oleh emosi yang bertumpuk di dadanya, hanya mampu menahan napas untuk menghadapi momen yang telah ia kenal baik ini sebuah pengalaman repetitif yang selalu meninggalkan jejak campuran di hatinya: rasa sedih karena harus melihatnya pergi, namun sekaligus rasa lega dan tenang karena detak jantungnya tak perlu terus-terusan berpacu.
Raka bangkit berdiri dari tempat duduknya. Tas ransel berukuran besar yang terlihat penuh itu ia sampirkan perlahan di bahu kanannya. Sosoknya menjulang sejenak, lalu berbalik arah untuk meninggalkan ruangan. Saat itulah dunia seakan berhenti berputar. Untuk momen yang hanya berkisar satu detik namun terasa seperti seribu purnama lamanya, mata mereka hampir bertemu. Alana spontan menundukkan wajahnya dalam reaksi refleks panik, seakan mencoba menyembunyikan rahasia yang tertulis jelas di dalam sorot matanya. Ia berpura-pura mengalihkan perhatian dengan sebuah buku tebal yang, jika diperhatikan lebih saksama, ternyata terbalik arah di hadapannya. Satu usaha kecil namun payah untuk tetap memelihara jarak aman antara dirinya dan rasa yang tak terucap itu.
Jantungnya berdebar kencang, menghantam rusuknya dengan kekuatan yang menyakitkan. Ia mendengar langkah kaki Raka mendekat. Satu, dua, tiga... Langkah itu melewati mejanya. Aroma parfum Raka campuran antara kayu cendana dan sedikit aroma tembakau tertinggal di udara, menyesakkan dada Alana dengan kerinduan yang tak masuk akal.
Alana menoleh perlahan, matanya tetap terpaku pada pintu kaca besar yang baru saja tertutup di belakang Raka. Sosok pria itu telah lenyap, tetapi jejak kehadirannya masih menggema di sudut pikirannya. Ia hanya bisa menghela napas, disergap perasaan menyesal. Kenapa tidak menyapa? Kenapa tidak berpura-pura menjatuhkan sesuatu atau bertanya pukul berapa?
Namun begitulah Alana. Bagi dirinya, mengungkapkan isi hati sama seperti menabuh genderang perang pada harmoni kecil yang ia genggam erat. Dalam diam, Raka tetap miliknya—di ruang khayal yang ia bangun sendiri. Dalam diam, tak ada penolakan yang menyakitkan, tak ada rasa malu yang membekas, dan kenyataan pahit bahwa mereka hanyalah dua garis sejajar yang tidak pernah memiliki takdir untuk bersilangan.
Tangannya bergerak membereskan barang-barang di atas meja, sedikit gemetar meski ia mencoba menutupi getaran itu. Sebelum berdiri meninggalkan ruangan, ia menarik napas dalam-dalam dan merogoh laci meja nomor 15. Jemarinya menyentuh secarik kertas kecil yang telah menunggu di sana sejak minggu lalu—sebuah kutipan puisi singkat yang ia tulis tanpa mencantumkan nama. Hanya satu dari sekian banyak caranya mencurahkan sesuatu yang tak pernah bisa diutarakan dengan lantang.
Ia berharap, mungkin suatu hari nanti, Raka akan merasa bosan dan dengan rasa ingin tahu mulai membuka laci-laci di sekitarnya. Dalam salah satu laci itu, ia akan menemukan jejak kecil yang ditinggalkan Alana sebuah pesan terselip, seperti botol yang hanyut di tengah samudra manusia tanpa batas.
Ketika melangkah keluar menuju area parkir, langit sudah berubah menjadi semburat jingga kemerahan yang hangat. Pandangannya tertuju pada motor besar milik Raka yang melaju perlahan melewati gerbang kampus. Alana berdiri diam di bawah pohon beringin tua, hanya bisa memandangi lampu merah motor itu hingga akhirnya lenyap dari jarak pandangnya.
"Besok lagi, Raka," gumamnya pelan kepada angin yang berhembus lembut di sore itu. "Besok, aku akan kembali duduk di belakangmu. Kembali menjadi saksi hidupmu yang berjalan tanpa pernah melibatkan aku."
Dengan langkah gontai, ia mulai berjalan pulang, membawa beban yang terasa sama beratnya dengan tas yang menggantung di pundaknya. Beban itu adalah perasaan tanpa nama, tanpa suara, namun tetap bergema nyaring dalam sunyi hatinya yang kosong.
jadi nostalgia😍
cerita yang bagus