NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - singa yang di jinakkan

Marsha menghela nafas panjang. Ia mengenali suara itu. Archio Halvard. Ternyata, pria arogan di atas brankar ini bukan orang sembarangan. Archio melangkah masuk dengan setelan jas yang masih rapi, namun wajahnya tampak tegang. Begitu matanya menangkap sosok pria yang sedang ditangani Marsha, langkahnya melambat.

"Liam?" panggil Archio.

Pria di atas brankar itu menoleh. "Archio? Sialan, kau melihatku dalam kondisi sekacau ini."

Archio tidak langsung menjawab Liam. Matanya justru tertuju pada Marsha yang sedang melepas sarung tangan lateksnya dengan tenang. "Marsha? Jadi kau yang menanganinya?" tanya Archio, nada suaranya berubah drastis dari tegang menjadi penuh rasa lega, bahkan terselip sedikit rasa bangga.

Marsha menatap kakaknya dengan tatapan datar. "Dia temanmu, Kak? Lain kali ajari temanmu cara bersikap di rumah sakit, dia hampir saja saya usir karena menghalangi pekerjaan saya."

Liam, pria arogan itu, terbelalak. "Kakak? Archio, kau... kau punya adik seorang dokter?"

Archio berjalan mendekat, mengabaikan tatapan kaget Liam. Ia berdiri di samping Marsha dan tanpa ragu merangkul bahu adiknya sebuah tindakan yang membuat Marsha sedikit risih namun tidak menolaknya.

"Bukan sekedar dokter, Liam. Dia Marsha Halvard. Dan jika dia bilang akan mengusirmu, dia benar-benar akan melakukannya. Ayahku bahkan tidak berani membantahnya jika dia sudah memakai jas putih ini," ucap Archio dengan senyum sinis yang ditujukan pada temannya.

Liam terdiam seribu bahasa, rasa malu kini jauh lebih menyakitkan daripada luka di kepalanya. Ia baru saja membentak putri dari keluarga Halvard, keluarga yang menjadi mitra bisnis utamanya. "Marsha, dia adalah salah satu direktur di mitra perusahaan kita. Tapi abaikan saja statusnya," ucap Archio santai, lalu beralih menatap Marsha dengan lembut. "Daddy Erlan meneleponku, katanya kau akan pulang malam ini. Aku hanya ingin memastikan kau punya pengawalan yang cukup saat keluar dari sini."

Marsha melepas rangkulan Archio perlahan. "Aku tidak butuh pengawalan, Kak. Aku punya mobil sendiri, dan aku punya kehidupan yang biasa aku jalani sendiri selama dua puluh tahun. Katakan pada pria arogan itu untuk tetap di sini selama dua jam untuk observasi. Jika dia mencoba kabur, biarkan saja itu nyawanya, bukan nyawaku.".

Situasi di UGD mendadak berubah menjadi medan magnet yang sangat berbahaya. Archio tahu persis siapa Liam. Dia bukan sekadar direktur mitra bisnis; Liam adalah putra mahkota dari Theodore, gembong mafia yang namanya saja cukup untuk membuat pelabuhan di seluruh negeri terhenti aktivitasnya.

Keangkuhan Liam bukan tanpa alasan dia tumbuh besar di dunia di mana perintahnya adalah hukum dan darah adalah bahasa sehari-hari.

Liam menatap Archio dengan sisa-sisa keterkejutan yang masih membekas di wajahnya yang pucat. "Halvard... jadi ini putri bungsu keluarga Halvard yang hilang itu?" desis Liam, suaranya kini lebih rendah, sarat dengan rasa penasaran yang berbahaya.

Archio melangkah maju, menghalangi pandangan Liam pada Marsha. Senyum sinisnya menghilang, berganti dengan sorot mata peringatan yang tajam. "Jangan pasang wajah itu di depan adikku, Liam. Theodore mungkin menguasai jalanan, tapi di sini, dia yang memutuskan apakah kau tetap bernapas atau tidak."

Marsha, yang sedang merapikan peralatan medisnya, sama sekali tidak terkesan dengan latar belakang "mafia" pria itu. Baginya, darah seorang mafia dan darah seorang tunawisma memiliki warna merah yang sama.

"Theodore, Liam, atau siapa pun nama kalian," ucap Marsha tanpa menoleh, suaranya tenang namun memiliki daya tekan yang luar biasa. "Di sini, Anda hanya sebuah nomor rekam medis. Jika Anda ingin pamer kekuasaan, tunggu sampai Anda berada di luar gerbang rumah sakit saya. Di dalam sini, Anda adalah pasien yang tidak patuh."

Liam tertawa pendek, meski tawa itu membuatnya meringis karena jahitan di pelipisnya. "Kau punya nyali, Dokter. Theodore pasti akan menyukaimu... atau justru sangat membencimu."

"Saya tidak butuh validasi dari ayah Anda," sahut Marsha tajam. Ia menoleh ke arah perawat.

"Tingkatkan observasi setiap 15 menit. Jika ada tanda-tanda *intracranial pressure*, segera hubungi saya sebelum dia mulai mengoceh tentang kekuasaannya lagi."

Archio mengikuti Marsha saat adiknya itu melangkah menuju ruang loker untuk bersiap pulang.

"Marsha, dengarkan aku," Archio merendahkan suaranya.

Marsha berhenti dan berbalik, menatap Archio dengan pandangan yang didapatnya dari didikan Erlan Dominic. "Kak Archio, aku menghargai rasa khawatirmu. Tapi jangan lupa, aku menghabiskan hidupku di meja operasi. Aku sering berhadapan dengan maut. Jika aku harus takut pada manusia yang merasa dirinya Tuhan hanya karena mereka punya senjata, aku tidak akan pernah menjadi dokter."

Archio terdiam. Ia baru menyadari bahwa Marsha memiliki ketegasan Andreas Halvard yang berpadu dengan ketenangan Erlan Dominic. Kombinasi yang mematikan.

"Baiklah," Archio menyerah, ia mengangkat kedua tangannya. "Tapi setidaknya biarkan aku mengikutimu dari belakang dengan mobilku sampai kau masuk ke rumah keluarga Dominic. Papah akan membu*uhku jika sesuatu terjadi padamu setelah insiden dengan putra Theodore ini."

Marsha menghela napas, melihat Archio yang bersikeras. "Terserah Kakak. Tapi jangan gunakan sirene atau pengawalan berlebihan. Aku ingin pulang ke rumah Daddy Erlan dengan tenang, bukan seperti sedang dalam pengejaran polisi."

Saat Marsha mengendarai mobilnya menuju rumah keluarga Dominic, ia bisa melihat lampu mobil Archio yang tetap setia menjaga jarak beberapa meter di belakangnya, amun, di sudut matanya yang terlatih, Marsha juga menyadari ada satu mobil hitam lain yang mengikuti dari jarak yang lebih jauh lagi. Mobil dengan kaca gelap yang mencurigakan.

*Apakah itu orang-orang Theodore? Atau bagian dari penjagaan Andreas?*

Marsha mencengkeram kemudi lebih erat. Dunianya kini benar-benar telah berubah. Ia bukan lagi sekadar dokter bedah jantung yang anonim. Ia adalah titik pusat dari persimpangan dua dunia, keluarga medis yang damai dan dinasti bisnis yang bersinggungan dengan kegelapan.

Sesampainya di depan pagar rumah Erlan, Marsha melihat lampu teras yang menyala hangat.

Ia melihat sosok Erlan yang sedang menyiram tanaman di malam hari sebuah rutinitas yang sangat normal. Kontras antara bahaya di belakangnya dan kedamaian di depannya membuat Marsha sadar: ia akan melakukan apa pun untuk menjaga agar kegelapan keluarga Halvard atau ancaman mafia seperti Theodore tidak pernah menyentuh teras rumah ayahnya ini.

Erlan tertawa hangat, membiarkan selang airnya tergeletak begitu saja di rumput saat ia menyambut pelukan putrinya. Ia bisa merasakan ketegangan yang perlahan luruh dari bahu Marsha, sebuah beban yang tampaknya ia bawa sejak meninggalkan rumah megah keluarga Halvard hingga konfrontasi di UGD tadi.

"Daddy juga merindukanmu, Sayang," ucap Erlan lembut, mengusap punggung Marsha dengan tangan yang masih sedikit basah. "Rasanya seperti sudah satu tahun kamu tidak pulang, padahal baru satu malam kursimu di meja makan kosong."

Shafira berjalan mendekat dari arah pintu teras, melipat tangan di dada dengan senyum menggoda yang khas. "Lihat, baru semalam sudah mencari bapaknya... Padahal mommy sudah masak sayur lodeh kesukaanmu sampai tangannya pegal, tapi yang dipeluk tetap Daddy-nya dulu."

Marsha melepaskan pelukannya, namun tetap menggandeng lengan Erlan dengan manja. Ia tertawa kecil, suara yang terdengar jauh lebih lepas dibandingkan saat ia berada di bawah atap keluarga Halvard. "Ihh, Mommy... Marsha juga kangen Mommy, kangen masakan Mommy yang tidak ada duanya," ucap Marsha sambil beralih memeluk Shafira singkat.

Erlan melirik ke arah jalanan, menyadari sebuah mobil mewah yang perlahan berhenti di kejauhan mobil Archio yang tetap menjaga jarak sesuai janji. Erlan tersenyum tipis, ia tahu siapa yang ada di sana tanpa perlu bertanya, sebagai pria yang telah menjaga Marsha selama 20 tahun, ia mengerti bahwa "keluarga baru" Marsha sedang melakukan tugas mereka dengan cara yang sangat protektif.

"Ayo masuk, udara malam di sini mulai dingin," ajak Erlan sambil merangkul pundak Marsha, membimbingnya masuk ke dalam rumah yang hangat. "Tadi Daddy dengar dari Archio ada sedikit 'drama' di rumah sakit? Katanya anak seorang Theodore?"

Marsha menghela napas, ia melepaskan sepatunya di lobi dan menghirup aroma rumah yang sangat ia kenali campuran antara wangi kopi, buku lama, dan aroma terapi yang dipasang Shafira. "Hanya pasien yang kurang sopan, Dad. Dia pikir rumah sakit itu miliknya," jawab Marsha santai. "Tapi lupakan itu. Marsha ingin makan. Di rumah sana makanannya terlalu... formal. Sate buatan Papah Andreas enak, tapi rasanya tetap beda dengan suasana di meja makan kita."

Shafira, dengan insting psikolognya, memperhatikan binar mata Marsha. Ia tahu putrinya telah melewati banyak hal emosional dalam 24 jam terakhir. "Duduklah, Sayang. Mami siapkan piringnya," ucap Shafira lembut. "Ceritakan pada kami, bagaimana rasanya menginap di kamar 'replika' itu? Apakah hatimu sudah mulai merasa lebih tenang sekarang?"

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!