papanya elvaro dan zavira pernah sahabatan di waktu SD ,Namun nasib membedakan mereka , papanya elvaro sudah sukses sekarang. sedangkan papanya zavira hanya mempunyai toko bengkel.
keduanya bertemu setelah beberapa tahun menghilang,tapi masih dengan persahabatan yang hangat, terukir janji mereka yang dulu akan menjodohkan anak mereka. mamanya elvaro sangat keberatan menerima nya ,Karna menurutnya tidak setara. begitu juga dengan zavira menolak keras perjodohan ini Karna elvaro adalah musuh bebuyutan nya di sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahealza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rahasia besar dibalik telpon
"Lo baru pulang jam segini?!" bentak Elvaro, suaranya bergema di ruangan yang sepi. "Dari tadi sore gue nungguin, lo kemana aja ha?!"
Zavira mencoba tenang. "Gue... gue cuma jalan-jalan dikit doang."
"Jalan-jalan?!" Elvaro berdiri, melangkah mendekat dengan langkah berat. "Mentang-mentang Papi nggak ada di rumah, lo malah seenaknya! Pulang larut malam, gak kasih kabar sama sekali! Lo pikir rumah ini apa? Hotel transit?!"
Elvaro benar-benar marah. Dadanya naik turun menahan emosi, dia cemburu dan khawatir, tapi dia tidak tahu dengan siapa Zavira pergi selama ini.
Zavira yang juga sudah kesal karena dituduh seenaknya, langsung membalas dengan nada tinggi.
"Lo jangan sembarangan ngomong dong! Gue punya hak buat jalan-jalan kan?!"
"Hak apa lagi?! Lo istri gue! Tugas lo ada di rumah, ngurusin diri lo sendiri dan..."
"STOP!" Zavira memotong dengan tegas. Dia menatap mata Elvaro tajam. "Ingat ya, di surat perjanjian nikah kita udah jelas tertulis: KITA GAK BOLEH SALING MENGATUR. Jadi gue mau pulang jam berapa, mau pergi sama siapa, itu urusan gue! Lo gak berhak ngatur-ngatur hidup gue!"
Kata-kata Zavira membuat Elvaro terdiam sejenak. Dia lupa kalau perjanjian itu memang ada. Tapi egonya sebagai suami dan juga ketua OSIS yang terbiasa memimpin membuatnya merasa tidak terima.
"Ooh... jadi lo pakai alasan itu ya?" Elvaro tersenyum sinis. "Oke, terserah lo. Tapi ingat, Vi. Kalau suatu saat lo kenapa-napa, jangan harap gue bakal peduli!"
"Gue juga gak butuh perhatian lo yang paksa!" balas Zavira. Dia langsung berbalik dan berjalan cepat menuju kamar, membanting pintu dengan keras.
DUG!
Suara pintu yang dibanting membuat suasana rumah jadi semakin dingin. Elvaro berdiri diam di tengah ruangan, tangannya mengepal erat. Di dalam hati, dia berpikir ,kenapa dia harus sensitive seperti ini kepadanya.
***
Hari demi hari, waktu yang dihabiskan Zavira bersama Youjin semakin banyak. Setiap kali dia merasa lelah atau sakit hati karena pertengkaran dengan Elvaro, Youjin selalu ada menjadi tempat ternyaman.
Suasana di rooftop sekolah menjadi tempat rahasia mereka. Youjin sangat berbeda dengan Elvaro. Kalau Elvaro dingin, keras, dan suka mengatur, Youjin justru lembut, perhatian, dan selalu tahu cara membuat Zavira tersenyum.
"Vi, ini gue bawain coklat kesukaan lo," kata Youjin sambil menyodorkan sekotak coklat import dengan senyum manisnya.
Zavira menerima dengan senang. "Makasih ya, Jin. lo tuh baik banget sih, beda banget sama..." Dia berhenti bicara, tidak ingin menyebut nama suaminya di sana.
"Beda sama siapa?" tanya Youjin santai sambil mengacak pelan rambut Zavira. "Beda sama orang yang bikin lo sedih ya?"
Zavira hanya mengangguk pelan. Youjin pun duduk lebih dekat, bahu mereka bersentuhan.
"Kalau sama gue, lo gak perlu pura-pura kuat, Vi. Nangis aja kalau mau nangis, marah juga boleh. gue bakal dengerin semua keluh kesah lo," bisik Youjin lembut.
Tangan Youjin perlahan memegang tangan Zavira, menggenggamnya hangat. Jantung Zavira berdegup kencang. Rasanya aneh tapi nyaman, perasaan yang belum pernah dia rasakan selama menikah dengan Elvaro.
"Jin..." panggil Zavira pelan.
"Hmm?"
"lo kenapa sih baik banget sama gue? Padahal kita baru kenal beberapa bulan."
Youjin menatap wajah Zavira dalam-dalam, matanya berbinar tulus. "Karena aku sayang sama kamu, Vi. Aku pengen jadi alasan kamu senyum setiap hari. Aku gak rela liat kamu sedih atau dijahatin sama orang lain."
Mendengar itu, pipi Zavira merona merah. Dia menunduk malu, tapi tangannya justru semakin erat menggenggam tangan Youjin.
Sejak saat itu, kedekatan mereka makin tak terbendung. Mereka sering bolos kelas untuk makan bareng di kafe tenang, nonton bioskop, atau sekadar jalan-jalan keliling kota tanpa tujuan jelas. Youjin sangat manja, seringkali mengulurkan tangan untuk menggandeng Zavira, membetulkan kerah bajunya, atau bahkan menyuapi makanannya saat mereka berdua.
"Vi, kepala lo berat nih di bahu gue," goda Youjin saat Zavira tertidur lelap di bahunya saat di dalam mobil.
"Emang boleh?" tanya Zavira setengah sadar.
"Boleh banget. Selamanya juga boleh," jawab Youjin sambil tersenyum lebar, lalu mengecup pelan ubun-ubun Zavira.
Zavira merasa hidupnya kembali berwarna. Bersama Youjin, dia merasa dihargai, didengar, dan dicintai apa adanya. Dia bahkan sering lupa kalau dia adalah istri sah Elvaro. Dia merasa seolah-olah Youjinlah kekasih sejatinya, dan Elvaro hanyalah masa lalu yang menyakitkan.
Mereka berdua sangat bahagia, tertawa lepas, dan berfoto bersama dengan pose-pose mesra yang disimpan rapi di galeri hp masing-masing.
sampai ia benar benar lupa dengan tujuan utamanya untuk bersekolah disitu.
***
Malam semakin larut. Zavira duduk sendirian di balkon kamar, menatap layar ponselnya yang menyala. Nama kontak di layar tertulis jelas: MAMA .
Panggilan tersambung, dan suara wanita dewasa yang tegas namun terdengar lelah terdengar dari seberang sana. Ibunya adalah seorang pengacara handal yang kini tinggal bahagia bersama suami di luar negeri.
"Halo, Ma..." sapa Zavira pelan.
"Zavira, gimana perkembangan kasusnya?!" tanya Mamanya langsung tanpa basa-basi, nada suaranya sangat serius. "Sudah hampir satu tahun kakakmu meninggal, polisi juga buntu. Mama sudah kasih kamu waktu satu tahun penuh buat cari bukti, tapi kenapa sampai sekarang pelakunya belum ketemu juga?!"
Zavira menghela napas panjang, jemarinya gemetar memegang HP. "Maaf, Ma... Zavira masih berusaha. Tapi kasusnya rumit banget, buktinya susah dicari."
"Sisa waktu tinggal 7 bulan lagi, Vi!" tegas ibunya. "7 BULAN! Nggak ada kata gagal lagi dalam kamus kita! Kamu harus buktikan kalau Elvaro itu pelakunya! Dia yang lecehin kakak kamu sampai dia trauma dan meninggal! Mama yakin itu dia! Kamu harus dapatkan bukti kuatnya, paham?!"
Zavira menunduk, air matanya hampir jatuh. "I... iya, Ma. Zavira paham."
Mendengar nama Elvaro disebut, ada rasa bersalah yang menghantam dadanya. Akhirnya, Zavira memberanikan diri mengucapkan hal yang sudah lama dia sembunyikan.
"Ma... ada sesuatu yang mau Zavira omongin."
"Apa lagi?"
"Zavira... Zavira sudah menikah, Ma. Dengan Elvaro."
Seketika line telepon menjadi hening total. Beberapa detik kemudian, teriakan keras ibunya meledak.
"APA?! KAMU GILA APA GIMANA, ZAVIRA?! KAMU NIKAH SAMA ORANG YANG KITA DUGA BUNUH KAKAK KAMU SENDIRI?!" bentak ibunya sangat keras. "KAMU PIKIR APA ITU?! ITU MUSUH KITA! BAGAIMANA KAMU BISA HIDUP SEKAMAR SAMA RAJA IBLIS ITU?!"
Zavira menangis tersedu-sedu menahan sakit hati. "elvaro anak Dari sahabatnya orang tua angkat nya zavira ! Zavira nggak punya pilihan lain, meraka udah baik sama zavira Dan kakak.
Di samping telepon, terdengar suara Papa mencoba menenangkan. "Udah, Ma, santai dulu. Yang penting ingat satu syarat mutlak," suara Papa terdengar tegas namun tenang, "Papa nggak masalah sama keputusan kamu, Vi. Asal... JANGAN SAMPAI TUMBUH CINTA. Jangan sampai kamu lupa tujuan awal kamu di sana. Kalau kamu jatuh cinta sama pembunuh kakakmu, kamu sama saja mengkhianati kakakmu sendiri. Paham?"
"Paham, Pa..." jawab Zavira lemah.
Setelah berbincang cukup lama dan mendapat banyak teguran keras, telepon pun ditutup. Zavira mengusap air matanya kasar, berusaha menguatkan diri.
"Tujuan gue cuma satu... balas dendam buat Kakak," bisiknya pada diri sendiri.
Belum sempat dia masuk kamar, pintu utama rumah terbuka. Elvaro baru pulang dari luar. Wajahnya terlihat sangat lelah dan matanya sudah berat sekali karena mengantuk.
Saat berjalan melewati koridor, tak sengaja dia mendengar gumaman Zavira yang masih berdiri di dekat balkon.
"...iya, Ma. Zavira akan hati-hati..."
Elvaro berhenti melangkah. Dia mengerutkan kening.
'Mama?'
Dalam ingatan Elvaro, Zavira hanya menyebut orang tuanya sebagai Ibu dan Ayah. Dia tidak pernah tahu Zavira memanggil ibunya dengan sebutan 'Mama'.
***
oke gaisy.... gimana nih menurut kalian, tolong di Komen ya tentang pendapat kalian.
Dan jangan lupa juga sama vote nya.
nantikan terus kehidupan mereka.
see you🤗🤗